Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 70


__ADS_3

'DUARR!!'


'BLAAARRR!!'


"GYAAAAAKKK!!"


Suara ledakan disusul dengan jeritan monster memecah sunyinya pantai itu. Leona berlari sambil melayangkan beberapa serangan pada monster itu dengan menggunakan rantai chakra miliknya.


Kei dan Ken menembakkan feromon miliknya, sementara Kaze memiliki menjauh. Bukan karena tidak bisa apa-apa, tetapi feromon predator lebih kuat daripada herbivora sepertinya. Bisa-bisa dia mati sia-sia karena luapan feromon mereka.


Leona berlari di atas air sambil merapalkan beberapa segel tangan. Tak lama kemudian muncul sebuah tombak kristal yang menghujani monster cumi-cumi itu.


Monster itu meraung kesakitan. Tentakel-tentakelnya bergerak liar menghancurkan daerah sekitarnya. Suara teriakan terdengar cukup keras dan nyaring membuat tiga siluman yang berada di sana menutup telinga karena bising.


Leona merapal beberapa segel tangan dan menghentakkan di atas permukaan air, lalu muncul gelombang air disertai petir yang langsung menyengat monster itu.


Merasa di permainkan, monster itu menyemprotkan tintanya ke arah Leona. Gadis itu menarik kembali rantai chakra nya lalu dengan cepat menghindar sebelum beberapa detik terkena cairan tinta hitam yang sedikit kehijauan. Sepertinya tinta itu berbahaya, mengingat baunya begitu menyengat dan asam. Apalagi ikan-ikan bergeliat ke permukaan air dan langsung mati dengan tubuh melepuh nyaris hancur.


Leona dan kedua pria itu merinding ngeri. Dua pria siluman itu menatap si cumi-cumi dan menyeringai sadis. Ken dan Kei segera berlari mendekati monster itu lalu memotong tentakelnya. Namun ajaib, tentakel yang di potong itu kembali tumbuh.


'Dia seperti Hydra.' Batin Leona sambil mengingat sesuatu.


'Jika benar dia bisa beregenerasi, maka satu-satunya cara...' Leona berfikir sejenak lalu merapalkan segel tangan.


Sementara Kei dan Ken terlihat sibuk mengayunkan pedang, memotong tentakel yang jumlahnya semakin banyak. Keduanya merasa kesal dan berubah ke mode silumannya.


Terlihat tiga tanda kumis kucing pada pipi kanan Kei, gigi taring yang mencuat serta kuku tangannya yang memanjang dan tajam. Sementara wajah Ken terdapat garis loreng bewarna hitam dengan gigi taring yang mencuat serta kuku tangannya memanjang dan tajam.


Mereka berdua menyerang monster itu bersamaan dan membabi buta, namun usaha mereka sia-sia saja. Tentakel nya malah semakin banyak dan membuat mereka kewalahan.


Sebuah tentakel memukul Kei dan Ken, membuat keduanya terlempar ke arah bukit tempat mereka tiduran tadi. Lalu mereka kembali ke wujud normalnya.


Leona yang memperhatikan pertarungan kedua siluman miliknya menyeringai, lalu menarik nafas dalam-dalam.


'Elemen api: Tsunami api!'


Muncul gelombang api yang sangat besar dan langsung menghantam tubuh monster cumi-cumi itu. Terdengar suara jeritan memekakan telinga serta air laut yang bergelombang karena pergerakan monster itu.


Beberapa saat kemudian Leona kembali melancarkan semburan lava panas. Monster itu menjerit kesakitan di balik kepulan asap yang pekat. Leona segera mengeluarkan sebuah gulungan lalu membukanya, muncul sebuah samurai yang mengkilap tajam.


Saat asap mulai menipis, tiba-tiba muncul hujan kelopak bunga dari atas monster itu. Jika di perhatian lebih jelas, terdapat sebuah kanji bertuliskan 'Bom' di sana.


