Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 46


__ADS_3

Setelah selesai membuat kekacauan, Leona segera menghubungi Iven dan lainnya. Kali ini mereka ingin menyerang markas pusat pemimpin pemberontak dan meminta persetujuan dari Kaisar.


Leona tau hal itu sangat berbahaya, namun dia ingin misi ini cepat selesai dan ingin menikmati festival musim semi bersama para siluman dan pamannya di desa. Meskipun Jim hanya seorang Baron, baginya pria itu cukup mengisi kehampaan hati pemilik tubuh ini.


Leona mencari sebuah tempat yang cukup sepi dan aman untuk menghubungi Kaisar dengan sebuah bola sihir yang fungsinya untuk vidio call seperti di dunia modern. Jadi dia tidak perlu bersusah payah menulis informasi lalu mengirimnya ke Kaisar.


"Baginda, kami membawa informasi." Ucap Leona begitu sambungan telah terhubung dengan Kaisar.


"Katakan." Ucap Kaisar Ein datar.


"Kami mendapatkan laporan jika desa ini di pimpin oleh count Quirky dan Archduke Grecya. Mereka bekerjasama dengan bangsawan Orch dengan keuntungan Anda dan Kekaisaran Kamitsuki jaminannya. Mereka memiliki tiga ribu pasukan yang sebagian merupakan bangsa Orch dan mereka memiliki beberapa monster level dua." Lapor Leona.


"Oho~ Kerja bagus. Kami segera menyerang begitu mereka lengah. Kau serang saja markasnya."


"Baik, Baginda." Lalu Leona segera menutup sambungannya.


Setelah itu Leona segera mencari rekannya yang lain lalu membicarakan rencana mereka.


"Baginda menyuruh kita menyusup ke dalam markas musuh." Ucap Leona begitu mereka semua berkumpul.


Kei dan Iven tersenyum, bahkan Kaze yang sendiri tadi tidur lelap di saku Leona bangkit dan langsung mencicit penuh semangat. Sementara prajurit yang ikut bersama mereka menatapnya penasaran.


💠💠💠💠


Kaze dalam wujud tupai menghampiri Leona yang menunggunya di sebuah atap rumah warga. Tupai itu segera berubah menjadi manusia dan menyerahkan sebuah kertas.


"Nona, ini denah markas musuh. Ada beberapa penjaga yang di letakan di setiap lorong. Mereka bangsa Orch dan beberapa ksatria biasa." Kaze menerangkan denah buatannya.


"Kerja bagus Kaze. Aku akan memberikan sekantong biji-bijian premium nanti. Oh, tentu saja kita pergi liburan menikmati musim semi." Sahut Leona yang membuat Kaze terharu.


"Benarkah, Nona? Aku hanya ingin biji-bijian yang Anda janjikan dan tidur." Balas Kaze terharu.


"Baiklah."


Kaze, gadis cantik yang merupakan siluman tupai yang ahli pengobatan. Merupakan siluman yang suka tidur dalam wujud tupai dan malas berubah wujud menjadi manusia. Leona tidak mempermasalahkan gadis itu yang suka tidur di manapun dan kapanpun, namun jika di perlukan dia akan melaksanakan tugas dengan sempurna.


Kaze kembali berubah menjadi tupai dan masuk ke dalam saku Leona. Lalu Leona segera menghampiri teman-temannya dan menjabarkan rencananya.


"Kita akan menyusup malam ini."


Leona lalu memperlihatkan denah buatan Kaze dan menjelaskannya, "Ini adalah denah markas musuh, kediaman pemimpin utama mereka. Terdapat tiga pintu masuk yang di jaga beberapa prajurit biasa dan Orch. Kita bagi tiga tim."


"Iven, bawalah delapan prajurit bersamamu. Kau masuk melalui pintu samping. Bunuh mereka tanpa sisa." Ucap Leona sambil menatap Iven yang kini menyeringai sadis.


"Serahkan padaku, Leona." Sahut Iven semangat.


"Kei, kau dari pintu belakang. Bawa delapan prajurit bersamamu. Kau boleh mengamuk di sana dan jangan menyerang prajurit yang ikut bersamamu."


"Baik, Nona." Kei tersenyum manis dan memamerkan gigi taring serta tangannya dengan kuku panjang yang tajam.


