
Keramaian mulai terasa dikediaman calon mempelai wanita. Banyak tetangga yang ikut membantu persiapan. Bapak-bapak ikut membantu membuat tenda dihalaman rumah, hingga keluar jalan, karena kurangnya pelataran. Sementara para Ibu sibuk membuat makanan dan kue-kue khas Desa untuk acara yang akan digelar besok.
"Beruntung pisan ya, si Neng Naya ini. Dapat jodoh orang kota, beunghar deui (kaya lagi)," celetuk salah satu Ibu yang tengah mengulek bumbu.
"Iya, bener. Saya teh juga mau ah minta Naya buat jodohin anak saya sama orang kota. Siapa tau dapat jodoh kayak si Aa kasep," balas Ibu yang tengah mengupas bawang.
"Eleh-eleh, emang kamu teh yakin orang kotanya mau sama anak kamu. Masih bau panglay (sejenis lengkuas yang digunakan untuk bayi) kitu," sergah si Ibu yang tengah memarut kelapa meledek dan hanya ditanggapi cebikan bibir si Ibu itu.
Gelak tawa begitu ramai di dapur Meli, tetangga Naya. Bahkan, karena banyaknya orang yang tidak memuat di dapur si ibu hajat. Maka, sebagian beralih ke rumah Meli.
"Emang teh beneran kitu si Aa kasep teh orang kaya? Kalo aku mah masih gak percaya," celetuk si Ibu yang hanya memantau tak ikut mengerjakan apa-apa dari tadi.
"Eh kamu mah, ketinggalan informasi. Si Aa kasep teh bawa mobil mewah atuh, kawas (seperti) di tv-tv kitu," balas si Ibu pengupas bawang.
"Heleh, cuma mobil mah atuh, saha bae oge bisa nyewa (siapa aja bisa menyewa)," balas si Ibu julid.
"Ih si eta mah teu percayaan (Ih dia mah gak percayaan). Kalo bukan karena si Aa kasep. Mana mungkin atuh si Juned teh bisa masuk penjara, itu teh udah jelas, jadi bukti. Kalo si Aa kasep teh loba duit (banyak uang)," balas sengit si Ibu yang mengulek.
"Nah bener. Denger-denger nya. Hutang Bu Santi teh, si Aa kasep yang bayarin. Terus deui ini hajatan teh, semua biaya di tanggung sama dia. Beuh, ini mah atuh udah real sultan kayak si Aa Rafi," balas si Ibu yang marut kelapa.
Si Ibu julid yang ketinggalan informasi pun hanya melongo mendengar hal tersebut. Tentu, ia yang baru pulang dari rumah mertuanya baru mengetahui informasi yang sempat menggegerkan warga Desa sebulan yang lalu itu. Hingga pembahasan tersebut, menjadi bahan ghibahan kembali ibu-ibu itu.
**
Di dalam kamar yang sudah dihiasi bunga-bunga dan dekoran, Naya tengah dipasamgkan henna oleh sang MUA pada tangannya. Ditemani oleh gadis remaja yang sudah ia anggap adiknya, Naya nampak bahagia menyambut hari bahagianya tersebut.
"Teh, Teh, coba lihat!" Meli menunjukkan postingan yang terdapat foto Key, dari salah satu akun ig, yang ternyata milik Cheryl.
__ADS_1
Foto Key yang tertangkap murung dengan penampilan berantakan di bagikan oleh Cheryl, dengan caption "Gara-gara dipingit. Manten jadi karatan" yang diakhiri emot gelak tawa.
Sontak Naya tergelak melihat penampilan Key yang teramat kusut. Setelah perpisahan hari itu. Key benar-benar dipingit dan tidak dapat menghubungi calon istrinya sama sekali. Ponselnya disita sang Mama dan ia sendiri dilarang keras untuk keluar rumah. Jadilah ia hanya meringkuk dirumah seperti seorang tahanan. Begitupun Naya, ponsel sang gadis juga di sita sang Ibu, agar Key tidak dapat menghubunginya. Untung saja ada Meli yang selalu memantau situasi di keluarga itu, seperti saat ini.
"Kasihan sekali si Aa. Sampai buluk gini atuh nya," ledek Meli di sela tawanya.
Sang MUA yang mendengar pembicaraan keduanya hanya tersenyum menanggapi. Hingga suara sang Ibu dari ambang pintu mengalihkan mereka.
"Neng, katanya besok mereka akan sampai jam delapan pagi. Jadi dandannya teh harus pagi-pagi, ya!" ucap Santi memberitahu sang MUA.
