Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 49


__ADS_3

Lucas menatap Jim yang ternyata merupakan seorang Baron muda di lihat dari pakaian yang di gunakannya. Untungnya Lucas tidak bersikap senioritas pada Jim saat pemuda itu bekerja di kediaman Castallio sehingga dia tidak merasa malu sendiri.


Mereka memperhatikan Leona yang sibuk memeriksa gadis kecil itu. Mata Lucas dan Jim terbelalak kaget saat tangan Leona mengeluarkan cahaya bewarna hijau. Mereka tidak merasakan aliran mana di tubuh gadis itu.


"Dia hanya flu." Ucap Leona begitu selesai memeriksa kondisi gadis kecil itu.


"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Lucas cemas dan menatap gadis kecil itu yang kini tertidur pulas.


"Jangan khawatir, Paman. Dia akan segera sembuh." Sahut Leona menenangkan kepala pelayan Castallio itu.


Dia segera mengeluarkan sebuah gulungan kecil dari saku jubahnya lalu membuka isi gulungan itu.


'Poft'


Terdapat beberapa daun herbal dan botol ramuan keluar dari dalam gulungan itu. Leona memberikan pada Lucas dan menjelaskannya.


"Herbal-herbal ini di rebus dan hirup uapnya. Lalu minumkan cairan ini. Lakukan sehari tiga kali selama tiga hari kedepan."


"Terimakasih, Nona. Terimakasih." Lucas berlutut di bawah Leona dengan rasa haru. Herbal yang di berikan oleh Leona sangat langka dan mahal di pasaran.


"Sudahlah Paman. Jangan seperti ini." Leona segera menahan Lucas yang masih berlutut di bawah kakinya.


"Bagaimana saya membalas kebaikan Anda, Nona?" Tanya Lucas sambil meneteskan air matanya.


Leona yang melihat ketulusan Lucas tidak berkutik. Selama hidupnya pria paruh baya itu selalu merawat pemilik tubuh ini mulai dari lahir hingga sebelum di usir oleh Duke Castallio. Meskipun pria itu jarang berada di dekatnya karena sibuk dengan tugas sebagai kepala pelayan.


"Aku tidak meminta apapun karena dulu kau melayani meskipun itu memang tugasmu. Sebagai gantinya rahasiakan kemampuanku dari siapapun lalu berikan aku informasi tentang desa ini."


💠💠💠💠


"Apakah Anda benar-benar menyetujui kerjasama dengan desa kami, Tuan?" Tanya seorang pria paruh baya dengan perut buncit.


"Aku ingin memeriksa kinerjamu sebagai pemimpin desa ini sebelum memutuskan bergabung dengan desa kami. Kami tidak ingin seseorang menikmati hasil jerih payah kami dengan mudah mengingat kami merombak desa mulai dari nol tanpa bantuan dari siapapun." Sahut seorang pria berambut cokelat. Mata cokelat dengan retina runcing itu melirik pria paruh baya itu dengan tajam.


Pria paruh baya itu terlihat gugup mendengar perkataan pria muda di hadapannya. Tidak ingin mendapatkan penolakan kerjasama yang tentu saja menguntungkan untuknya, buru-buru dia berkata dengan tegas meskipun terdengar gugup.


"T-tentu saja. Lagipula desa ini telah berkembang dengan baik. Penduduk disini juga hidupnya terjamin."


Jim berdecih dalam hati dan segera bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh pria paruh baya itu yang kini berkeringat dingin.


"Kalau begitu aku ingin melihat laporan pengelolaan desa ini di ruang kerjamu." Ucap Jim dingin.


"B-baik. Sebelah sini." Pria paruh baya itu memimpin jalan.

__ADS_1


Jim mengekor di belakangnya. Berdasarkan informasi yang di dapatkan, dia adalah pemimpin desa yang merupakan kerabat dari Baron Houlise dan merupakan ayah kandung dari Iris. Dia adalah Baron Cohen yang terkenal kejam dan tamak.


