Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 82


__ADS_3

Kaisar Ein tersenyum miring saat membaca laporan yang di serahkan oleh Leona tentang batu Krikia. Namun untuk mendapatkan sihir maupun pemilik elemen petir sangat mustahil ditemukan di kekaisarannya.


Pemilik elemen petir sangatlah langka. Hanya ada sekali dalam lima puluh tahun, dan pemilik terakhir sudah meninggal empat puluh tahun lalu.


Harapan satu-satunya sangat mustahil. Mereka yang tengah rapat memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.


Meminta pada kekaisaran maupun kerajaan lain? Mustahil rasanya. Apalagi beberapa wilayah di benua lain baru saja kehilangan pemilik sihir langka itu.


Leona? Yang mereka tau, gadis itu hanya memiliki stamina monster, elemen lava, tanah, dan ahli dalam merubah tubuhnya menjadi kelopak bunga serta pemilik rantai chakra. Mereka tidak bisa mengharapkan gadis jejadian itu untuk memiliki elemen petir selain keonaran nya.


Dan orang yang tidak bisa diharapkan itu tengah santai menyetrum sungai untuk menangkap beberapa ikan besar sambil bersenandung ria bersama ketiga silumannya di pinggir hutan.


"Kenapa Anda tidak mengatakan bahwa Anda memiliki elemen petir, Leona-sama?" Tanya Kaze sambil menusuk ikan yang telah di bersihkan.


"Aku malas. Nanti kalau aku bilang 'saya adalah pemilik elemen petir' maka semuanya akan kacau balau. Bisa-bisa ada penghianat di sana." Sahut Leona cuek.


"Benar juga. Lalu apa rencana Anda, Leona-sama?"


"Entahlah. Aku hanya ingin bermalas-malasan sejenak."


"Leona-sama, Anda harus memikirkan banyak hal. Ini demi klan Anda yang telah di musnahkan oleh Raja itu." Tukas Ken tak terima. Pria siluman itu telah kehilangan segalanya karena raja Grambiel.


Leona menatap mereka dalam diam. Apa yang dikatakan oleh mereka ada benarnya juga. Namun dia harus menyusun rencana yang sangat matang dan memiliki banyak rencana cadangan untuk jaga-jaga apabila mengalami kegagalan.


"Aku tau. Tapi apakah kalian tidak ingin mencari penerus pemimpin kalian?" Tanya Leona sambil menatap ketiga silumannya yang kini sibuk membakar ikan.


"Kami telah berpencar. Kemungkinan beberapa yang selamat telah mendirikan sebuah kerajaan kecil di bagian wilayah tengah." Tutur Kei.


"Bangsa singa adalah kaisar kami. Meskipun memimpin kelompok kecil, sepertinya bangsa harimau cocok untuk menjadi pemimpin kami." Ucap Kaze sambil melirik Ken yang menatapnya dengan pongah.


"Karena bangsa harimau lebih terkenal daripada bangsa panther hitam. Baik dalam dongeng maupun dalam hal lainnya." Ucap Ken membanggakan diri yang membuat Kei mendengus malas.


"Ya, ya. Karena itulah bangsa harimau sangat menjengkelkan."


"Kau iri, ya? Ngajak ribut?"


"Tidak, tuh."


"Kalian berdua bisa diam, tidak? Dasar predator gila." Kesal Kaze melerai percekcokan dua pria siluman itu.


Kedua pria tampan itu menatap Kaze dengan seringai mengerikan. Terlihat keduanya telah mengeluarkan telinga dan ekor mereka yang membuat Kaze gemetar ketakutan.


"Hei, Kei, sepertinya ada herbivor untuk dessert kita." Seringai jahat terpatri di bibir pria tampan itu.


"Benar, Ken. Atau kita jadikan hidangan utama?" Kei terkekeh-kekeh layaknya iblis yang menemukan mainannya.


Kaze yang merasa dirinya terancam segera berubah menjadi tupai dan bersembunyi di balik saku Leona.


"Jangan meninggalkan Ikannya, nanti gosong." Tegur Leona yang sendari tadi menonton percekcokan mereka.


💠💠💠💠

__ADS_1


Emillio menatap tumpukan dokumen di hadapannya dengan nanar. Astaga, dia sama sekali ingin beristirahat dan tumpukan dokumen itu seakan memanggilnya untuk minta di jamah.


