
Setelah panggilan itu berakhir, Sena benar-benar segera mentransfer uang yang dibutuhakan Santi. Wanita itu mendumel sendiri, hingga dekapan dari belakang menghentikan cerocosan wanita yang masih cantik di usianya itu.
"Ada apa?" tanya Abi mengecup pipi istrinya itu.
"Aku kesel, Bi. Masa iya, Naya mau dinikahin anaknya lintah darat. Cuma gara-gara harus bayar hutang paman-pamannya. Aku tak terima!" cerocosnya kesal.
Abi menautkan alis heran. Belum mengerti ucapan sang istri. Ia pun membalikan tubuh ramping itu untuk berhadapan dengan wanita tercintanya. "Coba ceritain dulu!" pintanya.
Sena pun menceritakan apa yang terjadi pada Santi dan Naya sedetail mungkin yang ia tangkap dari cerita Santi. Termasuk keinginannya untuk menemui Santi sekarang juga.
"Jadi ... Kamu mau kita melamar Naya sekarang?" tanya Abi memastikan, setelah ia bisa mencerna cerita Sena.
Sena mengangguk mantap. "Iya! Aku mau Naya jadi menantu kita. Aku juga udah yakin, kalo Key benar-benar mencintainya," balas Sena.
Abi menghembuskan napas panjang disertai senyum yang jarang ia tunjukan dihadapan orang lain. Mendengar hal tersebut, membuat pria paruh baya itu cukup tenang. Ia yang sempat khawatir akan sang putra yang tidak memiliki hati tulus pada perempuan, akhirnya bisa bernapas lega.
"Baiklah, jika itu maumu. Kita akan berangkat sekarang!" final Abi.
"Serius?" tanya Sena menangkup wajah Abi dengan mata berbinar, yang kemudian diangguki mantap oleh Abi.
"Aahhh makasih, Sayang!" pekik Sena girang, tidak lupa ia juga mendaratkan kecupan dibibir sexy suaminya itu.
Hal itu tidak di sia-siakan Abi. Ia menarik pinggang sang istri dan segera menyambar bibir ranumnya. Sena yang tau kemana arah tujuan sang suami, segera menghentikannya.
"Stop, Bi!" cegat Sena meraih kepala Abi yang sudah bersemayam di ceruknya. "Kita lanjut nanti. Sekarang keadaannya urgent dan kita harus cepat-cepat berangkat ke Desa. Aku takut sesuatu terjadi pada calon mantuku," cerocosnya lagi.
Abi hanya tersenyum seraya mengusek pucuk kepala istrinya itu. "Oke, aku akan tagih nanti!"
"Of course! Semaumu," balas Sena yang diakhiri kecupan di rahang pria itu.
Segera wanita itu melepakan diri untuk bersiap-siap. Sementara Abi hanya mampu terkekeh disertai gelengan kepala. Kemudian, ia pun ikut bersiap juga.
"Apa perlu kita honeymoon di Desa?" celetuk Abi bertanya.
__ADS_1
"Boleh juga tuh, suruh Gilang menghandle semua pekerjaan kita dua hari lagi dah!" balas Sena seraya memoles wajahnya di depan meja rias, yang kemudian disetujui Abi.
Rencananya mereka akan menginap di rumah peninggalan mediang kakek Arshad, di desa itu. Rumah yang dulu sempat ditinggali papa Ar dan Mama Ay di dekat perkebunan, saat masih muda dulu. Sementara pekerjaan yang tidaklah mendesak, akan mereka serahkan pada Gilang sang assisten.
**
Empat puluh lima menit kemudian, mobil pun sampai di depan rumah Santi. Terdengar suara gaduh dari dalam rumah tersebut. Sontak hal itu membuat keduanya khawatir. Segera mereka pun memasuki rumah dengan pintu yang ternyata terbuka.
"Ibu!"
"Neng!"
"Ada apa ini?" Suara Abi menggelegar menghentikan drama didalam rumah tersebut.
"Kalian siapa?" tanya balik Juned menautkan alis melihat sepasang paruh baya yang terlihat fashionable itu.
Sena mengambil ponsel dan memotret mereka semua beberapa kali. Hal yang membuat orang-orang disana keheranan. "Harusnya kami yang tanya, kalian lagi ngapain? Kalian sedang mencoba berbuat kejahatan 'kan?" cecarnya.
"Apa urusannya sama kalian?" tantang Juned.
