Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 40


__ADS_3

"Semua sudah berkumpul?" Tanya Carl dan menatap semua anak didiknya sambil tersenyum manis yang justru terlihat menjijikkan di mata mereka.


"Eww... Guru, gaya bicaramu seperti mengajak anak-anak belajar berbicara saja." Celetuk Eura sambil memeluk dirinya sendiri.


"Mungkin dirinya mengira jika kita ini sekumpulan bocah-bocah yang baru belajar merangkak." Sinis Leona dan di setujui oleh Kei dengan mengaum.


"Ahahaa~" Carl hanya tertawa kikuk. Dia merasa mereka berempat terlalu dewasa tidak pada waktunya.


"Jadi siapa klien kita?" Tanya Iven dan melirik sekitarnya. Tidak ada siapapun selain mereka di depan gerbang Akademi.


Tak lama kemudian muncul beberapa prajurit bersama Margaretha. Ksatria itu menggunakan pakaian khas kekaisaran Kamitsuki, yaitu zirah besi hitam dengan sulur biru cerah. Serta seorang ksatria dengan menggunakan seragam bewarna hitam dengan sulur biru cerah.


"Jadi mereka yang akan ikut membantu kami?" Tanya seorang ksatria. Sepertinya dia adalah pemimpin pasukan, dilihat dari pakaiannya yang memakai seragam.


"Benar, Sir Arthem. Hanya mereka yang tersisa di Akademi ini. Yang lainnya masih dalam misi." Sahut Margaretha penuh penyesalan.


"Baiklah, tidak apa-apa." Ucap Arthem dan menatap keempat remaja serta seekor panther hitam yang sibuk menjilati tangannya dengan tatapan menilai.


"Senang bertemu dengan kalian. Saya Arthem, ketua prajurit kekaisaran. Mohon kerjasamanya."


"Saya Carl, dan mereka anak didikku Iven, Wei Tao, Eura dan Leona bersama hewan peliharaannya, Kei." Carl memperkenalkan mereka secara berurutan diikuti senyum ramah dari mereka berempat dan auman ramah dari Kei.


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucap Arthem lalu di ikuti oleh mereka.


Margaretha menatap kepergian mereka dalam diam. Dia berharap misi mereka berhasil dan kembali dengan selamat.


Suara derap langkah kuda terdengar memecah heningnya hutan lebat. Mereka pergi menuju istana kaisar untuk membicarakan tentang misi mereka.


Leona memilih melompati pepohonan bersama Kei yang kini berwujud manusia dengan lincahnya, sementara Kaze? Tupai itu lebih memilih meringkuk di saku jubah Leona.


Leona malas berkuda dan lebih memilih berlari bersama Kei dengan alasan melatih stamina, sementara keempat rekannya lebih memilih menunggangi kuda.


Mereka menempuh perjalanan selama dua hari penuh mengingat Akademi Moon Shadow terletak di pinggir kota Eige dan sedikit memasuki hutan yang juga merupakan perbatasan dengan wilayah kekaisaran.


Kei berubah menjadi panther hitam saat mereka mulai memasuki wilayah kekaisaran. Pemuda itu masih takut jika dirinya menampakkan diri dengan wujud manusianya.


Kei belum percaya pada mereka sepenuhnya, kecuali saat bersama Jim dan Leona. Kei menampakkan wujud manusia saat dia dan Leona berasa di barisan paling belakang rombongan prajurit kekaisaran.


Mereka akhirnya tiba di kekaisaran saat malam menjelang.


"Kami akan menemui kaisar besok. Mengingat hari ini sudah larut malam dan anak-anak didikku kelelahan, kami ingin beristirahat." Ucap Carl serius.


Memang benar mereka malam ini cukup kelelahan karena perjalanan panjang. Arthem yang mengerti keadaan dan mereka juga sepertinya lelah berkuda selama dua hari memutuskan ikut beristirahat.


