Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 41


__ADS_3

Leona bersama Iven, Wei Tao dan Eura tengah mendiskusikan sesuatu bersama Kei dan Kaze yang kini telah menjadi manusia. Mereka bertiga tidak lagi kaget dengan keberadaan dua siluman itu yang kadang berbuah menjadi manusia.


"Daerah pesisir tenggara merupakan daerah terpencil. Sangat jarang orang yang melintas ke sana mengingat daerah itu merupakan daerah perbatasan kekaisaran selatan dengan wilayah timur. Akses jalannya pun sangat sulit." Jelas Kaze.


Kaze merupakan siluman tupai. Mereka dapat mengetahui sebuah pohon memiliki buah yang bisa dimakan atau tidak hanya dengan menyentuhnya. Mereka juga bisa mengetahui letak suatu tempat meskipun jaraknya cukup jauh hanya dengan menyentuh tanah.


"Karena itu merupakan tempat yang terpencil, kemungkinan tempat itu sangat cocok untuk menjadi tempat berkumpulnya para pemberontak. Apalagi daerah tenggara merupakan daerah yang sepi." Imbuh Kei.


"Kaze, selidik tempat itu. Cari markas pemberontak dan buat sebuah peta. Dan Kei, kau selidiki orang-orang yang ikut dalam pemberontakan itu." Leona memberi perintah pada dua silumannya.


"Baik, Leona-sama."


"Untuk apa kau melakukan hal itu, Leona?" Tanya Eura tak mengerti, begitupun Iven yang menatapnya penasaran.


"Dalam sebuah pertarungan, informasi lawan adalah hal yang berharga. Kita bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan dan itu menjadi keuntungan sendiri. Dan kita bisa mengalahkannya dengan mudah." Wei Tao menjelaskan.


Leona mengangguk membenarkan. "Informasi adalah hal yang penting daripada kekuatan. Tidak ada gunanya kau memiliki kekuatan hebat tetapi tidak memiliki informasi tentang lawan, kau bisa saja kalah tanpa perlawanan bahkan mati sia-sia." Leona menimpali.


Karena sebelumnya Leona adalah agen FBI dan pernah dimasukkan ke dalam perang di dimensi milik Hagoromo, maka gadis itu sudah terbiasa mengambil sebuah keputusan.


Kei dan Kaze segera pergi dari sana dengan berubah menjadi tupai dan panther hitam. Mereka berdua adalah ahli dalam mencari informasi dan menyusup karena dilatih oleh Leona.


"Jadi bagaimana jika kita bersantai dulu sebelum ikut bertarung?" Usul Eura sambil melirik ketiga rekannya.


💠💠💠💠


Rombongan dari kerajaan Seanthuria telah tiba di istana kekaisaran dan di sambut ramah oleh Kaisar Ein. Mereka kini tiba di ruangan kaisar untuk merencanakan penyerangan pada para pemberontak.


"Carl, panggil keempat murid-murid mu. Kita perlu mendiskusikan beberapa hal dan ini melibatkan mereka." Ujar kaisar Ein tegas.


"Baik, Baginda."


Carl segera mencari keberadaan keempat muridnya. Istana kekaisaran lebih luas daripada istana kerajaan, jadi Carl kesulitan mencari keberadaan mereka dalam waktu singkat dan dia meminta beberapa prajurit dan pelayan untuk membantu mencari keberadaan keempat anak didik setannya.


Setelah beberapa saat mencari keberadaan mereka, Carl akhirnya menemukan keberadaan mereka di taman istana yang dikhususkan untuk tamu kaisar. Terlihat keempatnya bersantai dengan cara mereka yang cukup, err... Aneh?


Carl melihat Leona yang dengan santai bergelantungan manja di dahan pohon sambil mengayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seperti bandul jam, Iven yang tengah sibuk menatap langit, Eura yang bersandar sambil memeluk pedangnya dan Wei Tao? Pemuda kutu buku itu tengah sibuk dengan bukunya sambil memakan sebuah apel. Namun dia tidak melihat Kei dan Kaze yang selalu berada di sekitar mereka.


"Ternyata kalian disini. Kalian di minta Kaisar ke ruangannya." Ucap Carl serius yang sontak membuat keempatnya menatap pria berkuncir itu dengan heran.

__ADS_1


Leona segera turun dengan melompat dan mendarat tepat di hadapan Carl.


"Ada apa, Guru?" Tanya Leona. Ketiga rekannya segera bangun dan mendekati Carl dengan tatapan serius.


"Kalian diminta hadir di ruangan kaisar. Para Duke dari Seanthuria menunggu kalian di sana." Carl menjelaskan dan menatap mereka sedikit khawatir.


Carl sendiri telah menyelidiki latar belakang keempat muridnya secara diam-diam. Meskipun banyak yang enggan menjadi guru untuk mereka maupun rekan untuk menjadi teman setim, tetap Carl dapat melihat potensi menonjol dalam diri mereka.


Eura yang merupakan rakyat jelata yang miskin dan dianggap bodoh serta ceroboh, siapa sangka dia merupakan ahli pedang yang mampu menguasai aura di usia muda. Meski di bilang ceroboh dan bodoh, namun dia berlatih dan berusaha dengan keras.


Wei Tao yang merupakan anak dari seorang guild informasi terkenal. Selain suka membaca buku di manapun dan kapanpun, kemampuan nya yang paling misterius selain pandai mengatur strategi dan memberikan informasi. Dia juga paling tenang diantara yang lainnya.


Iven yang merupakan anak yang tidak diinginkan oleh keluarganya dan merupakan anak di luar nikah Duke Mizugami. Selain suka membuat patung, dia juga mahir menggunakan sihir tanpa mantra yang panjang.


