
"Leona! Jangan tinggalkan ayah!" Calvian memeluk erat tubuh Leona yang kini mulai mendingin. Rasa penyesalan yang mendalam karena tidak sempat meminta maaf pada Leona dengan benar membuat hatinya hancur. Untuk pertama kalinya Calvian menangis dengan histeris.
"Bangunlah, Leona. Maafkan aku." Ucap Emillio putus asa. Rasa bersalah yang luar biasa hinggap di hatinya.
"Sepupu, kembalilah..." Lirih Kaisar Ein dengan mata berkaca-kaca.
Para bangsawan dan Casian yang mendengar perkataan Kaisar terhenyak kaget. Jadi Leona itu sepupu Kaisar? Entah mengapa Casian merasa gemetaran sekarang.
"Leona-sama, apa yang harus kami sampaikan pada Jim-sama? Bagaimana nasib kami dan penduduk di desa jika Anda pergi?" Lirih Kaze. Dia menatap Leona dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Kaisar Ein menatap putra mahkota Casian dengan marah. Hawa mencekam terasa di sekitar aula itu, bahkan membuat tembok retak dan kaca pecah berserakan.
"Aku tidak menyangka kerajaan ini benar-benar sampah. Kenapa kau membunuh orang yang tidak bersalah tanpa menyelidiki terlebih dahulu? Apakah kau mengenalnya atau dia mengenalmu?" Tanya Kaisar Ein dengan dingin.
Casian bergetar dengan hawa yang dikeluarkan oleh Kaisar Ein. Lidahnya kelu tidak bisa berbicara seakan mulutnya di segel. Benar, dia tidak pernah bertemu dengan Leona, bahkan dia hanya mendengar rumor yang beredar dan cerita dari Iris saja.
"Kalian hanya mendengar rumor yang tak berdasar. Leona yang kami kenal hanya sibuk berlatih dan menjalankan misi. Dia tidak pernah tertarik dengan percintaan seperti yang kau tuduhkan, putra mahkota Casian." Ucap Carl dingin.
"Bukankah kau pengguna sihir cahaya? Kenapa kau diam saja seperti patung?" Sinis Wei Tao saat melihat Iris yang masih terdiam di tempat.
"A-ah, baik." Ucapnya gugup.
"Tidak usah. Leona-sama sudah pergi. Sebaiknya kita bawa saja kembali ke desa Bloom Mist agar Jim-sama melihat jasad terakhir keponakannya." Usul Kei.
"Benar. Bukankah Leona sudah di usir dari rumahnya sendiri karena hasutan anak pungut?" Sindir countess Thereva sambil menatap Iris dengan tak suka. Dia menatap jasad Leona yang kini telah kaku.
Iris menundukkan kepalanya sambil menahan tangis. Countess Thereva hanya berdecih melihat hal itu.
"Bagaimanapun dia tetap darah dagingku. Biarkan kami menebus kesalahan yang selama ini kami perbuat." Ucap Calvian dengan berlinang air mata.
"Benar, kami mohon... Biarkan kami menyemayamkan jasad terakhir adikku..." Lirih Emillio.
Tanpa di duga Kei merebut tubuh Leona yang telah mendingin dari pangkuan Calvian dan segera pergi dari sana bersama Kaze. Di susul oleh Carl, Iven, Wei Tao dan Kaisar Ein.
"Mohon maaf atas kekacauan yang kami perbuat. Kami permisi."
💠💠💠💠
Kematian Leona membuat kerajaan geger. Banyak yang bersukacita dengan kematian sampah kerajaan, bahkan ada yang terkejut dengan kematian gadis itu.
Beberapa prajurit dan pelayan di kediaman Castallio berkabung mendengar berita kematian Leona. Bahkan mereka sendiri tak percaya dengan kematian Leona yang begitu tragis.
Calvian dan Emillio hanya menatap kosong makanan yang tersaji di meja makan. Mereka masih bersedih dengan kematian Leona yang menurut mereka tidak adil.
