Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 71


__ADS_3

Jim menatap Leona yang duduk merenung di balkon kamarnya. Pria itu paham jika emosi Leona sedikit terguncang saat tidak sengaja bertemu dengan sang ayah.


Dia menghampiri Leona dan menyampirkan jubahnya ke tubuh gadis itu. Leona melirik pria itu dan kembali menatap langit malam.


"Aku tidak memiliki kenangan apapun dengan tuan duke, Paman." Ucap Leona tiba-tiba.


Jim mendengarkan.


"Aku tidak tau harus bagaimana saat melihatnya bersedih. Satu sisi, aku kasihan. Tapi di sisi lain, aku tidak merasakan apapun." Leona melanjutkan lalu menghela nafas panjang.


"Itu keputusanmu, Leona. Aku tidak memaksamu tinggal bersamanya. Kau sudah mati di Kerajaan itu. Semua orang sudah mengetahui hal itu." Jim mulai bersuara.


Leona menatap Jim yang kini menjadi walinya. Pikirannya berkecamuk. Dia tidak ingin kembali ke kediaman Castallio meskipun itu rumahnya sendiri. Tidak ada kenangan indah di sana.


Jim mengetahui jika Leona bertemu dengan Calvian berdasarkan laporan dari Kaze. Sepertinya ayah kandungnya menyesal dan dia tidak ikut campur untuk urusan itu.


"Apa kau merindukannya?" Tanya Jim hati-hati.


Leona terdiam. Entahlah, dia tidak tau. Dia tidak berharap apapun lagi. Hatinya sudah lama mati, baik dari pemilik tubuh ini maupun saat di kehidupan nya yang dulu.


Dulu, dia anak broken home. Ayahnya yang suka bermain perempuan dan sering menyakitinya. Ibunya juga sama, suka selingkuh dan menyakiti dirinya. Dia tumbuh di lingkungan yang buruk. Kakek dan nenek dari ayah maupun ibunya tidak peduli dan menyalahkannya yang lahir sebagai perempuan. Namun beberapa pelayan di rumahnya dulu mau merawatnya.


Tumbuh menjadi pribadi pembuat onar dan suka berkelahi membuat seorang agen FBI yang sedang menyamar tertarik padanya. Dia menawarkan pekerjaan untuk memberantas penjahat yang tidak bisa di atasi oleh kepolisian.


Leona tertarik dan mau-mau saja asalkan dia bisa berkelahi dan bertarung. Apalagi mendapatkan uang sebagai hasil jerih payahnya.


Leona menjadi anggota FBI termuda yang sialnya harus mati terjatuh dari pohon manggis saat sedang mengintai musuhnya. Dia terkena peluru nyasar tepat di kepalanya dan misinya gagal begitu saja.


Sementara dari tubuh ini, dia tidak melihat kenangan indah dari Calvian selain sibuk meninggalkan dia bersama sang ibu sejak masih kecil.


Merindukan ayah? Memang dia penasaran seperti apa pelukan dari orang yang di panggil ayah, tapi dia juga tidak berharap. Apalagi pemilik tubuh ini tidak menunjukkan keinginan itu.


"Tidak. Sejak kecil hanya Arthur yang merawatku. Jadi aku tidak tau." Jawabnya ringan.


Dia tidak mau berharap. Lebih baik dia fokus bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Dia harus bisa mandiri dan hebat. Menghasilkan banyak uang dan kuat agar tidak di remehkan. Dia tidak tertarik dengan hal berbau cinta, mengingat orang tua di kehidupan dulu begitu menjijikkan.


"Aku juga tidak ingin menjalin hubungan cinta ataupun pernikahan. Aku hanya ingin hidup bebas tanpa kekangan dan aturan konyol." Tutur Leona serius.


Jim mengusap kepala Leona. Entah apa yang sudah di lalui gadis itu sejak kecil. Begitupun dengan Jim yang terlahir sebagai anak haram. Jadi dia juga tidak tertarik dengan ikatan rumah tangga.


"Aku mendukung apapun keputusanmu."


💠💠💠💠


Leona terpaku dengan pemandangan di hadapan nya. Dia mengucek-ngucek mata memastikan pemandangan di hadapannya. Lalu dia menampar pipinya. Sakit.


Jadi dia tidak bermimpi. Ini nyata, sangat nyata.


