
'DUAARRR'
Suara ledakan itu terdengar sampai tempat pasukan Kekaisaran berkumpul membuat semua orang yang berada di tenda itu menghentikan kegiatan sejenak dan menatap ke arah asal ledakan itu.
Carl, Wei Tao dan Eura segera mengambil teropong dan melihat ke asal ledakan itu, begitupun dengan beberapa orang yang penasaran.
"Wah, aku tak menyangka banyak pasukan musuh yang terkapar di sana. Ledakannya benar-benar kuat." Ucap Eura kagum.
"Kau lupa, guru Carl yang terkenal sebagai panglima hebat saja terkena ledakan buatan Leona dengan telak." Balas Wei Tak sambil melirik ke arah Carl yang sibuk mengamati Leona dari kejauhan.
"Anak itu benar-benar..." Gerutu Carl sambil menghela nafas lelah.
"Itu masih normal, Guru. Dia bahkan bisa lebih gila dari ini." Balas Eura santai membayangkan tingkah Leona yang kadang membuatnya merinding.
Masih segar dalam ingatan pemuda itu saat Leona dengan santai masuk ke sarang monster seorang diri lalu mengobrak-abrik tempat itu hingga hancur lebur. Tidak lupa dengan tawa riang serta ekspresi kegirangan di wajah tengil yang sayangnya terlihat cantik itu.
"Bahkan dia terang-terangan menghancurkan sebuah markas bandit dalam sekejap. Aku yakin kali ini dia akan menghancurkan markas musuh dengan cara aneh lainnya." Balas Wei Tao sambil geleng-geleng kepala.
Sementara kaisar Ein melihat kegiatan Leona dan Iven dengan heboh sambil tersenyum senang.
"Ah, mereka berdua kandidat yang hebat. Bagaimana menurutmu, Arthem?" Tanya kaisar Ein pada Arthem yang juga ikut menatap ke arah asal suara ledakan itu.
Sementara Arthem hanya tersenyum kikuk. Leona dan temannya itu ahli dalam membuat masalah, sama seperti kaisar Ein. Bagaimana jadinya jika kaisar merekrut mereka sebagai ksatria? Bisa-bisa tempat yang semestinya digunakan untuk latihan akan menjadi tempat tontonan karena ulah mereka.
"Saya sependapat, Baginda."
Ein tersenyum tampan yang sukses membuat Arthem ingin menendang pria itu jika saja bukan kaisar.
"Segera siapkan pasukan. Kita akan menyerang markas mereka satu jam lagi!"
"Baik, Baginda!"
Disisi lain...
Leona, Khalix dan Kei tengah sibuk mencari beberapa buah-buahan dan tanaman obat sebelum sebuah pedang menyentuh leher mereka. Gadis itu segera berbalik dan menatap mereka dengan polos, tidak lupa dengan tatapan memelas layaknya anak kecil yang sukses membuat Kei dan Khalix ingin menjitak kepala gadis itu.
Leona terkekeh sejenak sebelum memulai rencananya.
"Tolong aku~" Ucap Leona dengan tatapan menyedihkan sambil mengangkat kedua tangannya, berharap beberapa ksatria itu luluh. Namun percuma saja, mereka malah menyeret Leona, Kei dan Khalix menuju ke sebuah tanah lapang.
Mereka bertiga di hempaskan begitu saja dengan keras membuat mereka meringis kesakitan.
Leona mendapati Iven dan beberapa prajurit yang untungnya menyamar dengan menggunakan pakaian sipil berkumpul di sana dengan beberapa ksatria menghunuskan pedang ke arah mereka.
"Siapa kalian dan apa yang kalian lakukan disini?!" Bentak seorang pria dengan menggunakan pakaian bangsawan. Sepertinya dia adalah pemimpin pasukan ini.
"Kami hanya warga sekitar yang mencari makanan di sekitar sini, Tuan." Sahut Leona dengan tatapan yang menyilaukan.
