Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 83


__ADS_3

Tamu yang hadir di sana seketika merinding ngeri saat melihat luka yang menganga itu. Luka berbentuk jahitan yang mengerikan di pipi serta rongga hidung yang terpampang jelas membuat mereka mual seketika.


"Paman, katanya aku ingin di lamar oleh mereka." Tanya Leona serta menatap Jim dengan polos. Jika saja wajahnya normal, mungkin pria itu gemas sendiri.


Tapi lihatlah make up mengerikan ini. Jim sendiri nyaris bergidik ngeri jika saja dia tidak melihat bagaimana lincah nya tangan gadis itu memoles make up hingga hasilnya sedemikian rupa.


"Mereka ngotot ingin melamarmu. Padahal wajahmu masih terluka begini. Pasti sangat sakit, kan? Sudah minum obat?" Jim memutuskan mengikuti permainan Leona dan ingin mengerjai tamu serakah itu habis-habisan.


Leona menganggukkan kepalanya semangat dan menatap para tamu yang hadir dengan tatapan polosnya.


"Tapi kenapa mereka yang ingin melamarku hanya orang tua dan jelek begitu? Aku pikir ada pria tampan yang datang." Ucapnya berpura-pura sedih.


Seketika mereka menahan marah mendengar perkataan gadis itu. Meski mereka akui usia mereka tidak lagi muda, tetapi mereka terkenal dengan kekuasaan dan pamornya.


"Bukannya rumor mengatakan jika Anda memiliki keponakan yang cantik? Tapi yang kami lihat hanyalah anak cacat." Hina pria gemuk dan menatap Jim dengan merendah.


"Aku benar-benar merasa tertipu dengan rumor itu. Sebagai gantinya, Anda harus membayar kompensasi ini dengan menyerahkan desa pimpinan Anda." Lanjut yang lainnya.


Leona bangun dari pangkuan sang paman dan menatap mereka dengan malas. Mereka ini benar-benar serakah.


"Bukannya saya sudah menulis surat balasan? Jangan-jangan kalian tidak membacanya, ya?" Sinis Jim kesal.


Leona menyeringai sinis dan keluarlah rantai chakra dari belakang tubuhnya diiringi tekanan chakra yang membuat orang-orang merasa sesak nafas.


"Aku pikir kalian ini hanya datang untuk bekerjasama dengan baik-baik, ternyata hanya mengganggu, ya? Sayang sekali. Tikus-tikus seperti kalian harus sadar posisi." Ucap Leona dingin sambil melayangkan rantai chakra nya pada mereka dan membelit leher para tamu dengan kencang.


'Krakh'


Suara patahan tulang terdengar begitu mengerikan di ruangan itu, membuat para pelayan yang berada di sana bergidik ngeri.


💠💠💠💠💠


"Raja Seanthuria sudah benar-benar gila." Geram kaisar Ein sambil meremas sebuah surat dan membakarnya seperti orang kesetanan.


Markian dan Arthem hanya bisa diam melihat hal itu. Mereka memilih tidak ikut campur dan membiarkan pria itu bertingkah sesuka hatinya.


"Panggil Leona dan Jim. Aku dengar mereka berada di kekaisaran ini. Kita akan mendiskusikan tentang penyerangan kerajaan Seanthuria." Titah kaisar Ein.


Sambil menunggu kedatangan mereka, kaisar memutuskan pergi menuju kamarnya untuk tidur siang.


Sementara di lokasi lain....


Leona berada di sebuah restoran miliknya yang berada di wilayah pelabuhan, yang berdekatan langsung dengan Kekaisaran Kamitsuki. Mereka makan siang bersama sambil menikmati pemandangan laut yang indah.


"Apa?! Kau dilamar tiga pria tua?! Puahahahahaa!" Seru keempat pria itu sambil tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Leona.


"Sungguh malang sekali nasibmu, Leona. Aku pikir kau mendapatkan jodoh pria tampan." Ledek Kiara sambil ikut tertawa.


"Berhentilah menertawai ku, sialan. Aku harus berdandan mengerikan agar mereka tidak mengganggu ku, sayangnya mereka ingin menguasai desaku. Jadi aku patahkan saja lehernya." Ketus Leona kesal.


Hening sejenak sebelum tawa mereka kembali pecah.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak memberikan racun buatanku, Leona?" Tanya Kiara setelah tawanya mereda. Gadis cantik berambut pink itu mengusap air matanya yang mengalir karena terlalu asik tertawa.


"Aku tidak kepikiran dengan hal itu."


Mereka berbincang-bincang sejenak sebelum urusan kaisar datang menghampiri mereka.


"Maaf mengganggu, Tuan-tuan dan Nona. Saya menyampaikan undangan dari baginda kaisar agar kalian segera menghadap kepada beliau."


"Ah, baiklah. Kami akan pergi."


Dan disinilah mereka berenam yang telah tewas dengan posisi mengenaskan.Terlihat Iven dan Wei Tao tidur nyenyak sambil berpelukan layaknya suami istri, Eura dan Leona yang saling memamerkan bau kaki. Hanya Kiara dan Khalix yang paling normal. Mereka berdua tertidur di sofa panjang dengan saling bersandar.


Mereka berenam berada di ruang tamu istana kekaisaran sambil menunggu kedatangan kaisar Ein yang entah kemana. Saking lamanya menunggu, mereka berenam sampai ketiduran.


Carl dan Jim memasuki ruangan itu, namun seketika mata mereka membelalak kaget dengan pemandangan yang disajikan di hadapan mereka.