Di hadapan nya terlihat Carl bersama seorang gadis cantik yang usianya masih muda. Seingatnya pria itu belum menikah dan lebih suka bermain pedang daripada berkencan dengan seorang gadis.


"Guru Carl?" Ucap Leona tak percaya sambil memasang ekspresi bodoh.


"Apakah dia sedang berkencan?" Iven muncul di sampingnya dengan memasang wajah shok. Guru tanpa akhlak itu tengah berkencan? Momen yang sangat langka.


"Sebaiknya kita bersembunyi." Ucap Eura sambil celingukan mencari tempat persembunyian.

__ADS_1


Mereka berempat segera mencari tempat persembunyian terdekat, menonton sang guru yang terlihat sibuk dengan seorang gadis. Hal itu merupakan pemandangan yang cukup langka untuk mereka.


Mereka bersembunyi di semak-semak yang berada di dekat sana dan menatap sang guru dengan penasaran. Apakah itu putrinya guru Carl? Calon istri atau calon pacar? Mereka ingin tau mengingat sang guru tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Wei Tao yang mengagetkan mereka.


"Ssttt!" Desis mereka bersamaan sambil menunjuk ke arah sang guru yang sibuk bersama seorang perempuan. Wei Tao menatap ke arah yang ditunjukkan oleh ketiga rekannya. Seringai iblisnya muncul dan pemuda itu ikut bergabung bersama mereka.


"Oh~ Romantis sekali~" Pekik Eura dengan berbisik.


"Diam, bodoh! Kau lihat mereka saling tatap-tatapan?" Kesal Iven dengan nada berbisik.


"Sstt! Diam atau kita ketahuan." Desis Wei Tao dingin yang sukses membuat keduanya terdiam.


"Kita mendapatkan mainan bagus, khekhekhe..." Ucap Leona sambil mengeluarkan sebuah artefak yang langsung di kendalikan oleh Wei Tao. Artefak itu di gunakan untuk mengambil foto dan vidio, yang kegunaannya seperti kamera di dunia nyata.


Leona dan Wei Tao memiliki kesamaan yang sama, suka mengerjai orang. Jika Leona memiliki ide jahil, maka Wei Tao memberi saran dan usulan. Sementara Iven memasang jebakan dan Eura eksekutor target.


Wei Tao menyeringai dan mendekatkan artefak itu saat melihat Carl berciuman. Mereka berempat tertawa tanpa suara dengan tanduk iblis dan ekor panah imajiner menghiasi tubuh mereka.


Setelah mendapatkan gambar itu, mereka segera beranjak dari sana. Mungkin menggoda Carl adalah hobby baru mereka.


Sementara ketiga siluman yang mengikuti Leona hanya bisa geleng-geleng kepala melihat majikan mereka bersama temannya. Entah apa lagi yang akan mereka lakukan.


Bagaimana pun tingkah mereka lebih mirip iblis daripada manusia.


💠💠💠💠


Carl berpapasan dengan keempat mantan muridnya. Entah mengapa mereka terlihat aneh hari ini. Mereka menatap Carl dengan tatapan malu-malu dan geli.


Carl mengerutkan kening. Ada apa dengan Leona yang terlihat salah tingkah seperti ini? Entah mengapa dia merasakan firasat buruk.


Leona mengerling sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Carl bingung. Apakah Leona sedang jatuh cinta? Padanya? Membayangkan Leona menjadi pacarnya membuat Carl merinding. Meskipun dia akui Leona sangat cantik, namun kepribadian nya bobrok. Tidak ada manis-manisnya selain membuat darah tinggi.


Selain itu dia juga sudah menganggap Leona seperti putrinya sendiri. Tidak mungkin, kan dia menjalin hubungan dengan setan macam Leona? Bisa-bisa dia mati berdiri dengan segala tingkah ajaibnya.


Leona berlalu begitu saja bersama kedua hewan predator milik gadis itu tanpa menyapanya. Lalu Eura bersenandung dengan wajah merona merah.


"Duniaku begitu indah dengan sejuta kupu-kupu yang berterbangan di perut. Oh~ Indahnya cinta." Lalu dia menatap Carl dengan tatapan menggoda pergi begitu saja.


Ada apa dengan Leona dan Eura? Apakah mereka jatuh cinta?


