
"Wah~ Kau benar-benar cantik, Iven." Puji Eura saat melihat bagaimana sahabatnya menjelma menjadi sosok 'perempuan' yang cantik jelita.
"Kau benar, Eura. Dia menjadi dua kali lipat lebih cantik dari yang ku duga." Imbuh Leona sambil menatap Iven dengan takjub. Matanya berbinar cerah melihat hasil karyanya sendiri.
"Sialan kalian! Kalian benar-benar kejam!" Iven hanya bisa merutuk dan mengeluarkan umpatan pada keempat sahabatnya.
Iven, pria tampan berambut hijau pendek kini berubah menjadi 'gadis' cantik paripurna dengan rambut hijau panjang. Tidak lupa dengan pulasan make up character yang membuat penampilan pria itu berubah total.
"Karena tubuhmu itu tidak kekar-kekar amat, jadi kau cocok lah menyamar sebagai perempuan. Jika aku menunjuk Wei Tao atau Eura, yang ada mereka akan ketahuan karena tubuh mereka itu cukup kekar." Leona mencoba memberi alasan yang masuk akal.
"Kau benar sahabatnya yang paling lucknut yang pernah aku punya. Aku jadi menyesal telah memendam rasa padamu." Ujar Iven ketus.
"Wahh~ Benarkah?" Ucap Leona dengan memasang wajah terkejut, tidak lupa kedua tangannya menutup mulut. Yang entah mengapa terlihat begitu menjengkelkan.
"Tapi sayangnya, aku tidak tertarik, tuh. Aku lebih suka kebebasan daripada terikat dalam sebuah hubungan yang menyebalkan." Sahutnya dengan memasang ekspresi tengil.
Yang entah mengapa ucapan Leona seakan menolak perasaan keempat pria itu.
Leona kini menatap Khalix yang telah dia sulap menjadi salah satu karakter anime favoritnya lebih dulu dengan tatapan puas.
"Dengan begini, tidak ada yang menyadari wajahmu, Pangeran." Ucap Leona sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Berhenti memanggilku dengan embel-embel menyebalkan seperti itu, Leona." Ucap Khalix kesal yang malah dibalas dengan tawa yang entah mengapa terdengar menjengkelkan.
"Baiklah. Tugas kalian cukup gampang. Iven, kau goda putra mahkota. Dan kau, goda putri Cosette."
Khalix membayangkan dirinya menggoda putri kesayangan raja yang dulu pernah membuatnya tersiksa. Entah mengapa dia merasa telinga dan hidungnya mengeluarkan darah membayangkan hal itu.
"Entah mengapa membayangkan aku merayunya dan dia tertarik dengan tampangku membuat organ tubuhku ingin keluar." Umpat Khalix dengan memasang wajah jijik yang kentara.
"Membayangkan menggoda putra mahkota sialan itu membuat aku ingin mati detik ini juga. Dan aku masih normal!" Imbuh Iven dengan berteriak. Tidak lupa memasang wajah enggan sekaligus jijik yang kentara.
"Jika kalian berhasil menggoda mereka, aku akan memberikan dua kantong koin emas sekaligus elixir tingkat tinggi, bagaimana?" Tawar Leona sambil mengeluarkan empat kantong besar yang penuh dengan koin emas dan dua kantong besar elixir berbagai warna dengan kualitas terbaik, membuat kedua pria itu meneteskan air liurnya.
"Baik! Siap laksanakan!"
💠💠💠💠ðŸ’
Iven hanya bisa menangis dalam hati saat melihat tatapan putra mahkota Casian yang menatap lapar padanya. Pantas saja Leona sering menolak banyak pria dengan kejam, dia saja yang menyamar menjadi perempuan merinding ngeri melihat tatapan itu.
Iven hanya bisa mengumpat dan menyumpah serapahi pria di hadapan nya ini dalam hati. Serta menahan mual dan jijik agar tidak mengeluarkan isi perutnya di wajah pria cabul di hadapannya.
