Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Papa Posessif


__ADS_3

Naya menelan salivanya kala melihat deretan berbagai menu makanan berjejer di atas meja, di hadapannya. Bukan karena ingin segera menyantapnya. Gadis dengan julukan baru itu, merasa sudah kenyang dahulu sebelum makan.


Berbeda dengan Naya, Key tak henti tersenyum menatap wajah sang istri yang nampak kian bersinar. Entah karena aura dari bayi mereka, atau memang si ibu hamil itu memang kian cantik.


"A, ini teh yang bener atuh, masa iya kita makan sebanyak ini?" tanya Naya tak habis pikir.


Key beralih menatap makanan itu. "Bener dong. Kamu lupa apa yang tadi Dokter bilang? Kamu harus banyak makan, biar baby kita sehat dan berkembang dengan baik," jelasnya.


Sebelumnya pasangan suami istri itu baru pulang memeriksakan kandungannya. Dokter menyatakan, kandungan Naya sudah memasuki lima minggu dengan keadaan sehat dan kuat. Tentu dengan saran-saran yang sekarang dilakukan oleh si calon ayah posessif itu.


"Iya, tapi kan gak banyak juga atuh, A. Bukan mau makan, aku teh malah mual," protes Naya yang sudah mulai menutup hidungnya.


Benar saja, baru saja ia berucap. Gejolak diperutnya tidak dapat ia tahan. Segera ia berlari menuju washtaple, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang belum terisi.


"Ya ampun, Honey!" pekik Key berlari menghampiri.


Mbak Ati yang tengah berkutat di dapur segera membantu mengusap tengkuk Naya. "Ya ampun!"


"Honey, kamu gak apa-apa?" tanya Key khawatir mengusap kepala sang istri.


"Bentar, aku buat janji dulu sama Dokter Rika! Kita kerumah sakit sekarang!" ucapnya panik. Naya menaikan satu tangan, untuk menghentikan aksi suaminya itu. Namun, Key tetap memaksa menghubungi sang Dokter.


Mbak Ati yang mendengar itu melongo. Muntah-muntah untuk ibu hamil 'kan biasa terjadi?


"Ya ampun, Dokter ini kemana lagi? Lagi urgent gini juga," kesal Key saat panggilannya tak kunjung mendapat jawaban.


"Maaf, Mas. Saya fikir, muntah-muntah ibu hamil itu biasa. Gak akan apa-apa, kok!" ucap Mbak Ati menenangkan.


"Ck! Gak apa-apa gimana? Kalo terjadi sesuatu sama istri dan calon anakku gimana? Mbak Ati mau tanggung jawab!" sungut Key kesal. Seketika Mbak Ati pun bungkam tak menjawab. Ia tau gimana posessifnya sang tuan yang pasti sama seperti ayahnya.


"A ... Ngapain atuh? Gak usah! Aku gak apa-apa," Naya merampas ponsel itu dari tangan Key, agar pria itu mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Tapi, kamu muntah! Kalo terjadi sesuatu gimana? Pokoknya aku gak mau tau, kita harus periksa!" tegasnya tak dapat dibantah. Pria itu mengambil kembali ponsel dari tangan Naya.


Naya dan Mbak Ati hanya mampu menghela napas dalam. Naya semakin pusing menghadapi kelakuan suaminya itu yang semakin overprotektif. Bayangkan saja, baru saja beberapa jam yang lalu ia periksa. Masa iya, harus periksa lagi.


Ditengah Key menghubungi sang Dokter, suara Sena membuat keriuhan ruangan tersebut. "Aahh Sayang!!!" pekiknya segera memeluk tubuh sang mantu.


"Selamat ya, Sayang! Mama senang banget denger kabar baik ini," pekiknya yang masih enggan melepaskan pelukan.


Setelah mendapat kabar, cucu pertamanya sudah tumbuh. Wanita yang masih saja cantik diusianya itu, memilih untuk segera pulang. Tak ingin membuang waktu ia menggunakan jet pribadinya, untuk segera sampai dan menemui anak dan menantunya. Bahkan, ia rela membatalkan janji hanya untuk pulang.


"Isshh, Mama apa-apaan sih?" Key melerai pelukan sang Mama dari sang istri.


