
Kediaman Castallio mendadak geger sejak semalam. Pasalnya mereka yang berada di kamar Iris mendengar suara tawa melengking, membuat Iris pingsan seketika. Dan pagi ini gadis itu menangis histeris mengingat kejadian yang menimpanya.
"Jangan terlalu berlebihan, Nona. Anda seperti habis di lecehkan sekelompok penjahat, padahal itu hanya mimpi buruk." Cibir Lucas terang-terangan saat mendapati Iris menangis meraung-raung.
"Diam, kau! Dasar pelayan rendahan!" Maki Iris sambil melemparkan beberapa barang ke arah Lucas. Pria paruh baya itu menghindari lemparan Iris dengan mudah.
"Pelayan rendahan ini sudah bekerja jauh sebelum tuan duke memungut Anda, Nona." Jawabnya santai sambil membungkuk hormat.
'Untung nona Leona memberikan saya sebuah buku yang berisi cara menjawab hinaan dan makian dengan elegan ala pelayan.' Batin Lucas sambil tersenyum miring.
"Saya undur diri dulu. Pekerjaan saya masih banyak." Pamit Lucas dan segera meninggalkan Iris yang masih terisak.
Setelah kepergian Lucas, Iris berteriak meluapkan emosinya. Entah mengapa sejak kematian Leona, semua berubah. Para pelayan memang tidak melawannya, namun kata-kata mereka menusuk hatinya.
Padahal semua orang tau jika dia merupakan tunangan putra mahkota. Namun entah mengapa dia merasa pelayan di rumah ini begitu kurang ajar padanya. Begitupun dengan beberapa prajurit dan penjaga yang seakan enggan mengawalnya.
Lucas akhir-akhir ini tidak menyukai Iris karena suka menghina dan semena-mena pada mereka semenjak bertunangan dengan putra mahkota. Leona saja bahkan tidak pernah separah ini. Paling tidak dia hanya berteriak atau meninju tembok. Leona tidak pernah sekalipun melemparkan barang.
Bahkan saat kesal dengan seorang pelayan, dia mengerjai nya habis-habisan sampai puas.
Lucas menghembuskan nafas lelah. Kabar kematian Leona tiga tahun lalu membuatnya terguncang. Pria paruh baya itu sudah menganggap Leona seperti putri kandungnya sendiri.
Hati kecilnya mengatakan jika Leona masih hidup dan merencanakan pembalasan. Pria itu akan mendukungnya jika Leona benar-benar masih hidup dan mendatangi nya.
Jika Leona sudah meninggal seperti rumor yang beredar, Lucas berharap dia mendatanginya meskipun dalam mimpi.
💠💠💠ðŸ’
Leona meregangkan tubuhnya. Entah mengapa dia merasakan seseorang menatap wajahnya dengan intens yang membuatnya merasa jengah.
"Leona-sama." Terdengar suara baritone yang akrab menyapa pendengarannya.
Leona membuka matanya dan mengernyit saat mendapati dua wajah pria tampan berjarak cukup dekat dengannya, tidak lupa dengan telinga macan bertengger manis di kepala mereka. Terlihat cukup imut dan cocok untuk cuci mata di pagi hari.
"Selamat pagi, Leona-sama. Apakah tidur Anda nyenyak?" Sapa Kei dengan telinga panther hitam yang menyembul di kepalanya.
"Selamat pagi, Leona-sama. Apakah Anda ingin membersihkan diri dulu?" Sapa Ken yang juga mengeluarkan telinga harimaunya. Di salah satu lengannya tersampir sebuah handuk.
"Singkirkan wajah kalian. Kalian terlalu dekat." Ucap Leona dengan suara khas bangun tidur.
Dengan kompak Kei dan Ken menjauhkan wajah mereka dari hadapan Leona. Gadis itu segera duduk mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran. Sesekali dia tampak menguap sambil meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tidurku nyenyak. Terimakasih. Bisakah kalian keluar dulu? Aku mau bersiap-siap." Usir Leona sambil mengibaskan tangannya, tidak lupa mengambil sebuah handuk yang tersampir di tangan Ken.
