Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 90


__ADS_3

Sebuah bangunan di salah satu istana hancur lebur menjadi puing-puing. Terlihat sekumpulan orang terkapar tak berdaya. Mereka merupakan bangsawan kerajaan dan menara sihir yang ikut membantu mengalahkan raja kegelapan.


Sayangnya keadaan mereka tidak baik-baik saja. Mereka kehabisan mana dan beberapa diantaranya terluka parah yang membuat Kiara dan Kaze sedikit kewalahan.


Sementara Iris? Dia tidak tau harus berbuat apa selain cosplay menjadi patung. Diam dan menonton pertarungan dan kepanikan orang-orang dalam keterpakuannya. Bahkan dia hanya bisa mengepalkan tangannya saat melihat bagaimana lihai seseorang yang mirip dengan Leona bertarung dengan raja kegelapan.


Leona memilih bersembunyi mengamati pergerakan raja kegelapan, sementara Jim tengah berusaha melawan raja itu dengan magic marker miliknya di bantu oleh siluman yang ikut dengan mereka.


Pertarungan yang sengit berhasil membuat Lux merasa bangga meskipun tubuhnya kelelahan. Leona menyeringai dalam hati saat melihat sebuah celah. Gadis itu mengeluarkan sebuah jarum kecil berbahan kristal dan dicampur sedikit elemen sihir lalu di lesatkan kearah pria yang sibuk dengan sang paman.


'Ctass'


'Psshhh'


"Aaarrrggghh!" Teriak Lux kesakitan saat kulitnya terkenal jarum kristal berlapis petir milik Leona. Terlihat lukanya tidak beregenerasi yang sukses membuat Leona tersenyum bahagia. Dia juga melakukan dance dalam khayalan miliknya jika saja saat ini bukan saat genting.


"Hohoho... Buku itu sangat membantu." Batinnya senang. Lalu sebuah ide jahil muncul di kepala gadis itu dan dia senyum-senyum sendiri.


💠💠💠💠


Khalix dan raja kegelapan tengah sibuk beradu pedang. Bahkan Eura yang kini babak belur juga tak ingin ketinggalan melawan raja itu.


Sementara yang lainnya berusaha bangkit, beberapa ada yang cedera bahkan terluka parah yang sukses membuat Kaze dan Kiara kewalahan.


"Hei, Nona!! Jangan cosplay menjadi patung, bodoh!! Apa kau tidak melihat banyak orang yang terluka? Katanya kau pemilik sihir cahaya, tapi apakah itu hanya bualan saja?" Cerca Kiara penuh emosi.


"Bagaimana bisa kerajaan ini memiliki putri Mahkota tidak kompeten seperti ini? Bagaimana jika dia menjadi ratu di masa depan? Mungkin banyak rakyat yang mati karena kebanyakan bengong." Kaze memaki dengan nada menyindir.


Iris yang merasa tersinggung segera mengeluarkan sihir cahaya penyembuh. Setelah itu dia menatap dua gadis yang menghinanya dengan sedih. Bahkan dia mulai menangis untuk menarik simpati beberapa orang yang berada di sana, yang justru mendapat banyak kecaman.


Beralih ke pertarungan..


Emillio, Calvian beserta beberapa Ksatria dan penyihir hanya mampu menatap pertarungan itu dari kejauhan dengan kagum sekaligus malu.


Mereka semua kelelahan dan kehabisan mana, namun kelima orang itu tengah santai bertarung yang justru terlihat seperti orang menari.


"Mereka benar-benar monster." Komentar duke Spedarrow menonton pertarungan itu.


"Benar-benar mengerikan."


Bahkan mereka melihat Jim yang kini bertelanjang dada tengah mengeluarkan magic marker yang dianggap remeh. Belum lagi Iven yang melancarkan sihir tanah tingkat tinggi yang membuat mereka terpaku.


Sementara Leona terlihat mengorek-orek sesuatu di atas tanah. Bahkan kini mereka mengiring Lux ke arah gadis itu.