Carl bertanya-tanya dalam hati. Mungkin salah makan atau otak mereka bergeser atau miring atau bagaimana?


Pria itu menggelengkan kepalanya dan melanjutkan perjalannya yang tertunda karena kemunculan dua setan itu.


Sementara Iven dan Wei Tao membungkuk hormat dengan wajah datar. Lalu menyusul kedua biang kerok itu yang telah menghilang di balik tikungan. Meninggalkan Carl yang kebingungan dengan tingkah keempatnya.


Tidak ambil pusing, pria itu memilih berlalu begitu saja tanpa mengetahui keempatnya mengintip sambil menahan tawa.


💠💠💠💠


Malam terasa lebih sunyi dan hening. Terlihat beberapa penjaga berjalan di lorong melakukan patroli.


"Malam ini terasa lebih sunyi dari sebelumnya." Ucap salah satu penjaga.

__ADS_1


"Benar. Akhir-akhir ini kediaman Castallio berubah aneh. Banyak yang berkata mereka melihat hantu nona Leona." Balas temannya.


"Semenjak kepergian nona, semuanya terasa sunyi. Biasanya dia berlatih dengan kita."


"Benar. Sir Arthur selalu murung saat melatih Ksatria baru."


Tanpa diketahui oleh mereka, Leona menempel di langit-langit dan mendengarkan percakapan mereka. Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam dan menggunakan celana.


Sebuah senyuman terpampang indah di wajahnya saat melihat Iris pulang bersama putra mahkota malam-malam begini. Dia ingin membalas dendam dengan mereka.


Oh, mungkin urusan dendamnya pada putra mahkota akan dia serahkan pada Khalix. Dia hanya perlu membuat putra mahkota menyebalkan itu menderita sebelum ingin bunuh diri. Mungkin dia perlu menyiksa mental putra mahkota bersama.


Leona memutuskan menghampiri Arthur. Bagaimana pun dia telah merawat pemilik tubuh ini dengan baik.


Leona menyusuri sekitar dan melihat seorang pria paruh baya menatap paviliun dengan sedih. Dia tidak tega melihat kesedihan pria itu dan memutuskan menyapanya.


"Sir Arthur."


Pria paruh baya itu tersentak dan menatap Leona dengan kosong.


"Sir Arthur, ini aku. Aku masih hidup." Ucap Leona.


Arthur terhenyak. Dia menggosok matanya memastikan pengelihatan nya.


"No-nona?"


"Benar, Sir."


Pria itu membawa Leona ke dalam pelukannya.


"Maaf atas ketidaksopanan saya, Nona."


Leona menepuk punggung pria paruh baya itu saat merasakan tetesan air mata membasahi bahunya.


"Saya tidak menyangka Nona mau menghampiri saya. Saya tidak percaya jika Anda benar-benar telah tiada." Ucap Arthur sambil mengurai pelukannya dan menatap Leona lekat-lekat.


"Aku masih hidup, Sir. Dan aku benar-benar nyata." Tutur Leona meyakinkan.


"Apa yang Nona lakukan malam-malam begini?" Tanya Arthur penasaran.


"Aku ingin balas dendam. Oh, ya Sir. Rahasiakan keberadaan ku yang masih hidup, ya?" Pinta Leona dan menatap Arthur dengan tatapan memelas.


"Kenapa, Nona? Mereka berhak tau."


"Belum saatnya, Sir. Aku ingin balas dendam dulu dengan tenang. Sampaikan salamku pada yang lainnya. Bilang aku mendatangimu dalam mimpi."


Arthur menghela nafas dan menyetujuinya.


"Lalu apa yang ingin Anda lakukan?" Tanyanya penasaran.


Leona tersenyum jahat lalu mengenakan gaun putih yang di penuhi bercak darah di hadapan pria itu.


"Membuat mental seseorang terguncang." Jawabnya santai sambil memasang topeng dengan wajah yang mengerikan dan menghilang dari sana.


Arthur penasaran dengan maksud Leona sebelum suara jeritan terdengar di sebuah kamar. Saat dia mendekati asal suara itu, Arthur melihat Leona berdiri di dahan pohon dengan wajah menyeramkan.

__ADS_1


"Dasar." Rutuk Arthur geleng-geleng kepala.


__ADS_2