"Cih!" Juned berdecih melihat wanita yang terlihat arogan itu. "Terus kalian teh mau apa, hah?" tanyanya kesal.
Sena memperlihatkan layar ponselnya pada pria itu. "Saya jamin, jika saya kirim ini ke kantor polisi sekarang. Kalian bisa mendekam di penjara malam ini juga. Ini sudah termasuk tindak penyanderaan dan kekerasan. Bukan itu saja, kalian juga akan terjerat pasal mengenai penipuan. Karena sudah memeras orang dengan bisnis yang kalian jalani. Bagaimana? Apa perlu saya laporkan? Atau anda keluar dan berhenti mengganggu mereka?" tantang Sena panjang kali lebar.
Sontak Juned dan kedua anteknya hanya saling tatap. Melihat dari penampilan Sena dan juga kata-katanya yang tidak seperti main-main, membuat Juned sedikit takut akan ancaman tersebut, hingga ia memilih untuk pergi meninggalkan rumah Naya bersama kedua anteknya.
"Heleh, baru gitu aja takut. Dasar preman abal-abal," ledek Ibu tangguh itu setelah ketiga orang tersebut pergi.
"Bu Sena?!" cicit Naya mendekat. Sena langsung merentangkan tangan, meminta untuk gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
"Makasih, Bu!" ucap Naya terisak, memeluk tubuh wanita itu.
"Suut, udah! Yang penting kamu gak apa-apa, hem." balas Sena menenangkan, yang diangguki oleh Naya.
__ADS_1
"Bu!" isak Santi.
Sena melerai pelukan dan beralih memeluk tubuh temannya itu. Santi menangis sejadi-jadinya. Entah pada siapa ia harus mengadu, dan sekarang ia bertemu mantan atasan sekaligus teman yang sudah seperti keluarganya itu.
"Makasih, Bu. Makasih!" ungkapnya dengan perasaan lega. Tidak dapat ia bayangkan, jika Sena terlambat datang. Mungkin sesuatu sudah terjadi pada putrinya.
"Iya, sama-sama. Jangan takut ya, semua baik-baik aja, hem!" balas Sena ikut terharu.
Beberapa menit setelah meluapkan rasa bahagia dan takutnya, kini ketiga orang tua itu sudah terduduk disofa. Naya keluar dari dapur membawakan minuman dan makanan ringan untuk tamunya. Lalu, ia pun ikut duduk di samping sang ibu.
"Jadi, kedatangan kami kemari emang sengaja untuk menjenguk kamu dan membicarakan sesuatu yang penting," celetuk Sena memulai obrolan serius mereka.
Naya dan Santi hanya saling lirik, belum memahami maksud tujuan sepasang suami istri tersebut. "Hal penting apa ya? Kok, aku teh jadi sararoak kieu (takut ginj)," balas Santi.
"Hal pentingnya itu ...." Sena menggantungkan kalimat. Melirik Abi, agar sang suami yang berbicara.
Abi yang mengerti berdehem kecil untuk memulai obrolan. "Jadi ... Maksud kedatangan kami kesini untuk bersilaturahmi dengan ibu dan Naya. Dan kami bermaksud untuk melamar Naya menjadi menantu kami. Tepatnya menjadi calon istri untuk putra kami, Key," jelasnya.
Deg!
Naya syok mendengar niat baik yang diungkapkan pria paruh baya itu. Mana mungkin keluarga Key melamarnya, sedangkan ia sendiri tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Key? Pikirnya.
"Bagaimana, San?" tanya Sena.
"Alhamdulillah, Bu. Saya senang atuh mendengarnya," ucap Santi terharu menangkupkan kedua tangan kedepan bibir, tanda bersyukur. "Kalo aku sih, gimana Naya nya aja. Kumaha (gimana) atuh, Nay?" lanjutnya meminta pendapat Naya.
Naya masih terdiam dengan pikiran bingung. Ia tidak bisa mengiyakan ataupun menolak. Ia masih bingung akan hatinya dan tentu masih belum percaya akan keseriusan Key.
"Jujur, Nay teh masih belum percaya. Apa benar A Key teh suka sama Nay?" lirih Naya menudukkan kepala.
Sena mengangguk mengerti. "Baiklah, ada cara untuk membuktikan Key benar-benar serius atau nggak," celetuknya. Sontak ketiganya pun menatap Sena dengan tatapan penuh pertanyaan. Wanita itu menyeringai kala ide jahil muncul di otaknya.
"Sekali-kali ngeprank anak, boleh kali ya?!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*