Begitu Lux menginjak tempat yang sama dengan Leona, seketika sebuah sinar muncul di bawah kaki raja kegelapan itu. Sementara Leona, Khalix, Carl, dan Eura segera menjauhi tempat itu.


'Duarr'


Ledakan besar dengan efek kejut membuat beberapa orang terpental beberapa meter. Debu dan asap membumbung tinggi dan tebal membuat orang-orang menutup wajahnya dengan tangan.


Setelah debu dan asap memudar, terlihat sebuah lingkaran sedalam dua meter dengan Lux yang terengah-engah dengan sebuah sihir pertahanan melapisi tubuhnya.


Pria yang memiliki sihir hampir tak terbatas itu hanya bisa menggeram marah. Dia menatap Leona dengan tajam lalu mengumpulkan mananya.


"Sudah cukup permainannya, Gadis Kecil! Sekarang terimalah kematianmu!" Raungnya marah lalu menghempaskan kumpulan mana yang berhasil dia kumpulkan.


'Wuuussshhh'

__ADS_1


'Duaarrr'


Sebuah ledakan cukup kuat berhasil mementalkan Leona yang berdiri paling dekat dengan Lux hingga terlempar beberapa meter sebelum menabrak pepohonan dan kehilangan kesadaran.


💠💠💠💠💠


"Kau akhirnya menghampiri ku." Ucap seorang pria tampan dengan mata keemasan yang indah. Rambut emas yang berkilau tertimpa sinar matahari dan wajah yang indah.


"Siapa?"


"Kau tidak perlu tau, jiwa asing. Atau aku katakan, jiwa yang terpecah?" Ucap pria itu dengan nada bertanya.


Leona kebingungan dengan perkataan pria di hadapannya itu. Apa maksudnya dengan jiwa yang terpecah?


"Kau tidak perlu tau. Tapi aku ingin kau menghentikan Lux dan kegilaannya." Ucap pria itu.


"Ya?"


"Hentikan Lux. Dia adalah buronan dari para dewa. Dia si brengsek yang meresahkan jagat."


"Meresahkan jagat?" Beo Leona tak mengerti.


Sosok itu menghembuskan nafas lelah, "Ya. Dia telah menculik dan melecehkan banyak dewa tampan. Sekarang dia berhasil lepas dari segelnya. Jadi tolong hentikan dia. Kristal berlapis petir adalah kelemahannya."


"Oh."


Sosok itu berkedut kesal. Dia menjelaskan panjang lebar dan hanya di jawab dengan singkat? Oh saja? Astaga! Pria itu sedang di uji kesabarannya.


Pria itu menyentil kening Leona gemas hingga gadis itu terpental dalam sebuah kegelapan.


"Leona-sama! Syukurlah!" Pekiknya lega.


"Ukh... Ken?"


"Ya, Leona-sama."


"Berapa lama aku pingsan?"


"Satu jam, Leona-sama. Apakah Anda baik-baik saja?" Tanya pria siluman itu dan membantu Leona duduk.


Leona meringis kesakitan dan hendak tumbang. Ken yang peka menjadikan dirinya sebagai sandaran gadis itu.


Leona menyandarkan tubuhnya pada pria siluman harimau itu dan mengeluarkan chakra hijaunya untuk mengecek luka yang di deritanya. Setelah memastikan tidak mendapat luka yang serius, dia memutuskan untuk bangun dengan di bantu oleh Ken.


Leona merapalkan sebuah segel tangan lalu mengeluarkan sebuah jurus.


'Elemen es: jarum es!' Batinnya dan melayangkan hujan jarum es kearah Lux.


Pria itu segera mengeluarkan sihir pertahanannya, memantulkan jarum es itu. Tak kehilangan akal, Leona memutuskan membuat tombak kristal dengan aliran petir di dalamnya.


Mereka saling mengadu kekuatan. Sihir dan chakra beradu dengan dahsyat. Leona beberapa kali mengeluarkan jurus terkuatnya bersamaan dengan rantai chakra yang sesekali membantu menyerang Lux.


Beberapa bangsawan terperangah melihat kemampuan Leona, bahkan Calvian dan Emillio hanya bisa terkejut dengan kemampuan gadis itu.


