
Leona yang mengenakan masker hanya bisa menatap perkumpulan para lady dengan datar. Dia terlalu malas bergabung di sana, apalagi penampilannya yang jauh berbeda dengan para lady ataupun perempuan pada umumnya.
Kemeja merah maroon yang ujungnya di masukkan sebelah yang berbalut dengan blazer hitam. Celana hitam panjang dengan ankle bootie hitam, sabuk dengan hiasan rumbai rantai ala harajuku.
Penampilannya yang terlihat aneh namun sangat keren, apalagi masker hitam yang berhiaskan rantai itu membuatnya terlihat misterius. Banyak orang yang penasaran sekaligus merendahkan Leona, namun gadis itu memilih tidak peduli.
Fokusnya kali ini adalah raja Grambiel yang memasang wajah menjijikkan di hadapannya. Gadis bermasker itu sibuk memikirkan berbagai rencana untuk menyerang raja Grambiel.
Jim memilih mengelilingi area itu diikuti oleh pengikutnya. Mereka mengamati hutan dari kejauhan sebelum suara Kaze datang dalam wujud tupainya.
'Pyong'
Kaze berubah menjadi manusia dan menunduk hormat pada Jim.
"Lapor Jim-sama. Beberapa wilayah hutan ini telah di invasi oleh bangsa Orch. Sepertinya banyak orang yang terluka dalam acara ini."
"Berapa jumlah mereka?"
"Sekitar ribuan orang, Jim-sama."
"Sepertinya sudah direncanakan." Celetuk Kazuma sambil mengendus udara. "Mereka bahkan telah menyiapkan beberapa jebakan disekitar sini."
"Biar aku dan Kei yang mencari sisa jebakan itu. Sisanya tolong jaga paman." Ujar Leona.
"Apa kau yakin baik-baik saja? Kau harus membawa Kazuma atau Ken juga." Jim menatap Leona dengan cemas. Begitu pula dengan Kazuma, Kaze dan Ken yang menatapnya penuh harap agar membawanya, namun Leona sudah memiliki rencana yang telah disusun dengan matang.
"Tidak perlu. Kalian jaga paman saja. Aku ingin memancing 'ikan' kecil sebelum mendapatkan ikan besar." Lalu Leona segera pergi dari sana bersama Kei.
"Leo!" Panggil Jim, membuat gadis itu menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah pria berambut cokelat itu. Terlihat sorot khawatir di mata pria itu membuat Leona tersenyum dibalik maskernya.
"Hati-hati."
"Paman juga jaga diri." Setelah berkata demikian, Leona berbalik meninggalkan Jim dan yang lainnya. Jim menatap punggung keponakannya sambil tersenyum tipis.
"Sebaiknya kita juga pergi." Ucap Jim pada tiga siluman yang berada di sana.
💠💠💠ðŸ’
Leona dan Kei menyusuri area pinggir hutan. Sesekali pria siluman panther hitam itu mengendus-endus udara lalu menatap tajam kedepan.
"Ada apa?" Tanya Leona penasaran sambil menatap sekitarnya dengan waspada.
"Ada beberapa orang di sekitar sini, salah satunya duke Castallio dan raja Grambiel." Sahut Jim dengan sebal.
Kenapa harus bau raja itu, sih? Kei merasa hidungnya tercemar dengan bau raja itu. Dia ingin berendam dalam air bertaburkan bermacam-macam bunga dan aneka parfum setelah menyelesaikan tugasnya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat membuat Leona waspada. Kei hanya mendengus dan mengetahui siapa yang datang. Duke Castallio.
Keduanya berbalik dan mendapati Duke Castallio menatap mereka dengan rumit, khususnya kearah Leona yang sedang memakai masker. Rambut hitam ikal yang kini di potong pendek dengan model layer serta mata kucing bewarna merah dengan hiasan garis hitam menyerupai eyeliner, tampilan yang sama seperti Leona.
"Salam Yang Mulia." Sapa keduanya serempak.
Calvian hanya mengangguk sebagai balasan. Dia menatap Kei dan Leona dengan tatapan rumit. Mereka memiliki rambut yang sama-sama berwarna hitam, namun rambut pria itu lurus dan di tata dengan berantakan. Mata pria itu berwarna merah ruby namun sedikit lebih pekat, serta guratan halus di pipi kanan pria itu yang menyerupai kumis kucing.
"Ada apa Yang Mulia datang mengunjungi kami?" Tanya Kei sopan, namun dalam hati dia hanya menggerutu karena pria itu membuat Leona menderita.
