Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 73


__ADS_3

Arthur dan Ben menatap pria jejadian itu dengan dahi berkerut saat melihat bagaimana keganasan wanita-wanita itu mengejar Emillio dan rekannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Arthur tak habis pikir. Wanita di desa ini sangat agresif dan mengerikan.


"Setelah kejadian tiga tahun lalu, tuan Jim mengeluarkan peraturan baru. Siapapun tamu yang membuat onar, menghina maupun membuat kekacauan di desa ini, kami di perbolehkan melawan dengan cara kami. Tidak peduli mereka itu bangsawan atau siapapun." Pria itu menjelaskan.


Tiga tahun lalu, dimana Leona di bunuh oleh putra mahkota kerajaan Seanthuria. Kejadian itu membuat penduduk setempat marah besar dan melarang siapapun yang berasal dari kerajaan itu datang berkunjung ke desa ini.


Bagi mereka, Leona dan Jim telah merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera. Mereka rela melakukan apa saja asalkan Leona dan Jim baik-baik saja.


Yang di serahkan oleh Arthur tadi adalah sebuah amplop yang berisi foto Emilio dan beberapa prajurit yang menghina Leona. Dan berisi sebuah tulisan agar menyambut mereka dengan meriah saat berkunjung. Dan itupun merupakan pemberian Leona.


Karena Arthur hanya di berikan amplop itu untuk mengunjungi desa ini, sekaligus akses masuk ke desa Bloom Mist tanpa hambatan meskipun memakai seragam Ksatria Castallio.


💠💠💠💠


Jim menghampiri Leona yang bersantai di halaman belakang dengan wajah panik. Kedatangan Emillio bersama pasukannya terdengar begitu cepat karena beberapa orang melaporkan kericuhan di desa itu.


"Leona! Tuan Emillio berada di sini! Sebaiknya kau cepat sembunyi sebelum rumor kematian palsumu terbongkar!" Seru pria itu panik.


Pria itu hanya bisa mengelus dada dengan tingkah Leona yang tidak ada habisnya. Tadi gadis itu bergelantungan di pinggir tebing dengan kepala menghadap ke bawah sambil mengayunkan tubuhnya, dan sekarang? Jim tidak bisa berkata apapun lagi. Dia pasrah, sepasrah pasrah nya.


Dia mendapati Leona yang tengah bergelantungan di dahan pohon seperti kelelawar. Entah kenapa gadis yang berstatus sebagai keponakan jauhnya itu sangat di luar nalarnya. Mendapat Jim datang dengan panik, Leona segera turun dari pohon lalu menatap sang paman dengan senyuman jahil di wajahnya.


"Paman, antarkan saja ke tempat yang sekiranya cocok untuk 'makam' palsuku. Lagipula dia sekarang sedang menjadi buruan para gadis di desa ini, hihihi..." Sahut Leona sambil terkikik geli membayangkan Emillio di kejar oleh wanita di desa ini.


"Setidaknya kau harus bersembunyi secepatnya." Desak Jim khawatir.


"Tenanglah. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Sebaiknya kau sambut tamu yang datang kemari." Usir Leona sambil mengibaskan tangannya pertanda mengusir pria yang kini sebagai paman sekaligus walinya.


Jim berdecak kesal. Keponakan cantik yang sayangnya tanpa ahklak itu selalu saja membuat darahnya mendidih.


"Aku harap kau tidak membuat kehebohan nantinya, Leona. Sepertinya mereka membawa berita penting untuk suatu hal." Ucap Jim serius.


"Aku mendengar kabar jika mereka akan di kirim ke wilayah tengah, tepatnya ke sarang monster level tinggi. Pastinya mereka ingin meminta jalan yang aman untuk ke sana." Leona berkata sambil memasang wajah berpikir.

__ADS_1


"Mungkin saja. Sebaiknya kau bersembunyi. Aku akan menyambut mereka."


"Baik, Paman. Aku pergi dulu." Pamit Leona dan menghilang dari sana.


Jim segera pergi menuju pintu gerbang kediaman, menunggu tamu yang akan berkunjung ke kediamannya. Pria tampan ini tidak lagi menyandang status sebagai bangsawan kerajaan yang telah di buang, tetapi dia melepas gelar itu dan membangun kekuasaan sendiri bersama Leona.


Desa Bloom Mist kini berkembang dan jauh lebih maju dari tiga tahun lalu. Mereka semakin maju dalam sektor ekonomi, pendidikan serta kesehatan.


Mereka juga termasuk desa yang kuat, mengingat sebagian besar penduduknya ahli bela diri dan pedang. Karena sebagian besar penduduknya merupakan orang-orang yang sengaja di buang oleh keluarga dan kerajaan karena dianggap tidak berguna.


Bahkan desa ini menghasilkan obat-obatan dan Elixir terbaik yang pernah ada.


💠💠💠💠


"Selamat datang di kediaman kami, Tuan Muda Castallio." Sapa Jim dan beberapa pelayan dengan ramah, namun dalam hati mereka mati-matian menahan tawa saat melihat penampilan Emillio dan beberapa prajurit yang terlihat... Mengenaskan?