Leona, sampah kerajaan Seanthuria yang memiliki segudang misteri. Selain ahli beladiri dan pembuat onar, gadis itu juga merupakan keponakan pemimpin desa Bloom Mist yang juga merupakan Baron Calisius yang tidak dilirik kerajaan, Leona memiliki banyak potensi yang di sembunyikan.


Mereka berempat jika disatukan akan menjadi tak terkalahkan, baik dalam menghadapi musuh, membuat keonaran maupun hal lainnya.


💠💠💠


"Jadi anak ini yang akan ikut melawan pemberontakan?" Cibir Duke Mizugami meremehkan saat melihat Iven berada diantara mereka. Pria itu menatap Iven tak suka.


"Apakah kau keberatan, Tuan? Kami akan pergi jika itu mengganggu." Sahut Leona datar yang entah kenapa membuatnya merinding.


"Kalian boleh berpartisipasi dalam hal ini karena ini keinginanku." Cegah kaisar Ein. Dia tidak ingin gadis itu pergi meninggalkan ruangan rapat bersama ketiga rekannya. Mereka berempat harus disini bagaimanapun caranya.


"Aku tidak tau apa masalah kalian, tapi tolong singkirkan masalah pribadi kalian dan fokus pada rapat kali ini." Tegas Kaisar dan menatap para bangsawan yang hadir.


Suasana mendadak hening saat dan berat saat mereka mulai membahas rencana penyerangan.


"Ada yang ingin menambahkan?" Tanya Kaisar dan menatap mereka yang hadir. Leona segera angkat tangan.


"Kami berempat ingin menjadi umpan. Jadi biarkan kami memasuki markas itu." Ujar Leona percaya diri yang dibalas dengan gelak tawa oleh beberapa bangsawan yang hadir.


Kaisar menatap Leona tertarik dan Carl menatapnya ingin menangis. "Kenapa kau begitu yakin dengan keputusan mu?"


Wei Tao angkat suara, "Karena menghancurkan markas utama dari dalam lebih efektif daripada menyerang dari luar. Setidaknya pemimpin utama bisa ketar ketir dan tidak bisa melancarkan plan rencana cadangan mereka."


"Yah, walaupun tidak masuk akal, setidaknya kami ikut berpartisipasi dengan cara kami sendiri. Kalian sesuai dengan kesepakatan dan kami sesuai dengan rencana." Iven menambahkan.

__ADS_1


"Bagaimana jika kalian tewas?" Tanya Carl cemas. Dia memikirkan pilihan terburuknya.


"Setidaknya kami gugur dengan terhormat. Guru bisa datang kepemakaman kami sambil bercerita dan memasang ekspresi terharu." Sahut Eura bangga yang langsung mendapatkan tatapan membunuh dari ketiga rekannya. Eura langsung terdiam dan nyengir kuda.


Calvian menatap mereka dengan tatapan sulit diartikan. Inikah siswa akademi buangan itu? Mereka malah terlihat seperti pembuat onar yang siap mati.


"Baiklah, lakukan sesuka kalian." Putus kaisar Ein. Dia mempercayakan kemampuan mereka.


"Guru jangan khawatir. Kami, murid-murid mu akan baik-baik saja karena kami tim Devil." Seringai Leona.


Carl hanya bisa menghela nafas. Dia hanya perlu percaya pada mereka.


"Baiklah. Aku percaya pada kalian."


Seringai dan kekehan setan terdengar dari mulut mereka yang membuat para bangsawan yang hadir di rapat itu menatap mereka aneh.


"Kalau begitu kami permisi, Baginda. Kami ingin merencanakan sesuatu tentang markas pemberontak itu hanya dengan tim kami." Wei Tao meminta ijin untuk pergi dari ruangan rapat mengingat hawa di sana terasa berat dan tatapan tak nyaman dari para bangsawan.


"Kenapa tidak di diskusikan disini? Apakah kalian ingin diam-diam melakukan pemberontakan?" Tanya Duke Spedarrow beruntun yang sukses membuat beberapa peserta rapat menatap mereka curiga.


"Apa kalian yakin ingin mendengar rencana kami? Baiklah." Sahut Leona sambil tersenyum iblis. "Ku harap kalian bisa mengerti."


"Sebaiknya kalian bicarakan rencana kalian disini. Aku penasaran dengan rencana kalian." Titah kaisar Ein.


"Baik Baginda. Kalau begitu kami akan membicarakan rencana kami."


Leona lalu mengeluarkan sebuah kertas dan pena lalu menggambar sesuatu.


"Sepertinya kita harus membawa beberapa tongkat dan besi. Rengekan kesakitan mereka akan terdengar merdu." Ucap Leona setelah selesai membuat beberapa sketsa.


"Kita harus menempatkan beberapa jebakan. Bagaimana dengan beberapa petasan dalam seni patung? Yah, meskipun aku sedikit tak rela melihat kehancuran mereka." Usul Iven dan menunjuk beberapa lokasi yang digambar oleh Leona.


"Ide bagus. Tapi bawakan beberapa pasta cabai. Kita akan menyumpal mulut mereka dengan itu." Seru Eura menggebu.


"Tapi kita juga harus mencari pemimpin pemberontakan itu dan memberinya hadiah yang tak terlupakan meskipun dia pergi ke neraka." Usul Wei Tao.


"Jika serangan fisik tidak mempan... " Leona menatap ketiga rekannya dan mereka sama-sama menyeringai "... Kita buat serangan mental!" Lalu mereka tertawa setan.


Sementara mereka yang berada di sana tidak mengerti dengan rencana keempat remaja itu.

__ADS_1


__ADS_2