__ADS_1
"Ah, tidak. Aku hanya ingin memeriksa sekitar saja." Sahut pria itu datar. "Lalu apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Calvian balik.
"Kami hanya berjalan-jalan, Yang Mulia. Lagipula kami bosan berada diantara sekumpulan bangsawan." Sahut Kei santai. Sementara Leona tampak asik mengamati sekitar sebelum menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Seketika senyumnya terbit di balik masker.
"Sebaiknya kalian pergi ke lokasi perkumpulan. Sebentar lagi acara berburu akan selesai."
"Kalau begitu saya dan adik saya permisi, Yang Mulia." Pamit Kei dan beranjak dari sana bersama Leona.
Beberapa langkah kemudian muncul raja Grambiel dari balik pohon. Dia menatap Leona dan Kei dengan penuh minat dan segera menghampiri nya.
"Ketemu."
Keduanya menatap raja Grambiel dengan kebingungan lalu menoleh ke sekelilingnya. Sementara Calvian tersentak kaget lalu menatap sang raja dengan dingin.
Leona dan Kei saling tatap sebelum menatap raja Grambiel dengan ekspresi bodoh yang kentara.
"Aku melihatmu pergi tergesa-gesa dan rupanya kau menghampiri dua orang ini, Calvian." Sentak raja Grambiel penuh penekanan.
"Saya hanya berpatroli disini dan ke.be.tul.an berjumpa dengan mereka, Yang Mulia." Sahut Calvian tegas sambil menekan kata kebetulan.
Raja Grambiel menggeram tak terima, lalu sebuah cahaya muncul di leher pria paruh baya itu.
"Leona-sama, sepertinya raja itu mengincar kita." Bisik Kei.
"Aku tau. Tolong berpura-pura bodoh dan abaikan dia. Tahan emosimu, Kei." Balas Leona dengan berbisik. Keduanya lalu menatap raja Grambiel dan Calvian bergantian seakan menonton sebuah drama percintaan klasik.
"Aku perlu cemilan." Gumam Leona yang di dengar oleh Kei. Pria itu hanya bisa terkekeh dengan tingkah majikannya itu.
"Apa kau akan mengkhianati ku? Sekarang banyak bangsawan yang hadir dan kau tidak melindungi ku?" Bentak raja Grambiel penuh emosi. Lalu matanya melirik ke arah Leona dan Kei berada.
Raja Grambiel berdecak kesal. Jika Calvian mati, maka dirinya juga akan mati. Salah satu perjanjian dengan kalung itu adalah perjanjian antara budak dengan majikan. Jika budak mati, maka majikannya akan ikut mati.
Tidak ada pilihan lain, raja Grambiel mengeluarkan energi hitam dari kalung itu dan melingkari tubuh Calvian.
"Jika begitu, cabik-cabik mereka. Aku menginginkan darah mereka." Perintah raja Grambiel.
Calvian memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia menolak perintah itu, namun desakan dari kalung itu mendorongnya dengan keras. Pria itu jatuh berlutut dihadapan raja Grambiel yang kini menyeringai senang.
"Patuhlah padaku layaknya seekor anjing. Bunuh mereka dengan kedua tanganmu."
Calvian berteriak kesakitan dan tubuhnya perlahan berubah menjadi seekor serigala hitam legam dengan mata merah. Gigi taringnya sebesar tombak yang terlihat tajam dengan cakar yang runcing dan besar.
'AAUUUUUU!!'
"Nah, bagus. Lalu serang mereka! Cabik-cabik mereka untukku."
Sedangkan Kei dan Leona menatap pemandangan itu dengan penasaran. Mereka tau jika mereka dalam bahaya, namun saat melihat cahaya dari kalung itu, rasa penasaran mendominasi daripada rasa waspada maupun ketakutan.
"Kei, sepertinya permainan kali ini sangat seru." Bisik Leona kegirangan.
"Benar, Leona-sama." Sahut Kei tak kalah girangnya. Pria siluman ini telah kehilangan kewarasan setelah menjadi asisten maupun pengawal pribadi gadis itu.
💠💠💠ðŸ’
Serigala itu perlahan membesar dan berubah menjadi lebih mengerikan. Kepalanya ditumbuhi tanduk seperti domba dan memiliki ekor seukuran ular piton berjumlah tiga buah dengan hiasan kepala ular cobra.
