Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 63


__ADS_3

Kei membawa tubuh Leona yang telah kaku ke kereta kuda diiringi isak tangis Kaze. Disusul oleh Carl, Iven, Wei Tao dan kaisar Ein. Mereka memasuki kereta kuda dan membaringkan tubuh Leona di salah satu sofa yang ada di dalam sana.


Eura datang dengan terburu-buru dan ikut masuk ke dalam kereta kuda. Mereka menatap jasad Leona yang kini telah mendingin dengan amarah yang memuncak.


Ken yang berada di sana merasa kebingungan dengan atmosfer yang berada di sana. Dia merasa cemas dengan Leona, namun tidak ingin bertanya lebih jauh mengingat ada kaisar di sana.


"Ken, jalankan keretanya." Ucap Kei.


"Baik."


Kereta kuda perlahan menjauh dari istana raja Seanthuria dengan keheningan dan kesedihan. Mereka mengutuk putra mahkota yang bodoh, serta Iris yang menurut mereka menyebalkan.


Punya sihir cahaya, namun pura-pura polos dan teraniaya. Belum lagi suka mencari perhatian.


'Poft'


Suara itu membuat mereka tersentak kaget dan menatap horor sofa yang mereka kerubungi. Mata mereka nyaris melompat dari rongga saat menyadari sesuatu di hadapan mereka.


Jasad Leona kini telah berubah menjadi sebuah ranting pohon, lengkap dengan sepucuk surat yang bertuliskan: 'SELAMAT! KALIAN BERHASIL MENDAPATKAN KEJUTAN TERBAIK SEPANJANG MASA! JANGAN HUBUNGI AKU UNTUK SEMENTARA WAKTU!'


Kedutan tercetak jelas di wajah ke empat pria yang berada di dalam kereta itu. Urat-urat kekesalan menyembul di dahi dan leher mereka, pertanda emosi mereka yang membuncah.


"Jadi, kita hanya menangisi sebuah ranting?" Beo Eura dengan tampang bodoh.


"Aku tak menyangka dia bisa secerdik ini. " Ucap Carl dengan senyum penuh emosi. Sudut bibirnya berkedut menahan kesal dengan urat-urat menonjol di wajah tampannya.


Yang lainnya hanya bisa cengo di tempat. Astaga, gadis itu... Untung cantik dan tidak merepotkan serta sangat cerdas, jika saja merepotkan dan menjengkelkan, mungkin sudah tinggal nama di papan nisan kuburan.


"Leona-sama... Anda benar-benar..." Geram Kei kesal.


Mereka tidak tau harus bereaksi seperti apa. Senang karena Leona masih hidup, marah, kesal dan jengkel karena di jahili oleh gadis itu dengan membuat mereka menangisi seonggok ranting pohon, atau kecewa karena merasa di permainkan.


Mereka kini sibuk memikirkan segudang rencana untuk menyiksa Leona. Selain membolos untuk menjalankan misi, kejahilan gadis itu juga sangat meresahkan.


💠💠💠💠💠


Beberapa hari kemudian....


Kei dan Ken yang mempunyai penciuman yang tajam berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong lantai empat. Raut wajah mereka terlihat tak bersahabat saat mereka mencium aroma yang tak asing di hidung mereka.


Ya, aroma milik Leona. Saat mengetahui jika mereka dikerjai habis-habisan oleh majikan mereka, sebuah rencana jahat terbit di kepala mereka.


'Brakh'


'Brushh'

__ADS_1


'Uhuk' 'Uhuk'


Ken mendobrak kasar pintu kamar penginapan yang ditempati sang majikan. Sedangkan Leona yang duduk santai sambil menyesap segelas lemonade dingin tersentak kaget hingga menyemburkan minumannya dan terbatuk-batuk.


Leona menatap sang pelaku dengan marah, namun saat melihat ekspresi menyeramkan dari Kei dan Ken, Leona hanya bisa terkekeh tak berdaya dengan watadosnya.


"Ahaha... Apa kabar, Kei, Ken?"


"Leona-sama, Anda benar-benar keterlaluan!" Kesal Kei sambil mendekati Leona.


"Benar, Leona-sama. Karena Anda, kami harus mendengarkan omelan panjang lebar dari Kaze! Telinga kami sampai berdarah karena cicitan tupai menyebalkan itu!" Protes Ken menggebu.


"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak ingin hadir di acara itu. Lagipula sekarang aku sudah mati di kerajaan Seanthuria dan Iris pasti sangat senang. Aku hanya ingin membuatnya senang dulu sebelum dia menderita." Ucap Leona dengan perasaan bersalah. Dia merasa bersalah karena membuat tiga siluman nya sedih.


Kei dan Ken tersenyum sangat manis hingga membuat mereka terlihat begitu tampan, bahkan tampan berkali-kali lipat. Seketika Leona merasakan firasat buruk menghampirinya. Entah apa yang direncanakan dua pemuda ini.


"Ke-kenapa kalian menatapku begitu?" Cicit Leona curiga.


"Hehe..."


Dan jeng! Jeng! Jeng!


Kini Leona diikat pada sebuah pohon besar yang terletak di belakang penginapan tempat Leona menginap. Terlihat Iven, Wei Tao dan Eura menatapnya sambil menyeringai setan.


"Ada apa dengan kalian? Lepaskan aku!" Teriak Leona sambil mencoba melepaskan diri.


"Tidak semudah itu, Leona. Kau bahkan membuat kami sedih, dan kau malah asik berlibur seorang diri!" Kesal Eura sambil menunjuk-nunjuk Leona dengan kesal.


