Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 58


__ADS_3

'Brukh'


Leona melemparkan tubuhnya ke atas ranjang empuk miliknya. Kemarin dan hari ini sangat melelahkan untuknya.


"Haahh~ Aku lelah sekali~"


"Seharusnya Anda mengganti pakaian dulu lalu membersihkan diri, Leona-sama." Tegur Arelle kesal. Bagaimana tidak, tingkah Leona sangat tidak sopan untuk seorang gadis seperti pada umumnya.


"Aku lelah, Arelle. Tolong lemonade dingin, ya~" Ucap Leona sambil mengibaskan tangannya mengusir Arelle. Gadis itu memilih mengalah dan pergi membuat lemonade dingin kesukaan Leona.


Setelah Arelle pergi, Leona segera membersihkan diri. Tiga puluh menit kemudian gadis itu kembali dengan keadaan yang lebih segar. Kali ini dia memilih mengenakan celana pendek sepaha dipadukan dengan baju kaos hitam. Setelah itu dia segera merebahkan diri.


Di Bloom Mist, semua pakaian di rancang seperti pakaian abad ke dua puluh satu. Sehingga orang-orang yang berkunjung merasa datang ke dunia lain. Begitu pun dengan beberapa alat canggih di bidang medis meskipun menggunakan batu sihir untuk menghidupkannya.


Beruntungnya diantara budak yang berhasil di selamatkan oleh Leona, dia bertemu dengan beberapa orang yang jiwanya berasal dari dunia yang sama, sehingga memudahkan gadis itu untuk membantu orang-orang dalam bidang kesehatan, pertanian maupun pendidikan.


Karena kerajaan dan kekaisaran hanya fokus dalam perang dan militer serta politik, mereka melupakan perkembangan dalam berbagai sektor. Jadi desa Bloom Mist menjadi satu-satunya desa paling maju di benua ini.


'Tok' 'Tok'


"Masuk!"


Kei datang membawa sebuah nampan berisi lemonade dingin bersama Ken yang datang membawa sebuah gulungan.


"Taruh saja di meja, Kei." Ucap Leona. "Ada apa?" Tanyanya kemudian.


"Kami mendapatkan informasi tentang kedatangan beberapa ksatria Castallio ke wilayah barat laut desa kita." Ucap Ken sambil menyerahkan gulungan itu.


Leona mengambil gulungan itu lalu membacanya. Seketika kerutan menghiasi wajah cantik gadis itu. Kei dan Ken meneguk ludahnya kasar saat melihat raut wajah majikan mereka yang menyeramkan, takut-takut menjadi sasaran kemarahan Leona.


Leona segera mengambil lemonade dingin dan meminumnya tanpa memedulikan etiket kebangsawanan lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Jadi permaisuri opera ingin menguasai desa ini? Mimpinya terlalu tinggi." Kesalnya saat membaca laporan itu. "Karena desa kita tidak berada di peta kerajaan maupun peta kekaisaran, bersemangatlah di dalam sarang monster, hihi..."


Surat itu berasal dari Arthur yang selalu mengawal Calvian ke istana. Pria paruh baya itu sering bertukar kabar dan dia mengabarkan perkembangan di ibu kota kerajaan, salah satunya keinginan permaisuri untuk membangun sebuah villa pribadi di desa ini.


Dan karena desa Leona berada di luar peta yang juga merupakan wilayah tengah bagian luar, jadi sangat sulit menemukan desa Bloom Mist. Meskipun berjarak satu kilometer dari reruntuhan bekas desa buangan itu.


Karena sebelumnya Leona pernah berkeliling daerah ini dan menemukan sebuah tempat yang indah untuk mendirikan desa kecil seperti dunia fantasy. Jadi banyak yang bingung mencari letak pasti desa ini.


Sementara Calvian sendiri berhasil menemukan letak desa ini setelah berkeliling cukup lama dan menemukan sebuah tembok yang tinggi menjulang di rimbunnya hutan wilayah tengah. Sementara Arthur dan rombongan pergi ke arah barat laut dan memasuki sarang parasit. Beruntung mereka selamat dan tidak sengaja di temukan oleh beberapa anggota Alpha berpatroli di luar desa, yang berjarak satu kilometer dari gerbang desa.


