
**
"Pagi, Bi!" sapa Mbak Ati pada wanita paruh baya yang hendak memasuki kamar mandi.
"Pagi Ati," balasnya. "Eh iya, Bibi dengar semalam ada suara tangisan. Apa anakmu menelpon dan menangis lagi?" tanya Bi Tarsih, mengurungkan langkahnya untuk membuka kamar mandi.
"Enggak, Bi. Semalam anakku gak nelpon. Aku juga setelah Sholat Isya sudah tidur," balas mbak Ati bingung.
"Terus siapa?"
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka mengagetkan dua wanita itu. Tentu mereka tidak mengira, Ningsih sudah bangun lebih awal. Biasanya, gadis itu akan bangun setelah kedua wanita itu bangun.
"Ya ampun, Ningsih! Bikin kaget aja," gerutu Mbak Ati mengusap dada.
Namun, tidak ditanggapi Ningsih yang keluar dengan wajah kusut, rambutnya berantakan dengan kantung mata melingkari area matanya. Sontak hal itu membuat dua wanita itu saling lirik. Hingga mereka sadar suara siapa itu semalam.
Gadis itu berjalan hendak mengambil air minum. Mbak Ati yang penasaran, segera mendekat dan bertanya. "Kamu kenapa, Ning? Sakit?"
Belum juga ada jawaban dari Ningsih, suara seseorang berteriak memekik membuat mereka kembali kaget.
"Aaaaa!!!!"
Sejenak Mbak Ati dan Bi Tarsih terdiam, hingga mereka mengingat suara siapa itu. "Naya?!" pekik mereka serempak. Gegas mereka berlari untuk melihat keadaan gadis itu.
Ningsih yang melihat kedua wanita itu meningglkannya membuat gadis itu menangis. "Bahkan, kalian juga lebih memilih dia dari pada aku," rengeknya. Namun tak ayal ia bangkit dan ikut menyusul.
__ADS_1
Sementara didalam kamar, Naya nampak syok menatap seseorang yang tertidur bersama dengannya. Tentu teriakan sang gadis membuat pria yang terlelap disampingnya itu ikut terbangun.
"Ck! Berisik!" gumam Key, pria yang kini tengkurap menutup telinga dengan bantal.
Namun, bukan hal itu saja yang membuat Naya terkejut. Penampilan Key yang hanya bertelanjang dada, sungguh membuat gadis itu syok bukan main. Meski polos, tentu Naya cukup mengerti keadaan tersebut.
Segera gadis itu melihat dirinya sendiri yang ternyata masih mengenakan pakaian sama seperti semalam. Ia mengedarkan pandangan dari atas hingga bawah selimut, mencari sesuatu yang mungkin terdapat hal yang salah akan dirinya. Hingga ia pun dapat bernapas lega, saat tidak menemukan sesuatu yang ganjal.
"Naya!!!" pekik kedua wanita yang tampak khawatir tadi. Keduanya menghampiri dengan napas ngos-ngosan.
Naya tersadar, jika mungkin semalaman pintu kamarnya terbuka lebar. Lalu, mungkinkah Key melakukan hal tidak-tidak dalam keadaan tersebut?
"Astaga, Mas Key?" Mbak Ati kaget melihat sang Tuan yang tertidur satu ranjang bersama gadis itu.
"Kamu gak apa-apa, Nay?" tanya bi Tarsih mengusap rambut Naya seraya mendudukkan diri ditepi ranjang.
Naya menggeleng dengan wajah yang masih pucat karena syok. Hingga suara teriakan Ningsih dari ambang pintu membuat mereka, lagi-lagi terkejut.
"Mas Key, tega! Mas Key, jahat!" teriaknya yang diiringi isak tangis. Gadis itu pergi dengan tangis kian kencang.
Sementara ketiga wanita disana melongo melihat kelakuan gadis itu. Namun, tidak dengan Key yang masih enggan membuka mata. Meski ia sadar telah terjadi drama diantara wanita-wanita itu, ia memilih cuek melanjutkan mimpinya.
Ketiga wanita yang sempat melongo memilih keluar dari ruangan itu. Naya yang kesal, melempar selimutnya ke atas tubuh Key dengan kasar. Lalu, berlenggang pergi mengikuti Mbak Ati dan bi Tarsih.
Key menoleh dan mencoba membuka mata untuk melihat sang gadis, bukan marah ia justru tersenyum mengingat kejadian semalam.
Flash back on~
__ADS_1
"Kalo tidur lu kayak gini, gue yakin. Sampai lu telanj*ng juga, gak bakal inget!"
Key menopang tubuh dengan satu siku tangan untuk menatap wajah gadis itu lebih dekat. Matanya memindai setiap inci pahatan dari wajah cantik itu.
"Ternyata lu emang cantik," puji Key membelai pipi Naya lembut.
Cup!
Bukan bibir yang menjadi sasaran Key. Namun, kening Naya lah yang mendapat kecupan dalam dari pria tampan itu. Ada rasa yang kian berdebar dihatinya saat ia melakukan hal itu. Sesuatu yang baru pertama ia lakukan selain pada sang Mama dan Omanya.
Pria itu tersenyum sendiri dengan wajah yang tiba-tiba memanas. Tidak ada keinginan untuk berbuat seperti pada wanitanya selama ini. Hanya sebuah kecupan di kening saja, membuat jantung pria itu tak menentu.
"Eeuunghh!" Naya bergeliyat, lalu memiringkan tubuh membelakangi Key.
Sontak Key terkejut. Takut sang gadis sadar akan perbuatannya. Namun, ia salah. Naya kembali terlelap tanpa terusik sama sekali. Key yang menyadari itu terkekeh. Ia bangkit untuk membuka sepatu sang gadis. Lalu, menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu. Sekali lagi, satu kecupan diberikan Key dikepala Naya.
Bukan turun dari ranjang, Key justru kembali membaringkan tubuh dengan posisi telentang disamping Naya. Melipat kedua lengan untuk ia jadikan bantal seraya menatap langit-langit.
'Perasaan apa yang sebenarnya gue rasa? Apa ini rasa suka? Atau hanya sekedar mengagumi?' batinnya bertanya-tanya
'Kenapa gue gak pernah rasain ini sebelumnya?' lanjutnya.
Lama Key bergulat dengan berbagai pertanyaan dikepalanya. Hingga ia memejamkan mata dan benar-benar terlelap.
Key yang biasa tidur bertelanjang dada, merasa tidak nyaman. Tanpa sadar dan dengan mata terpejam ia membuka kaos yang dikenakannya dan melempar kain itu ke sembarang arah.
Flash back off~
__ADS_1
"Astaga, gue bener-bener udah gila!"
\*\*\*\*\*\*