Jika Kei bertarung dalam wujud manusia, dia sering lepas kendali dan menyerang siapapun tanpa pandang bulu.


"Dan aku akan masuk lewat pintu depan. Usahakan pemimpin mereka tidak mengetahui kedatangan kalian. Sebagai penutup, dia mainan terakhir kita." Seringai Leona yang langsung di sambut pekikan suka cita dari Iven dan Kei.

__ADS_1


"Tapi Nona, bagaimana caranya membuat pemimpin mereka lengah? Kita tidak mungkin menyusup tanpa keributan mengingat pasti ada beberapa penjaga yang curiga." Ujar salah satu prajurit.


Leona tersenyum miring lalu mengeluarkan sebuah kelereng berwarna hijau. "Aku punya penangkalnya, Sir. Jangan khawatir, hihihi..."


"Asap perangsang? Kau benar-benar gila!"


"Alangkah baiknya mereka lengah secara total, khekhekhe..."


"Nona Leona, saya khawatir jika kita melihat adegan tak pantas yang mencemari pemandangan." Protes Kei.


"Ini penemuan pertamaku, Kei. Jadi jangan rusak hari bahagiaku." Delik Leona pada Kei yang kini memilih diam.


Leona mengeluarkan Kaze dari sakunya lalu menyerahkan kelereng hijau itu.


"Kaze, tolong cari keberadaan pemimpin utama pemberontak dan lemparkan keleng ini. Setelah itu kau cepat pergi dan bersembunyi."


Kaze mencicit lalu mengambil kelereng itu. Kini mereka segera berpencar mengepung sebuah bangunan yang terletak beberapa blok dari tempat mereka bersembunyi.


💠💠💠💠


Beberapa orang tengah berpatroli di sebuah kediaman yang terbesar diantara rumah-rumah lainnya. Letaknya terlalu mencolok hingga memudahkan beberapa penyusup menemukan rumah itu.


Malam gelap tanpa bulan, hanya diterangi bintang yang berkelip di langit. Terlihat beberapa orang berjalan mengendap-endap mendekati orang yang berlalu lalang, lalu seorang diantaranya memberi isyarat pada rekannya.


Mereka segera membagi menjadi tiga tim dengan jumlah tiga orang. Mereka segera menghabisi penjaga itu dalam waktu singkat tanpa menimbulkan kecurigaan.


Setelah di rasa cukup aman, mereka memasuki rumah besar itu dan langsung membagi diri. Seorang gadis cantik segera menusuk kunai tepat di jantung seorang penjaga yang memergoki keberadaan mereka.


"Baik."


Leona bersama dua prajurit segera pergi ke lantai dua, meninggalkan keenam orangnya untuk membereskan lantai satu. Mungkin Iven, Kei dan lainnya sibuk membersihkan beberapa prajurit di tempat masing-masing, jadi dia sendiri yang menaiki lantai dua. Mereka bertiga sesekali berpapasan dengan penjaga, baik manusia maupun bangsa Orch, namun berhasil mereka kalahkan tanpa menimbulkan perlawanan yang berarti.


Kediaman ini memiliki penjagaan yang longgar mengingat Kaisar telah menyerang tempat ini dan pemimpin pemberontak ini masih sempatnya berleha-leha ria. Untungnya dia telah berhasil mengantisipasi pemimpin pemberontak itu dengan ramuan buatannya.


"Siapa kalian?" Tanya sebuah suara bariton yang serak dan berat. Sontak Leona dan kedua prajurit yang ikut bersamanya membalikkan badan, mereka melihat sekelompok Orch membawa senjata mirip gada, namun dengan hiasan duri-duri tajam sebesar pisau. Sosok itu menatap marah pada Leona dan kedua prajuritnya.


"Kami ingin bertemu dengan pemimpin kalian." Sahut Leona ramah, tidak lupa dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.


"Omong kosong!" Teriak salah satu Orch itu tak percaya tatkala melihat dua pria di belakang Leona memegang pedang yang telah berlumuran darah.


"Ya sudah kalau begitu." Sahut Leona cuek sambil mengangkat bahunya acuh. Toh dia juga memang berbohong.


Leona memberi isyarat agar kedua prajuritnya memasukkan pedang ke dalam sarung. Mereka menurut dengan sejuta pertanyaan.


