Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 75


__ADS_3

'BRAAKK!'


'KRAAAKK!'


"SETAAAANNNN!"


Teriakan membahana terdengar di ruangan milik pemimpin desa Bloom Mist. Terlihat sebuah meja ambruk dengan kertas berhamburan jatuh ke lantai. Nafas pria itu terengah-engah menahan emosi.


Sementara tiga orang yang memakai jubah hitam hanya bisa mengeluarkan keringat dingin saat merasakan aura membunuh yang menguar dari tubuh pria itu. Mereka bertiga baru saja melaporkan hasil pengamatan di istana kerajaan Seanthuria.


Jim menjerit kesetanan saat mendengar dari laporan salah satu mata-mata yang di kirim ke istana kerajaan. Raja itu benar-benar. Ukh.


Dia ingin mengirim ke neraka lapisan ketujuh atau lapisan terakhir lalu melemparkannya ke bawah jurang yang berada di Titi Ugal-Agil atau memberikannya pada iblis atau apapun itu.


"Beraninya dia merebut wilayah ku setelah sebelumnya mengabaikan permohonan mendiang ayah angkatku?" Geram pria itu penuh amarah.


"Benar, Jim-sama. Kami mendengar semua pembicaraan mereka. Dia ingin menjadikan penduduk desa ini sebagai budak perang untuk berperang melawan Kekaisaran Kamitsuki." Jelas salah satu dari orang bertudung itu.


"Mereka tidak terima jika desa kita lebih kaya maupun lebih kuat dari kerajaan yang di pimpinnya. Dia seakan merasa terancam." Imbuh yang lainnya.


Cukup sudah. Dia muak dengan raja itu. Apalagi dari laporan mereka bahwa raja Seanthuria menjalin kerjasama dengan bangsa Orch.


"Laporkan pada Leona tentang rencana raja sinting itu. Dia harus tau dan bergerak dengan cepat. Lebih cepat dari si gila sinting itu, SEKARANG!" Titah Jim dengan berteriak penuh penekanan di akhir perkataannya, tidak lupa mengeluarkan aura membunuh yang pekat.


"Baik, Jim-sama."


Ketiganya menghilang dari hadapan Jim, meninggalkan pria itu yang masih di selimuti amarah.


Jim luar biasa kesal. Desa yang dia dan Leona bangun dengan susah payah tanpa menggunakan uang dari kerajaan kini ingin di serang oleh Raja itu? Dia tidak akan membiarkan desa ini hancur begitu saja. Bisa-bisa usahanya selama ini hancur berantakan. Dia sudah membangun desa ini dari nol, bahkan minus nol.


Sepertinya dia memang membutuhkan Leona dan kawanannya untuk menghancurkan raja itu sekarang.


"Leona, ku harap kau membuat raja itu pusing tujuh keliling. Bila perlu buat raja itu menderita, semenderitanya." Gumam Jim sambil meremas ujung meja yang sudah hancur itu.


💠💠💠💠💠


"FOR GOD SHAKE!! APA-APAAN CACING KREMI ITU!!!" Teriak Leona kesetanan.


Ketiga utusan dari Jim hanya bisa mengurut dada mendengar teriakan membahana dari pemimpin desa mereka. Tadi Jim mengamuk dan sekarang Leona berteriak sambil memaki. Untungnya mereka sudah mempersiapkan diri kalau-kalau gadis di hadapan mereka akan mengamuk seperti sang paman.


Sementara seorang pelayan pribadi dan prajurit pribadi gadis itu hanya menganga melihat pemandangan itu. Mereka tidak menduga jika gadis barbar itu akan berteriak seperti itu.


"HOLLYSHIT!! Anjing gila rabies itu benar-benar! Dasar monyet kurap!" Leona memuntahkan sumpah serapah sambil meremas kertas itu.


Pelayan dan pengawal pribadi Leona hanya bisa melongo mendengar makian nona baru mereka. Meskipun mereka kewalahan karena Leona selalu membuat onar, tetapi mereka baru mendengar Leona mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan pada seorang raja. Wow.

__ADS_1


Sementara Kei dan Ken hanya memilih diam. Jika Leona sudah mengeluarkan sumpah serapah dan makian, berarti majikannya benar-benar sedang emosi luar biasa. Salah-salah dia bisa menunju siapapun, bahkan apapun jika mau.


"Anda diminta pulang oleh Jim-sama secepatnya, Leona-sama." Cicit salah satu diantara mereka dengan sedikit takut.


"Baik. Aku akan pulang dua hari lagi. Si merah belum membiarkanku pergi sampai besok." Gerutu Leona yang membuat prajurit dan pelayan membeku. Gadis itu berani mengejek kaisar?


"Astaga, nona ini berani memaki kaisar rupanya. Aku akui mentalnya cukup tinggi, sayangnya jika sampai kaisar mendengar..." Batin prajurit itu sambil mengeluarkan keringat dingin.


"Selama aku menjadi pelayan, baru kali ini aku mendengar seorang nona yang suka mengeluarkan kata kasar." Batin pelayan pribadi itu dengan tubuh bergetar.


"Baik, Leona-sama." Sahut ketiga utusan itu dengan patuh lalu segera pamit undur diri.


"Leona-sama, apa yang kita lakukan pada bedebah itu?" Tanya Ken dengan mata berkilat menahan haus darah. Sepertinya pria itu memiliki dendam dengan raja Grambiel.


"Kita mulai permainannya, Ken. Lagipula dia hanya bisa duduk dan mengeluarkan kata-kata perintah saja." Ucap Leona sambil tersenyum iblis.


