Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Cemburu


__ADS_3

Mentari sudah bersinar nampak cerah. Namun, tidak dapat membangunkan seorang pria yang entah terlelap di jam berapa. Meski suara sang Mama sudah membangunkannya dari pagi buta, Key masih enggan membuka matanya. Hingga, suara bising-bising dari luar berhasil membuat ia terbangun.


"Ada apaan sih? Berisik amat dah," kesalnya bergumam.


Ia bangkit dan mencoba mencari sumber kebisingan tersebut. Melupakan penampilannya yang teramat kacau. Ia bahkan lupa dimana keberadaannya kini.


Ceklek!


"Ada apa sih, berisik banget?" tanyanya seraya menguap, dari ambang pintu.


Naya yang tengah menghadapi beberapa ibu-ibu muda, membelakak kaget melihat Key yang keluar dari kamar hanya mengenakan boxer saja. Tidak ingin tubuh sempurna si calon suami menjadi jariyah untuk mata ibu-ibu, ia pun segera mendekat dan mendorong tubuh Key kembali masuk ke dalam kamar.


"Pakai baju dulu, baru keluar!" peringat Naya sebelum menutup pintu itu kembali.


Key yang baru membuka mata lebar, hanya mengedipkan matanya itu bingung. Hingga ia tersadar, akan dimana ia sekarang dan penampilannya kini. "Astaga! Gue lupa," pekiknya. Segera ia mencari pakaiannya yang berhambur entah dimana. Kebiasaan ia jika tidur, suka membuka baju tanpa sadar.


Sementara itu, ibu-ibu yang kepo akan kejadian semalam membelakak kaget dengan mulut terbuka lebar. Melihat pria tampan dengan penampilan uwow, membuat mereka terpaku seakligus terpana. Sudah di pastikan otak mereka traveling entah sampai dimana.


Naya yang menyadari itu, hanya mampu menghembuskan napas panjang. Ibu-ibu muda itu pasti tengah mengagumi calon suaminya.


"Eh, Nay, Nay. Itu tadi teh artis? Kasep pisan (ganteng banget)," tanya salah satu wanita yang usianya lebih tua sedikit dari Naya. Mata wanita itu berbinar dan tak lepas dari pintu kamar Naya.


"Itu mah oppa-oppa Korea. Coba aja atuh, lihat bentuk tubuhnya. MasyaAlloh melting aing!" celetuk wanita yang lain.


Sungguh ketiga ibu-ibu muda yang hampir sebayaan dengan Naya itu membuat sang gadis geram. Ingin sekali ia mengusir mereka dari rumahnya.


Sebelumnya, ketiga ibu muda yang tak lain adalah tetangganya itu. Kepo dengan kedatangan Juned kedalam rumah Naya semalam. Mereka yang takut pada orang yang berpengaruh di Desa tersebut, tidak berani menghampiri. Tentu, dengan gosip yang beredar, jika Juned akan menikahi Naya hari ini, membuat ibu-ibu kang gosip itu menjadi wartawan dadakan pagi ini.


Mereka menanyai, kebenaran jika Naya akan menikah dengan Juned. Dan mobil mewah yang semalam terparkir dirumah Naya, yang tak lain milik Abi dan Sena. Naya pun memberi klarifikasi, jika tidak akan ada pernikahan antara dirinya dan Juned. Dan mobil semalam adalah mobil calon mertuanya yang sudah melamar. Tentu, hal itu tidak di percaya para wanita itu begitu saja. Hingga terjadilah keributan yang mengganggu Key dari tidurnya.


"Dia teh calon suamiku," sambar Naya kesal. Saat ketiga wanita itu terus saja membicarakan dan mengagumi Key.

__ADS_1


Sontak ketiga wanita itu tergelak. Masih merasa tak percaya, jika Naya memiliki calon suami bak oppa-oppa Korea.


"Atulah Nay, kalo mimpi teh jangan tinggi-tingi, entar jatuhnya teh sakit atuh," ledek salah satu dari mereka.


"Iya, atuh. Palingan si Aa tadi teh artis yang nyasar, terus ikut menginap disini semalam. Iya 'kan?" sambung temannya.


"Bener tuh bener!"


Ketiga wanita itu kembali heboh, membuat Naya semakin kesal. "Ya udah atuh, kalo kalian gak percaya. Gak ada untungnya juga buat aku meyakinkan kalian. Mening sekarang kalian teh pulang. Tuh anak-anak kalian pada nangis!" usir Naya, medorong ketiga wanita itu untuk keluar dari rumahnya.