__ADS_1
Serigala itu mendekati Leona dan Kei yang masih menatapnya takjub. Meskipun itu jelmaan ayahnya, namun gadis itu memilih tidak peduli. Hasrat untuk bertarungnya lebih besar daripada menangis bombay.
"Ayah!" Teriak Iris dari kejauhan dan mendapati monster itu berjalan pelan kearah Leona. Seketika tubuhnya gemetaran hebat menyaksikan pemandangan itu.
"Tidak, tidak mungkin." Lirih Iris tak percaya dan menutup mulutnya.
"Hohoho... Pertunjukan yang menarik. Bunuh dua orang itu atau putri kesayangannya mu, Calvian." Seringai raja Grambiel.
Monster itu melirik kearah Iris sekilas lalu menerjang kearah Leona dan Kei. Mereka berdua langsung melompat dan menghindari serangan itu.
"Kei, ayo kita bersenang-senang!" Teriak Leona kegirangan yang langsung disambut antusias oleh Kei.
"Baik, Leo. Mari bermain!"
Mereka berdua berlari, melompat dan menghindari serangan dari monster itu. Sesekali mereka menangkis dan menyerang monster itu dengan senjata andalan mereka. Kei dengan pedang dan Leona dengan kunai.
Beberapa shuriken meluncur dengan cepat dan menancap di tubuh monster itu.
Ekor monster itu yang menyerupai ular ikut menyerang mereka. Sesekali mereka menyemburkan sebuah cairan yang merupakan racun mematikan terlihat dari efek yang ditimbulkan oleh cairan itu.
Kei dan Leona semakin bersemangat saat melihat efek racun yang mengenai sebuah pohon yang meleleh karena terkena tembakan racun itu. Mereka berdua memutuskan mengincar ekor yang menyerupai ular itu demi mendapatkan racun. Harganya pasti sangat mahal.
"Aku kaya! Aku kaya!" Pekik Leona kegirangan yang membuat raja Grambiel dan pengikutnya serta Iris menatap Leona dengan tatapan aneh.
Leona dan Kei terus bertarung dengan monster jelmaan Duke Calvian. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan mengeluarkan rantai chakra dan mengikat monster itu.
"Kei, ambil racunnya! Sekarang!" Perintah Leona sambil mengeluarkan beberapa tabung khusus. Kei mengambil tabung itu dan menjalankan perintah nya.
Kei segera mendekati ular itu dan bersusah payah menangkap kepala mereka. Setelah cukup lama berusaha, Kei akhirnya bisa menangkap kepala ular itu dan mengambil bisanya.
Ekor dengan kepala ular itu seketika lemas karena racunnya di kuras habis oleh Kei. Setelah mendapatkan racun dari tiga kepala ular itu, pria siluman itu langsung menghampiri Leona dan menyerahkan tabung yang penuh racun itu.
"Kerja bagus, Kei." Pekik Leona kegirangan. Mata merah kucingnya menatap tabung itu dengan berbinar senang.
Monster itu menatap Leona marah lalu melayangkan cakarnya kearah Leona dan Jim.
'Trang'
Eura muncul dengan menahan cakar dari monster itu dan bertarung melawannya, disusul oleh Iven yang melayangkan sihir tanah untuk menahan monster itu.
Tak ketinggalan Wei Tao mengeluarkan sebuah lingkaran sihir dan muncul ledakan di bawah monster itu. Seketika terdengar lolongan monster yang menyayat hati.
"Ayah! Sadarlah!" Teriak Iris sambil mencucurkan air mata. Dia hanya bisa menonton pertarungan itu dari kejauhan.
'Crash'
Monster itu ambruk dengan kepala tertancap sebuah pedang. Semua yang berada di sana menatap Calvian yang kini berdiri dengan mata merah menyala.
"Sudah ku katakan, Grambiel. Kau tidak pernah bisa mengontrolku."
Raja Grambiel mengetatkan rahangnya, pertanda emosinya membuncah.
"Jadi, apa yang dilakukan raja Seanthuria di sini? Acara berburu telah berakhir dan jika rajanya menghilang, bukankah akan menimbulkan rumor buruk?" Ujar Khalix dengan tajam.
Raja Grambiel memilih pergi dari sana dengan kesal. Rencana untuk mendapatkan darah siluman dan klan Tigries gagal total.
__ADS_1
"Sebaiknya kita menghampiri Jim-sama. Aku khawatir dia digoda oleh wanita-wanita yang mengincar ranjangnya." Ucap Leona santai dan menyeret Kei pergi dari sana.