__ADS_1
Mereka belum sempat memperbaiki hubungan dengan Leona, kesalahan di masa lalu membuat mereka tersadar. Namun sudah terlambat untuk memperbaiki kesalahan meskipun Leona sudah memaafkan mereka.
Iris memasuki ruang makan dengan riang dan mendapati ayah dan kakaknya tengah bersedih. Entah mengapa Iris merasa tak terima dengan kenyataan jika mereka masih menyayangi Leona.
'Toh Leona sudah mati. Jadi hanya aku satu-satunya putri duke Castallio.' Batinnya dalam hati dengan senyum manis yang tak pernah pudar.
"Selamat pagi, Ayah, Kakak." Sapa Iris dengan riang. Namun sayangnya Calvian dan Emillio memilih mengabaikan sapaan Iris.
"Aku menyesal telah mempercayai perkataan benalu yang tidak tau diri. Bukannya berlatih, malah sibuk menjadi beban. Dasar rakyat rendahan." Sinis Emillio sambil menatap Iris dengan dingin.
'Deg'
"Aku juga tidak berminat menjadi besan kerajaan. Castallio sejak dulu merupakan pihak netral yang tidak pernah ikut campur dengan pihak kerajaan. Rupanya aku salah berharap. Justru aku berharap pada seorang yang tidak bisa balas budi."
"A-ayah, a-aku.. ."
Dua pria itu segera meninggalkan Iris seorang diri tanpa menyentuh makanan mereka. Meninggalkan Iris yang kini menatap kepergian mereka dengan tatapan tak percaya.
Kematian Leona kemarin masih teringat jelas di benaknya dan dia sama sekali merasa senang. Bahkan semalam dia tertawa penuh kemenangan.
Menjadi tunangan putra mahkota, menjadi putri duke satu-satunya merupakan impian Iris sejak memasuki kediaman ini. Namun tanpa disadarinya, sebuah petaka akan menghampiri gadis itu.
Sebuah petaka yang membuatnya jatuh dalam jurang yang dalam.
💠💠💠💠
"Hoaaammm~"
Leona menguap selebar-lebarnya. Setelah berhasil menyelinap kabur dari acara pesta dengan jurus bayangannya, dia memutuskan segera pergi menuju sebuah penginapan yang terletak di wilayah duchy Spedarrow.
Jika kembali ke kediaman Calisius, Jim akan menginterogasinya habis-habisan, dan rencananya bisa berantakan. Dia ingin mengerjai Iris habis-habisan seperti film horor yang ditontonnya sebelum pindah jiwa.
"Membayangkan mereka menangis bombay pasti menyenangkan. Lebih baik aku tidur saja, deh." Monolognya sambil merebahkan diri di ranjang.
Leona menatap langit-langit kamar penginapan yang di tempatinya dengan tatapan menerawang. Menduga-duga banyak hal yang perlu di persiapkan.
"Sepertinya akan menarik jika menakut-nakuti Iris. Mungkin dia senang melihat ku yang mungkin saja terbunuh malam ini. Apakah aku cosplay menjadi kunti, sadako, atau makhluk halus saja, ya? Pasti sangat menyenangkan. Khekhekhe..." Ucapnya sambil tertawa setan.
"Mungkin tuan duke dan tuan muda Castallio akan senang melihat tubuh ini mati tepat di depan matanya, atau mungkin menangis? Bodolah. Toh dia tidak pernah peduli dengan pemilik tubuh ini meskipun sakit." Ucap Leona dengan buliran air mata yang mulai menetes saat melihat ingatan pemilik asli tubuh ini.
Ingatan itu tentang bagaimana penolakan dan penghinaan ayah dan kakak pemilik asli tubuh ini. Bahkan mereka kerap kali membandingkan Leona dengan Iris. Bahkan selalu memarahi dan membentak Leona meskipun dia tidak membuat ulah selama beberapa saat.