__ADS_1
Beruntung Leona memerintahkan beberapa prajurit yang ikut bersamanya untuk tetap tenang sehingga mereka tidak curiga.
Leona, Iven dan beberapa prajurit yang menyamar memberikan tatapan menyakinkan, membuat beberapa ksatria yang menangkap mereka melirik bangsawan itu.
"Bawa mereka. Sepertinya mereka hanya warga sipil dan pemburu yang kebetulan berada di sekitar sini. Mereka mungkin berguna nanti."
Segera ksatria itu menyeret Leona, Iven dan prajurit yang menyamar untuk ikut bersamanya. Diam-diam Leona menyeringai, apalagi sepanjang perjalanan mereka melihat banyak mayat berserakan dengan tubuh tak utuh.
💠💠💠ðŸ’
Leona dan rombongan kini tiba di markas musuh. Sepanjang perjalanan mereka di suguhkan dengan banyaknya bangsa Orch dan prajurit yang berlalu lalang, bahkan sesekali melirik ke arah Leona dengan tatapan melecehkan.
"Wah~ Tempat apa ini?" Leona celingak celinguk memperhatikan sekitar dengan norak. Sesekali dia menatap polos ke arah orang-orang yang berlalu lalang.
"Apakah orang-orang itu di tumbuhi lumut? Tubuh mereka hijau semua." Ucap Leona polos saat melihat sekumpulan Orch yang sedang duduk sambil minum.
Sontak Iven dan juga prajurit yang menyamar mati-matian menahan tawa.
"Jangan berisik, Nona." Tegur salah satu prajurit dengan geram.
Sementara para Orch yang mengapit mereka diam-diam menahan marah. Bangsa Orch memiliki tempramen yang sangat buruk, selain lambat dan terlihat bodoh, mereka juga cenderung kasar dan mudah marah.
"Maafkan aku." Sahut Leona penuh sesal laku melirik Khalix yang berjalan sedikit di belakangnya.
Begitu mereka berhenti di pintu gerbang, Leona menyikut perut Khalix dengan keras hingga membuat pemuda itu membungkuk menahan sakit.
"Ya ampun! Lukamu basah!" Paniknya yang sukses membuat ksatria itu mendekati Khalix yang membungkuk kesakitan. Saat ksatria itu memeriksa Khalix, terlihat perut pemuda itu telah basah oleh darah.
"Astaga, Kakak... Hiks... Bagaimana ini, hiks... Tolong buka ikatan tangan kakakku agar dia bisa menahan darahnya." Rengek Leona dengan mata memelas layaknya anak kucing.
Iven mati-matian menahan tawa saat melihat ekspresi Leona yang cemas, namun beruntung tidak ada yang menyadarinya.
Ksatria itu mengabaikan Khalix yang membungkuk kesakitan dan menyeret mereka menuju penjara kota. Seketika Leona mengumpat saat aksinya diabaikan oleh prajurit itu.
"Oh, ****."
💠💠ðŸ’
"Sial! Mereka benar-benar menyebalkan!" Geram Leona sambil menendang tembok dengan penuh kekesalan. Sesekali gadis itu memukul-mukul jeruji besi hingga menyebabkan bunyi dentingan yang berisik.
"Heh, ujung-ujungnya kita berada di tempat ini, Nona." Kesal salah satu prajurit yang ikut bersamanya. Mereka kini berada di dalam penjara dan terpisah.
Leona tinggal di penjara khusus perempuan seorang diri, sementara yang lainnya di bagi beberapa orang dalam satu ruangan. Dia hanya berbeda sel namun masih satu ruangan.
"Berisik! Setidaknya kalian tidak berkencan dengan malaikat maut sebelum sempat berciuman dengan gadis, dasar bodoh!" Maki Leona kesal.
'Uhuk'
__ADS_1
Beberapa orang tersedak ludah sendiri dengan wajah memerah. Perkataan Leona yang frontal membuat mereka seakan tertohok. Memang mereka masih muda, beberapa ada yang masih lajang, ada yang telah memiliki kekasih bahkan ada yang baru menikah.