Leona melihat kedua siluman nya menunduk ketakutan. Trauma di tempat perbudakan pasti masih melekat di ingatan mereka.


Leona menghampiri mereka dan mengusap kepala dua pemuda itu, membuat mereka berdua tersentak kaget. Lalu mereka mengeluarkan dengkuran khas kucing menikmati elusan majikan mereka.


💠💠💠💠


"WUHHUUIII!!! AHAHAHA!!"


"INI SERU SEKALI!!! UGYAAA!!"


Leona dan ketiga rekannya kini berada di istana kekaisaran, lebih tepatnya di area latihan terbuka prajurit. Mereka tengah berseluncur dengan sebuah papan sambil berteriak kegirangan.

__ADS_1


Kei, Ken dan Kaze yang berwujud hewan hanya menatap majikan mereka sambil geleng-geleng kepala. Majikan mereka bersama ketiga rekannya terlalu aktif dengan segala tingkah absurd nya.


Sementara prajurit yang tengah berlatih hanya mampu menatap mereka dengan tatapan melotot. Bagaimana tidak, tamu kaisar itu berseluncur menuruni bukit dengan kecepatan tinggi tanpa pengaman apapun.


"Astaga, aku merinding melihat pemandangan itu." Ucap salah satu prajurit.


"Apakah mereka itu benar-benar murid akademi Moon Shadow? Aku meragukan itu." Balas yang lainnya.


"Kenapa kau berbicara seperti itu? Jangan sembarangan menilai orang." Tegur salah satu prajurit itu.


"Bukan begitu. Lihat kelakuan mereka yang menantang maut itu! Jika benar mereka dari akademi sana, kenapa mereka malah terbiasa bermain hal-hal berbahaya begitu?!" Serunya panik.


"Benar juga. Biasanya para siswa akademi pasti langsung memilih bersantai di istana. Tapi mereka malah menantang maut." Yang lain ikut menimpali.


Dan benar saja, kini keempatnya mulai kehilangan kendali. Karena sibuk berseluncur sambil bermain, terjadilah sebuah tragedi yang membuat para prajurit meringis dengan tatapan horor.


'BRAKK'


'Grasakk' 'Brukh'


'Cup'


Eura memeluk mesra sebuah pohon dengan keras, sementara Iven dan Wei Tao terjatuh menggelinding menuruni bukit dan berakhir saling menindih dengan bibir tidak sengaja bertubrukan.


"Kyaaahahaha! Uhuy!"


Sementara Leona terbang bebas menuju ke arah prajurit yang berkumpul. Gadis itu memejamkan mata sebelum salah satu prajurit berhasil menangkap tubuh gadis itu.


"Anda tidak apa-apa, Nona Leona?"


Leona membuka matanya saat mendengar suara baritone yang jernih serak ala penyanyi rock. Gadis itu berada di dalam gendongan seorang prajurit dengan paras yang cukup tampan.


"Oh, Khalix ksatria tamvan~ Terimakasih telah menyelamatkan ku dari kematian~ Aku jadi berdebar karena belum menulis kontrak perjanjian kunjungan neraka dengan malaikat mautku." Ucap Leona ngawur yang membuat mereka melongo. Telinga Khalix sendiri telah memerah mendengar bualan Leona.


"Sepertinya karena kau bermain hal berbahaya tadi, otakmu terpapar banyak bakteri gombal, Leona." Celetuk Carl yang muncul mendadak.


Leona menatap Carl sambil nyengir kuda lalu turun dari gendongan Khalix, tidak lupa melayangkan ciuman jarak jauh yang berhasil membuat pemuda itu baperan.


"Berbahaya apanya, Guru. Lihatlah yang lainnya." Tunjuk Leona pada ketiga rekannya yang kini tergelak tak berdaya dengan tampang tengilnya. "Iven dan Wei Tao berpelukan mesra, jadi aku menghampiri Khalix saja karena aku masih normal. Sementara Eura masih setia memeluk pohon, tuh." Tukasnya tanpa beban.