"Baik, Tuan Carl. Kalau begitu kita beristirahat dan menemui kaisar besok." Ucap Arthem.


💠💠💠💠

__ADS_1


Keesokan harinya mereka memasuki istana Kekaisaran. Mereka di suguhkan dengan pemandangan buatan yang terlihat indah di sepanjang lorong yang membuat mereka berdecak kagum.


Seorang penjaga mengantarkan mereka menuju tempat kaisar. Leona mengamati sekitar, terdapat beberapa pelayan dan penjaga yang memiliki paras good looking yang membuatnya tak menyadari jika Carl berhenti di depannya, membuat gadis itu menabrak punggung pria itu dengan keras.


'Brukh'


"Aduh!"


Carl melirik Leona yang sibuk mengusap dahinya dan tersenyum mengejek, "Rupanya kau bisa kena sial, ya?"


"Itu karena Guru berhenti mendadak." Sergah Leona galak.


"Matamu lain-lain, sih."


Leona hanya nyengir kuda. Dia enggan menimpali perkataan pria itu, bisa-bisa dirinya diledek karena terpana dengan paras pelayan dan penjaga di istana ini.


Tak lama kemudian mereka segera menuju ruangan kaisar dan mendapati seorang pria berambut merah dengan piercing duduk selonjoran di ruangan kerjanya.


"Oh, kalian sudah datang? Silahkan masuk." Sapa Ein ramah.


"Terimakasih Baginda."


Mereka segera duduk setelah di persilahkan oleh kaisar Ein. Beberapa saat kemudian datang beberapa pelayan dan butler, mereka sibuk menyusun hidangan dan cemilan di hadapan mereka lalu kembali ke posisinya.


Setelah berbincang dan menyampaikan kedatangan mereka, sebuah senyuman muncul di wajah kaisar Ein.


"Aku ingin kalian membantu memberantas pemberontak besok di wilayah pesisir tenggara. Waktu itu aku melihat kemampuan keempat muridmu yang paling mencolok. Apalagi kau itu adik dari Grand Duke yang suka bertarung, berbeda sekali dengan kakakmu yang malas mengayunkan pedang itu. Jadi ini bukan perkara sulit, kan?" Ucap kaisar Ein manja sambil menaik turunkan alisnya. Sontak mereka berempat menatap mereka dengan tatapan bertanya.


"Ayolah, kau mau, kan membantu kekaisaran ini untuk memberantas mereka? Mereka membuat ku pusing." Dia menatap Carl dengan tatapan memelas.


"Hei, sepertinya ini seru." Bisik Eura sambil menatap drama kaisar dengan guru mereka.


"Kaisar menjatuhkan harga dirinya dengan merengek seperti itu." Balas Leona dengan berbisik.


"Apakah mereka memiliki hubungan khusus?" Bisik Iven.


"Ssstt... Diam atau kita akan dihabisi oleh guru." Titah Wei Tao dengan berbisik.


"Ho~ Apakah kau menyukai gadis itu?" Tanya kaisar dengan nada menggoda yang membuat mereka tersedak.


Apalagi mereka memergoki Carl curi-curi pandang ke arah mereka seperti mengawasi segerombolan anak-anak nakal yang hendak mencuri mangga milik tetangga.


"Aku hanya khawatir jika murid-murid ku membuat ulah." Sahut Carl mengingat Leona dan teman-temannya yang suka sekali membuat keributan dan tidak menjaga sopan santun. Keempat remaja itu hanya bisa tertawa kaku.


"Dan lagi satu, Baginda. Gadis itu adalah muridku, jadi tidak ada alasan seorang guru menyukai muridnya, kan?"


'Uhuk'

__ADS_1


'Brushh'


Leona menatap Carl horor. Usia mereka terlampau cukup jauh dan gadis itu enggan memikirkan urusan asmara. Tujuannya hanyalah bertahan hidup dan bersenang-senang di dunia antah berantah ini.


