
Carl, Iven, Eura dan Wei Tao menatap Jim yang sibuk melempar beberapa berkas ke perapian dengan santai, bahkan beberapa berkas dia lipat menjadi kapal kertas dan melempar ke sembarang arah membuat beberapa pelayan menegurnya tegas.
"Jim-sama, sebaiknya Anda menolak mentah-mentah lamaran bodoh itu daripada mengabaikannya." Tegur Sam.
"Benar, Jim-sama. Para bedebah tua renta dan orang bermata duitan itu akan mengira Anda menerima semua dokumen itu." Timpal Mei sambil menata cemilan dan teh di meja.
Mereka berempat melongo. Baru sehari menginap di sini sudah melihat hal mencengangkan seperti ini? Pertama kalinya mereka melihat seorang pelayan berani menegur majikan mereka sambil memaki. Astaga, apakah Jim menghukum mereka?
"Aku ingin menghemat kayu bakar untuk musim dingin nanti. Lebih baik di bakar daripada membuang kertas untuk membalas hal tidak berguna seperti ini." Sahut Jim ketus.
Mereka berempat menatap Jim dengan kebingungan. Apakah pelayan itu tidak dihukum karena ada mereka?
"Apakah Paman akan menerima semua lamaran itu? Wah, kau benar-benar..." Leona terkekeh membayangkan Jim di kelilingi wanita cantik. Lalu sebuah tumpukan dokumen mendarat cantik di wajah gadis itu yang sukses membuat sang empu memekik kesakitan.
"Aduh! Sakit, Paman! Kau melakukan kekerasan kepada gadis cantik sepertiku." Sengit Leona .
"Aku tidak melakukan kekerasan. Aku hanya menyadarkanmu dari pemikiran aneh mu itu, dasar." Jim memberikan alasan. Dalam hati pria itu merasa puas telah menimpuk wajah menjengkelkan milik keponakannya yang sayangnya sangat cantik itu.
"Tapi tidak harus melemparkan dokumen itu, kan?"
"Karena wajahmu itu sangat menjengkelkan dan minta di hajar."
"Hiks... Paman sangat tega pada gadis cantik yang sangat malang ini, hiks..." Leona memasang wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin sambil menangis bombay yang sukses membuat Jim ketar ketir ingin mencekik gadis itu jika saja bukan keponakannya.
'Uhuk!' Mereka tersedak ludah sendiri saat melihat perdebatan Leona dengan Jim. Astaga, apakah Leona yang mereka kenal memang seperti ini? Mereka melirik ke arah pelayan yang hanya menatap mereka dengan datar.
Sementara beberapa pelayan yang berada di sana hanya bisa menonton perdebatan konyol mereka dalam diam.
"Leona-sama, ekspresi Anda terlihat seperti minta dipukul." Celetuk Kazuma yang sukses membuat Leona menghentikan aktingnya dan memelototi pemuda itu.
Keempat pria itu menganga tak percaya saat mendengar perkataan Kazuma. Astaga, butler itu terlalu blak-blakkan.
"Diam, kau Kazuma! Atau aku akan menghancurkan semua stok madumu!" Ancam Leona.
Kazuma tersenyum manis dan membungkuk sopan. "Saya telah berhasil menyelamatkan mereka sebelum Anda menghancurkannya, Leona-sama."
__ADS_1
Seketika wajah Leona memerah menahan kesal. Dia menghampiri Kazuma dan memiting kepala pemuda itu dengan gemas. Tangannya menjambak rambut pemuda itu yang sukses membuat sang empu meringis kesakitan.
"Kau benar-benar kurang ajar, Kazuma!!"
Yang lainnya hanya bisa menghela nafas saat melihat Kazuma disiksa oleh Leona dan berharap Kazuma bisa tenang di alam sana.
Dan keempat pria itu hanya menonton pertengkaran konyol sambil menyomot hidangan yang disajikan. Jika biasanya majikan menyiksa pelayan dengan kejam seperti mencambuk atau memukul, tetapi Leona hanya menjambak pemuda itu sambil memiting lehernya. Tidak ada kemarahan yang tercetak di wajah Leona selain kesal dan jengkel.
"Maaf atas ketidaksopanan Leona. Dia memang seperti itu, haha..." Jim hanya bisa tertawa canggung kepada keempat tamunya yang hanya dibalas dengan senyuman kikuk dari mereka berempat.
"Pemandangan ini sudah biasa terjadi, Tuan. Jadi kami sudah biasa melihat pemandangan ini." Terang Ken sambil menatap Kazuma yang masih disiksa oleh Leona.
"Tadi aku mendengar kalian memanggil Leona dan tuan Baron dengan sebutan sama. Kenapa tidak memanggilnya dengan nona dan tuan?" Tanya Wei Tao.
"Itu peraturan dari Leona-sama. Dia tidak suka dipanggil nona, lady atau apapun. Beliau menjelaskan jika memanggil dengan embel-embel '-sama' sama dengan memanggilnya nona, begitupun untuk Jim-sama." Jelas Arelle membuat mereka menganggukkan kepalanya kompak.
💠💠ðŸ’
Leona mengajak Carl, Iven, Wei Tak dan Eura berkeliling desa sambil menikmati keindahan nya yang membuat siapapun berdecak kagum. Mereka juga baru mengetahui jika Leona adalah pemimpin desa ini dan orang yang mengusulkan penataan desa. Astaga, gadis ini sangat luar biasa yang membuat mereka berdecak kagum sekaligus segan.
