Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 72


__ADS_3

Iris berjalan santai menuju istana untuk menemui putra mahkota. Kejadian semalam membuatnya terguncang. Teror dari 'hantu' Leona yang muncul pada malam-malam tertentu membuatnya nyaris gila.


Beberapa pelayan tidak ada yang mempercayainya, yang sebagian besar adalah pelayan yang telah bekerja sejak duke Castallio masih muda. Begitupun dengan penjaga dan prajurit yang dikerahkan untuk mencari jejak keberadaan mahkluk itu, namun nihil. Tidak ada jejak apapun.


Iris menuju ruang kerja putra mahkota, namun begitu tiba di depan ruangan itu, tangan yang hendak menyentuh pintu mewah itu terhenti tatkala mendengar perbincangan seseorang yang sangat di kenal nya.


"Hahaha... Siapa bilang? Aku hanya memanfaatkannya karena dia memiliki sihir cahaya. Akan sangat susah jika dia tidak memihak ku. Untungnya dia yang dungu itu mau menjadi tunanganku." Suara pria itu terdengar dengan nada mencemooh.


'Deg'


"Tapi, bagaimana dengan pertunangan kalian?" Tanya seseorang yang berada di sana.


"Aku tidak peduli. Lagipula Castallio telah berada dalam genggaman kita. Selama ini dia tidak pernah memihak salah satu dari keluarga istana. Dia hanya betah di posisi netral. Jika saja anak pungut itu memakai otaknya sedikit, maka kemusnahan Castallio tidak akan terjadi jika mereka berkhianat, ayahanda."


"Hahaha... Kau benar-benar putraku, Casian. Untuk menjadikan ke empat duke itu sebagai anjing kerajaan sangat susah. Aku benar-benar bangga padamu."


"Ya... Lagipula memanfaatkan gadis itu sangat mudah. Setelah ini aku akan mengirim Castallio ke hutan wilayah tengah. Aku dengar ada monster level tinggi di sana. Lalu aku akan membuat Castallio hancur."


Iris tidak tahan mendengar percakapan mereka yang penuh dengan nada menghina dan mencemooh. Dia segera pergi dari sana.


Di kamarnya, Iris merenung dengan semua hal yang telah di laluinya.


Selama ini dia hanya di manfaatkan oleh keluarga istana?


Jika diingat-ingat lagi, dia memang buta dan bodoh. Hanya karena putra mahkota menaruh perhatian padanya membuat Iris terlena, tanpa mengetahui dia di manfaatkan.


Hanya karena dia dulunya rakyat biasa yang di angkat oleh Calvian membuatnya cemburu dengan Leona, mengingat gadis itu memang terlahir dari keluarga bangsawan.


Dia pikir menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan membuatnya di perhatikan oleh ayah dan kakaknya, namun ternyata tidak sesuai khayalan nya.


Dia terlalu bodoh. Dia buta. Banyak rumor yang beredar sejak kematian ratu Errena tiga tahun lalu dan dia memilih tidak percaya dengan semua itu.


Pantas saja Calvian dan Emillio membencinya ketika mengetahui dirinya dekat dengan putra mahkota dan bertunangan dengannya. Ternyata dia membawa kehancuran pada keluarga baik hati yang mengadopsinya.


Dia harus melakukan sesuatu.


Iris menghampiri Calvian di ruang kerjanya. Di sana terdapat Emillio yang berdiri di hadapan pria paruh baya itu.


"Ayah, Kakak. Ada yang ingin aku sampaikan." Cicit Iris takut-takut. Calvian menyuruh pelayan yang berada di sana keluar.


"Kau sudah sadar dengan kebodohanmu?" Sinis Emillio setelah mendengar perkataan Iris. Gadis itu menunduk.


"Kau benar-benar tidak berguna, Iris. Kau menghancurkan keluarga mu sendiri." Geram Emilli marah.


"A-aku tidak tau jika akan seperti ini." Cicit Iris ketakutan. "Maafkan aku."


"Sudahlah, Emillio. Semuanya sudah telanjur. Membatalkan pertunangan sama saja menghina kerajaan dan kita akan dianggap penghianat. Sama saja dengan menyerahkan diri ke tiang penggal." Lerai Calvian sambil mencoba menenangkan diri.