Sementara ketiga rekannya menatap Carl horor. Apakah guru mereka seorang pedofil?


"Guru, apakah kau seorang pedofil?"


"Kau terlihat seperti kakek tua yang jatuh cinta dengan anak kecil yang pantas kau panggil cucu."


"Guru menyukaiku? Hiks... Aku terharu. Tapi maaf, Guru. Aku tak bisa membalas perasaanmu padaku karena aku lebih menyukai mematahkan leher orang dan aku sangaatt mencintai kasino." Sahut Leona sambil mengusap air mata imajinernya dengan penuh drama sekaligus penolakan.


Jika saja ini bukan istana kekaisaran, Carl ingin sekali menendang gadis itu. Sikap absurd dan tingkahnya membuat mereka hanya bisa menghela nafas lelah.


"Wah, wah... Kau sepertinya di tolak. Aku turut bersukacita, eh maksud ku berdukacita, Carl." Ledek kaisar Ein.


Carl yang tersulut emosi hanya memilih diam dan menyesap teh yang disajikan, tentu saja sambil menggigit pinggiran cangkir untuk meluapkan emosinya.


"Guru, cangkirnya jangan dimakan." Celetuk mereka kompak saat mendengar suara gesekan gigi yang beradu dengan cangkir.


Keempat anak didiknya itu memang seperti malaikat berhati iblis. Sungguh menguras emosi.


💠💠💠


Raja Grambiel duduk dengan angkuh sambil memangku permaisuri Lydia. Di hadapannya berdiri empat orang Duke yang menatap datar pemandangan itu.


Sementara ratu Errena hanya melirik dingin pasangan itu. Apalagi dia melihat wajah permaisuri Lydia yang menatapnya penuh kemenangan dan ejekan. Errena sama sekali tidak peduli dengan hal itu dan memilih mengabaikan nya.


"Kaisar meminta bantuan kita untuk memberantas pemberontak di pesisir tenggara. Aku memerintahkan kalian untuk berpartisipasi membantu kaisar untuk mengatasi pemberontak itu besok." Ucap raja Grambiel.


"Baik, Yang Mulia."


Raja Grambiel menyeringai. Jika mereka di kirim untuk membantu kaisar, maka putri mahkota akan di lirik oleh Kaisar Ein dan menjadikan pria itu menantunya. Sudah pasti banyak keuntungan didapatkan jika hal itu berhasil dilakukan.


"Kalian boleh pergi." Ucap raja Grambiel. Para Duke segera pergi dari sana dengan patuh.


Begitu tiba di gerbang istana, Calvian mendesah berat bersama tiga Duke lainnya. Mereka tidak ingin selamanya di kendalikan oleh Raja dengan seenaknya.


"Kita mengirim sedikit ksatria terbaik kita untuk mengurangi korban jiwa. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Duke Mikazuki dan menatap ketiga Duke lainnya dengan serius.


"Saya setuju. Apalagi kaisar sudah memiliki banyak Ksatria hebat." Sahut Duke Castallio.


Mereka hanya bisa menghela nafas lelah. Raja Grambiel dengan seenaknya memanggil mereka untuk datang ke istana.


"Aku heran kenapa raja tidak mau mengutus ksatria istana." Kali ini Duke Spedarrow menimpali.


Raja Grambiel tidak pernah mengirim ksatria istana untuk membantu pihak kekaisaran. Jika ditanyakan, mereka hanya digunakan untuk melindungi keluarga kerajaan.

__ADS_1


Sungguh jawaban itu membuat para Duke geram. Mereka juga memiliki wilayah sendiri dan keluarga untuk di jaga dan di lindungi.


Mereka juga memutuskan mulai berontak sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan raja dan keluarga kekaisaran. Mereka sudah muak diperlakukan layaknya anjing pemburu hanya untuk menyenangkan permaisuri yang menurut beberapa Duchess sangat menjengkelkan.


__ADS_2