"Tapi Leona-sama–"
'Brakh'
Perkataan mereka terpotong oleh debaman pintu kamar mandi yang kini tertutup rapat. Membuat dia pria siluman itu saling melirik kebingungan.
Leona bersama Kei dan Ken berjalan-jalan di sebuah desa yang terletak di pinggir pantai. Desa itu memiliki pemandangan yang indah. Laut biru jernih dipadu dengan pasir hitam, pantai itu tidak memiliki gelombang tinggi yang membuat mood Leona mendadak anjlok. Niat ingin surfing malah batal.
Namun semua itu terobati dengan keindahan bak negeri dongeng. Berjalan sedikit ke timur, dia melihat sebuah bukit hijau yang menjorok sedikit ke dalam laut, dibawahnya terdapat susunan bebatuan yang sedemikian rupa menambah pesonanya.
Pantai ini masih sepi. Tidak ada pengunjung yang mau mendatanginya karena menurut penduduk sekitar, ada sesosok monster yang menghuni laut itu. Sudah banyak nelayan yang menghilang di sana sejak beberapa bulan lalu.
Menurut rumor yang beredar, terdapat sesosok monster cumi-cumi raksasa dengan tanduk banteng dikepalanya. Monster itu muncul beberapa bulan lalu membuat desa ini sepi pengunjung, sudah banyak prajurit bayaran yang mencoba menangkap dan membunuh cumi-cumi itu, tapi tidak ada yang berhasil.
Keberadaan mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Leona yang memiliki paras cantik di apit oleh dua pria tampan membuat para gadis menjerit iri. Belum lagi para pemuda yang menatap mereka dengan iri karena bisa berjalan bersama gadis cantik yang tampak langka.
"Kakak, bagaimana kita makan dulu? Aku lapar." Rengek Leona pada Kei. Pasalnya Kei dan Leona memiliki kesamaan. Sama-sama memiliki mata merah dan rambut hitam, namun terdapat sedikit guratan seperti kumis kucing di pipi kanan Kei.
"Tentu, Leona." Sahut Kei. Mereka berdua sudah terbiasa melakukan misi penyamaran sebagai kakak beradik. Meskipun pria itu sedikit canggung.
Bagi Leona, Kei dan Ken sudah seperti kakaknya sendiri. Dan bagi mereka, Leona adalah majikannya yang berharga. Mereka menyayanginya seperti saudarinya sendiri meskipun tingkah lakunya cukup ajaib.
💠💠💠ðŸ’
Iven, Wei Tao dan Eura menggerutu sebal. Bisa-bisanya Leona memilih kabur saat pesta dansa akan diselenggarakan besok. Harusnya Leona mempersiapkan diri untuk acara sepenting itu, namun gadis itu memilih membuat kehebohan di kediaman Castallio dan pergi berlibur bersama tiga silumannya.
Jim hanya terkekeh mengejek melihat ekspresi ketiga pria muda di hadapannya. Leona tidak suka pesta, bahkan cenderung menghindari nya. Gadis itu lebih suka berkeliaran bebas tanpa menyukai keformalan maupun ***** bengek lainnya. Dia gadis yang bebas.
"Jadi, Leona memberikan kalian harapan palsu?" Tanya Jim dengan sebelah alis terangkat. Niat mereka ingin menjemput Leona, siapa sangka gadis itu sudah pergi kemarin sore entah kemana.
"Benar, Tuan." Jawab ketiganya kompak.
"Beruntung sekali kalian." Ejek Kazuma yang berdiri di belakang Jim yang membuat ketiga pria itu menoleh ke arahnya.
"Leona-sama tidak menyukai pesta selain membuat keributan. Jika ingin membawanya pergi ke acara resmi, kalian harus mempunyai taktik agar dia tidak kabur sebelum acara dimulai." Arelle mengeluarkan suaranya
Dia ingat bagaimana susahnya membujuk Leona saat pesta debutnya dulu. Jika bukan karena ada bangsa siluman di kediaman ini, mungkin saja Leona belum debut sekarang. Gadis itu benar-benar ahli bersembunyi.
