
Key sudah berjalan mondar-mandir menunggu Naya yang tak juga kunjung keluar dari kamar. Setelah mendapat perintah dari sang mama, dengan terpaksa Key pun menuruti keinginan wanita tercintanya itu untuk mengantar Naya belanja.
"Astaga, ini anak ngapain sih di kamar?" kesal Key. "Gue kan cuma nyuruh ganti baju, apa mungkin dia tidur?" tebaknya.
Tak berselang lama sebuah deheman sukses membuat pria tampan itu menoleh, seketika Key terpaku melihat penampilan Naya yang berbeda dari sebelumnya. Overall jeans sebatas paha yang dipadu dengan kaos pemberian darinya, melekat pas di tubuh gadis itu. Rambut panjang itu dibiarkan tergerai dengan jepitan di sebelah kiri. Serta, sepatu kets yang dipinjamkan oleh Mbak Ati, membuat penampilan gadis itu kian manis. Netra Elang Key memindai penampilan sang gadis dari atas sampai bawah, hingga satu kata terlontar begitu saja dari bibirnya.
"Cantik," cicitnya.
Naya menaikkan sebelah alis, merasa heran begitu melihat Key yang menatapnya tidak berkedip sama sekali. Sontak saja gadis itu pun ikut memperhatikan penampilannya sendiri.
"Nggak ada yang aneh?" tanyanya bermonolog sendiri.
Ia pun memutuskan mendekat. Lalu, melambaikan tangan di hadapan wajah Key. "Kamu teh kenapa? Apa kamu sakit?" tanyanya.
Seketika key tersadar ia gelagapan karena tertangkap basah menatap Naya dengan serius. "Ehem!" Ia berdehem keras untuk menetralkan dirinya.
"Lama banget sih, ngapain aja lu di dalam?" tanyanya mengomel untuk mengalihkan perhatian.
"Ya, aku teh mandi dulu atuh. Masa mau berpergian kucel, isin (malu) atuh a," jelas Naya cengengesan, yang justru nampak manis di mata Key.
'Astaga, apa mata gue siwer?' batin Key bertanya, segera ia menepis pikiran-pikiran itu kemudian berdehem kembali.
"Banyak alasan lu, dah ayo berangkat!" ajak Key dengan nada ketus.
Pria itu berlenggang terlebih dahulu. Naya tahu Key pasti marah karena sudah menunggunya terlalu lama. Namun, ia tidak peduli dan lebih memilih untuk segera mengekori pria itu dari belakang.
**
Di dalam mobil suasana nampak begitu hening, tidak ada obrolan apapun di antara dua manusia itu. Naya sibuk memperhatikan jalan yang mereka lewati, menghafal setiap belokan agar mempermudahnya untuk pulang suatu saat nanti. Meski, Sena tidak mengizinkan Naya untuk pulang dan pergi ke kampus sendiri, namun gadis itu rasa ia tetap perlu untuk menghafal jalan pulang.
Berbeda dengan Key sesekali pria tampan itu melirik ke arah sang gadis, mencoba menebak apa yang ada di pikirannya. Namun, ia tidak bisa menebak akan wajah serius itu.
__ADS_1
"Emm, lu masuk jurusan apa?" tanya Key memulai obrolan.
Seketika atensi Naya beralih menoleh ke arah Key. "Hem, aku teh masuk ke jurusan desain interior. Kalau kamu di jurusan apa?" jawabnya yang kemudian balik bertanya.
Key tersenyum kecut. "Harusnya gue juga di jurusan itu. Tapi, terlahir dari anak pembisnis tentu gue harus lupain keinginan gue," jelasnya.
Naya yang mengerti seketika diam. Ia bingung harus mengatakan apa. Hingga ia hanya mengangguk menanggapi.
"Cih! Kok gue jadi curhat sama lu," Key berdecih tak habis pikir, bagaimana bisa dia mengutarakan keinginan terpendamnya pada seorang gadis yang baru ia kenal? Sementata orang tuanya saja tidak tau akan hal itu.
Naya tersenyum menatap kearah Key. "Gak apa-apa atuh A, mau curhat juga. Sok bae mangga (Silahkan saja)!" balasnya. Key melirik sekilas gadis itu seraya berdecak.
Tiba-tiba saja, suara notif chat dari ponsel Key berbunyi berulang kali. Malam ini, pria tampan itu sudah membuat janji dengan kekasih barunya untuk mengantar gadis itu belanja. Namun, karena tugas dari sang mama ia harus membatalkannya. Namun, gadis itu masih tak terima dan terus menghubungi Key untuk membujuk pria itu.