Dengan kasar Leona menghapus air matanya yang sempat menetes. Perlakuan tak adil membuat hati Leona terasa sesak.
__ADS_1
Leona segera membetulkan selimutnya. Dia menyelimuti diri hingga sebatas leher lalu menatap langit-langit kamarnya.
"Leona, dimanapun kau berada, munculah di mimpiku sekali saja. Aku ingin tau bagaimana reaksimu dengan segala tingkah kurang ajarku ini." Ucap Leona penuh harap. Selama dua tahun dia tidak pernah melihat Leona asli dalam mimpinya, sehingga Leona selalu berbuat sesuka hati agar jiwa pemilik tubuh ini muncul sekali saja.
Perlahan mata Leona terasa berat, perlahan mata gadis itu tertutup menyembunyikan mata merah indah miliknya dan terbuai ke alam mimpi.
💠💠💠💠
"Akhirnya kau menemuiku, Leona." Terdengar suara perempuan menyambut pendengaran nya.
Leona membuka mata dan melihat gadis cantik berdiri di hadapannya. Rambut hitam legam ikal dengan mata merah ruby. Iris mata runcing dengan hiasan eyeliner di bulu mata atas.
Leona memperhatikan sekitarnya yang terlihat serba putih. Mungkinkah gadis itu adalah Leona, raga yang di tempatnya dua tahun ini?
"Setelah sekian lama menepati tubuhku, akhirnya aku bisa menemuimu, Leona!” Pekiknya girang.
Tebakannya benar. Dia Leona yang asli.
Leona memiringkan kepalanya, merasa kebingungan dengan apa yang dia alami.
"Apakah aku sudah mati?" Tanya Leona penasaran.
"Tidak. Kau masih hidup. Kau berada di alam bawah sadarmu." Lalu raut wajah gadis itu berubah sendu membuat Leona mengerutkan keningnya.
"Terimakasih sudah membuatku menjadi kuat. Aku senang karena kau membuatku merasa baik. Kau telah memperlihatkan ku dunia yang indah. Sayang sekali aku tidak bisa menikmatinya. Aku sudah tidak terikat lagi dengan dunia."
"Mau bagaimana lagi. Kau sudah mati duluan karena bunuh diri dari tangga." Ejek Leona sambil terkekeh.
"Aku tidak bunuh diri! Itu semua karena Iris yang mendorongku! Aku benci dia karena suka menyebarkan kebohongan yang bahkan tidak pernah aku lakukan..." Ucapnya dengan lirih di akhir perkataannya.
"Aku tidak mengerti kenapa Iris membencimu. Berdasarkan ingatan milikmu, bukankah dia yang selalu mencari masalah denganmu?" Tanya Leona tak mengerti.
"...Entahlah." Jawabnya setelah terdiam cukup lama. Lalu dia menatap Leona dengan serius.
"Leona, apapun yang terjadi, berhati-hatilah dengan Raja Grambiel. Dia memiliki sebuah artefak yang selalu dia pakai di lehernya. Artefak itu menyerupai kalung dengan tiga warna dan selalu mengeluarkan sinar. Hancurkan artefak itu bagaimana pun caranya." Ucap gadis itu.
"Aku mengerti. Lalu bagaimana dengan ayah dan kakakmu?"
"Jangan pernah mengharapkan sesuatu termasuk cinta pada orang yang tidak peduli dengan kita. Cintai diri sendiri dan jadilah diri sendiri. Hidup kita terlalu berharga untuk sakit hati." Ucap mereka berdua serentak lalu mereka sama-sama tersenyum lebar tanpa beban.
"Kau terluka karena Iris. Bagaimana caraku membalaskan lukamu karenanya?"
"Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Wanita itu harus menderita seumur hidupnya. Oh, ya. Waktuku sudah habis dan jaga dirimu." Ucap gadis itu dan perlahan tubuhnya memudar sebelum akhirnya menghilang.
__ADS_1