Setelah seminggu liburan di Bloom Mist, kini mereka berpamitan dan kembali ke akademi. Leona kembali mengajak Kei dan Kaze untuk menjalankan misi. Alasannya sangat simpel, Kei yang pendiam dan bisa berpikir kritis yang tidak membuat emosi Leona mendidih serta Kaze yang cocok untuk memata-matai karena dia seekor tupai serta mudah dibujuk. Asalkan ada biji-bijian kualitas premium.
Bahkan pelayan dan butler di kediaman Calisius memiliki bahasa yang membuat mereka melongo. Bagaimana tidak, mereka berani mengumpat di depan sang majikan bahkan mencaci dan menegur atasan mereka dengan tegas. Oh!
"Aku tidak menyangka kau ternyata tidak bisa bersikap seperti bangsawan." Celetuk Eura.
"Aku malas bertingkah seperti itu. Itu membuat ku tidak nyaman." Sahut Leona cuek.
"Jika kau bertingkah seperti itu, kau tidak akan dilirik oleh pria manapun, loh." Goda Carl yang membuat ketiga pemuda menahan tawanya.
Leona lebih mirip seperti laki-laki pembuat onar. Jika dia memiliki pacar, entah seperti apa jadinya. Membayangkan hal itu saja membuat mereka bertiga mati-matian menahan tawa.
"Bodo amat. Jika Guru khawatir tidak ada yang menyukai ku, kenapa bukan Guru saja yang mencari pasangan? Umurmu sudah tua, loh." Balas Leona tajam.
'Jleb'
__ADS_1
Perkataan Leona seakan menusuk hati Carl. Meskipun Carl memiliki paras tampan rupawan dan adik seorang Grand Duke, dia belum memiliki kekasih karena selalu berkecimpung dalam perang. Dia bahkan tidak memiliki kisah romansa dalam hidupnya.
"Aku tidak pernah melihat Guru Carl mendekati seorang gadis. Apakah Guru kelainan seksual?" Tanya Wei Tao yang berhasil membuat Carl pundung di bawah pohon.
"Sudah, jangan dibahas. Mungkin dia memiliki masa lalu yang kelam seperti dicampakkan." Tebak Iven yang sukses membuat Carl merasa ingin mengubur keempat setan didiknya itu.
💠💠ðŸ’
Keheningan menyelimuti kereta yang ditumpangi Emillio dan Iris. Tidak lagi ada percakapan diantara keduanya sejak Emillio mendengar Iris ingin membunuh Leona.
Emillio memilih menatap pemandangan yang berada di luar kereta dengan tatapan menerawang, mengabaikan keberadaan Iris yang kini hanya menundukkan kepalanya canggung.
Sejak hari itu hubungan keduanya memburuk. Emillio tidak lagi peduli dengan Iris sekeras apapun gadis itu mencoba mendekati Emillio.
Sementara Emillio masih terngiang-ngiang dengan perkataan salah satu prajurit yang mengatakan Leona berlatih hingga sekarat dan memaksakan diri. Dia saja tidak pernah berlatih dengan sangat keras seperti Leona.
Apalagi saat melihat Leona dengan mudahnya mengalahkan Carl yang terkenal kuat dan ganas di medan perang. Belum lagi bagaimana dengan lincah dan tangkasnya gadis itu melompati pepohonan dengan mudah yang dirinya sendiri tidak bisa melakukannya.
Sementara Calvian hanya bisa menatap paviliun Lotus dengan ekspresi sedih. Meskipun Leona menginap disini selama beberapa hari, tetapi dia tidak pernah bertegur sapa maupun berbincang dengannya. Bahkan gadis itu memilih bersama teman-teman nya, berlatih hingga melewatkan jam makan malam dan berakhir makan malam bersama prajurit di belakang.
Dia sering mengintip Leona yang tampak dekat dengan Arthur daripada dirinya. Sudah berapa lama dia mengabaikan Leona dan melupakan keberadaan gadis itu yang notabene anaknya sendiri?
Belum lagi interaksi Leona dengan Carl yang membuatnya menahan iri. Leona bahkan begitu terbuka dengan pria itu daripada dirinya maupun Emillio yang notabene keluarga kandung gadis itu.
Calvian tidak memiliki kenangan tentang Leona setelah istrinya meninggal, selain kenangan masa kecil gadis itu ketika istrinya masih hidup.
Calvian hanya bisa berharap suatu hari nanti belenggu kesalahpahaman ini segera berakhir. Suatu hari nanti artefak milik raja Grambiel berhasil di temukan dan membebaskan para Duke yang berada di bawah kekangan artefak milik raja Grambiel.
"Tuan, Anda mendapatkan undangan dari pihak kerajaan." Ucap Harres sambil menyerahkan sebuah surat yang berisi stempel kerajaan.
"Aku akan memeriksa nya nanti." Sahut Calvian tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Jika Anda ingin meluruskan kesalahpahaman ini, sebaiknya Anda mengirim surat untuk nona Leona." Harres mencoba memberi saran.
Calvian melirik pria itu sejenak dan menghembuskan nafasnya frustasi. "Aku akan mencobanya."
__ADS_1
Calvian ingin sekali tali kekang yang mengendalikannya lepas dari tubuhnya agar dirinya bisa bebas. Dia berharap ada cara untuk melepaskan tali kekang raja.
Dia tidak ingin menjadi anjing kerajaan, dimana dia di paksa untuk menghabisi orang-orang yang menyinggung permaisurinya.