"Kenapa?" tanya Sena heran.


"Pelukan Mama terlalu erat. Kalo baby aku kenapa-napa gimana?" omel Key, yang sukses membuat sang Mama melongo. Sungguh sikap Key, tidak berbeda jauh dengan suaminya dulu.


"Selamat ya, Nay!" ucap Abi. Naya segera menyalimi tangan sang Papa mertua disertai senyumnya.


"Kamu tuh! Cuma peluk gitu aja, gak akan kenapa-napa juga," gerutu Sena kesal.


"Ck! Mama tuh kayak bukan orang tua. Kata Dokter, kehamilan Naya ini masih trisemester awal. Janinnya masih sangat rentan. Masa gitu aja, Mama gak tau?" balas Key dengan sengit.


"Tentu aja Mama tau. Sebelum ada kamu, ada Mama duluan. Mama 'kan cuma peluk bukan mukul," timpal Sena tak terima.


Ibu dan anak itu terus berdebat, tentang siapa yang lebih tau akan kehamilan. Naya yang sudah terlalu pusing memilih untuk duduk dan mengisi perutnya yang tiba-tiba saja lapar. Abi yang hendak melerai, ditahan Naya. Dan mengajak ayah mertuanya itu duduk.


"Lebih baik kita makan, Pa. Biarin aja mereka teh ribut!" kekeh Naya dan hanya ditanggapi gelengan oleh Abi.


Kedua orang itu duduk menonton keduanya dikursi meja makan. Abi meminta Mbak Ati untuk membuatkannya kopi. Sementara Naya sibuk melahap makanan yang tadi tersedia. Entah kenapa ia ingin menikamti itu semua mesti ada drama muntah terlebih dahulu.


"Kamu pikir, kamu udah benar memahami artikel? Masa cuma gara-gara muntah kamu mau ajak Naya pariksa?" sindir sang Mama.

__ADS_1


"Ya iyalah, aku tuh calon Papa siaga. Aku akan lebih sigap berbuat apa aja buat istri dan babyku," timpal Key tak mau kalah.


"Tapi kamu salah! Muntah-muntah itu bukan karena babymu kenapa-napa. Tapi itu emang perbawa,"


"Sama aja! Aku gak bisa tenang kalo belum periksa."


"Kamu tuh kenapa sih susah banget dikasih tau? Percaya artikel, tapi gak percaya sama Mama," kesal Sena.


"Gimana aku mau percaya, Mama aja gak perhatian sama aku," celetuk Key begitu saja.


"Kok kamu, ngomongnya gitu sih?" tanya Sena tak terima.


"Ya, emang gitu 'kan? Aku gak akan pernah melakukan hal sama pada anakku. Bagaimanapun kondisinya, aku akan selalu memprioritaskan dia!"


Sena terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia mungkin memang memperlakukan Key tak adil saat pria itu dalam masa pertumbuhan. Tapi, tidak saat ia hamil dan merawat Key saat masih bayi.


"Iya, Mama bukan Mama yang baik. Jadi kamu gak perlu mengikuti perkataan Mama," final Sena dan berlalu begitu saja.


"Ma!" panggil Abi. Ia menatap Key sejenak dan berlalu menyusul sang istri.


Naya yang tengah enak melahap makanan, seketika terdiam menghentikan pergerakannnya. Ia menatap sang suami yang juga terdiam. Ia tak mengira adu mulut anak dan ibu itu akan berujung seperti itu. Segera ia mendekat ke arah sang suami dan memeluknya.


"Apa aku salah?" tanya Key dengan tatapan kosong. Naya hanya menggeleng sebagai jawaban.


Key membalas mendekap istrinya itu. "Aku benar-benar gak mau seperti mereka. Sudah cukup aku saja yang diabaikan. Aku akan selalu ada untukmu dan anak-anak kita," lirihnya diirngi isak tangis.


Naya mengeratkan pelukannya, mungkin rasa trauma dalam diri Key tidak akan hilang begitu saja. Rasa terabaikan membuat pria itu overprotektif dan posessif.


"Aku tau. Dan kamu harus percaya, itu pula yang sebenarnya diinginkan orang tuamu!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2