"Nona, aku belum pernah melihat wanita secantik dirimu." Casian mulai melancarkan gombalannya.
Iven tersenyum manis hingga matanya tertutup sempurna. Lain di wajah lain di hati. Dan diam-diam pria yang menyamar menjadi perempuan cantik ini menahan emosi untuk tidak melayangkan tinju ke wajah pria di hadapannya ini, serta menahan rasa jijik dan mual.
'Bangsad telingaku!' Maki Iven dalam hati sambil menahan sesuatu yang mendesak keluar dari perutnya.
"Ah, benarkah? Terimakasih." Sahut Iven dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan perempuan.
__ADS_1
'Aku ingin menjadikan dirimu sebagai salah satu patung tanah liat ku, sialan!' Batin Iven sambil menahan senyumannya.
Lalu dia tak sengaja melihat ke arah pagar mawar. Di sana dia melihat Leona bersama dua pria siluman nya mengintip sambil menahan tawa. Ingatkan Iven untuk menghajar gadis itu nanti.
Leona mengangkat sebuah papan yang di dapat entah dari mana yang berisi sebuah tulisan 'Sa-saya juga pertama kali bertemu dengan putra mahkota yang terkenal hebat dan jenius yang berasal dari kerajaan Seanthuria.' Dan dengan tambahan 'Ucapkan dengan malu-malu dan lihat ekspresi nya.'
Dan refleks Iven membaca tulisan itu sambil menahan jijik.
Dia melihat putra mahkota Casian yang menatapnya dengan wajah merona. Pria itu berfikir jika wanita di hadapan nya sangat menarik. Lihatlah cara memuji wanita di hadapannya yang seperti menahan kesal, dan itu membuatnya tertantang.
Kiara yang tak sengaja melihat Leona bersama Kei dan Ken tengah mengintip sesuatu memutuskan menghampiri sahabatnya. Dia mengikuti arah pandang mereka dan melihat putra mahkota Casian tengah berbincang dengan seorang gadis.
"Kau mengintip siapa?" Tanya Kiara penasaran.
"Iven. Gadis berambut hijau itu adalah Iven." Sahut Leona tanpa mengalihkan pandangannya.
Kiara memperhatikan dengan seksama. Benar, dia adalah Iven. Terlihat jelas sedikit otot lengannya di balik lengan gaun itu.
Kiara mengambil papan yang di pegang oleh Leona lalu menuliskan sesuatu. Dia memberi sebuah kode pada Iven sambil tersenyum jahil.
Iven yang mengetahui kode itu menoleh ke arah pagar taman istana dan melihat Kiara berdiri sambil memegang papan yang berisi tulisan, 'Bagaimana jika kita kencan dengan sepuluh permata kualitas terbaik perjamnya?'
Iven mengedipkan matanya tak percaya.
"Apakah dia berniat menjual ku? Sialan kalian." Batin Iven dalam hati dengan geram.
Tanpa di duga, Casian mencium punggung tangan Iven yang sukses membuat pria itu merinding ngeri. Dia melihat tatapan pria itu yang sedikit aneh dan penuh nafsu.
Iven melirik ke arah Leona dan mendapati Kei berdiri dengan sebuah papan yang bertuliskan, 'Tunjukan belalai Anda, Tuan.' dan anggukan persetujuan dari Leona.
"Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa sembarangan berkencan dengan seseorang yang memiliki status lebih tinggi dari saya. Apalagi orang yang telah bertunangan. Saya hanyalah rakyat jelata yang kebetulan bekerja di sini." Tolak Iven dengan nada yang di buat mirip perempuan.
Iven yang tidak tahan dengan pria ini memilih undur diri. Dia membuat alasan ingin bertemu dengan sang kakak yang bekerja sebagai ksatria di istana ini. Tanpa menunggu persetujuan Casian, Iven bergegas pergi begitu saja.
Casian yang penasaran dengan kepergian Iven memutuskan untuk membuntuti 'gadis' itu. Matanya memicing tajam saat melihat 'gadis' itu memasuki salah satu bilik toilet laki-laki.
