Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Extra Chapter


__ADS_3

Kekuatan cahaya milik Iris perlahan memudar dan menghilang. Kini dia resmi menjadi seorang Nolid, meskipun dia hanya bisa menggunakan sihir untuk sehari-hari.


Seorang pemilik sihir cahaya dilarang terikat dengan keluarga dan hal yang bersifat keduniawian. Namun gadis itu abai dan kini menjadi cemoohan publik.


Perlahan kewarasan Iris terganggu. Secara perlahan dia menjadi gila dan terus menyalahkan Leona untuk semuanya.


Keluarga Castallio kini mengasingkan gadis itu di penjara bawah tanah. Selama ini mereka memanjakan gadis itu melebihi putri kandung mereka. Mereka juga harus menanggung malu karena terlalu pilih kasih, mereka malah membuang berlian asli dan langka demi berlian pasaran dan murah. Jika saja waktu dapat diputar kembali, mereka pasti akan menyayangi dan lebih memperhatikan Leona.


Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, dan bubur tidak mungkin menjadi nasi lagi.


💠💠💠💠


Leona menatap langit malam. Entah mengapa dia teringat dengan salah satu sahabat pria tertampan di kehidupannya yang dulu.


Pria berambut unik, hitam dengan beberapa helai biru. Mata yang seindah biru malam dengan sikap yang dingin seperti kulkas seratus pintu dan mulutnya sangat tajam dan pedas.


"Albert, apakah kau pergi ke kota X dan menjaga restoran Draka untukku? Apakah restoran ku mengalami kebangkrutan? Jika iya, jangan merasa bersalah. Ubah saja interior dan resepnya. Aku ikhlas." Racaunya sambil menatap langit.


"Aih, aku merindukanmu dan Joshua. Bagaimana hidup mu di sana? Apakah kau berhasil membawa anak hasil eksperimen Damian itu kabur ke kota X? Apakah kau sekarang menjadi duda muda lajang berusia tiga puluh satu tahun dengan dua anak remaja? Aku ingin mentertawakan mu." (Novel: The Scard: Start! dan The Scard:Return!)


"Sayangnya aku mati saat menjalankan misi. Aku harap kau bahagia di sana bersama kedua anak remajamu." Doanya tulus di sertai desiran angin malam yang lembut membelai wajahnya.


"Ah, aku tidak boleh begini. Aku harus kuat. Kita sudah beda alam beda dimensi. Aku bahagia di sini meskipun harus berpisah dengan sahabat tampan ku yang sayangnya bermulut tajam dan pedas." Kekehnya dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Leona menangis sesegukan saat tiba-tiba mengingat dua sahabat prianya yang sinting itu. Yang satu sangat tampan dengan mulut tajam berbisa, membuat siapapun dengan sukarela bunuh diri. Dan satunya lagi dokter gila. Dia akan menyuntik mati musuhnya atau targetnya yang terluka atau memeriksakan diri padanya.


Leona menyadari jika Jim memperhatikan dirinya yang menangis. Mungkin pria itu berpikir jika keluarga Castallio telah membuangnya.

__ADS_1


Setelah memastikan Leona sudah tenang, Jim menghampiri nya dengan membawa segelas lemonade hangat.


"Apakah kau merindukan mereka? Kau bisa kembali ke kediaman Castallio." Ucap Jim hati-hati sambil menyodorkan lemonadenya. Dia tidak tega melihat keponakannya menangis.


"Aku sudah lebih baik, Paman. Aku ingin tetap di sini." Sahut Leona tegas dan mengambil lemonade itu dengan senang hati.


"Baiklah, jika itu keputusan mu."


Hening sejenak sebelum Leona kembali angkat suara.


"Bagaimana keadaan desa setelah aku tak sadarkan diri?"


"Tidak ada yang hal yang menyulitkan selain tumpukan surat lamaran pernikahan. Aku tidak bisa membukanya maupun membuangnya. Aku juga tidak membalasnya karena keputusan ada di tanganmu." Tutur Jim sedikit frustasi.


