Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 27


__ADS_3

'BRAKK'


Iris menatap pintu yang dibanting kasar oleh Emillio dengan nanar. Pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan seperti ini dari pemuda itu. Selama ini apapun keinginannya selalu di kabulkan dan hal itu tidak pernah membuatnya puas.


Iris menangis. Dia mendudukkan diri ke lantai. Setelah kepergian Leona setahun lalu, dia merasa bahagia. Namun dia merasakan tatapan tidak suka yang dilayangkan oleh pelayan dan penjaga di kediaman ini. Apalagi beberapa pelayan yang berada di bawahnya di pecat bahkan di tindas oleh pelayan senior lainnya.


Saat dia melihat Leona bersama tiga pria tampan di aula kota, seketika rasa iri muncul di hatinya. Apalagi Leona terlihat cantik memakai gaun yang sederhana menurutnya, tidak lupa sedikit perhiasan yang menempel di tubuh gadis itu membuatnya ingin mempermalukannya.


Saat melihat Leona berbaur dengan sesama siswa akademi Moon Shadow, rasa iri itu menghilang mengingat dia berada di Akademi Mage&Knight Blackmoon yang bergengsi. Iris tersenyum mengejek mengingat dia lebih unggul dari gadis itu.


Namun saat melihat bagaimana gadis itu mengalahkan pembunuh bayaran dengan mudah tanpa mana dan sihir, timbul rasa tidak percaya di hatinya. Apalagi Leona dengan santai membunuh orang-orang tanpa ekspresi seakan sudah terbiasa membuatnya merasa tertekan.


Saat mendengar bisik-bisik tentangnya, Iris merasa tersinggung dan ingin menghancurkan Leona detik itu juga. Namun saat mendengar bagaimana dia menolak keluarganya sendiri, dia merasa bimbang. Antara bersalah sekaligus malu.


Iris melupakan sebuah pepatah jika darah lebih kental dari air. Meskipun dia merebut keluarga Leona, namun dia sama sekali tidak memiliki ikatan darah dengan mereka selain nama yang mereka berikan untuknya.


💠💠💠💠


Leona meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. Di hadapannya tergeletak sekumpulan orang dengan keadaan mengenaskan.


"Latihannya cukup sampai disini saja. Kemampuan dan stamina kalian meningkatkan pesat. Kalian telah bekerja dengan keras." Ujar Leona sembari menatap mereka dengan puas.


Mereka tidak bisa menjawab karena tengah berusaha bangkit untuk duduk. Bahkan beberapa perempuan terlihat tergeletak pingsan.


Mereka adalah bawahan milik Leona yang ditugaskan untuk mencari informasi maupun melakukan misi lainnya atas perintah dan persetujuan Leona. Selain hal itu mereka juga melatih pemuda dan pemudi desa agar bisa melindungi diri jika terjadi sesuatu nantinya.


Leona memiliki stamina yang sangat mengerikan. Dia bisa merobohkan sebuah benteng dalam sekali pukul. Bahkan tendangannya bisa menghancurkan sekitarnya, belum lagi kemampuan lainnya seperti melempar senjata, menembak, berpedang maupun lainnya yang sangat mengagumkan.


Leona sendiri tidak pernah memperlihatkan kemampuan aslinya, kecuali saat terdesak saja. Dia lebih suka mengandalkan kekuatan fisik dan kemampuannya dalam bermain senjata daripada mengeluarkan kemampuan pengendali elemennya. Hal itu terlalu merepotkan dan bisa saja dia diincar oleh orang-orang.


"Setelah ini aku akan pergi ke akademi untuk menjalankan misi. Kalian berlatihlah dengan keras dan lindungi yang lainnya." Pesan Leona dan segera pergi dari sana.


💠💠💠💠


Iris pergi keluar kediaman di temani seorang pelayan dan seorang pengawal. Dia ingin pergi mengunjungi sebuah toko perawatan tubuh yang terletak di pinggir kota.