Tanpa membuang waktu, Carl mengambil sebuah artefak sihir untuk mengambil gambar mereka dan menyimpannya sambil terkekeh setan. Selama ini mereka selalu saja membuat dirinya kesusahan dan inilah kesempatan untuk mengambil bukti lalu memamerkan pada mereka.


"Hohoho! Aku tidak menyangka bisa menemukan aib mereka." Ucap Carl sambil tertawa setan.


"Apa sebaiknya kita bangunkan mereka? Sebentar lagi kaisar akan segera tiba." Celetuk Jim.


Dan senyum iblis terbit di wajah pria berambut ungu di kuncir itu.


Leona membuka matanya dan seketika membelalak kaget saat melihat wajah Carl yang begitu dekat dengannya.


"Selamat pagi~ Tidurmu nyenyak, ya~!" Sapa Carl sambil tersenyum lebar.


Carl memasang wajah yang tersakiti yang membuat Leona kesal.


"Apa-apaan ekspresi mu, Guru?"


"Aku sudah bersusah payah menjadi pangeran dan kau menolak ku? Hiks... Aku sangat terluka." Carl mendramatisir keadaan yang membuat Leona mendengus.


"Sebaiknya Guru menjadi putri saja untuk membangunkan tiga pangeran yang berpetualang di alam mimpi." Ketus Leona.


"Ide bagus." Pekik Carl lalu menjentikkan jarinya dan muncul gelombang air yang langsung menyiram Eura, Iven dan Wei Tao yang masih melalang buana di alam mimpi dengan sihir airnya.


'Byuurrr'


"Hwaahh!! Banjir! Banjir!" Eura tersentak kaget saat wajahnya tersiram air dengan mendadak.


"Gyaaa!! Menjauh dariku!" Pekik Iven dan Wei Tao kesal saat mereka terbangun dan menyadari posisi mereka yang saling berpelukan.


Sementara Khalix dan Kiara terbangun saat mendengar suara berisik yang berasal dari keempat rekannya dan mendapati dua pria dewasa berada di ruangan itu.


"Ah, anak-anakku sudah bangun rupanya~ Sekarang mari kita menemui kaisar dan membicarakan sesuatu padanya~" Seru Carl dengan nada riang yang membuat mereka berempat menatapnya dengan jengkel.


💠💠💠💠💠


'Prang!!'

__ADS_1


"Tidak! Tidaakk!!"


Putri Cosette berteriak kesetanan saat mengetahui wajahnya yang dulu halus terawat kini berubah menjadi banyak jerawat dan bopeng. Bahkan flek hitam terlihat jelas di wajah gadis itu.


"Kenapa wajahku jadi seperti ini?! Sialann!!" Teriaknya penuh amarah.


Cosette kembali mengamuk dan menghancurkan barang-barang yang berada di kamarnya. Sudah beberapa waktu dia diasingkan oleh ayahnya dengan dalih ada kekacauan di istana, belum lagi kabar mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dengan mengenaskan dan sang kakak yang sakit-sakitan setelah kekalahan perang beberapa waktu lalu.


Dan sudah beberapa waktu sang ayah tidak pernah menghubunginya, bahkan surat maupun panggilannya tidak pernah ada balasan. Mungkin sekarang dia sedang di buang?


Jika itu terjadi, maka dia tidak terima. Dia harus kembali ke istana. Namun wajahnya yang menyeramkan membuat dia malu untuk bertemu siapapun.


Sementara Iris hanya bisa menangis dengan sedih dan penuh putus asa. Putra mahkota sekaligus tunangannya tidak lagi peduli dengannya.


Mananya mulai menipis dan dia mulai kelelahan. Iris bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat lemah.


"Menyenangkan, bukan?" Sebuah suara yang hampir empat tahun tak terdengar kembali menyapa pendengaran nya.


'Deg'


Gadis itu menoleh ke arah suara dengan gerakan patah-patah. Terlihat seorang gadis dengan mata merah menyala dengan wajah tertutup masker hitam berhiaskan rantai berdiri di hadapannya dengan bersedekap dada.


"Le-Leona?"


Gadis itu tidak menjawab yang membuat Iris berteriak histeris.


"Apa kau sudah puas melihat keadaanku yang seperti ini?! Kau mau mengejek keadaanku yang seperti ini, ya kan?!"


Gadis itu menampilkan eye smilenya dan berkata dengan dingin, "Leona? Siapa dia? Apakah hanya suara kami yang mirip membuatmu berteriak seperti ini? Aku bukan Leona atau siapapun yang kau sebutkan."


Iris membeku tak percaya dengan perkataan gadis itu. Jelas-jelas suaranya mirip dengan Leona.


"Apakah hanya memiliki kesamaan dalam fisik maupun suara membuat kau seyakin itu bahwa aku ini adalah Leona? Aku tidak tau dendam apa yang kau miliki tetapi kau itu benar-benar tidak berguna, ya?" Ujarnya dengan nada menusuk.


Iris mengepalkan tangannya dan menatap nyalang sosok itu.


"Kau!!" Teriaknya marah.


'Tok' 'Tok'


"Ada apa, Nona?" Suara penjaga terdengar di balik kamarnya.


Iris menyeringai dan menatap ke arah pintu.


"Ada penyu- Lho? Kemana dia?" Ucapnya saat kembali menoleh ke arah gadis ber masker itu. Tidak ada siapapun selain dirinya sendiri.


"Tidak ada apa-apa!" Seru Iris ketus dan penjaga itu segera berlalu dari sana.


Dan gadis bermasker itu hanya menyeringai sinis di balik maskernya.


"Heh, kau akan melihat pertunjukkan yang menarik besok."

__ADS_1


Dan sosok itu menghilang di gelapnya malam dengan meninggalkan jejak kelopak bunga yang terbang di bawa angin.


__ADS_2