Carl menatap ketiga anak didiknya yang kini mulai bangun sambil memijit pelipisnya. Dia melihat Wei Tao dan Iven bertengkar sambil menahan jijik, sementara Eura meringis menahan sakit akibat menabrak pohon.


'Grraauuumm~'


'Khaauungg~'


Kei dan Ken mengaum sambil menghentakkan ekornya ke tanah. Tidak lupa ekspresi kesal terpampang di wajah kedua hewan buas itu.


"Ada apa wajah kurang ajar kalian? Apakah kalian ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Leona sambil menatap kedua hewan predatornya dengan bingung.


Mereka kompak mendengus lalu memalingkan wajahnya seakan berkata, 'Leona-sama, Anda majikan tidak ada ahklak.'


💠💠💠💠

__ADS_1


Terlihat empat orang remaja bersama dua binatang buas menyusuri lorong istana, diikuti beberapa pelayan dan prajurit di belakang mereka. Suasana terlihat mencekam membuat para pelayan dan prajurit merinding.


"Menjijikkan."


"Aku ingin muntah."


Iven dan Wei Tao mengumpat bersamaan lalu saling tatap sebelum kembali membuang muka. Sejak kejadian tadi mereka berdua tidak henti-hentinya mengumpat satu sama lain, bahkan saling melemparkan deathglare andalan masing-masing.


Eura dan Leona kebingungan melihat interaksi keduanya sejak kecelakaan tadi.


"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Leona penasaran.


"Entahlah." Eura membalas sambil mengendikkan bahunya.


'Khauungg~ Grrrmm~' Kei mengaum seolah mengatakan sesuatu.


Leona menoleh ke arah Kei yang berjalan di sebelahnya dengan penasaran dan berkata, "Maksudmu mereka terlibat suatu hal yang memalukan?'


'Grauumm... Krrr' Ken ikut mengaum.


"Oh, mereka tidak sengaja saling berciuman, begitu, kan?" Tebak Leona asal.


Kedua predator itu langsung mendirikan seluruh bulunya, sementara Kaze yang bersembunyi di saku jubah Leona menyembulkan kepala tupainya lalu menatap sekeliling dengan penasaran.


Iven dan Wei Tao tersandung kaki sendiri, sementara Eura menatap Leona dengan tatapan tak percaya. Bahkan para pelayan dan prajurit saling bertatapan satu sama lain dengan kebingungan.


"Kau tau darimana?" Tanya Eura penasaran.


"Aku asal tebak." Ucap Leona sambil memasang pose berfikir. "Lagipula mereka terlihat seperti orang yang ciuman pertamanya direnggut, kan?" Ucap Leona dengan watadosnya.


Iven tersulut emosi, dia lalu melemparkan sebuah sepatu yang langsung mencium kening Leona dengan mesra.


'Duakh'


'Brukh'


"Aduduh!"


Leona terjengkang dengan tidak elit sambil mengelus keningnya yang memerah. Dengan kesal Iven mengambil kembali sepatunya yang tergeletak di sebelah Leona.


"Kalau ngomong tolong lihat kondisi, Leona. Apa kau tidak kasihan pada sahabat mu ini? Kami masih normal, bodoh!" Ucap Iven kesal sambil mengacak-acak rambut Leona dengan gemas. Untung gadis itu sangat cantik, jika dia laki-laki maupun perempuan menye, sudah pasti babak belur di tangan pemuda berambut hijau itu.


Wei Tao yang kesal dengan tuduhan Leona juga tidak mau kalah. Pemuda itu memelintir leher Leona hingga gadis itu memekik dan mencoba membebaskan diri.


"Hen-hentikan! Tolong!!"


"Nona Leona!" Panggil beberapa pelayan dan prajurit. Mereka ingin menolong, namun Eura memberi isyarat untuk tidak ikut campur. Mereka terpaksa menonton pergulatan Leona dengan Iven dam Wei Tao dengan cemas.


Setelah puas, dua pemuda itu meninggalkan Leona yang tergeletak tak berdaya dengan nafas memburu. Penampilan gadis itu cukup menyedihkan dengan rambut berantakan dan kening yang memerah.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Eura khawatir.


"Kepalaku menggelinding." Sahut Leona ketus yang sukses membuat pemuda berambut merah itu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2