Toko itu terkenal dengan produknya yang memiliki kualitas terbaik dan harganya terjangkau untuk semua kalangan. Iris yang penasaran mendatangi toko itu dengan mengenakan pakaian mewah khas bangsawan yang menjadikannya pusat perhatian.

__ADS_1


"Selamat datang di toko kami, pelanggan terhormat." Sapa penjaga toko ramah.


Iris tidak membalas sapaan penjaga toko itu, namun dia menelisik penampilan penjaga toko yang begitu rupawan dan terawat meskipun dia berasal dari kalangan biasa.


"Ada yang bisa kami bantu, pelanggan terhormat?" Sapanya ramah membuat Iris mendengus dan menatap berbagai produk yang tersedia di etalase. Segera dia mengambil beberapa produk yang diinginkan lalu menyuruh pelayannya untuk membayar.


"Silahkan datang lagi." Ucap penjaga toko begitu Iris pergi dari sana.


"Kakak, tunggu." Suara seorang anak kecil menarik perhatian nya. Iris mengedarkan pandangannya dan menemukan seorang anak perempuan berlari mengejar sepasang anak kecil yang tengah berkacak pinggang.


"Bisakah kau lebih cepat? Jalanmu lambat sekali." Sinis anak laki-laki itu, sepertinya dia berusia sebelas tahun.


"Hosh.. Hosh... Maaf, Kak." Ucap anak perempuan berusia tujuh tahun.


"Sepertinya kau lemah. Sebagai anak baru di keluarga kami, kau perlu berlatih lebih sering." Tukas anak perempuan yang berumur delapan tahunan.


"Baik, Kak. Aku akan berlatih agar bisa membalas budi kalian yang mau mengadopsi ku." Sahut anak kecil itu ceria.


Anak perempuan berusia delapan tahunan itu membalikkan tubuhnya dan berjalan mendahului mereka di susul oleh anak berusia sebelas tahun.


"Untuk apa? Aku memang anak adopsi. Meskipun begitu aku sangat menyayanginya. Aku ingin menjadi kuat agar aku bisa melindungi mereka suatu hari nanti." Sahut anak kecil itu polos.


"Kenapa kau ingin melindungi mereka? Bukankah perlakuan mereka itu buruk?" Tanya Iris. Dia dulu di perlakukan seperti itu oleh Leona dan Emillio, namun Iris selalu berhasil membuat Leona di jauhi dan di benci.


"Meskipun orang-orang bilang dia jahat dan kejam, kakakku itu sangat baik. Dia selalu memperhatikan ku dan menjagaku. Jika bukan karena ayah mereka, mungkin aku sudah mati kelaparan. Mungkin mereka tidak bisa menerima keberadaan ku, tapi aku yakin mereka akan menerima dan menyayangiku seiring berjalannya waktu." Ucap anak kecil itu polos.


Iris tertampar dengan perkataan anak kecil itu. Dia selalu iri dan tidak menyukai Leona. Bahkan dia selalu memikirkan cara untuk menyingkirkan Leona.


"Hei, kenapa kau lama sekali!" Seru kedua anak itu dan menatap anak kecil itu dengan kesal.


"Kakak, aku permisi. Kakakku menunggu. Sampai jumpa." Pamitnya dan segera berlari ke arah mereka.


"Iya, kak. Aku datang." Teriak anak kecil itu dan berlari kearah dua bocah itu. Kedua anak itu menunggu anak kecil yang berlari kearah mereka dengan datar, namun sorot matanya menampilkan ketulusan.


"Sudah aku bilang jangan berbicara dengan orang asing. Kau itu tidak ingat perkataan kami?" Sinis anak laki-laki itu namun nadanya penuh kekhawatiran.


"Aku heran kenapa ayah membawa orang pelupa sepertimu, padahal nasehat penting saja kau tidak ingat. Aku jadi khawatir dimasa depan kau akan melupakan kami." Cibir anak perempuan yang berusia delapan tahun.