"Bunuh mereka!"


Seketika mereka berlari menyerang Leona dan dua prajuritnya. Dengan cepat Leona memegang tangan Khalix dan Robert lalu...


"Lari!!" Seru Leona sambil menarik tangan dua prajuritnya. Mereka kini berlarian di sepanjang lorong lantai dua menghindari amukan bangsa Orch.


"Kenapa kita berlari, Nona?" Tanya Khalix tak mengerti.


"Seharusnya kita membunuh mereka." Gerutu Robert.

__ADS_1


"Kalian tau apa kelemahan bangsa Orch? Mereka memiliki tenaga yang besar, tubuh kokoh yang kuat." Ujar Leona sambil berlari cepat.


"Tidak." Sahut mereka berdua setelah terdiam beberapa saat.


"Lihat kebelakang." Ucap Leona.


Mereka berdua menoleh ke belakang, terlihat beberapa bangsa Orch yang mengejar mereka tertinggal cukup jauh di belakang.


"Mereka lambat dalam berlari dan cepat lelah. Karena tubuh mereka di rancang untuk menghancurkan, bukan untuk mengejar." Jelas Leona, lalu mereka tiba di sebuah persimpangan. Leona mengeluarkan rantai chakra miliknya lalu mengikat kedua prajurit itu.


"Sialan! Mereka kabur!"


"Cari sampai dapat lalu bunuh mereka!"


Leona terkekeh tanpa suara di langit-langit bersama kedua prajuritnya yang kini gemetaran. Gadis itu memperhatikan bangsa Orch dan beberapa manusia yang kini sibuk mencari keberadaan mereka.


Beruntung, Leona, Iven, Wei Tao, Eura dan Kei membaca buku tentang bangsa Orch, sehingga mereka bisa menghadapi bangsa Orch dengan mudah tanpa membuang nyawa sia-sia.


Iven kini mulai memasuki bangunan besar dan melihat Kei bersama beberapa prajurit yang sibuk menghabisi beberapa penjaga. Lalu muncul enam prajurit yang mengikuti Leona.


"Kami sudah membereskan lantai satu." Sahut Kei sambil mengibaskan tangannya yang berlumuran darah.


"Kerja bagus, Kei. Kalian juga." Puji Iven.


Lalu suara berisik terdengar di lantai dua. Sepertinya Leona membuat ulah. Iven mendengus mengingat tingkah menyebalkan gadis itu. Dia memang beban pembawa masalah, bukan beban lemah yang meminta perlindungan. Yang sialnya masalah yang bisa menguntungkan mereka.


"Kita susul yang lainnya."


💠💠💠💠


Begitu Iven dan Kei tiba di lantai dua, mereka mendapati Leona bersama Robert dan Khalix telah selesai membunuh beberapa Orch. Lihatlah wajah Leona yang merona merah dengan senyum malu-malu tengah menusuk Orch yang terakhir.


"Ah, kau sangat tampan untuk bangsa sepertimu. Sayang sekali~"


'Brukh'


Orch itu langsung ambruk dan tewas begitu saja. Leona memutuskan menaiki lantai tiga yang kini sepi tanpa penjaga, mengingat kegaduhan buatan Leona yang mengundang penjaga lantai tiga turun ke bawah.


Iven dan lainnya menyusul. Samar-samar mereka mendengar suara aneh yang membuat mereka memerah.


Leona segera mencari asal suara itu lalu...


"Agh! Mata suciku!"


"Astaga, menjijikkan!"


"Aku mual!"


Begitu Leona menendang pintu yang menjadi sumber suara aneh itu, seketika mereka di suguhi pemandangan menjijikkan. Dimana seorang pria paruh baya dan seorang Orch tengah melakukan hal erotis. Di sekitar mereka terdapat beberapa wanita dan pemuda tergeletak tanpa busana dengan keadaan tak sadarkan diri.


Leona mengeluarkan jarum kecil lalu melemparkan ke titik vital mereka. Setelah itu dia memeriksa orang yang tergeletak di sana. Beruntung mereka masih hidup.


"Kita hadiahkan dua mahkluk rendahan ini pada kaisar." Ucap Leona.

__ADS_1


__ADS_2