"Bukankah mereka semua melihatku mati tepat di mata mereka? Jadi kalian bisa tenang sekarang." Leona mencoba membela diri dengan mencari alasan yang tepat.


"Dan kau membuat kami menangisi ranting pohon, Leona! R.A.N.T.I.N.G.P.O.H.O.N!" Kesal Iven sambil menekan dan mengeja kata ranting pohon.


Beruntung ada Ken dan Kei yang merupakan siluman predator yang memiliki penciuman yang baik, sehingga mereka berhasil menemukan keberadaan Leona meskipun memerlukan waktu beberapa hari.


Leona hanya memberikan cengiran lebar dengan tampang yang sengaja di imut kan. Untung saja dia memiliki wajah yang cantik.


"Si brengsek ini..." Geram Wei Tao kesal. Jika saja dia laki-laki, sudah pasti babak belur karenanya.


"Astaga, aku belum menghabiskan cemilan ku. Aku pergi dulu, ya~" Pamit Leona tanpa merasa bersalah dan menghilang dalam kepulan asap.


'Poft'


Ketiganya merasa cengo saat melihat Leona melarikan diri tanpa sihir. Hanya sebuah teknik yang di sebut ninjutsu oleh Leona. Jurus yang sangat kuat dan merepotkan meskipun tanpa menggunakan mana.


Teriakan kekesalan menggema di belakang penginapan itu.

__ADS_1


"LEONAAAA!!"


💠💠💠💠💠


Sementara di kerjaan Seanthuria...


Kematian Leona menjadi tranding topik di kerajaan Seanthuria. Banyak yang menyayangkan kematian gadis itu. Jika bukan karena dia, sudah pasti mereka tidak bisa menghirup udara hari ini.


Banyak yang menghujat Iris sebagai anak pungut tidak tau diri, mengingat bagaimana perkataan terakhir Leona sebelum kematian gadis malang itu.


Posisi putra mahkota juga terancam. Banyak pendukung mulai ragu dengan kemampuan putra mahkota, karena membunuh Leona yang sama sekali tidak pernah terlihat di pergaulan kelas atas. Bahkan mereka juga sangsi dengan tindakan Casian yang seenak jidat membunuh tanpa mengusut tuntas akar dari dalang penyerangan itu.


Kondisi ratu Errena semakin memburuk, membuat Iris yang notabene pemilik elemen cahaya mulai di pertanyakan. Mereka juga mulai ragu jika gadis itu merupakan pilihan dewi.


Raja dan permaisuri berusaha meredam keraguan publik dan menuduh pangeran Khalix melakukan kudeta. Pihak kerajaan mengutus prajurit terbaik untuk membunuh siswa akademi Moon Shadow karena menduga pangeran Khalix memiliki sekutu di sana.


Beberapa guru pengajar tewas terbunuh, seluruh siswa baru yang tak bersalah ikut terbunuh dalam pembantaian itu. Bahkan beberapa siswa tahun kedua, ketiga dan keempat yang libur misi dan menetap di sana juga tewas dalam tragedi ini.


Kaisar Ein yang mendengar hal itu tersulut emosi. Mereka yang berada di bawah naungannya di usik oleh raja bodoh itu. Dengan penuh emosi dia mendatangi raja Seanthuria dan langsung masuk ke ruang persidangan. Rupanya mereka hendak mengeksekusi mati pangeran kedua.


"Berhenti!" Teriak kaisar Ein dengan penuh emosi. Dia menghampiri pangeran Khalix yang sebentar lagi di penggal oleh algojo.


"Salam, Baginda." Ucap raja dan permaisuri penuh hormat sekaligus kebingungan.


"Ada apa Anda datang kemari, Baginda?" Tanya raja Grambiel kebingungan.


"Oh, kau tidak tau, ya? Khalix itu merupakan prajurit pribadiku, Yang Mulia. Jadi biarkan aku yang menghukumnya sesuai hukum kekaisaran." Tawar kaisar Ein.


"Tapi, dia sudah merencanakan kudeta, Baginda." Tuduh raja Grambiel.


"Dan kau menuduhku melakukan hal itu? Kau tau, jika akademi Moon Shadow itu berada di bawah naungan ku, kan?" Emosi kaisar Ein tidak bisa di bendung lagi. Semua hadirin gaduh mendengar perkataan kaisar. Raja dan permaisuri mendadak pucat mendengar hal itu mendadak pucat dan tubuh bergetar hebat.


"Putra mahkota Casian telah membunuh murid terbaik akademi Moon Shadow yang mencoba melindungi istana dari serangan pembunuh bayaran, yang juga merupakan sepupuku dan sekarang kau mencoba membunuh prajurit pribadiku? Kau ingin melakukan perang dengan Kekaisaran Kamitsuki, raja Seanthuria?" Sinis kaisar Ein.


"Ti-tidak, Baginda. Kami tidak bermaksud."


"Kalau begitu, lepaskan pangeran Khalix dan biarkan kekaisaran yang menghukumnya." Ucap kaisar Ein tegas dengan nada dingin tidak ingin di bantah.


Mau tidak mau raja Seanthuria melepaskan pangeran Khalix. Pangeran Khalix menatap kaisar Ein dengan penuh terimakasih.


"Mulai hari ini, gelar pangeran Khalix Aratha Seanthuria dicopot dan bukan lagi bagian dari keluarga kerajaan Seanthuria serta diasingkan ke wilayah tengah yang berbahaya!" Ucap kaisar Ein lantang.


"Saya terima keputusan Anda, Baginda." Ucap Khalix tegas. Kini pemuda itu merasa lega karena tidak lagi berurusan dengan kerajaan dan perebutan tahta.


"Kalau begitu, kita pergi."

__ADS_1


__ADS_2