
"Kau memiliki murid yang luar biasa, Carl." Puji Grand Duke Markian yang merupakan kakak dari Carl. Mereka berjalan di lorong istana menuju tempat latihan prajurit.
"Terimakasih." Sahut Carl dengan senyum lebar, dalam hati dia menjerit, 'Anda tidak tau bagaimana tingkah mereka yang sebenarnya.'
Markian Hyoon Woo, pria berusia pertengahan tiga puluh tahunan yang merupakan seorang Grand Duke sekaligus tangan kanan kaisar, menatap sang adik yang sangat jarang dijumpainya.
"Dimana keempat muridmu?" Tanya Markian saat tak mendapati keempat remaja yang membuatnya kagum itu.
"Entahlah. Sepertinya mereka ke tempat latihan. Sebaiknya aku harus kesana." Pamitnya dan segera pergi dari sana dengan tergesa-gesa diikuti oleh Markian. Begitu tiba di tempat latihan, seketika jantungnya ingin copot melihat pemandangan yang terpampang indah di depannya, mata emas kemerahan pria itu nyaris melompat saat melihat aksi keempat anak setan itu.
Bagaimana tidak, keempat muridnya tengah asik balap kuda tanpa pengaman. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya, tetapi tingkah ajaib mereka yang di luar nalar kewarasannya.
Iven dan Wei Tao memacu kuda mereka dengan kecepatan tinggi sambil rebahan di atas punggung kuda, sementara Leona dan Eura tampak asik memekik kegirangan di belakang kuda yang berpacu cepat sambil berseluncur ria dengan sebuah papan yang didapat entah dari mana.
Teriakan histeris pelayan dan sorak sorai prajurit menjadi musik latar belakang atraksi mereka. Markian yang melihat pemandangan itu hanya bisa melongo tak percaya. Bagaimana mereka bisa sesantai begitu? Rebahan di atas punggung kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi dan dua lainnya memegang tali yang di tarik oleh kuda itu sambil berseluncur. Astaga!
Dia melirik sang adik yang kini tengah memijit pelipisnya, sepertinya Carl sakit kepala dengan tingkah ajaib mereka. Dia ingin tertawa tapi takut dosa.
"Astaga, mereka selalu membuat ku sakit kepala." Gerutu Carl pasrah.
"Apa mereka selalu seperti itu?" Tanya Markian penasaran.
"Bisa dibilang seperti itu. Mereka bahkan bisa lebih parah dari ini."
Markian diam. Dia menatap Carl dengan senyum mengejek di wajahnya. Adiknya itu terlihat seperti seorang ayah tunggal yang mengurus anak kembar empat yang begitu aktif. Namun sayangnya anak kembar ini versi dewasa.
💠💠💠ðŸ’
Suara derap kaki kuda terdengar bergemuruh memecah kesunyian hutan yang rimbun. Kini mereka mulai mempersiapkan penyerangan pemberontak dengan kaisar Ein sendiri yang langsung memimpin penyerangan.
Mereka tiba di tempat yang berjarak tiga kilometer dari markas pemberontak dan mendirikan tenda untuk berkemah. Leona, Iven, Wei Tao dan Eura sendiri memilih berkeliaran sesuka hati, enggan ikut bergabung bersama para bangsawan dan prajurit yang sibuk mendirikan tenda.
Mereka berempat segera memasuki hutan. Iven dan Leona memilih berburu mencari makanan, sementara Wei Tao dan Eura mencari buah-buahan.
Tak lama kemudian, Leona kembali sambil memanggul seekor rusa yang telah di bersihkan sementara Iven membawa beberapa kelinci yang juga telah di bersihkan. Leona memutuskan memasak makan malam untuk mereka.
"Bukankah ini terlalu banyak untuk kita?" Tanya Eura yang baru datang dari hutan dengan membawa dua keranjang buah-buahan.
"Kita bisa menyimpannya nanti untuk cadangan besok." Balas Leona cuek sambil membumbui daging-daging itu lalu memasaknya.
__ADS_1
Beberapa ada yang di panggang, dan sisanya di buat sup. Aroma harum daging panggang membuat perut mereka berbunyi minta diisi.
Carl yang melihat keempat muridnya yang sedang sibuk memasak memutuskan menghampiri mereka.
"Wah~ Kalian disini rupanya."
Mereka berempat menoleh kearah Carl secara serentak. Pria itu duduk di sebelah Leona yang sibuk membolak-balikan daging. Sementara Eura sibuk mengaduk sup.
"Oh, Guru. Anda mau bergabung bersama kami? Kami memasak lebih." Sahut Leona sopan. Tumben sekali gadis itu bersikap manis hari ini.
Masakan mereka telah matang dan Leona menyisakan dua buah daging matang serta dua mangkok sup kelinci, khawatir kedua silumannya datang tiba-tiba dan kelaparan. Dia tidak setega itu pada kedua siluman menggemaskannya.
Mereka segera makan bersama dan sisa makanan yang berlebihan di simpan oleh Carl di ruang penyimpanan miliknya. Dalam ruang penyimpanan, makanan tidak akan cepat basi dan kondisi makanan tetap terjaga.
💠💠💠ðŸ’
"Leona-sama, kami membawa laporan." Kei dan Kaze segera menghampiri Leona yang kini duduk di bawah sebuah pohon.
"Oh, kalian sudah datang." Ucap Leona sambil menyodorkan makanan kepada Kei dan Kaze. Mereka berdua menatap makanan itu lalu menatap Leona bergantian.