Wajah di penuhi dengan cakaran dan lipstik bekas ciuman yang menempel di wajah mereka, tak ketinggalan pakaian mereka di penuhi dengan noda lipstik, serta penampilan mereka yang berantakan luar biasa.


Hanya Ben dan Arthur yang penampilannya baik-baik saja, meskipun mereka diantar oleh pria jejadian. Sepertinya pria jejadian itu memperlakukan mereka dengan baik, mengingat dulu Ben dan Arthur memperlakukan Leona dan dirinya dengan baik sebelum di usir dari kediaman Castallio.


"Ahaha... Saya hanya menjalankan amanah nona Leona sebelum beliau meninggal, Tuan. Lagipula kami berdua serta semua penduduk membangun desa buangan ini menjadi lebih baik, seperti yang Anda lihat." Sahut Jim santai.


Jim mengiring mereka masuk ke dalam rumah berlantai lima bergaya Jepang itu. Untuk pertama kalinya Emillio memasuki rumah kayu yang terlihat sederhana dari luar itu.


Begitu masuk ke dalam, Emillio merasa takjub. Meskipun semuanya berbahan kayu, baik dinding maupun lantainya, namun bagian rumah itu terawat dengan baik dan memberi kesan hangat dan nyaman.


Dekorasi nya tidak banyak selain beberapa pedang serra senjata tajam menghiasi dinding rumah itu serta beberapa topeng terpampang di sana.


"Hati-hati dan jangan asal sentuh. Di kediaman ini banyak jebakan." Jim memperingati mereka bertepatan dengan salah satu kesatria yang tak sengaja menekan salah satu topeng yang menempel di dinding.


'Wusshh'


'Trang'


Topeng itu bergeser dan keluar sebuah pedang dari dalam dinding. Pedang itu meluncur cepat ke arah ksatria yang tengah kaget itu dan berhasil di gagalkan oleh pelayan.

__ADS_1


Kesatria itu seketika pucat pasi dan meminta maaf. Emillio terkaget-kaget dengan kemampuan pelayan di sini. Mereka bisa menangkis senjata dengan tangan kosong dan cukup peka dengan sekitarnya.


"Kami tidak memiliki penjaga, namun setiap sudut di rumah ini memiliki jebakan." Jim menjelaskan sambil membimbing mereka menuju ruang tamu.


💠💠💠💠


Leona yang melihat Jim membawa Emillio ke sebuah 'makam' hanya bisa mendengus geli. Dengan santai gadis itu duduk di atas sebuah pohon yang cukup rindang sambil memperhatikan mereka.


"Leona~" Lirih Emillio pada sebuah gundukan tanah yang membuat Leona memutar matanya malas.


"Maafkan aku yang baru mengunjungi mu sekarang. Aku bukan kakak yang baik." Ucap Emillio penuh penyesalan. Leona yang mendengar itu mendecih dalam hati. Setelah dia 'mati' mengenaskan, dia baru datang meminta maaf? Hell no! Tidak semudah itu.


Jim yang menyadari keberadaan Leona hanya bisa melirik gadis itu dengan rumit. Khawatir jika gadis itu turun dan mengamuk. Jim kembali menatap gundukan tanah itu agar tidak di curiga oleh siapapun.


"Aku minta maaf, Leona. Sungguh aku memang bodoh karena mempercayai Iris daripada kau, adikku sendiri."


Jim kembali melirik Leona, terlihat gadis itu mengorek hidungnya dengan acuh. Baru sadar, eh? Leona hanya bisa mencibir tanpa suara.


"Seandainya waktu bisa di ulang kembali. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak untukmu."


Leona menampilkan wajah jijik dan memperagakan akan muntah. Selama ini Emillio selalu memarahi pemilik tubuh ini dan mengabaikan nya. Jim yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Maafkan aku, Leona. Setelah kepergianmu,semuanya berubah. Keluarga kita diambang kehancuran karena Iris."


Leona hanya bisa mengacungkan jari tengah dari atas pohon pada Emillio. Jim yang awalnya khawatir jika Leona akan turun dan menampakkan diri. Namun gadis itu hanya duduk anteng di dahan pohon yang cukup rindang dan tinggi.


Leona mencari ingatan pemilik asli tubuh ini tentang Emillio. Mereka rupanya tidak pernah akur dan jarang bersama. Jadi tidak ada kenangan indah tentang pria itu.


"Aku harap kau tenang di sana, ya. Aku akan kembali nanti." Pria itu meletakkan sekuntum bunga mawar putih di atas makamnya dan pergi dari sana.


Ben datang dengan wajah sedih sambil membawa sekuntum bunga putih. Dia meletakkannya di atas gundukan tanah itu dan segera pergi dari sana.


Leona hanya menatap punggung Ben sambil tersenyum tipis. Pria itu dulunya merupakan salah satu prajurit yang dekat dengannya.


"Dasar. Dulu kau menganggap ku sampah, sekarang menangis minta maaf, Tuan muda." Gumam Leona dan dia segera pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2