"Tapi, Ayah. Bagaimana cara kita menghindari raja bedebah itu? Bahkan sudah tiga tahun dia menjadi tunangan putra mahkota, tapi dia tidak tau apa-apa." Protes Emillio sambil menatap Iris tajam.

__ADS_1


Kecewanya luar biasa. Dulu dia selalu memprioritaskan Iris daripada adik kandungnya sendiri. Ternyata dia tidak lebih dari pembawa bencana untuk keluarganya sendiri.


"Seharusnya Ayah tidak membawanya kemari. Keluarga kita hancur karena dia." Lirih Emillio frustasi.


Calvian juga kecewa dan bersalah. Kecewa karena tidak bisa menjadi seorang ayah untuk putrinya yang sudah tiada. Dan bersalah karena telah menghancurkan keluarga yang telah ada sejak berdirinya Kerajaan ini.


"Biarkan saja. Lagipula jika kita hancur, kerajaan ini juga akan hancur." Balas Calvian dan pergi dari sana.


"Kau sudah puas, kan? Keluarga kerajaan tidak sebaik yang kau kira. Kau hanya terobsesi dengan khayalan dan bacaan novel tidak bergunamu itu." Sinis Emillio dan pergi meninggalkan Iris seorang diri dengan perasaan bersalah.


💠💠💠💠


"Waahh~ Segarnya~" Pekik Leona kegirangan. Terlihat gadis itu berayun dengan kepala menghadap ke bawah, kakinya diikat dengan seutas tali tambang berukuran cukup besar dan kuat yang di ikatkan pada sebuah batang pohon yang kokoh.


Di bawah Leona terdapat jurang menganga yang cukup dalam dengan sebuah air sungai deras penuh bebatuan.


"Bukankah kau bisa berendam di danau, Leona? Kau tidak perlu bergantungan seperti itu." Tegur Kei ngeri.


"Malas." Sahut Leona singkat, padat dan jelas. Lalu gadis itu kembali mengayunkan dirinya dengan kencang sambil tertawa-tawa.


"Leona-sama, nyawa Anda cukup banyak, ya? Kami bangsa kucing tidak memiliki sembilan nyawa dan Anda malah seperti orang tidak waras." Kesal Ken tajam.


Kedutan menghiasi wajah cantik Leona.


"Wah, kau berani sekali dengan majikanmu ini, Ken. Aku masih waras, kok. Aku masih makan nasi dan bukan makan manusia, apalagi batu dan kayu." Ketus Leona sambil tetap berayun.


"Tapi tingkah Anda memang tidak waras, kok."


"Aku melihat beberapa gadis berkumpul di dekat sini. Mungkin kau perlu menghampiri mereka?" Tawar Leona sambil mempertahankan senyum manisnya.


"Tidak perlu, Leona-sama."


Para gadis di desa Bloom Mist sangat ganas. Mereka akan mengejar para pria dengan brutal seperti fans seorang artis pria tampan. Pria yang mereka kejar akan bernasib sial karena pakaian mereka robek dengan wajah di penuhi lipstik dan cakaran kuku. Mereka tidak asal mengejar pria, tetapi mereka akan mengejar pria yang menyinggung pemimpin mereka sekaligus yang menghina mereka.


"Hoho~ Padahal para pria menginginkannya, loh."


"Saya tidak tertarik, Leona-sama. Ah, ngomong-ngomong saya ada kabar dari tuan Saga." Ucap Ken mengalihkan topik pembicaraan nya.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Ken."


"Raja Grambiel ingin mengirim ksatria dari duke Castallio menuju hutan tengah yang di penuhi dengan monster tingkat tinggi, Leona-sama."


Laporan dari Ken membuat Leona menghentikan ayunan nya. Dia menatap Ken yang berada di atasnya dengan serius. Leona masih bergantungan di bawah tebing meskipun tubuhnya sedikit bergoyang-goyang.


"Aku tidak peduli dengan itu." Ucap Leona lalu kembali mengayunkan tubuhnya seperti bandul jam.


"Setidaknya kita persiapkan beberapa unit di perbatasan untuk pencegahan kalau-kalau mereka keluar sarang."