"Tuan, Anda harus segera menyelesaikan dokumen ini secepatnya." Tekan Harres dan menatap tajam pemuda berambut cokelat gelap di hadapannya.


Pria itu mendengus kesal. Ayahnya yang sibuk dengan urusan istana membuat dirinya menderita dengan tumpukan dokumen yang tidak ada habisnya.


"Baiklah." Sahut pria itu dengan pasrah dan mulai mengerjakan berkas-berkas itu diiringi senyum manis dari Harres, asisten sang ayah.


"Jika saja dia bukan asisten ayah, sudah lama aku membunuhnya." Gerutunya kesal.


Malam telah larut dan terasa sangat hening. Tidak terdengar suara hewan malam maupun hembusan angin. Jam dinding yang terletak di ruang keluarga yang letaknya cukup jauh terdengar sampai di ruang kerja duke, bahkan seru nafas sendiri dan detak jantung terdengar sangat jelas.


Emillio mendengus dan berdehem sejenak. Entah kenapa aura malam ini sangat aneh dan tidak seperti biasanya. Pria itu melirik ke arah jendela dan menatap sang rembulan bersinar dengan terang.


Suara geraman binatang buas terdengar di sebuah taman. Pria itu segera memasang sikap waspada dan mengambil pedang. Segera pria itu mencari ke asal suara itu.


'Grrr...'


Lagi-lagi suara itu terdengar jelas yang berasal dari paviliun milik Leona dulu. Dulu sebelum gadis itu pergi dari rumah dan pergi selamanya.


Emillio mengelilingi paviliun itu dan langkahnya seketika terhenti tatkala melihat dua ekor binatang buas, panther hitam dan harimau besar bermanja ria dengan seorang gadis cantik berambut hitam ikal. Mata merah runcing itu menatap hangat kedua hewan buas itu. Gadis itu mengenakan gaun putih sederhana.


"Leona?" Gumam Emillio tak percaya.


Pria itu mengucek matanya guna memastikan pengelihatan nya, namun saat dia kembali menatap sosok yang dianggap Leona, seketika wajahnya memucat.


Gadis itu memakai pakaian akademi yang berlumuran darah. Juga wajah cantik gadis itu berlumuran darah dan membusuk.


Sosok itu tersenyum mengerikan dengan gigi bewarna hitam lalu menghilang bersama dua hewan buas itu dari pandangan Emillio.


"Kakak, selama sisa hidupku bersama kalian, aku selalu kesepian."


Emillio ambruk menatap tempat Leona duduk tadi. Tatapannya begitu sendu dan penuh penyesalan.


Andai saja dia mau peduli sedikit saja pada adiknya, mungkin dia tidak menderita begini.


Kepergian Leona membuatnya di hantui rasa bersalah seumur hidupnya.


"Maafkan aku, Leona. Maaf..."


💠💠💠💠💠


"Apa kau tidak mau kembali pada keluarga mu, Leo?" Tanya Jim hati-hati pada sang keponakan yang sibuk dengan acara memasaknya.


"Malas. Lagipula aku tidak memiliki kenangan apapun tentang mereka." Sahut Leona acuh. "Dan bukankah mereka telah membuat rumor jika aku kawin lari denganmu?"


"Ck. Setidaknya cobalah berdamai dengan mereka." Bujuk Jim.


"Aha! Kau berkata seperti ini karena ingin menjodohkan ku, ya?" Tebaknya tepat sasaran.


Jim menghela nafas. Usia Leona kini telah menginjak dua puluh tahun dan sama sekali tidak pernah berkencan. Hal itu membuat Jim khawatir.

__ADS_1


"Harusnya kau yang sadar diri, Paman. Usiamu sudah cukup matang untuk berumah tangga. Lagipula untuk apa aku harus repot-repot menikah? Aku tidak ingin kebebasanku hilang." Kesal Leona sambil membanting spatula dengan keras.


"Aku tidak mau menikah!" Jerit Leona frustasi.


Jim tidak bisa berkata apa-apa. Dia menatap Leona sedih. Pasti perlakuan buruk di masa lalu itu membuat keponakannya enggan menjalin sebuah hubungan.