Kepala keluarga Cohen, Edden Cohen memiliki seorang putri sah dan dua anak di luar nikah, salah satunya adalah Iris Cohen atau di kenal dengan Iris Ethan Castallio.


Karena jengah dengan tingkah pria tua itu, Jim meminta saran kepada Leona dan gadis itu menyetujuinya. Apalagi saat mengetahui jika Baron Cohen merupakan ayah kandung dari Iris yang membuat keponakannya bersemangat.


Begitu Baron Cohen membuka pintu ruang kerjanya, tubuhnya bergetar menahan marah saat melihat seorang gadis cantik bak peri duduk di meja kerjanya sambil membaca sebuah berkas di temani oleh beberapa orang yang berdiri di belakang gadis itu dengan wajah datar.


"Siapa kau dan apa yang kau lakukan di ruanganku?!" Bentak pria paruh baya itu sambil melangkahkan kakinya mendekati meja kerjanya.


"Hmm?? Penggelapan anggaran untuk dana darurat, Perjodohan dengan Baron muda Calisius untuk memperoleh kekayaannya, apa lagi nih. Oh, ingin menyingkirkan ku yang notabene keponakan kandung dari Baron Calisius dan putri sah sekaligus putri kandung dari Duke Castallio? Hebat!" Leona membaca berkas itu dengan lantang. Seketika Baron Cohen mematung.


'Brak'


Leona membanting dokumen itu dengan keras lalu menatap Baron Cohen yang berdiri mematung di hadapannya dengan tajam.


"Aku tak menyangka jika kau begitu picik, Tua Bangka. Kau menjual anakmu untuk menyingkirkan ku dari keluargaku sendiri. Benar-benar menjijikkan." Ucap Leona dingin. Dia mengeluarkan sedikit killing intense yang membuat pria paruh baya itu tertekan.


"Kau ingin menguasai desa Bloom Mist, bukan? Dengan menjodohkan putri bodohmu yang hanya tau bersenang-senang dan pesta. Sayang sekali sampah itu bukan tipeku." Jim menimpali dengan pedas.


"T-tidak. Bukan begitu..." Dia berkata dengan gugup karena rencananya sudah ketahuan. Dia tidak menyangka jika Leona, sampah keluarga Duke Castallio merupakan keponakan kandung dari Baron Calisius sekaligus pendiri desa Bloom Mist.


"Baron bodoh yang taunya berfoya-foya dan memeras rakyat untuk kepentingan pribadi tidak pantas mengajukan kerjasama dengan Bloom Mist. Paman, aku tidak ingin mereka menerima keuntungan begitu saja dari kita." Ketus Leona sambil merengek pada Jim.


"Aku ingin memberikan sedikit hadiah untuknya. Bagaimana jika kepalanya di berikan kepada putrinya yang tak tau diri itu? Pasti dia akan memekik bahagia, khekhekhe..." Usul Leona sambil tertawa setan.


"Ide bagus."


"Tidak! Jangan! Ampuni saya!" Baron Cohen memohon-mohon.


"Hoo~? Kenapa kau ketakutan begitu? Bukankah tadi kau baru saja membentakku?" Tanya Leona beruntun sambil memiringkan kepalanya, dia memasang ekspresi polos yang di buat-buat.


"Maafkan saya! Mohon beri saya kesempatan!"


"Baiklah." Leona segera menghilangkan killing intense nya.


Baron itu menghembuskan nafasnya lega lalu segera berlari keluar. Begitu tiba di depan pintu, seketika sebuah kepala menggelinding jatuh di susul dengan tubuh tanpa kepala yang ambruk ke lantai.


"Satu hama telah di singkirkan." Ucap Leona sambil tersenyum miring saat menatap tubuh tanpa kepala milik kepala keluarga Baron Cohen.


💠💠💠💠


Iris menatap surat dan kotak-kotak hadiah yang bertumpuk di meja belajarnya dengan perasaan senang. Terkenal sebagai gadis tercantik di akademi sekaligus pemilik elemen cahaya yang langka membuatnya memiliki banyak penggemar.