Leona segera berlari menghampiri cumi-cumi itu lalu menusuk kepalanya. Cumi-cumi itu kembali menjerit kesakitan. Leona segera menghilang dari sana bertepatan dengan meledaknya kelopak bunga tersebut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian asap mulai menipis dan terlihat cumi-cumi besar itu telah mengambang dengan di penuhi luka-luka yang parah. Leona segera mengibaskan samurai nya dan menghampiri Kei dan Ken.


💠💠💠💠


Suara ledakan itu menarik atensi penduduk setempat. Karena penasaran, mereka berbondong-bondong mendekati pantai dan melihat tiga orang tengah bertarung dengan seekor monster cumi-cumi yang selama ini menghantui mereka.


Pertarungan mereka cukup sengit. Mereka bahkan sampai terpukau seakan melihat sebuah pertunjukan.


Setelah selesai bertarung dengan monster itu, para warga merasa berterimakasih. Sekarang tidak ada lagi teror yang menghantui mereka saat pergi ke laut.


Mereka memutuskan menghampiri Leona dan ketiga orang yang duduk di bawah pohon yang terdapat di sana. Terlihat dua pria tampan itu mengalami sedikit cedera dan seorang gadis memeriksa mereka dan memberikan sebuah elixir.


"Terimakasih telah membunuh monster itu, Nona, Tuan." Ucap kepala desa dengan tulus. Kepala desa itu terlihat sudah tua, sekitar enam puluh tahunan dengan tubuh kurus dan rambut telah memutuskan seutuhnya.


"Tidak masalah, Pak Kepala Desa. Lagipula monster itu mengganggu acara menikmati matahari terbenam kami." Sahut Leona sambil tersenyum lebar.


'Hoeekk'


'Hoeeek'


Ketiga siluman itu muntah-muntah di belakang Leona, mengeluarkan isi perut mereka. Bau busuk cumi-cumi itu tercium cukup pekat mengingat hidung mereka cukup sensitif.


Beberapa penduduk juga mulai menutup hidung mereka. Bau itu semakin lama semakin menyengat. Mereka memutuskan bubar satu persatu.


Leona hanya tersenyum canggung dengan tingkah siluman nya yang sibuk mengeluarkan isi perutnya. Dia merasa malu dan meminta maaf atas tingkah laku ketiganya, meskipun hidungnya mulai mencium aroma tidak sedap yang semakin menyengat.


"Tidak apa-apa, Nak. Kami permisi. Cumi-cumi itu memang memiliki bau yang sangat menyengat ketika sudah mati. Karena cumi-cumi itu merupakan cumi-cumi raksasa yang memiliki bau paling busuk diantara monster laut pada umumnya." Kepala desa menjelaskan dan berpamitan bersama warga lainnya.


Leona yang juga tidak kuat dengan aroma itu hanya bisa mengumpat kesal.


"Sialan, baunya busuk juga. Aku tidak bisa menikmati daging cumi itu, dan malah pelangi di perut ku minta keluar. Oh damn!"


Dan mereka berempat menikmati senja yang indah sambil mengeluarkan pelangi berjamaah.


💠💠💠💠


"Hiks... Hiks..."


Suara tangis memecah keheningan malam di kediaman Castallio. Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas lalu menghilang. Beberapa penjaga yang bertugas merinding ketakutan mendengar suara tangisan itu.


"Hiks... Ayah... Hiksss..."


Lagi-lagi suara tangis itu terdengar. Beberapa yang merasa akrab dengan suara itu segera mencari asal suara itu, termasuk Ben, Arthur dan Ellen.

__ADS_1


Calvian mendengar suara tangisan itu segera menegang. Itu seperti suara Leona sebelum meninggal tiga tahun lalu.


Sementara sang pemilik suara duduk di atas atap kediaman Castallio sambil tersenyum senang, memikirkan rencana yang cocok untuk mengerjai mereka habis-habisan.


