Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 57


__ADS_3

Calvian menatap kosong pemandangan taman yang berisi bunga lily kesukaan mendiang istrinya, Miria. Pertemuan pertama dengan mendiang sang istri di mimpinya menamparnya dengan telak.


Karena keegoisannya, Miria menangis sambil memeluk Leona. Mereka berdua menangis sambil berpelukan dan menatap Calvian dengan tatapan kecewa yang luar biasa.


Mungkinkah jiwa Leona telah pergi dan di isi oleh jiwa orang lain? Rasa menyesal kembali menggelayut di hatinya jika hal itu sampai terjadi.


Di mimpinya, dia melihat bagaimana Leona yang menatapnya dengan linangan air mata dan sorot penuh kekecewaan. Begitupun dengan Miria, wanita itu membeberkan banyak fakta yang selama ini di abaikan oleh Calvian.


"Tuan, hari ini jadwal pemeriksaan terakhir Anda. Setelah ini Anda boleh pulang." Ucap salah satu perawat dengan ramah.


"Hn."


Perawat itu segera melakukan beberapa pemeriksaan. Setelah selesai, dia segera pamit undur diri meninggalkan Calvian yang merenung di kamar inapnya.


Jika saja egonya tidak tinggi, mungkin hubungannya dengan Leona sudah membaik. Sayangnya, dia harus menghancurkan harapan mendiang sang istri dan membuat putrinya menderita sekian lama, yang sayangnya jiwa asli Leona telah bersama Miria, meninggalkan nya seorang diri. Meskipun tubuh putrinya masih hidup, namun jiwanya berbeda.


Calvian menatap interior ruang inapnya yang serba putih dengan bau khas obat-obatan. Saat pertama kali sadar akibat hantaman telak bola basket di kepalanya, dia telah mendapati dirinya terbaring di brankar dengan jarum infus yang tertancap manis di tangannya. Hal yang tak pernah dia terima selama hidupnya saat sakit.


Dan menurut cerita dari perawat yang merawatnya, rumah sakit ini milik Leona, dengan segala peralatan canggih yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Pria paruh baya itu hanya bisa tersenyum getir saat melihat betapa sukses putri yang di buangnya.


Belum lagi penataan desa yang terlihat indah dan makmur. Tidak ada anak jalanan dengan penampilan yang compang camping, gelandangan, pengemis. Semuanya setara dan memiliki pekerjaan masing-masing.


Calvian yang mendengar cerita dari perawat itu hanya bisa tertegun. Meskipun pemimpin desa ini tidak memiliki akhlak yang baik, suka membuat onar dan sering di cap buruk, bahkan kerap kali berdebat dengan asisten di mana pun dan kapanpun, mereka selalu mengutamakan desa dan penduduknya. Terbukti dari jumlah pajak yang dipungut dengan menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan.


Dia saja yang masih menjabat sebagai duke belum bisa melakukan hal itu. Dia hanya fokus dengan urusan kerajaan dan mempersiapkan perang, belum lagi urusan lainnya yang memerlukan banyak tenaga.


Calvian memutuskan pergi meninggalkan rumah sakit itu, namun dia tak sengaja berpapasan dengan Leona dengan menggunakan jas putih.


"Leona sensei, hari ini ada operasi darurat! Di sebelah sini!" Seru salah satu pria berkas putih dengan panik.


Calvian yang penasaran memutuskan mengikuti mereka.


💠💠💠💠


Leona berjalan tergesa-gesa menuju rumah sakit. Pagi ini dia mendapat panggilan darurat yang mengharuskan dirinya hadir untuk melakukan operasi.


Ya, Leona adalah dokter bedah terbaik di desa Bloom Mist. Keahliannya dalam medis dan operasi membuatnya di segani di desa ini. Sudah banyak orang yang tertolong berkatnya.


Di kehidupan sebelumnya, dia adalah anggota FBI yang merangkap sebagai dokter bedah dan ahli racun. Selain bermain senjata, dia juga bermain dengan racun.


Leona menyusuri lorong rumah sakit sambil sesekali menyapa pasien dan perawat yang berpapasan dengannya. Namun dia tak sengaja melihat Calvian berdiri di lorong rumah sakit. Leona lebih memilih mengabaikan pria itu dan fokus pada seorang dokter yang menghampirinya.