Leona terkekeh lalu teringat dengan Albert di kehidupan sebelumnya. Kabarnya anak hasil penelitian Damian itu adalah perempuan. Jika pria itu berhasil membawa anak itu pergi dari sana, kira-kira bagaimana rekasi pria itu saat menerima surat kerjasama yang berisi perjodohan saat sang sahabat yang gemar oplas minuman itu sukses nanti dan memiliki putri yang sangat cantik?


Leona terkekeh lalu menatap sang paman yang telah merawatnya selama ini.


"Ahaha... Kau ini benar-benar..."


"Oh, ya. Raja Grambiel telah di eksekusi mati seminggu lalu. Putra mahkota juga telah tewas saat duel dengan Khalix. Aku dengar mereka berempat pura-pura mati di depan kaisar saat kaisar hendak menunjuk Khalix menjadi raja." Lapor Jim sambil geleng-geleng kepala.


"Hah?"


💠💠💠💠


Dan di sinilah mereka berada. Leona duduk di salah satu meja yang berada di restoran bersama Iven, Khalix, Wei Tao dan Eura. Kei, Kaze dan Ken lebih memilih dalam wujud hewan mereka karena mereka ingin rebahan.

__ADS_1


Leona menatap mereka dengan tatapan menuntut yang sukses membuat keempat pria itu nyengir tak berdosa.


"Aku dengar kabar jika kalian berempat menolak menjadi raja. Bisa jelaskan kenapa?" Tanya Leona penuh intimidasi.


Khalix angkat suara mencoba membela diri, "Itu karena dia menendangku hingga terjungkal ke depan saat mengintip raja Grambiel di ruangan khusus." Cebiknya kesal. Dia masih ingat jelas saat dirinya bersama kaisar Ein menyamar menjadi penjaga dan membuntuti raja itu diam-diam. Dan dengan tanpa merasa bersalah atau apapun, kaisar mendorong Khalix, ralat menendang pria itu untuk menyamar sebagai seorang Butler untuk menukar darah keempat duke itu dengan darah ayam dicampur darah sapi dan darah bangsa Orch.


Khalix yang dendam pun mengikuti perintah sang kaisar, tidak lupa dengan mencampurkan ramuan cinta buatan Kiara di darah itu sehingga saat raja kegelapan bangkit, dia akan jatuh cinta pada seseorang yang memikat matanya. Siapa sangka jika dia terpikat dengan kaisar Ein?


Membayangkan hal itu membuatnya puas. Sangaaatt puaaass.


Mereka tertawa terbahak jika mengingat momen itu. Saat dimana raja kegelapan bebas dan mengklaim kaisar Ein adalah tunangannya.


"Aku tidak ingin kehilangan kebebasan ku dalam tumpukan berkas yang tidak ada habisnya." Kali ini Iven angkat suara diiringi anggukan ketiga lainnya.


"Baiklah. Bagaimana jika kita mengunjungi makam rekan kita yang telah dibantai itu?"


Dan mereka kini berziarah ke makam tempat rekan akademi Moon Shadow di bantai habis. Leona membawa sebuah buket dsn meletakkannya di tugu yang terletak di depan makam itu.


"Maaf, kami baru berkunjung kemari setelah sekian lama. Ada banyak hal yang terjadi dan kalian pasti telah melihatnya dari atas sana."


Eura dan Iven menyiramkan sebotol arak di tanah.


"Kami tidak tau minuman kesukaan kalian apa. Aku harap kalian menyukainya. Kami juga membawa kabar baik untuk kalian." Khalix melanjutkan.


"Putra mahkota Casian telah tewas dan raja Grambiel telah di eksekusi. Keluarga kerajaan juga telah hancur. Dendam kalian dan dendam kita telah terbalaskan. Aku harap dengan kabar ini kalian bisa beristirahat dengan tenang. Atas nama keluarga kerajaan, aku mohon maaf pada kalian semua. Jika saja aku bukan keturunan keluarga kerajaan, kalian tidak bernasib seperti ini." Ucap Khalix penuh sesal.


Hembusan angin berhembus pelan membelai wajah mereka.

__ADS_1


"Kami harus pergi. Lain kali kami akan berkunjung kembali." Lalu mereka pergi meninggalkan makam guru dan rekan-rekan akademi diiringi hembusan angin bertemu kencang yang menerbangkan semua kelopak bunga yang berada di buket itu.


END


__ADS_2