"Setidaknya tikus itu mencicit dalam sarang yang dipenuhi dengan tong sampah, Leona-sama." Imbuh Kei sambil menyeringai.


"Kita mulai besok. Aku tidak sabar melihat bagaimana mereka bernyanyi di bawah kakiku, khakhakha..." Ucap Leona sambil tertawa psikopat.


Pelayan dan prajurit pribadi Leona hanya bisa bergidik ngeri. Leona, sepupu kaisar yang merupakan pemimpin desa terkaya serta terkuat ternyata seorang psikopat bersama dua siluman nya. Mereka ingin menangis detik ini juga.


💠💠💠💠💠


"Kau makan ini." Titah ratu Lydia tegas pada seorang pelayan.


Dengan ragu-ragu pelayan itu memakan makanan yang di suguhkan di hadapan sang ratu. Namun beberapa saat setelah menelan makanan itu, dia memuntahkan seteguk darah bewarna hitam dan ambruk begitu saja. Dia tewas menyusul temannya yang sudah lebih dahulu meninggal.


"Rupanya makanan ini berisi racun. Cepat singkirkan dia!" Serunya pada beberapa pelayan dan Butler yang tersisa di sana.


"B-baik, Yang Mulia!" Seru mereka takut-takut.


"Haahh~ Sialan! Siapa yang berani menaruh racun di makananku?" Geramnya kesal. Sejak kemarin dia tidak bisa makan karena makanannya berisi racun dan dia kelaparan.


"Pengawal! Habisi para koki dan pekerjaan dapur!" Serunya marah.


"Baik, Yang Mulia!"


Ratu Lydia benar-benar marah dan segera menghampiri sang raja yang berada di ruangannya.


"Kenapa raut wajahmu di tekuk, ratuku?" Tanya raja Grambiel dengan lembut saat melihat wanita yang di cintainya datang dengan raut wajah teraniaya.


"Yang Mulia, sejak kemarin makanan saya terdapat racun. Saya tidak menduga jika pelayan dan koki dapur tega melakukan hal ini pada saya, hikss..." Ratu Lydia mengadu sambil meneteskan air mata.


"Sudahlah, Ratu. Biar aku yang mengganti pelayan dan koki dapur untukmu. Kau bisa makan bersamaku malam ini." Bujuk raja Grambiel.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari, terdapat lima orang tengah mengintai mereka dari atas atap istana dan mendengar percakapan mereka.


"Ternyata racunnya benar-benar mujarab, hihi..." Ujar seorang gadis sambil cekikikan. Mata merah dengan iris runcing itu bersinar dalam gelapnya malam.


"Sebaiknya kita segera pergi. Sepertinya ada yang mendekat kemari." Bisik Ken sambil mengendus-endus.


"Lalu selanjutnya kita akan menyusup ke istana putri tempat putri Mahkota berada." Ucap Khalix sambil tersenyum miring.


"Baiklah."


Mereka segera pergi menuju tempat putri mahkota berada. Mereka mengendap mengamati sekitar, memastikan tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.


Terlihat putri Cosette tengah menyiksa dua orang gadis di ruangannya. Mereka adalah putri kedua dan ketiga dari mendiang selir. Khalix yang melihat itu menggeram tak terima.


"Tenangkan dirimu, Khalix." Tegur Wei Tao.


"Tapi, saudariku..." Lirihnya tak terima.


"Untuk saat ini biarkan saja dulu, Khalix. Kita akan membalas putri Cosette itu pelan-pelan." Bujuk Iven.


"Aku ada ide untuk mengerjai putri Cosette. Sebaiknya kita pergi dulu untuk memikirkan rencana berikutnya." Ucap Leona sambil tersenyum licik dan menatap Iven dengan menyeringai.


Seketika pria itu merinding ngeri dengan tatapan Leona, begitupun dengan Wei Tao dan Ken. Seperti mereka berdua menatap Iven dengan iba.


Mereka berlima segera menghilang dari sana dan muncul di sebuah restoran, dimana Kei, Eura dan kaisar Ein telah duduk manis di sana.


"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?" Tanya kaisar Ein penasaran. Mereka kini dalam mode menyamar sehingga tidak ada orang yang menyadari mereka.


"Lancar, Baginda." Sahut Leona sambil mendudukkan diri di sebelah Kei.


"Mereka ingin menghabisi semua pekerja dapur dan pelayan di istana ratu." Imbuh Iven.


"Lalu kita apakan putri Cosette itu?" Tanya kaisar penasaran.


Leona menyeringai dan menatap Iven dengan penuh harap. Iven meneguk ludahnya kasar.


"Khalix dan Iven akan menyamar sebagai pasangan kekasih. Mereka juga memberikan sebuah hadiah yang tak terlupakan sepanjang hidupnya." Ucapnya enteng.


'Jederr!'


Khalix dan Iven saling tatap lalu bergidik ngeri. Membayangkan mereka menjadi pasangan kekasih membuat perut mereka bergejolak.


"Jijik!" Seru mereka bersamaan dan membuang muka ke sembarang arah.


"Kenapa aku harus bersama dia?" Protes mereka bersamaan sambil memasang ekspresi jijik yang kentara.

__ADS_1


"Karena Khalix mengetahui seluk beluk istana dan kau ahli menyelinap. Tentu saja aku ingin kalian memasuki istana putri untuk membuat putri Cosette terguncang." Ucap Leona dengan tatapan memohon dan memelas andalannya, yang sukses membuat kedua pria itu mau tak mau menuruti keinginan Leona.


__ADS_2