Teknik yang sangat besar tanpa menggumamkan mantra panjang, sangat hebat dan kuat.


Lalu turun hujan kelopak bunga yang membuat Lux menatap remeh. Leona menyadari hal itu hanya menyeringai.

__ADS_1


Kelopak bunga itu berputar layaknya shuriken dan menggores lengan pria itu. Segera Lux menghalau kelopak bunga itu dengan sihirnya.


Sebuah pedang menusuk Leona hingga menembus punggungnya. Lux merasa senang sesaat mengira dia telah berhasil membunuh Leona. Kejadian itu membuat beberapa orang memekik histeris.


"Leona!"


'Wusshh'


Tubuh Leona perlahan hancur dan membentuk banyak kelopak bunga sebelum akhirnya tubuh itu hancur dengan membentuk kelopak bunga yang memenuhi area itu.


Semua orang terperangah dengan jurus milik Leona. Bahkan penyihir kerajaan tidak mampu mengubah tubuhnya menjadi seperti itu.


Kelopak bunga yang berserakan di udara perlahan menyatu dan membentuk sesosok manusia setengah badan. Lalu muncul Leona dengan wajah terbelah dengan beberapa kelopak bunga bertebaran di sekelilingnya.


"Hai, Dewa pecinta sesama jenis. Apakah kau mau berpesta denganku?"


💠💠💠💠


Leona menatap Lux dengan tatapan menggoda, sementara pria itu menatap gadis itu dengan dingin.


Tanpa aba-aba, Lux merangsek menyerang Leona yang mengambang dengan sihirnya dan dengan santai gadis itu menghindarinya. Serangan Lux berhasil menghancurkan sebuah tembok istana yang berada cukup jauh dari pertarungan mereka.


"Wah! Sihirnya benar-benar luar biasa. Tapi kok belok, ya? Aku berdiri di sini, serangannya nyasar di sana. Lalalala..." Leona menatap takjub hasil serangan sihir Lux, tidak lupa bersenandung ala lagu Doraemon di akhir perkataannya.


Jim, kaisar Ein dan rekannya hanya bisa tepuk jidat. Masih sempat nya gadis itu bernyanyi saat nyawanya terancam.


"Kenapa aku memiliki nona yang begini~!!" Tangis beberapa siluman yang berada di sana.


Sebuah serangan yang cukup kuat kembali mengarah kearah Leona. Namun kembali di hindarinya dengan mudah. Bahkan Leona sempat-sempatnya menguap dan menari sambil turun setelah tubuhnya terbentuk sempurna.


"Mati kau!!"


Lux yang merasa emosi luar biasa karena di ejek oleh Leona memutuskan menyerang gadis itu dari dekat, mengabaikan instingnya yang menjerit memperingati bahaya yang mengancam.


'Jleb'


Tubuh Lux tertusuk tombak kristal yang berisi aliran petir. Tubuh pria itu perlahan mengeluarkan asap. Dia memuntahkan seteguk darah hitam yang membasahi pundak Leona.


Leona mencabut tombak yang menusuk tubuh Lux, membuat pria itu terhuyung mundur.


"Bunuh aku, Nona."


"Kau yakin?"


"Ya. Aku sudah menderita patah hati yang mengerikan. Jadi tolong bunuh aku."


"Baiklah. Semoga kau bisa menjalani kehidupan yang lebih baik di kehidupan yang mendatang." Doa Leona tulus.


Leona merapalkan beberapa segel tangan. Lalu muncul elemen petir dan kristal secara bersamaan yang mengurung Lux.


Lux menjerit kesakitan dan tubuh pria itu hancur menjadi butiran debu.


Sorak sorai terdengar memenuhi area itu. Leona yang merasa lelah, lemah dan pusing karena kehabisan chakra perlahan ambruk. Beruntung Jim berhasil menahan tubuh keponakannya dan tersenyum bangga.


"Kau benar-benar luar biasa, Leona." Puji nya tulus.


"Terimakasih, Paman." Lalu kelopak mata Leona perlahan menutup.

__ADS_1


__ADS_2