"Makanlah. Aku sengaja menyisakan ini untuk kalian."
Kei dan Kaze menerima makanan yang disodorkan dengan haru, "Terimakasih, Leona-sama."
Leona tersenyum tulus lalu meninggalkan kedua siluman itu yang kini mulai makan.
Leona menghampiri rekan setimnya dan memperlihatkan berkas yang dibawanya, "Aku telah mendapatkan informasi tentang mereka."
Mereka segera membaca berkas yang dibawa oleh Leona. Informasi itu sangat lengkap dan detail yang sukses membuat mereka berdecak kagum.
"Waw, aku tak menyangka mereka bisa memberi informasi sedetail ini." Puji Carl kagum disusul anggukan dari Eura, Wei Tao dan Iven.
"Guru, bagaimana jika kita memberi tau kaisar tentang informasi ini?"
Kini tim Devil bersama Kei dan Kaze berhadapan dengan kaisar Ein dan beberapa bangsawan yang ikut berpartisipasi dalam peperangan melawan para pemberontak.
"Kami membawa informasi terkait mereka, Baginda." Ucap Leona dan Kei langsung menyerahkan berkas yang di bawanya.
"Dia adalah Kei, siluman panther hitam dan dia adalah Kaze, siluman tupai. Mereka telah menyelinap ke dalam markas pemberontak dan mencari informasi atas perintah saya." Jelas Leona sambil memperkenalkan kedua silumannya yang kini berwujud manusia.
__ADS_1
Mereka yang berada di sana menatap Kei dan Kaze dengan berbagai macam ekspresi, ada yang menatap kaget dan sebagian besar menatap mereka dengan merendahkan. Namun Kei dan Kaze mengabaikan tatapan tersebut.
Kaisar Ein menerima berkas itu lalu membacanya. Seketika senyum puas tercetak di wajah tampannya lalu menatap Kei dan Kaze dengan tatapan tertarik, "Aku tak menduga laporan buatan siluman milikmu ini sangat akurat. Ini benar-benar bisa membantu kami untuk memberantas para pemberontak itu."
Kaisar lalu memperlihatkan dokumen itu kepada peserta rapat dan menyuruh mereka membacanya. Sukses mereka semua terdiam dan menatap mereka dengan tatapan tak percaya. Bangsa siluman yang sering dipandang rendah bisa membuat laporan akurat seperti ini?
Kasak kusuk mulai terdengar membuat kaisar Ein berdehem dan sukses membuat peserta rapat terdiam.
"Bangsa Orch, ya? Mereka bergerak lamban namun tenaganya sangat kuat. Cukup merepotkan jika kita melawan mereka tanpa persiapan." Carl angkat suara memecah keheningan.
"Guru, jika kita adu otot tanpa otak, mungkin kita akan kalah telak sebelum menyentuh pintu gerbang. Bagaimana jika kita menggunakan sedikit trik licik?" Ucap Leona sambil tersenyum miring.
"Jangan membuat masalah, Leona! Kau belum berpengalaman untuk terjun ke medan perang." Sentak Calvian sedikit emosi.
"Ho~? Aku tidak bilang ingin bernyanyi di depan markas musuh, Tuan Duke. Aku hanya bilang trik licik. Bahkan orang lemah dan orang bodoh bisa melakukannya tanpa sihir." Sinis Leona sambil bersedekap dada yang membuat seisi ruangan hening mendadak.
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Leona. Tapi aku rasa idemu ini patut di coba." Ucap Iven dan menatap Leona dengan berbinar.
"Apakah kau ingin membuat mereka terprovokasi lagi? Aku tidak sabar mengayunkan pedang!" Seru Eura bersemangat.
Kaisar Ein penasaran dengan pemikiran gadis itu. Entah mengapa dia merasa gadis itu cukup cerdik dalam menghadapi musuh.
"Kali ini apa rencanamu? Aku harap kau tidak membakar gerbang mereka atau menghancurkan gerbang mereka seorang diri." Cibir Wei Tao.
"Ayolah~ Aku tidak sekuat itu untuk maju sendirian," Ucap Leona sambil memutar matanya malas. "Aku hanya ingin membuat kembang api mewah di beberapa tempat."
"Apa rencana kalian?" Tanya kaisar Ein penasaran.
"Bagaimana jika kita membuat beberapa jebakan di beberapa tempat? Kita perlu mengiring beberapa dari mereka untuk masuk perangkap buatan kita dan membuat mereka terpencar." Ucap Leona.
"Bukankah itu memerlukan waktu yang lama?" Tanya Arch Duke Thedelson.
"Kami ini terkenal dengan pembuat onar, Tuan. Jadi untuk membuat jebakan adalah masalah kecil bagi kami." Ucap Wei Tao menyombongkan diri.
Tidak diragukan lagi, mereka memang pembuat onar yang terkenal di kerajaan Seanthuria. Banyak casino dan bar yang bangkrut akibat ulah mereka. Bahkan jika tak sengaja memprovokasi mereka, jangan harap bisa melihat matahari esok.
Di Akademi sendiri pun mereka sering kabur saat latihan stimulasi perang dan kembali dengan berlumuran darah dan beberapa luka lebam. Entah apa yang mereka lakukan di luaran sana.
Baik guru maupun teman seangkatan hanya bisa pasrah dengan keabsurdan mereka. Hanya Kiara yang sedikit jinak daripada mereka berempat.
__ADS_1
Namun tetap saja, mereka adalah pembuat onar yang bisa membuat siapapun ingin bunuh diri jika berdebat dengan mereka.