"Hmmm... Sepertinya sumur lebih bagus. Saatnya cosplay menjadi sadako." Gumamnya sambil menyeringai senang.


Leona segera menghilang dan pergi menuju sumur yang terletak di belakang. Dia dengan santai masuk ke dalam sumur itu dan mengganti pakaiannya.


Beruntunglah Leona bisa berdiri di atas air. Sehingga dia tidak mati kelelep di sumur dengan sia-sia. Bisa-bisa dia menjadi sadako sungguhan. Masa iya mau mati dua kali?


Sumur itu lumayan dalam, hanya lima meter dengan tinggi air dua meter. Tersisa tiga meter ruang kosong dan dia harus tampil sesuai kemunculan sadako. Gadis itu memutuskan berjalan vertikal sebelum akhirnya merangkak dan tangannya menggapai bibir sumur. Tidak lupa dengan isak tangis palsu yang menambah kesan horor di malam yang mulai larut.


Entah kebetulan atau bagaimana, terlihat dua pelayan pribadi Iris berada di sana dan melihat kemunculan Leona yang terlihat mengerikan. Gaun putih dengan noda darah dan wajah yang tertutup rambut hitam panjang, namun sekilas terlihat luka menganga di wajahnya.


Leona berjalan tertatih-tatih membuat dua gadis pelayan itu menjerit histeris dan kabur dari sana.


Tidak ingin membuat yang lainnya ketakutan, Leona segera pergi dari sana dan muncul di taman depan kediaman Castallio.


"Hahaha... Rasanya benar-benar puas. Lain kali aku tampil lebih mengerikan lagi." Leona terkikik memikirkan rencana berikutnya.


💠💠💠💠


Calvian menatap langit bertaburkan bintang, menemani sang rembulan menyinari bumi dengan cahaya lembutnya. Pikirannya menerawang saat mendengar isak tangis yang terdengar di kediamannya.


Calvian menghela nafas lelah. Kematian Leona bukanlah keinginannya. Namun nasi sudah menjadi bubur, penyesalannya sia-sia. Dia tidak memiliki kenangan bersama Leona selain sikapnya yang begitu buruk pada darah dagingnya sendiri.


Tatapan matanya teralihkan ke arah taman dan terlihat sesosok gadis cantik bergaun putih. Rambut hitamnya tergerai angin menambah pesonanya. Seketika Calvian membeku. Gadis itu, Leona. Putrinya yang telah tiada.


Calvian mengucek matanya memastikan pengelihatan nya.


Setelah dirasa nyata, Calvian membuka jendela ruang kerjanya dan menggumamkan sesuatu. Lalu muncul sebuah portal teleportasi dan dia menghilang dari sana.


Dia muncul di hadapan Leona dan menatap gadis itu penuh penyesalan dan kerinduan.


"Leona..." Lirih Calvian sendu.


Leona menoleh dan menatapnya dengan senyum manis. Calvian ingin memeluk gadis itu, naas tubuhnya hancur menjadi kelopak bunga dan tertiup angin.


"Tidak!! Leona!!!" Jerit Calvian histeris.


Leona yang bersembunyi tak jauh dari sana hanya menatapnya datar. Bagaimanapun dia tetap ayah pemilik tubuh ini. Dia ingin mengerjainya habis-habisan sebelum Calvian benar-benar menyesal.


Dia tidak ingin kecewa dan tidak terlalu berharap. Mungkin saja dia bilang menyesal dan menyuruhnya kembali, lalu kembali mengabaikannya demi Iris.

__ADS_1


Mengingat Iris, dia ingin mengerjai gadis itu habis-habisan. Dia ingin menjadi hantu dengan wujud lebih mengerikan agar mentalnya terguncang hebat.


Leona segera pergi dari sana, seperti sebuah bayangan hitam. Melesat cepat menembus gelapnya malam.


__ADS_2