"Setidaknya jangan berterus terang seperti itu, Leona. Aku sendiri belum punya kekasih." Kesal Iven.
"Itu karena kau menyebalkan, sih." Sahut Leona tanpa beban yang sukses membuat Iven kesal.
"Hei!"
Leona kembali menendang jeruji besi di hadapannya dengan cukup kuat hingga roboh.
'Krontang' 'Brukh'
Hening sejenak sebelum akhirnya Leona melongok ke arah luar. Beruntung tidak ada yang menjaga di depan pintu sehingga tidak menarik perhatian penjaga. Leona segera keluar dari sel tempatnya di kurung dengan santai.
"Astaga, aku merobohkan pintu jerujinya. Apakah ini benar-benar penjara? Benar-benar lapuk." Gerutu Leona sambil mengangkat pintu jeruji yang tergeletak di lantai dan memasangnya seperti semula.
Tiba-tiba Kaze datang dalam wujud tupai sambil membawa beberapa kunci dan menyerahkan kepada Leona. Gadis itu menerimanya dengan senang hati.
"Kau bekerja dengan keras, Kaze."
Kaze mencicit dan segera bersembunyi di balik saku Leona.
Leona segera membuka kunci sel tempat Kei barada sebelum suara derap kaki terdengar mendekat ke arahnya. Segera gadis itu melemparkan kuncinya ke arah Khalix yang langsung di terima oleh pemuda itu bertepatan dengan terbukanya pintu yang menampakkan beberapa penjaga dan seorang bangsawan.
"Oh~ Kalian merindukanku? Atau ingin bersenang-senang?" Tanya Leona dengan nada riang. Iven dan Kei yang masih berada dalam jeruji besi langsung menepuk jidat seakan paham dengan tingkah gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di luar?" Tanya bangsawan itu dengan nada marah.
"Aku hanya jalan-jalan. Bagaimana bisa tempat ini begitu bobrok? Bahkan besinya saja rapuh begini." Ucap Leona sambil memainkan pintu sel tahanan tempat Kei berada. Terdengar decitan yang membuat gigi ngilu serta beberapa besi yang patah membuat mereka geram.
Leona mendekati mereka dengan senyum manis terpatri di bibirnya lalu...
'Buagh' 'Brukh'
Gadis itu memukul bangsawan itu dengan keras hingga tersungkur yang sukses membuatnya marah. Beberapa penjaga dan pengawal segera berjalan mendekatinya lalu memegang kedua lengan Leona.
"Dasar ******! Habisi dia!"
Leona menendang seorang ksatria hingga terlempar beberapa meter lalu menendang ************ salah satu penjaga yang memegangnya dengan kuat. Otomatis penjaga itu melepaskan cengkramannya dan Leona segera meninju penjaga yang masih memegang sebelah tangannya dengan kuat hingga tergeletak pingsan.
Perkelahian satu lawan sepuluh tak terhindarkan. Leona dengan santai membantai mereka hanya dengan tangan kosong. Bangsawan yang di pukul oleh Leona mengeraskan rahangnya lalu menghunuskan pedang kearahnya.
Leona yang menyadari hal itu menghindar dengan santai. Sesekali dia menangkis dengan tangan kosong sambil menari dance seolah mengejek bangsawan itu.
Sementara Iven, Kei dan beberapa ksatria yang ikut bersama mereka hanya bisa menonton dengan tatapan tak percaya. Disaat gadis itu sibuk baku hantam, dia masih sempat menari dengan gerakan yang menurut mereka aneh namun lincah dan mematikan dengan beberapa orang tergeletak menahan sakit di sekitar nya.
Sebagai penutup, Leona melemparkan sebuah shuriken dan menancap indah di kepala bangsawan itu hingga tewas. Setelah memastikan mereka tak bisa bangkit, Leona bersenandung ria sambil melenggang begitu saja.
__ADS_1
"Kalian mau sampai kapan berada di sana? Ayo kita keluar dan berpesta." Seru Leona menyadarkan Iven dan yang lainnya.