"Leona sensei, hari ini ada operasi darurat! Di sebelah sini!" Ujar dokter itu dengan panik.


"Bisa di jelaskan situasinya?" Tanya Leona dengan tenang sambil berjalan menuju ruang darurat.

__ADS_1


"Ada seorang prajurit milik duke Castallio yang mengeluh sakit pada pernafasan dan muntah darah. Menurut keterangan rekannya, dia sempat pergi ke barat laut desa ini lalu kembali dengan keadaan seperti ini." Jelas dokter itu.


Wilayah barat laut merupakan area yang cukup berbahaya. Terletak di barat laut desa Bloom Mist yang merupakan sarang parasit. Mereka dapat menyerang makhluk hidup lainnya sebagai inang, dan dalam waktu singkat mereka tumbuh besar dan membunuh inangnya dengan menggerogoti organ dalamnya.


Kini mereka tiba di ruangan tempat pasien dirawat. Terlihat beberapa orang prajurit milik duke yang menatap ke arahnya dengan meremehkan sambil sesekali menatap rekannya yang merintih kesakitan.


Leona memutuskan mendekati pasien itu dan memeriksanya dengan mengeluarkan chakra bewarna hijau yang sukses membuat mereka tertegun tak percaya.


"Dokter Wang, tolong singkirkan logam ditubuhnya. Kita lakukan ronsen untuk memastikan letak parasit itu." Titah Leona tegas.


"Apa yang ingin kau lakukan pada rekan kami?" Tanya salah satu prajurit tak terima.


Leona menatap prajurit itu dengan malas dan berkata dengan pedas, "Jika ingin nyawa rekanmu ini selamat, ikuti prosedur di rumah sakit ini. Jika tidak, bawa pergi rekanmu yang merepotkan ini."


Prajurit itu terdiam dan menatap temannya yang memuntahkan darah merah kehitaman yang cukup banyak.


"Tolong selamatkan rekan kami." Ucap salah satu prajurit itu. Tidak ada pilihan lain lagi karena tidak tega melihat rekannya kesakitan.


"Pilihan yang bijak. Kalau begitu ikuti kami." Sahut Leona lalu menatap dokter Wang. Mereka segera membawa ke ruangan ronsen. Dokter Wang segera melepas logam di tubuh prajurit itu lalu melakukan ronsen.


Sementara prajurit yang pertama kali melihat ruangan itu hanya bisa terpaku takjub. Mereka pertama kali melihat peralatan canggih begini. Biasanya dokter atau tabib hanya datang ke rumah lalu memberikan obat-obatan setelah melakukan pemeriksaan.


"Kalian kemarilah dan lihat ini." Ucap Leona memanggil prajurit itu. Mereka mendekat ke sana dan menoleh ke layar yang memperlihatkan bagian tubuh rekannya dengan sedikit mual. Pertama kalinya mereka melihat organ dalam rekannya yang masih hidup.


"Nona, saya percayakan rekan saya pada Anda." Ucap Ellen. Hanya dia Ksatria wanita yang tidak bersikap buruk padanya.


"Baiklah. Tolong lengkapi formulir ini." Lalu seorang suster muncul sambil membawa sebuah formulir dan menyodorkan pada Ellen. Gadis itu segera menerimanya lalu mengisi formulir itu.


"Siapkan operasi segera! Parasit itu akan membesar dalam waktu dua jam."


"Baik, Leona sensei."


💠💠💠💠💠


Leona mulai membedah tubuh seorang pria yang terbaring tak sadarkan diri. Sebelah tangan pria itu di isi selang infus dan sekantong darah.


Setelah cukup lama, akhirnya dia menemukan sebuah parasit yang bersarang di tubuhnya. Setelah selesai melakukan operasi, dia segera mengeluarkan chakra bewarna hijau hangat lalu luka pria itu perlahan menutup.


"Akhirnya selesai juga. Dokter Wang, sampaikan pada rekannya jika pasien telah di sembuhkan dan keadaannya akan membaik setelah beristirahat."