Tentu suara-suara itu begitu menggelitik ditelinga Naya. "Lihat dulu atuh, A. Siapa tau penting!" titahnya.
"Gak perlu. Gak penting!" balas Key sekenanya. Gadis itu hanya mengedikkan bahu mendapati jawaban Key dan kembali memperhatikan jalanan.
"Ck! Biasa aja kali lu, gak usah norak!" celetuk Key yang membuat atensi gadis itu menoleh kearahnya.
"Maklumin atuh, A. Aku 'kan baru masuk ke tempat kayak gini," balas Naya cemberut memanyunkan bibirnya.
Key yang melihat ekspresi gadis itu tersenyum mengejek. "Gue yakin, main lu cuma sampe pasar becek aja 'kan? Cuma sampe nongki dilapang bola panas-panasan," ledeknya seraya melangkahkan kaki.
Bukan merasa tersinggung. Naya justru terkejut, dari mana pria itu tau? Segera ia pun juga berjalan untuk mensejajarkan diri dengan Key. Ia sedikit mendongak, untuk melihat wajah tampan yang lebih tinggi darinya itu. "Kok, kamu tau kalo aku teh cuma belanja dipasar?" tanyanya.
Key memutar kepalanya kesamping dengan raut wajah tak percaya, bagaimana mungkin gadis itu tidak tersinggung sama sekali? Bahkan, dengan polosnya gadis itu bercerita panjang kali lebar tentang kebiasaannya belanja saat di Desa.
"... Di Desa cuma ada pasar, gak ada atuh mall besar kayak gini. Jadi-"
Greppp!!!
__ADS_1
Merasa malu akan orang-orang yang memperhatikan mereka, Key mencekal tangan gadis itu untuk berhenti mengoceh. Bukan karena cerocosannya saja, namun logat gadis itu yang membuat mereka jadi perhatian.
"E..e..ehh, A. Pelan-pelan atuh!" protes Naya yang berjalan terseret menyeimbangi langkah jangkung dan cepat Key.
"Gak usah banyak ngoceh, buruan jalan!" peringat Key.
Naya yang baru tersadar sudah banyak bicara, segera mengatupkan bibirnya. Ia lupa jika ini tempat umum, yang mana mungkin saja membuat pria itu risih. Gadis itu hanya pasrah mengikuti langkah Key, hingga mereka sampai disalah satu toko elektronik.
"Pertama, lu beli dulu hape. Itu lebih penting!" titah Key. Naya hanya menganggukan kepala setuju.
Sepasang manusia itu mulai memilih benda pipih yang akan digunakan Naya. Gadis itu memilih ponsel yang sebelumnya ia miliki. Namun, Key menolak. Ia memilih ponsel keluaran terkini yang tentunya lebih mahal.
"Tapi, ini mahal, A. Ibuku mana mampu atuh beliin," protes Naya.
Sebelumnya, gadis itu memang tidak menyetujui permintaan Sena untuk ia berbelanja. Namun, dengan alasan disuruh sang Ibu, gadis itu pun mau.
"Bukannya bokap lu juragan sapi, masa beli hape gini aja gak mampu?" tanya Key heran.
Naya terdiam sejenak. Kemudian menyunggingkan senyum seraya mengambil ponsel pilihannya. "Gak apa-apa, A yang ini aja. Ini juga bagus, kok!" balasnya terlihat sendu.
Sontak Key mengerutkan dahi tak mengerti. "Ini lebih bagus, RAM nya juga gede. Gak usah ngirit lah, bokap lu kerja kan buat lu juga," celetuknya tanpa filter.
Naya menghembuskan napas pelan sebelum menatap pria itu serius. "Biarpun seandainya Bapakku masih ada, aku gak bisa seenaknya menggunakan uang Bapak. Akan sangat memalukan jika aku hanya bisa menghamburkan uang beliau, untuk hal-hal yang gak bermanfaat!" jelasnya panjang lebar. Lalu gadis itu membawa ponsel yang ia pilih menuju kasir.
Key terdiam sejenak mencerna ucapan gadis itu. Hingga ia tersadar suatu hal, apa gadis itu anak yatim?
"Mbak, saya pilih yang ini!" Naya menyerahkan barang yang ia bawa kehadapan seorang wanita dibalik meja kasir.
"Jangan! Yang ini aja," tolak Key memberikan ponsel yang ia pilih. Sontak Naya menoleh menatap Key, begitupun pria itu yang juga menatapnya.
"Gue yang bayar!"
__ADS_1
******