💠💠💠💠

__ADS_1


'WELCOME TO THE HELL'


'Glek'


Beberapa orang menelan salivanya dengan kasar saat membaca plang sambutan desa itu. Desa dengan panorama indah namun sambutannya sangat mengerikan. Tulisan dengan cat merah darah yang terlihat seperti tulisan horor yang mengelilingi gambar tengkorak yang diisi tanda silang bewarna hitam.


"Kau yakin ini tempatnya?" Tanya Emillio pada Arthur dengan tajam.


"Benar, Tuan. Ini adalah desa Bloom Mist." Ucap Arthur membenarkan. Dalam hati dia juga cemas mengingat tiga tahun lalu tidak ada plang seperti ini.


"Selamat datang di desa kami, Tuan-Tuan tampan membahana~" Sapa seorang pria jadi-jadian. Dia berjalan lenggak lenggok seperti perempuan dan mengenakan dress ketat. Dia menghampiri Emillio dan mencolek dagunya dengan genit lalu merangkul lengan salah satu prajurit.


Sontak rombongan itu merinding ngeri melihat penampakan itu.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan-Tuan yang tampan ini?" Tanya pria itu dengan nada di buat mirip perempuan yang sayangnya gagal itu.


"Kami ingin bertemu dengan pemimpin desa ini." Sahut Emillio ketus.


"Iyuuhh~ Ketus sekali, sih~" Pria jadi-jadian itu merangkul lengan Emillio, membuat pria berambut cokelat gelap itu merinding.


"Lepaskan aku, makhluk jadi-jadian!" Sentak Emillio kesal.


"Iyuuh~ Eike sakit hati, hiks..."


Arthur menyerahkan sebuah amplop pada pria jejadian itu. Amplop yang di berikan oleh Leona langsung jika ingin bertemu dengan Jim atau dirinya jika memerlukan sesuatu.


Pria jejadian itu menerimanya dan membuka isinya. Lalu pria jejadian itu menatap Arthur dengan serius.


"Ikut dengan kami." Ucapnya serius dengan nada laki-laki yang tegas.


"Mari, Tuan." Arthur mengajak Emillio memasuki gerbang desa yang diikuti oleh yang lainnya.


Mereka di suguhkan pemandangan yang menakjubkan. Mereka semua terpukau sejenak saat melihat bangunan bergaya Jepang, Korea dan Cina yang berjejer rapi. Belum lagi penduduknya memakai pakaian yang menurut mereka aneh. Bahkan beberapa gadis memakai rok pendek dan celana pendek.


"Apa-apaan pakaian mereka yang mirip perempuan murahan seperti ini? Apakah desa ini tidak mempunyai adab kesopanan?" Celetuk Emillio saat melihat pakaian yang di gunakan oleh penduduk setempat.


Beberapa orang yang mendengar perkataan seperti itu menatap Emillio sinis.


"Wah, wah... Lihatlah penguasa dari antah berantah ini. Apakah dirinya yang berkuasa di sini?" Ucap salah satu penduduk tajam.


"Sudahlah. Dia menggonggong tidak pada tempatnya. Dia bukan pemilik desa ini." Ketus yang lainnya.


"Benar. Apakah bangsawan dari kerajaan Seanthuria suka ikut campur dengan pakaian yang di gunakan rakyat? Sungguh menjengkelkan."


"Yuhuu Ladiesss!! Eike bawa cowok cakep nih~ Silahkan cipika cipiki yaa~!!" Seru pria jejadian itu membuat para gadis memekik histeris. Sementara para pria menggelap.


"Sebaiknya kalian berlari menyelamatkan diri sebelum terlambat." Ucap pria jejadian itu dengan suara normal bertepatan dengan suara derap kaki bergemuruh yang terdengar semakin mendekat.


Emillio melihat segerombolan wanita berlari kearahnya dengan tatapan nyalang. Firasat mereka buruk dan mereka segera berlari menjauhi segerombolan gadis itu dengan kebingungan.

__ADS_1


"Mari ikuti saya, Tuan." Ucap pria jadi-jadian itu sambil mengantar Arthur dan Ben menuju ke kediaman pemimpin desa.


__ADS_2