Dia mendengar suara laki-laki di dalam bilik kamar mandi dan memutuskan mendobraknya. Seketika tatapan mereka bertemu.
Suara gemericik air kecil menyapa pendengaran nya dengan jelas. Dia melihat kearah asal suara itu dan seketika matanya melotot nyaris melompat dari rongga nya.
Gadis di hadapan nya memiliki batang.
Ditatap lebih teliti lagi, dia melihat jakun di leher nya.
Lengan kekar sedikit berotot. Tidak seperti pria kebanyakan yang membuat Casian menatapnya tak percaya.
"Kenapa kau mengikuti ku, sialan?!"
Suaranya terdengar seperti laki-laki.
__ADS_1
"Beraninya kau menipu putra mahkota kerajaan Seanthuria!" Geram Casian tak terima.
"Siapa yang menipu Anda, Yang Mulia? Saya kalah taruhan dari rekan sesama prajurit. Saat saya sedang duduk di gazebo untuk bertemu dengan teman saya, Anda malah datang menggoda saya." Jawab Iven santai.
"Lagipula, ini bukan wilayah kerajaan Seanthuria, Yang Mulia. Ini adalah wilayah kekaisaran Kamitsuki. Baginda kaisar juga tau taruhan ini."
Casian yang malu luar biasa memilih pergi dari sana. Bisa-bisanya dia tertipu dengan penampilannya yang terlihat begitu sempurna.
Seperti seorang suami yang di penuhi penyesalan saat melihat mantan istrinya bahagia dengan suami barunya, Casian segera pergi meninggalkan toilet dengan lunglai.
Sementara ditempat lain, Leona, Kiara, Kei, Ken setra beberapa pelayan dan prajurit yang melihat itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka jika rencananya berhasil.
💠💠💠💠ðŸ’
Cosette menatap pasangan kekasih di hadapannya dengan tatapan menilai. Saat ini Cosette berada di restoran yang terletak di kekaisaran Kamitsuki.
"Jadi kau adalah calon tunangan sepupuku?" Tanya Khalix dengan dingin. Dia menatap Cosette dengan angkuh.
"Benar, Tuan." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Khalix dan Iven menahan mual melihat senyuman itu.
"Aku ada hadiah untukmu." Ucap Iven sambil menyerahkan sebuah peralatan make up dengan ukuran yang sangat indah. Terdapat beberapa susunan permata yang menjadi hiasannya.
"Ini adalah hadiah dari Kaisar Ein, Nona." Ucap Iven dengan suara yang di buat seperti perempuan. Cosette yang melihat kotak make up itu menatapnya dengan mata bersinar. Permata itu merupakan permata langka yang sangat mahal.
"Terimakasih, Nona." Ucapnya dengan nada riang.
Cosette membuka kotak make up itu yang ternyata isinya bedak padat dan dilengkapi dengan cermin.
"Kau bisa memperbaiki penampilanmu tanpa harus membawa kotak riasan yang berat. Ini sangat mudah di gunakan." Jelas Iven dengan nada yang di buat seperti perempuan.
Iven dan Khalix tersenyum miring. Itu adalah bedak yang beracun buatan Leona. Tidak membunuh, namun dapat merusak kulit jika digunakan selama tiga bulan. Dan beruntungnya Leona menjelaskan bedak itu pada Iven agar Cosette main menerima nya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu."
"Baik. Terimakasih."
"Akhirnya misi kita selesai." Ucap Iven dengan suara normal.
"Aku ingin muntah."
"Aku juga."
"Aku tak menduga jika putra mahkota Seanthuria itu suka berkencan dengan sembarangan wanita. Padahal dia sudah memiliki tunangan."
"Dan kau nyaris menjadi targetnya. Untungnya dia mengikutimu dan melihat burung puyuh milikmu, hahaha..." Khalix tertawa terpingkal-pingkal.
"Berisik!"
__ADS_1
Iven menyesal telah menyetujui ide gila Leona. Astaga, sahabatnya itu benar-benar lucknut.