__ADS_1


"Mereka anak yang rukun, ya." Komentar pelayan yang mengikuti Leona.


"Benar. Hubungan persaudaraan yang kuat. Mereka bahkan tidak terlihat saling membenci dari sorot matanya." Sahut pengawal itu.


"Sangat jarang ada anak yang mau menerima anak angkat di keluarga mereka. Padahal mereka diberi kasih sayang yang sama. Aku jadi terharu." Ucap pelayan pribadi Iris dengan nada menyindir saat melihat seorang pria dewasa menghampiri mereka lalu memeluknya bergantian.


Iris hanya menatap pemandangan itu dengan perasaan berkecamuk. Seketika perasaan menyesal dan bersalah menghantui hatinya.


Apalagi di sepanjang perjalanan pulang, dia melihat keakraban saudara dengan cara mereka masing-masing membuat rasa bersalah dan menyesal menyelusup di relung hatinya.


"Apakah aku salah?" Tanya Iris yang di dengar oleh pelayan dan pengawal.


"Anda tidak bisa memisahkan keluarga kandung, Nona. Meskipun mereka berpisah, mereka akan terhubung melalui batin, karena ikatan batin dalam keluarga tidak pernah putus." Ucap pelayan itu ketus.


"Tapi aku ingin memiliki keluarga. Apakah itu salah?" Bantah Iris tak terima.


"Anda tidak salah, tapi cara Anda yang salah. Tidak sepantasnya anda mengusir anak kandung dari rumahnya sendiri. Apa anda tidak sadar jika tuan Duke menyayangi anda melebihi nona Leona? Anda beruntung tuan Duke masih peduli pada Anda sementara nona Leona berjuang sendirian saat membutuhkan dukungan ketika nyonya Duchess meninggal tepat di depan matanya." Ucap pelayan itu panjang lebar.


Iris diam mendengar perkataan pelayan itu.


"Ada pepatah mengatakan hubungan darah lebih kental dari air, dan hal itu tidak pernah berubah, Nona." Pengawal itu menimpali.


"Selama ini Nona Leona menjalani berbagai kesulitan seorang diri. Kematian Duchess, kehilangan mana belum lagi banyak rumor yang beredar tentangnya membuat Nona Leona tidak pernah keluar dari kediaman. Berbeda dengan anda yang mendapat kemudahan." Lanjut pelayan itu.


"Jika hal di sekitar tidak membuat menyadari apa kesalahan Anda, hati anda terlalu gelap untuk melihat sebuah kebenaran. Jika anda memiliki sihir cahaya, seharusnya anda bisa menghilangkan rasa iri. Bagaimana jadinya jika calon saintess memiliki hati gelap dan pilih kasih seperti ini? Yang ada reputasi dan citra saintess akan jatuh hanya karena satu orang." Lanjut pengawal itu.


Iris terdiam menunduk. Perkataan mereka ada benarnya juga.


"Tidak perlu memikirkan hal yang tidak berguna, Nona. Semuanya tidak akan berubah jika Anda tidak berubah." Ketus pelayan itu.


Mereka tidak menyukai Iris mengingat sikap pelayan gadis itu sangat sombong dan menyebalkan. Bahkan mereka kerap bertingkah semena-mena meskipun sama-sama berstatus pelayan.


Lucas mulai mendisiplinkan para pelayan atas permintaan Leona sebelum pergi, khususnya pelayan Iris yang tentu saja dilakukan dengan senang hati oleh pria paruh baya itu.


Sebelumnya para pelayan dan penjaga dilarang melayani Leona atas permintaan Iris pada Duke. Sehingga mereka berpura-pura ketakutan ketika berjumpa dengan Leona di hadapan Iris dan Duke.


Namun mereka tetap mengawasi dan melayani Leona dengan menyuruh Jim, itupun atas surat rekomendasi dari mendiang Duchess dan selalu mengawasi mereka dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2