" Baik, Leona sensei. Berkat Anda, nyawa pasien berhasil di selamatkan." Ucap dokter itu penuh kelegaan.


Setelah itu suster segera memindahkan tubuh pria itu lalu membawanya ke ruang rawat.


Entah kesialan atau keberuntungan, kali ini dia melakukan tiga operasi darurat yang menegangkan. Kebanyakan mereka adalah prajurit Castallio yang memiliki gejala sama dengan prajurit tadi. Entah apa yang mereka lakukan di wilayah barat laut desa Bloom Mist yang berbahaya tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai menangani operasi, Leona memutuskan keluar beristirahat. Dengan langkah gontai dia keluar dari ruangan itu karena kelelahan. Sepertinya dia kehabisan tenaga karena melakukan empat kali operasi tanpa beristirahat.


"Kerja bagus, Leona." Ucap Jim sambil menangkap tubuh Leona yang hampir ambruk.


"Paman? Kapan kau datang?" Tanya Leona lemah dan pandangannya seketika menggelap.


Jim hanya menghembuskan nafasnya. Sepertinya Leona kelelahan melakukan operasi bahkan gadis itu tidak sarapan tadi pagi.


"Kau terlalu memaksakan diri, bocah."


Calvian yang melihat hal itu hanya bisa menatap sendu interaksi Leona dengan Jim yang merupakan mantan pelayan pribadi gadis itu sekaligus kerabat leona.


Keesokan harinya Leona kembali mendatangi rumah sakit dan memeriksa pasiennya. Salah satu diantara pasiennya adalah Arthur yang telah merawat pemilik tubuh ini dulu.


"Kondisi Anda sudah membaik, Sir. Anda hanya perlu beristirahat untuk memulihkan stamina Anda."


"Terima kasih, Nona sudah menyelamatkan nyawa saya. Saya tidak bisa membalas hutang budi ini dengan nyawa saya sekalipun." Ucap Arthur sambil berusaha membungkukkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Ini sudah menjadi tugas saya, Sir. Lagipula ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan. Kau telah merawatku sejak kecil, Sir." Ucap Leona.


"Itu sudah menjadi tugas saya, Nona."


"Begitupun denganku."


Hening sejenak. Lalu Leona yang teringat dengan keadaan kemarin memutuskan bertanya, "Sebenarnya apa tujuan kalian mendatangi wilayah barat laut Bloom Mist? Wilayah itu cukup berbahaya dan merupakan wilayah tengah."


"Kami diminta mencari keberadaan desa Bloom Mist oleh tuan Emillio, Nona. Rumor yang beredar, desa itu merupakan desa yang indah." Jawab Ellen.


"Wilayah ini hanya berada di timur laut kota Eige. Hanya saja desa ini selalu tertutup kabut. Dan desa ini keberadaannya sudah di hapus dari peta kerajaan maupun kekaisaran, jadi sangat sulit di temukan." Tutur Leona membeberkan fakta.


Sontak mereka yang berada di ruangan itu menjatuhkan rahangnya. Ternyata wilayah ini sangat dekat dengan kota Eige dan mereka mempertaruhkan nyawa hanya mencari desa ini?


"Ah, kalian sekarang berada di desa Bloom Mist. Selamat datang di desa kami." Ucap Leona dengan memasang wajah ramah.


"Kalau begitu beristirahatlah. Aku permisi." Pamit Leona.


Mereka yang berada di ruangan itu menatap Leona dengan rumit. Ada yang terharu maupun tak percaya.


"Nona Leona telah berubah. Aku menjadi terharu dengan perubahannya."


"Benar. Siapa sangka dulu dia disebut sebagai sampah keluarga duke kini menjadi dokter bedah hebat. Bahkan tanpa menggunakan sihir, dia mampu menyembuhkan banyak orang."


Arthur menatap kepergian Leona dengan haru. Gadis kecil itu kini telah tumbuh menjadi gadis berbakat yang ahli di bidang medis.


Calvian yang melihat itu hanya bisa menatap punggung putrinya dengan sendu. Dia ingin menghampiri Leona, namun terlalu malu untuk berbicara dengan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2