"Iya, Bu. Siap!" balasnya.
Jantung Naya, kian bergemuruh mendengar hal itu. Kurang dari dua puluh empat jam lagi, ia benar-benar akan merubah stastusnya. Ia hanya terus berdoa, semua berjalan sesuai rencana.
**
Ibu-ibu dapur kembali sibuk mempersiapkan makanan untuk tamu spesial mereka. Para Bapak sudah rapih, untuk menyambut sang calon mempelai pria. Pelaminan dan segala dekorasi sudah siap tergelar. Terpampang beberapa foto keduanya pun disana.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah Key. Semua orang tengah sibuk untuk bersiap-siap. Mendadak si calon manten bangun kesiangan, membuat mereka sibuk di pagi itu.
"Lagian ngapain pake begadang sih. Gini 'kan jadinya?" omel Ara pada sepupunya itu. "Mana tuh bulu-bulu belum cukuran lagi." lanjutnya.
"Ck! Lu bisa diem gak sih? Gue makin puyeng ini," kesal Key belibet menggunakan kemejanya.
"Kamu yang salah, malah nyalahin orang," sambar Sena membawakan jas. "Kalo sampai kita telat. Bisa batal nikah," lanjutnya.
"Udah-udah, mening kita segera bantuin. Biar cepat kelar!" lerai Jingga.
__ADS_1
Key pun dibantu Jingga dan Ara mengenakan dasi dan sepatunya. Gara-gara semalam menantang Arga dan Alzein mabar game, alhasil ia kesiangan. Padahal niat hati hanya untuk melepaskan jenuhnya saja menunggu jam yang tak kunjung juga berputar cepat. Eh, justru ketimpa sial lah ia pagi ini.
Satu jam berlalu, kini sang mempelai pria sudah siap berangkat bersama iring-iringannya. Terdapat sembilan mobil mewah beriringan keluar dari halaman rumah Key. Untuk mempercepat laju kendaraan, Abi sengaja membawa pengawalan agar tidak ada kendala di jalan.
Waktu yang di tentukan sudah terlewat. Hal itu membuat Naya, bahkan para warga pun ikut cemas. Pak penghulu yang akan menikahkan pun sudah menunggu dari tiga puluh menit yang lalu. Satu jam berlalu dari yang di janjikan. Namun, belum ada tanda iring-iringan pengantin yang terlihat. Beberapa keamanan Desa pun memilih menunggu di perbatasan. Takut kesasar, pikir mereka.
"Sudah kita tenang dulu! Saya dapat kabar iring-iringan pengantin sedang dalam perjalanan. Mohon dimaklumi, mereka teh jauh dari kota!" ucap Santi mencairkan suasana.
Benar saja, tak membutuhkan waktu lama, iring-iringan pun sampai. Hingga semua orang bisa bernapas lega. Dengan gagah, Key keluar dari salah satu mobil terdepan yang sengaja dihiasi bunga dan pita, tersenyum merekah. Berbalutkan setelan tuxedo hitam yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya tertutup peci hitam dengan wajah yang kian bersinar.
Di apit kedua orang tua yang tak kalah cantik dan tampan, dengan penampilan yang begitu elegan. Sempurna sudah keluarga itu dimata semua orang. Tidak salah jika Key memang tampan, yang mana gen dari kedua orang tuanya tidak akan terbuang kemana.
Para penghantar pun menjadi sorotan. Dimana semua adalah keluarga Key, yang beberapa wajah bahkan sedikit mirip dengan si calon pengantin.
"Selamat datang Nak Key, Pak Abi dan seluruh keluarga! Mari, silahkan duduk!" sambut pak Kades, sebagai pimpinan Desa sekaligus pimpinan acara. Di karenakan tidak ada lelaki dari keluarga Naya. Maka, semua diserahkan pada pak Kades dan staf jajarannya.
Para tamu pun dipersilahkan menempati kursi masing-masing. Acara pun dimulai. Dari sambutan hingga pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Namun, ada hal yang membuat Key gelisah. Ia belum melihat calon istrinya sedari acara dimulai.
"Tunggu, Pak!" Key menghentikan pak penghulu yang siap melantukan dua kalimat syahadat.
"Iya, Nak Key. Bagaimana?" tanya pak penghulu.
"Saya mau ketemu dulu sama calon istri saya. Takutnya, saya salah nikahin orang!"
Plakk!!!
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1