"Jika kalian ingin membawa Leona-sama pergi ke acara resmi, pastikan kalian bisa memberikannya alasan yang tepat, atau paling tidak membuat beliau kalah dalam berdebat." Tutur Xavier.
__ADS_1
Mereka bertiga mendengar perkataan pelayan di kediaman Leona. Apakah gadis itu memiliki pengalaman buruk sebelumnya hingga membuatnya enggan hadir di acara resmi?
"Aku mendengar kabar saat bekerja sebagai pelayan di kediaman Castallio dulu. Dia memiliki pengalaman buruk saat pengecekan mana yang dihadiri oleh semua bangsawan dan rakyat di kerajaan Seanthuria. Dia mendapatkan banyak hinaan dan cacian yang membuat gadis itu trauma." Jim membeberkan fakta yang membuat mereka tersentak.
Jadi dia Leona yang di anggap sampah keluarga duke oleh semua orang hanya tidak memiliki mana? Pantas saja dia tidak pernah peduli dengan etiket kebangsawanan maupun perkumpulan lady-lady lainnya. Bahkan gadis itu lebih sering berada di tempat latihan maupun tempat tersembunyi.
Namun mereka tidak peduli. Yang penting dia gadis tidak menye menyebalkan meskipun pembuat onar. Justru mereka ingin berterimakasih karena telah membantu mereka mendapatkan uang dan menjadi kuat.
Mereka menyayangi Leona sebagai sahabat, tidak lebih. Meskipun awalnya mereka menaruh perasaan pada Leona, tapi mereka tidak memaksakan kehendak mereka. Menjadi sahabat gadis itu saja sudah lebih dari cukup untuk mereka.
💠💠💠💠ðŸ’
Leona tertidur di atas sebuah bukit kecil yang menjorok ke laut. Dengan seekor harimau yang menjadi bantalnya, seekor tupai yang menjadi bonekanya serta panther hitam yang menjadi selimutnya, membuat gadis itu benar-benar terlelap.
Matahari telah condong ke barat dan sebentar lagi senja datang. Leona meregangkan tubuhnya dan merasa sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Dia mengucek mata sebentar dan mendapati Kei tidur memeluknya dengan wujud panther hitam.
Leona hanya bisa tersenyum kecil. Mereka terlihat begitu menggemaskan. Bulu mereka yang lembut membuat Leona betah mengelus mereka lama-lama.
Dengkuran khas kucing terdengar dari kedua hewan predator itu sebelum sesuatu mengalihkan perhatiannya. Saat dirinya tak sengaja menatap ke arah laut, dia melihat sesuatu tak wajar di sana.
Sebuah tentakel besar bewarna hitam muncul dari sana membuat air laut yang semua tenang kini berubah menjadi bergelombang tak beraturan.
Leona segera membangunkan Kei, Ken dan Kaze. Seketika mereka terbangun lalu berubah ke wujud manusianya. Mereka menatap sesuatu di sana seperti sedang mengintai mangsa sambil menggeram.
"Ada apa, Kei, Ken?" Tanya Leona penasaran.
"Itu monster cumi-cumi dengan tanduk kerbau, Leona-sama." Lapor Ken.
Kei dan Ken serta bangsa siluman predator lainnya memiliki pendengaran dan penciuman yang tajam serta memiliki pengelihatan yang mampu melihat objek dengan jelas meski jarak pandangannya mencapai lima kilometer.
"Wow."
Leona menatap monster besar itu dengan terkagum-kagum. Pikirannya mulai nista, membayangkan monster di hadapannya ini sebuah cumi-cumi panggang asam manis raksasa dengan tentakel yang mengembang. Seketika air liurnya menetes membayangkan khayalan absurd nya.
'Pletak'
Ken menampar Leona dengan ekornya. Pria itu tau apa yang ada di pikiran majikannya saat menatap monster itu.
"Leona-sama, hentikan pikiran konyol Anda."
"Kita pesta!" Seru Leona semangat yang langsung mendapatkan seringai dari ketiga silumannya.
__ADS_1