Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 81


__ADS_3

Leona menatap pemandangan indah desa Bloom Mist dari atap kediamannya. Pikirannya menerawang memikirkan hal-hal yang akan dia lakukan setelah menggulingkan Raja Grambiel yang terkenal sombong dan egois itu.


"Rupanya Anda berada di sini, Nona." Sapa Saga yang muncul tiba-tiba dengan sihirnya.


Leona mendongak dan mendapati pria tampan itu yang berdiri di sebelahnya, lalu gadis itu kembali menatap indahnya pemandangan sore desa Bloom Mist yang tidak pernah membosankan.


"Ada apa?" Tanya Leona tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Dia hanya ingin beristirahat sejenak sebelum kembali ke istana raja Grambiel dan membuat kekacauan.


Saga ikut duduk di sebelah Leona dan menatap pemandangan desa itu. "Desa yang indah, ya." Ucapnya kagum dengan mata yang berbinar senang.


"Ini adalah hasil kerja kerasku dan paman untuk membangun desa ini, serta penduduk yang ikut berpartisipasi." Sahut Leona bangga.


Saga tersenyum tipis. Dia menatap Leona yang masih setia menatap pemandangan indah desa Bloom Mist.


"Aku mendapatkan informasi yang mungkin berguna untukmu." Ucap Saga sambil mengalihkan pandangannya.


Leona meliriknya sekilas. "Katakan."


"Empat duke kerajaan Seanthuria telah di kendalikan oleh Raja Grambiel. Satu-satunya cara untuk membebaskan mereka adalah dengan cara menghancurkan kalung itu. Tapi nyawa mereka berempat akan hilang, sih." Oceh pria itu sambil memasang pose berfikir.


Leona tampak berfikir keras, lalu sebuah ide mengalir di otaknya.


"Hmmm? Hmmm... Bagaimana kita korban kan saja mereka untuk membangkitkan raja kegelapan? Aku jadi penasaran melihat kehancuran raja itu." Ucap Leona enteng.


"Salah satu dari mereka adalah keluarga mu, Nona." Tegur Saga tak habis pikir dengan ucapan Leona.


Leona mengendikkan bahunya tak acuh. Dia tidak peduli dengan hal itu. Bahkan ayah pemilik tubuh ini saja tidak pernah bersikap baik padanya.


"Keluarga, ya? Keluarga ku di sini." Ujar Leona setelah terdiam beberapa saat. Hanya Jim dan para siluman yang bersikap hangat padanya. Belum lagi penduduk desa ini memperlakukan nya dengan baik terlepas dari rumor buruk yang beredar tentangnya.


Saga diam. Dia tau mengenai semua rumor yang beredar tentang gadis itu sebelum dia membuat kehebohan tiga tahun lalu. Dan rumor itu menghilang begitu saja setelah kematian Leona.


"Ada cara melepaskan belenggu mereka yang terikat dengan kalung itu, Leona." Ucap Saga setelah cukup lama terdiam. Dia menatap Leona dengan senyum menawan miliknya yang membuat gadis itu mendengus jengkel.


💠💠💠💠💠


"Kenapa kita harus ikut campur dengan kerajaan Seanthuria? Bukankah itu tidak ada urusannya dengan kita?" Tanya Kiara beruntun sambil memasang wajah kesal yang kentara. Gadis berambut pink itu tidak habis pikir dengan pikiran mereka yang bersemangat membantu empat duke di kerajaan itu.


"Karena kalung Krikia, mungkin?" Jawab Iven ambigu sambil memasang pose berpikir.


"Mungkin kaisar ingin menggulingkan raja Seanthuria, mengingat kerajaan itu sekarang berada di ambang kehancuran." Tutur Wei Tao sambil menyesap tehnya dengan santai.

__ADS_1


"Tapi, empat duke itu terkenal dengan kekuatannya yang mengerikan. Aku ragu apakah kita akan berhasil." Ucap Kiara kelewat sedikit sedih sambil mengeluarkan beberapa botol kecil berisi cairan bewarna ungu pekat dan hitam.


Iven dan Wei Tao menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan gadis pink itu. Sementara Eura menatapnya dengan heran dan memutuskan bertanya, "Kenapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja kita akan menang."


"Masalahnya, aku belum mencoba racun buatanku pada mereka." Tukas Kiara cepat.


"Hah?"


"Iya. Aku ingin mencoba racun ini pada pasukan musuh. Apa kalian ingin mencoba lebih dulu? Kami belum membuat penawarnya." Ucap Kiara kelewat jujur yang sukses membuat ketiga pria itu menatapnya ngeri.


Jangan pernah menaruh perasaan pada Kiara. Meskipun dia memiliki paras cantik dan terlihat polos, namun kepolosannya bisa menjadi tempat pemesanan tiket menuju dewa kematian.


"Bisakah kau tidak mengatakan hal aneh seperti itu, Kiara?" Kesal Iven sambil meringis dengan kepolosan Kiara. Dia sedikit mirip dengan Leona dan sedikit lebih waras.


Kiara hanya terkekeh tanpa dosa dan menatap mereka dengan tatapan polos, yang sukses membuat ketiga pria itu gemas sendiri untuk mengirimnya ke tempat antah berantah.


"Ahaha... Aku lupa."


Sementara di kerajaan Seanthuria...


Iris menjerit kesakitan saat raja Grambiel mulai mengambil sihir cahaya miliknya dan menyimpan sihir itu dalam sebuah kalung yang berada di lehernya.