__ADS_1


Sikapnya yang lemah lembut dan anggun serta ramah membuat menjadi rebutan dari beberapa putra bangsawan berpengaruh, termasuk putra mahkota yang membuat gadis itu semakin besar kepala.


Siapa sih yang tidak ingin menjadi pasangan putra mahkota? Selain memiliki paras tampan rupawan, dia juga memiliki kekuasaan sekaligus raja masa depan yang di gadang-gadangkan oleh rakyat. Apalagi dia memiliki tiga sihir dan bisa mengendalikannya dengan mudah. Dia di kenal sebagai jenius di Kerajaan Seanthuria.


Meskipun Emillio mengabaikannya akhir-akhir ini, namun dia mendapat perhatian putra mahkota dan putra bangsawan berpengaruh lainnya yang membuatnya tinggi hati. Apalagi mereka meratukan Iris di Akademi.


Iris membuka satu persatu kotak hadiah itu. Terdapat berbagai macam perhiasan mahal dan indah yang membuatnya memekik senang.


"Leona bahkan tidak pernah mendapatkan hadiah apapun." Batinnya dalam hati.


Mata gadis itu tertuju pada sebuah kotak besar yang terlihat mewah dan indah. Tidak ada nama pengirim kecuali sepucuk kertas yang bertuliskan, 'Semoga kau menyukainya.' Iris tang penasaran memutuskan mengambil kotak hadiah itu dan membukanya dengan berdebar-debar.


Begitu kotak hadiah itu terbuka, alangkah terkejutnya Iris saat mendapati isi dari kotak hadiah itu. Sebuah kepala manusia yang sangat di kenalinya dengan mata membelalak memperlihatkan bagian putih matanya saja.


"Kyaaaaa!!!"


Teriakan ketakutan yang memilukan hati terdengar memecah kesunyian di kediaman Castallio yang membuat beberapa penjaga dan pelayan menghampiri kamar Iris dengan tergesa-gesa.


'Tok... Tok... Tok...'


"Ada masalah apa, Nona?" Tanya salah satu penjaga dari luar kamar Iris.


Tidak ada sahutan selain isak tangis yang terdengar dari dalam kamar Iris. Calvian yang mendengar suara teriakan di susul dengan tangisan menyayat hati memutuskan mendobrak kamar gadis itu.


'BRAAKK!'


"Bisakah kau tidak membuat kehebohan malam-malam? Kau mengganggu istirahatku." Kesal Calvian.


"A-ayah... Hiks... I-itu..." Ucap Iris terbata sambil menunjuk sebuah kepala manusia yang masih berada di dalam kotak hadiah.


"Itu hanya kepala tiruan saja. Kau terlalu berlebihan, Iris." Sahut Calvian sambil menatap sinis seonggok kepala manusia itu.


"Penjaga, buang kepala mainan itu jauh-jauh." Perintah Calvian.


Penjaga itu menurut dan segera mengambil kotak hadiah yang berisi kepala itu.


Calvian segera membalikkan badan meninggalkan Iris yang masih menangis. Hati pria itu diliputi penyesalan yang mendalam.


Iris, meskipun dia memiliki sihir cahaya, namun dia selalu berlindung di balik pemuda yang mengejarnya. Bukan melatih sihir dengan sungguh-sungguh yang membuatnya kecewa.


Sementara Leona, putrinya yang telah dia buang tumbuh menjadi gadis tangguh yang pemberani meskipun membuat onar bersama ketiga rekannya. Bahkan dari penuturan prajurit yang ikut memberantas pemberontak itu, Leona sangat cerdik sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga secara sia-sia untuk melawan musuh.


Tanpa di sadarinya, seorang gadis bertopeng burung dengan hiasan sulur emas berdiri di atap kediaman Duke Castallio bersama beberapa orang yang memakai topeng sulur perak. Gadis itu menyeringai di balik topeng itu dan memberi kode pada rekannya.

__ADS_1


Di bawah cahaya bulan sabit, mereka menghilang dalam gelapnya malam meninggalkan kelopak bunga yang berterbangan tertiup angin.


__ADS_2