"Eh, ke hela atuh (bentar dulu). Kita teh mau minta foto sama tanda tangan si Aa tadi," cegat wanita itu dan diiyakan kedua wanita lainnya.


"Aa kasep, keluar atuh. Kita teh emak-emak kece mau minta foto dulu!" teriaknya, menghebohkan suasana rumah.


Naya hanya mampu memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia berharap, Key tidak keluar dan membuat ibu-ibu itu semakin runyam. Namun, hal yang tidak diingikan Naya justru terjadi. Key yang sudah berpenampilan rapih, keluar dari kamar. Tentu saja itu membuat ketiga wanita tersebut kian heboh.


Key tersenyum ramah pada ketiganya. Mata Naya memicing melihat ke arah Key, yang tampak tebar pesona. Pria itu mendekat membuat para wanita kian histeris.


"Pagi, Aa kasep!" balas ketiganya serentak. Naya memutar bola mata malas, memangku tangan didepan dada.


'Sekalinya kadal mah, tetap aja kadal,' batin Naya menggerutu kesal.


Ketiga wanita itu sibuk untuk meminta foto. Mengeluarkan ponsel masing-masing dari saku daster mereka. Sementara Naya yang sudah tak tahan lagi, memilih untuk meninggalkan mereka. Ia tidak akan sanggup untuk melihat pria itu berfoto ria dengan wanita-wanita itu.


Namun, baru saja Naya berbalik. Tangan Key, sudah mencekalnya terlebih dahulu. "Mau kemana?" godanya. Tentu Key tau, gadisnya itu pastilah tengah cemburu. Ia sengaja memancing agar melihat kecemburuan tersebut.


"Kemana aja, bukan urusan kamu!" sungut Naya.


Key terkekeh mendengar balasan dari kekasihnya itu. "Kamu belum jawab sapaan aku, lho?!"


Naya menatap tajam ke arah Key. "Penting?" tanya Key dengan nada yang sama.

__ADS_1


Key tersenyum, ia meraih kepala Naya dan mendaratkan kecupan lama di dahi gadis itu. Naya hanya memejamkan mata meski dengan wajah yang masih menekuk. Hal itu tentu saja membuat para wanita disana syok. Mereka membelakak kaget dengan mulut terbuka lebar.


"Selamat pagi, calon istri!" sapa Key begitu manis mengusap sayang kepala Naya.


Meski wajahnya masih menekuk. Namun, rona merah di pipi Naya tidak dapat disembunyikan. Ia hanya berdecih kecil seraya memalingkan wajah ke lain arah. Key merangkul bahu Naya, mengahadapkan tubuh mereka pada ketiga wanita disana.


"Hai semua, perkenalkan saya Key. Calon suami Naya!" ucap Key tersenyum dengan bangga.


Sontak hal itu membuat mereka semakin syok. Mereka yang sempat tidak mempercayai ucapan Naya, merasa malu dan kikuk.


"I-iya, salam kenal. Ki-kita tetangga disini," balas satu wanita tergugup. "Kalo gitu teh, kita permisi dulu atuh!" Tanpa menunggu balasan Key, ketiga wanita itu saling sengggol dan ngirbrit meninggalkan rumah Naya.


Kini tinggallah sejoli itu di dalam rumah. Kedua orang tua Key, sudah berpamitan terlebih dahulu untuk mengunjungi rumah di Desa sebelah. Sementara sang Ibu, tengah berbelanja untuk bahan masakan ke warung.


"Jangan cemberut terus dong!" goda Key mengangkat kedua sisi bibir Naya untuk tersenyum. Namun, di tepis gadis cantik itu.


"Kamu makin cantik, kalo cemburu," godanya lagi, menjawil dagu Naya.


"Ck! Siapa juga atuh yang cemburu?" elak Naya, dengan nada bicara yang berkata lain.


"Ini teh kamu cemburu, Honey!" Key menarik kedua pipi chuby Naya, hingga membuat Naya merengek kesakitan. Namun, Key semakin gencar menggodanya.


Naya hendak menjauh, namun Key tak melepaskan jawilannya. Keduanya terus berjalan, hingga keduanya jatuh di atss sofa bersama.


Deg!


Suara ramai mereka seketika hilang. Mata keduanya bersitatap saling mengunci. Hingga, menimbulkan keadaan hening dan desiran aneh di hati mereka.


Dekat, semakin dekat bibir Key hendak menjangkau bibir sang gadis. Namun, tiba-tiba saja suara salam membuat keduanya sadar dan kelabakan.


"Assalamuala- eh, eh, eh!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2