Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 68


__ADS_3

"Kami mohon~!!"


Terlihat empat pria tampan rupawan tengah berlutut di hadapan Leona sambil memasang ekspresi memelas layaknya anak anjing minta di pungut. Sementara Leona hanya bisa menghela nafas frustasi.


Mereka berempat mengetahui jika Leona seorang ninja yang memiliki chakra dan bisa mengendalikan nya. Dia juga seorang ahli medis dan racun terhebat sepanjang sejarah. Itupun setelah mereka membuntuti Leona secara diam-diam meskipun berujung ketahuan. Dan untungnya Leona memberi segel di lidah mereka agar tidak membocorkan identitasnya.


Dan kini mereka berempat kompak bersujud di hadapan Leona, agar gadis itu mau menuruti keinginan mereka, yaitu menjadi pasangan saat pesta di istana kaisar Eun untuk merayakan hari ulang tahun kekaisaran.


Dan kaisar Ein juga mengadakan pesta dansa dengan menggunakan topeng, dan kini dia menjadi rebutan empat pria tampan yang membuatnya pusing.


Bisakah dia tidak ikut saja dan pergi ke kediaman Castallio mengadakan cosplay hantu? Ayolah, menghadiri pesta dan berdansa membuatnya malas dan ingin tidur saja.


"Aku tidak akan pergi ke sana. Aku benci pesta."


"Tapi kau harus membalas Iris di sana. Bukankah ini kesempatan bagus?" Bujuk Iven.


"Dengan pergi bersama salah satu dari kalian lalu rencanaku gagal? Tidak."


"Kalau begitu kami ikut denganmu."


"Tidak boleh."


Bukan tanpa alasan Leona menolak keempat pria tampan itu. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena keberadaan mereka. Selain memiliki wajah yang tampan, postur tubuh mereka juga sangat sempurna yang membuat siapapun meneteskan air liur dan merangkak ke ranjang mereka.


Alasan lainnya, karena mereka juga memiliki akhlak yang minim dan menjengkelkan. Karena mereka berlima terkenal sebagai biang onar, meskipun Khalix sedikit ketularan dengan tingkah tim Devil akhir-akhir ini.


Sementara tim Devil yang memang terkenal sebagai pembuat onar, kini mereka terkenal sebagai biang pembuat onar. Dimanapun mereka berempat berada, pasti akan ada kerusuhan.


"Baiklah, aku akan pergi bersama kalian secara bersamaan." Putus Leona jengah saat di serang dengan jurus puppy eyes secara terus menerus.


💠💠💠💠


Iris terjaga dalam tidurnya saat merasa seseorang menatapnya dengan tajam. Dia segera duduk dan melirik sekitar, namun tak menjumpai siapapun.


Malam terasa sunyi dan hening, samar-samar gadis itu mendengar suara gesekan dedaunan yang berada tak jauh dari jendela kamar nya, lalu di susul dengan suara geraman binatang buas.


'Grrrr...'


'Graauumm'


Iris tersentak dengan tubuh gemetar hebat. Namun dia mencoba mengendalikan diri. Tidak mungkin ada binatang buas berkeliaran di kediaman Castallio malam-malam begini.


'Graauumm'


'Grrr'

__ADS_1


Lagi-lagi dia mendengar suara geraman binatang buas. Kali ini terdengar cukup jelas dan berasal dari arah taman. Dia merasa takut sekaligus penasaran. Namun mengingat kediaman Castallio yang memiliki banyak penjaga membuat Iris yakin jika suara itu hanya khayalan semata.


Dia memutuskan mengendap mendekati jendela dan menatap ke arah taman. Di sana terlihat seekor harimau yang berjalan santai menuju sebuah air mancur. Harimau itu berhenti sejenak lalu menghilang dari sana tanpa jejak.


Iris berjengit menatap pemandangan itu tak percaya. Apakah itu siluman? Namun keberadaan mereka tidak diketahui lagi. Lagipula mereka hanya bersama dengan orang yang memiliki darah klan Tigries.


Beberapa saat kemudian muncul seekor panther hitam secara tiba-tiba dan berjalan-jalan di sekitar taman. Lalu panther hitam itu menghilang begitu saja saat tiba di sebuah gazebo.


Saat sibuk dengan pemikirannya sendiri, sebuah suara yang cukup familiar yang selama empat tahun belakangan tak terdengar memanggilnya dengan lirih.


"Iris..."


'Deg'


Bukankah itu suara Leona? Namun dia sudah mati tiga tahun lalu karena tertusuk pedang milik putra mahkota Casian.


"Iris... Aku kesepian..."


Iris berjengit saat melihat Leona berdiri di hadapannya dengan gaun putih berlumuran darah dan mengambang. Wajahnya terlihat sangat cantik jika dia masih hidup. Dia melemparkan senyum manis yang membuat Iris membatu.


Leona masih hidup? Tidak mungkin. Iris menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata untuk menenangkan diri yang sempat kaget.


Begitu Iris membuka mata, tiba-tiba wajah Leona berubah menjadi mengerikan. Terdapat banyak bekas luka dan darah yang telah mengering. Dia menyeringai memperlihatkan giginya bewarna hitam yang tampak menjijikkan.


"Kyaaaa!! Pergi, kau!! Pergi!!"


'Brakh'


Beberapa penjaga dan pelayan memasuki kamar Iris dan mendapati majikan mereka menangis histeris di lantai.


"Nona, astaga! Apa yang terjadi?" Tanya salah satu pelayan Iris dan menghampiri majikannya yang menangis histeris di lantai.