"Baiklah. Maafkan aku."


Leona memilih diam dan menyibukkan diri dengan mencetak kue lalu memasukan ke dalam oven. Sementara para pelayan dapur memilih membereskan kekacauan buatan Leona.


"Tapi beberapa bangsawan tua ingin menjadikanmu sebagai selirnya. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku sudah membakar suratnya berkali-kali bahkan sudah mengirim surat balasan bahwa kau telah memiliki tunangan." Jim akhirnya mengeluarkan unek-unek yang selama ini menjadi beban untuknya.


"Ya ampun. Jadi karena itu Paman merengek memintaku untuk menikah? Kenapa tidak sekalian saja bilang bahwa aku ini istri Paman? Bukankah dulu rumor miring bahwa aku kawin lari denganmu sudah menyebar luas?"


Jim menghela nafas lelah. Meskipun apa yang dikatakan Leona itu benar, tetapi masih banyak yang meragukan mereka.


"Aku sudah bilang dan menjelaskan pada mereka. Tetapi mereka akan datang dan menghabisi desa kita jika kita menolaknya." Tutur Jim putus asa.


"Kenapa Anda tidak ber cosplay dengan wajah buruk rupa, Leona-sama." Celetuk Xavier tiba-tiba.


Seketika mata Leona berbinar senang. Dia menghampiri pria itu dan mencengkeram kerah pakaiannya.


"Idemu itu benar-benar cemerlang, Xavi." Ucapnya menggebu-gebu sambil mengguncang tubuh pria tampan itu. Setelahnya gadis itu melepaskan cengkeraman nya lalu pergi berlalu begitu saja sambil bersenandung ria.


💠💠💠💠


'Brakh'


Suara dobrakan pintu mengagetkan beberapa orang yang berada di ruangan itu. Sontak mereka menoleh dan mendapati seorang gadis mengenakan masker hitam dengan hiasan rantai memasuki ruangan itu dengan eye smile, yang entah mengapa terasa begitu menyebalkan.


"Paman memanggilku?" Tanyanya tanpa merasa bersalah.


"Bisakah kau masuk dengan normal, Leo? Aku sudah malas mengganti pintu yang kau rusak itu." Jengkel Jim dan meminta maaf pada beberapa tamu yang datang.


Leona menatap para tamu yang menatapnya dengan penasaran sambil tersenyum tengil dibalik maskernya. Sebuah ide gila muncul begitu saja membuat Jim dan beberapa pelayanan miliknya menatap gadis itu dengan curiga.


"Maafkan keponakan ku yang tidak sopan ini, Tuan." Sesal Jim canggung meski dalam hati ingin menendang mereka saat melihat sorot mata yang mengarah kearah Leona.


Mereka adalah orang-orang yang ingin melamar Leona dengan maksud tertentu. Jim sudah menolaknya, namun mereka mengancam dan membuat pria itu kesusahan.


"Tidak apa-apa, Tuan Jim." Sahut salah satu tamu itu dengan sopan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Leona.


Leona segera saja menghampiri Jim dan tanpa tau malu duduk di pangkuannya, membuat tamu-tamu itu menatap mereka dengan kesal.


"Seperti nya Anda dan keponakan Anda sangat dekat, ya?" Tanya salah satu tamu itu dengan sopan. Dia berusaha menjaga citranya agar dapat mempersunting gadis itu demi mendapatkan keuntungan desa Bloom Mist.


"Begitulah."


"Seperti lamaran yang kami ajukan, Anda harus menyerahkan keponakan kesayangan Anda pada salah satu dari kami." Lanjut pria gemuk dengan perut buncit dan menatap lapar Leona yang asik duduk dipangkuan Jim. Leona menatap mereka satu persatu dengan tatapan menilai. Terlihat keserakahan di mata mereka serta persaingan yang kentara membuat Leona muak.


Leona mengambil sebuah cemilan yang tersaji dihadapannya lalu membuka maskernya. Sontak para tamu itu menatap Leona dengan ngeri.

__ADS_1


Wajah dengan luka bekas jahitan di kedua pipinya yang masih memerah dan memperlihatkan rongga hidungnya dengan sangat jelas.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Bukankah aku ini sangat cantik?"


__ADS_2