Iris merasa tubuhnya lelah dan lemah karena mana miliknya berkurang banyak. Dia melirik ke sekeliling dan mendapati empat duke tengah duduk santai dengan sebuah mangkok di tangan mereka. Terlihat darah mereka menetes di sana.


Iris merasa bersalah. Karenanya, ayah dan yang lainnya dalam bahaya. Sebelum kegelapan menghampiri nya, dia melihat tatapan kekecewaan dan kasihan dari sorot mata pria paruh baya itu.


'Brukh'


Iris pingsan di tempat membuat raja Grambiel mendengus. "Padahal sedikit lagi." Gerutunya kesal dan menyuruh seorang prajurit memindahkan tubuh gadis malang itu.


Pria paruh baya itu menatap empat duke yang terlihat sedikit pucat. Mangkok yang berada di bawah tangan mereka hampir penuh dengan darah. Segera pria itu menyuruh beberapa pelayan mengambil mangkok itu dan membebat tangan empat pria paruh baya itu.


"Aku mendengar kabar jika kaisar Ein adalah keturunan dari klan Tigries." Ucap raja Grambiel sambil tersenyum miring. Dia membayangkan jika pria yang menjabat sebagai kaisar itu bisa menjadi tumbal untuk membangkitkan raja kegelapan.


"Bagaimana Anda bisa seyakin itu, Baginda? Bukankah mereka telah musnah?" Tanya duke Spedarrow dengan sebelah alis terangkat.


"Mata kucing. Mata seperti kucing adalah ciri khas mereka. Alangkah bagusnya kalau dia berhasil dijadikan tumbal pada bulan purnama nanti." Seringai raja Grambiel penuh percaya diri.


"Dan kau tidak akan pernah bisa menangkap ku." Bisik seseorang yang mengintai kegiatan mereka sambil tersenyum miring.


💠💠💠💠

__ADS_1


"Hmmm? Hmmm... Begini, begitu, hmm..."


Leona terus bergumam seperti itu sejak tadi. Dihadapannya terdapat banyak kertas berserakan yang dipenuhi dengan sebuah aksara yang tidak di mengerti, namun Leona sendiri sangat mudah memahaminya.


Arelle, Carl dan beberapa pelayan hanya sibuk memperhatikan. Bahkan mereka semua tidak paham dengan tulisan itu.


"Apa kau sudah mendapatkan petunjuk?" Tanya Carl menatap Leona yang sibuk menterjemahkan tulisan super rumit menurutnya. Tulisan itu mirip dengan beberapa teknik yang di kembangkan oleh Leona beberapa waktu lalu.


"Sedikit. Tapi sepertinya ini segel penghancur karena aku berhasil memecahkan beberapa tulisan ini." Ucap Leona tanpa mengalihkan perhatian pada kertas miliknya.


"Jadi kalung itu bisa dihancurkan?" Tanya Kazuma yang tiba-tiba datang membawa sebuah troli. Pria tampan itu meletakkan segelas lemonade dingin di hadapan Leona dan menyuruh beberapa pelayan yang berada di ruang itu untuk menata cemilan.


"Belum tentu." Sahut Leona dan menyambar lemonade dingin itu. Dia menyesapnya sedikit dan menunggu reaksi dari minuman itu.


Kazuma menatap gadis itu dengan jengkel. Carl dan beberapa pelayan menatap Leona dengan kebingungan.


"Aku tidak menaruh racun di dalam lemonade itu." Tukas Kazuma agar Leona meminum lemonade buatannya.


"Aku tau. Tapi aku curiga kau akan memasukan sesendok lemonade dalam segelas madu." Balas Leona cuek dan meminumnya sekali teguk. "Haahh~ Syukurlah gigiku tidak menangis ngilu karena manisnya kebangetan~"


"Itu karena Anda meminum teh saya sembarangan." Sengit Kazuma tak terima.


"Itu bukan teh, tapi sesendok teh dalam segelas madu."


Leona dan Kazuma terus cekcok membuat Carl menghela nafas frustasi. Entah mengapa Leona dan Kazuma selalu suka berdebat dalam hal apapun. Bahkan para pelayan sepertinya sudah terbiasa dengan perdebatan mereka.


"Sudahlah kalian. Hentikan perdebatan konyol ini. Kita harus cepat bertindak untuk menghancurkan batu Krikia itu sebelum raja kegelapan bebas." Tegur Carl dengan kesal.


Leona dan Kazuma menghentikan perdebatan konyol mereka dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Kazuma memutuskan membantu Leona dengan membaca beberapa buku kuno yang di bawa oleh Jim beberapa waktu lalu. Setelah beberapa saat, keduanya kembali berseru senang bersamaan.


"Dapat/Ketemu!"


Sontak Carl menatap mereka dengan penasaran dan penuh harapan.


"Tulisan ini mengatakan jika raja kegelapan lemah dengan petir. Sayang sekali di benua ini tidak ada yang memiliki sihir petir." Tutur Leona sedikit kecewa sambil mencatat poin-poin penting yang langsung di terjemahkan oleh Leona dan menyerahkan pada Carl.


Carl membaca hasil terjemahan tulisan itu dengan dahi berkerut, namun beberapa saat kemudian ekspresi pria itu berubah senang.


"Dan dalam buku ini dijelaskan, hanya seseorang dengan memiliki kekuatan petir yang mampu memusnahkan raja kegelapan sekaligus menghancurkan batu Krikia." Kazuma menunjukkan sebuah buku kuno pada mereka.


"Baguslah. Sebaiknya segera beritahu hal ini pada kaisar."

__ADS_1


__ADS_2