"T-tadi... L-leona datang... Hiks..." Ucap Iris sesegukan.


"Jangan berkhayal, Nona. Mana mungkin nona Leona datang. Dia sudah mati karena Anda." Ucap salah satu penjaga ketus. Dia adalah Ben, orang yang menganggap Leona sebagai adiknya. Ben tidak menyukai Iris karena sikapnya yang semena-mena sejak bertunangan dengan putra mahkota, dan dalam hati dia tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Iris yang sekarang.


"Sir Ben, kenapa Anda bicara ketus dengan Iris? Kasihan dia." Salah satu pelayan Iris mencoba menegur Ben.


Ben mendengus dan menatap pelayan itu dengan tajam. "Kasihan kau bilang? Setelah dia menyandera satu-satunya adikku lalu membunuhnya? Aku harus kasihan dengannya? Untuk apa aku harus kasihan pada pembunuh sepertinya. Lebih baik aku mengikuti nona Leona ke neraka daripada mengawal orang rendahan sepertinya. Aku memang rakyat jelata yang rendahan, bukan seperti nonamu yang memang berasal dari rakyat rendahan yang lupa diri setelah dipungut." Ben mengeluarkan semua unek-uneknya.


Ben sering di hina, bahkan adik satu-satunya di sandera dan dibunuh oleh Iris karena tidak bisa menemukan letak pasti desa Bloom Mist. Ben sendiri berhasil di tolong dan selamat berkat Leona sebelum gadis itu mati.


Pria itu memilih keluar dari sana. Kamar itu dulunya milik Leona, dan sekarang dia seakan melihat gadis itu hidup jika memasuki kamar itu, meskipun sudah dirombak habis-habisan oleh Iris.


"Ben, kenapa kau keluar? Periksa sekitar!" Teriak Iris marah.

__ADS_1


"Kamar ini dulunya milik nona Leona. Kenangan kami banyak disini. Memasuki kamar ini membuatku mengingat bagaimana kematian nona yang tidak adil karena fitnah Anda, putri mahkota." Ben menghentikan langkahnya dan menatap Iris dingin.


Iris terdiam dan menatap punggung tegap Ben yang kini menghilang di balik pintu. Perlahan air matanya turun membasahi pipinya. Dia sudah berhasil merebut apa yang harusnya menjadi milik Leona, namun dia merasa ada yang kurang. Dia telah menjadi tunangan putra mahkota, meskipun posisi putri mahkota diisi oleh Cosette. Dia juga sudah terkenal sebagai bunga kerajaan karena parasnya yang rupawan dan memiliki sihir cahaya. Menjadi satu-satunya putri duke serta memiliki segalanya.


Penjaga lain segera meninggalkan kamar Iris. Mereka enggan memasuki kamar itu mengingat bagaimana perlakuan gadis itu pada mereka.


Tanpa mereka sadari, tiga pasang mata menatap mereka dari kegelapan. Terlihat seorang gadis bergaun putih tersenyum sambil cekikikan. Namun karena tidak tahan melihat keadaan Iris yang menyedihkan, suara tawa wanita terdengar melengking memecahkan keheningan malam, membuat kehebohan ditengah malam.


"Hihihihi"


💠💠💠💠


"Buahahahaha! Kalian lihat itu? Hahahaha!"


Leona tertawa sambil memukul-mukul meja, membuat Kei dan Ken menatapnya kesal.


Bagaimana tidak, tawa Leona yang melengking membuat mereka kaget dan nyaris jatuh dari pohon. Beruntung Kei dengan sigap membawa Leona pergi dari sana. Jika tidak, semua usaha mereka akan gagal total.


Dan sekarang Leona merayakan keberhasilan nya dengan menyeret dua siluman predator nya liburan di sebuah pantai. Karena masih malam, mereka kini memilih berada di kamar inap sang majikan karena mereka baru saja tiba dari acara menjahili Iris.


"Dan Anda membuat kami nyaris terjatuh, Leona-sama." Ketus Ken kesal.


"Lalu Anda tertawa seolah-olah tidak ada masalah?" Imbuh Kei sambil menggeram.


"Anda benar-benar majikan tanpa ada akhlak!" Seru mereka kompak.


Leona malah sampai tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan dua pria siluman itu. Bahkan sampai mengeluarkan setitik air mata di sudut kelopak matanya.


'Plak'


Sebuah ekor menampar wajah Leona membuat gadis itu menghentikan tawanya. Dia melihat Kei mengeluarkan ekornya dan menghentak-hentakkannya pertanda sedang kesal.


Bukannya marah, Leona malah kembali tertawa terbahak-bahak. Ken menatap Kei yang menghentakkan ekornya dengan kesal.


"Karena inilah kenapa aku tidak suka panther hitam." Kesal Ken.


Kei mendengus, "Kau pikir dirimu hebat, hah? Lihatlah majikan kita. Dia terus tertawa seperti orang gila dan kau membiarkannya."


"Dan kau membuatnya bertambah gila." Sungut Ken.


Mereka berdua saling melemparkan deathglare andalannya lalu menatap sang majikan yang terus tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai guling-guling.


"Maaf, maaf." Ucap Leona setelah tawanya mereda.


"Kalian telah bekerja dengan baik. Jadi kalian beristirahat lah dengan tenang." Usir Leona pada dua pria tampan itu.

__ADS_1


"Selamat malam, Leona-sama."


"Selamat malam."


__ADS_2