
Sinar matahari muncul malu-malu dari balik gunung, menyebarkan cahaya hingga yang hangat dari balik kabut tipis yang menyelimuti kawasan Bloom Mist. Kicauan burung yang merdu di tambah semilir angin yang membawa harumnya semerbak bunga membuat suasana pagi ini terasa tenang dan damai.
Para warga telah beraktifitas seperti biasanya, termasuk gadis cantik bersurai hitam ikal dengan gaya emo ini. Gadis itu menatap pantulannya di cermin yang terlihat menyedihkan. Mata bengkak nyaris tak bisa terbuka membuat moodnya hancur detik ini juga.
"Sial. Gara-gara semalam mataku menjadi bengkak begini." Gerutu Leona kesal.
Leona mengenakan dress sederhana bewarna maroon di padukan dengan vest hitam yang sengaja tidak di kancing. Tidak lupa dengan hiasan berupa pin rambut yang terbuat dari susunan batu delima merah yang membentuk mawar dengan rumbai rantai emas mempercantik penampilannya.
'Tok' 'Tok'
"Masuk!"
Pintu kamar Leona terbuka dan muncul Sam dari balik pintu. Dia membungkuk hormat pada Leona.
"Leona-sama, apakah Anda sarapan di kamar atau di ruang makan? Jim-sama menunggu jawaban Anda di ruang makan." Ucap Sam sopan.
"Aku sarapan di ruang makan." Sahut Leona.
"Baik. Kalau begitu saya undur diri."
"Bagaimana?" Tanya Jim pada Sam begitu pria itu tiba di ruang makan.
"Leona-sama berkata beliau sarapan di ruang makan, Jim-sama." Sahut Sam menyampaikan perkataan Leona.
"Hmm... Baiklah." Jim menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian Leona tiba di ruang makan dan duduk di sebelah kanan Jim. Pria itu menatap sang keponakan dengan khawatir.
"Apa kau baik-baik saja? Semalam kau menangis selama tiga jam. Kau berniat menghabiskan stok air matamu sampai bengkak begitu?" Tanya Jim membeberkan fakta sambil meledek.
"Aku baik-baik saja, Paman. Lagipula tidak ada salahnya aku menangis, kan?" Sahut Leona membenarkan.
"Terserah kau saja. Ayo makan."
Mereka sarapan bersama. Setelah selesai, Leona segera pamit untuk berlatih di doujo yang terletak di belakang kediaman mereka. Leona segera mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang hanya ada di desa ini.
'Buk' 'Buk'
'Kraakk'
'Brak'
"Ganti!"
'Buk' 'Buk'
'Kraakk'
"Ganti!"
Beberapa pria segera datang membawa sebuah samsak dan memasangnya, sisanya membereskan samsak yang telah robek dan rusak.
Leona mengatur nafasnya sejenak. Keringat mengalir deras membasahi tubuhnya. Entah sudah berapa kali gadis itu menghancurkan samsak yang membuat beberapa pelayan dan penjaga yang berlatih di doujo bergidik ngeri dengan kebrutalan Leona hari ini.
"Leona-sama, Kaisar Ein dan rekan Anda datang dan sekarang berada di ruang tamu khusus." Kaze memberikan laporan sambil menyodorkan handuk kepada Leona.
"Terimakasih, Kaze." Ucap Leona sambil menyeka keringat. "Aku segera kesana setelah menghancurkan satu samsak lagi."
"Leona-sama, tim Alpha berhasil menangkap beberapa tikus milik bedebah kerajaan."
"Kerja bagus. Aku ingin meminta pendapat Jim untuk langkah selanjutnya."
Kaze segera menjauh dan berdiri di dekat pintu. Dia melihat Leona mengambil ancang-ancang lalu menendang samsak itu hingga isinya keluar terburai.
"Leona-sama, apakah Anda berniat membuat doujo ini penuh dengan pasir?" Protes salah satu pelayan yang berlatih di sana.
__ADS_1
"Kalian bisa membersihkannya dengan sihir, kan. Kalau begitu aku pergi dulu. Gaji kalian akan naik dua kali lipat jika kalian mau membersihkan tanpa menggunakan sihir." Ucap Leona sambil berlalu dari sana.
Pelayan yang berada di sana hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Leona yang tidak ada ahklak itu. Memang, sih dia majikan mereka. Namun tingkah lakunya tidak menyerupai seorang bangsawan maupun perempuan.
💠💠💠ðŸ’
Jim menatap Kaisar dan rekan Leona serta beberapa prajurit istana dengan kebingungan. Ada angin apa sehingga Kaisar sendiri datang ke kediaman ini? Apalagi mereka menyamar sebagai rakyat biasa. Memang mereka menggunakan pakaian rakyat sipil, namun kualitas dan bahan yang menunjukkan jika pria di hadapannya memiliki kedudukan tinggi, belum lagi auranya yang begitu kuat.
"Tidak usah memberi salam. Itu melelahkan." Ucap Kaisar Ein begitu melihat Jim dan beberapa pelayan hendak membungkukkan tubuh untuk memberi salam.
"Saya Jimmy Kirito Calisius, pemimpin desa Bloom Mist. Silahkan masuk, Baginda. Kalian juga." Jim memperkenalkan diri dengan sopan sambil mempersilahkan mereka masuk.
Mereka segera memasuki kediaman Calisius sambil menatap takjub. Bangunan kayu yang unik yang tidak ada di tempat manapun, apalagi taman di halaman kediaman ini tersusun begitu apik dan indah.
Bahkan mereka dapat melihat beberapa pelayan dan penjaga sibuk berlatih di bawah pohon sakura yang sedang mekar.
"Mereka di latih oleh Leona untuk hal-hal yang tidak terduga. Mengingat desa ini berdekatan dengan wilayah tengah, Baginda." Jim menjelaskan.
Kaisar mengangguk paham. Saat memasuki desa ini, dirinya sempat terpana akan keindahan desa dan penampilan penduduknya. Mereka menggunakan pakaian yang menurutnya aneh. Bahkan para perempuan mengenakan celana, baik celana panjang maupun celana pendek. Tidak seperti pada rakyat ibu kota yang menggunakan rok. Meskipun perempuan menggunakan celana adalah hal yang wajar, namun tetap saja mereka lebih memilih menggunakan rok.
Mereka kini di iring ke ruang tamu khusus. Beberapa pelayan datang membawa beberapa cemilan dan minuman khas desa Bloom Mist.
"Maaf, Baginda. Di desa ini tidak ada istilah majikan dan bawahan. Harap Anda berkenan dengan ketidaksopanan kami." Ucap Jim.
"Tidak masalah." Sahut Kaisar enteng.
"Kalau begitu silahkan duduk." Jim mempersilahkan mereka.
"Kalian juga duduklah." Titah Kaisar pada prajuritnya.
Mereka saling tatap sejenak dan dengan ragu-ragu mereka ikut duduk bersama Kaisar.
"Silahkan dinikmati, Baginda." Jim mempersilahkan.
"Dia baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan kemari." Sahut Jim sambil menyesap minumannya.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Kaisar Ein lega. Lebih baik dia menceritakan sedikit tentang klan Tigries mengingat di Kekaisaran Kamitsuki terdapat beberapa bangsawan yang memiliki darah klan itu, meskipun jumlahnya sedikit.
'Tap' 'Tap' 'Tap'
Suara langkah kaki terdengar menggema membuat mereka yang berada di ruangan itu memilih diam, sedangkan Jim menghela nafas. Pria itu sudah menduga siapa pemilik langkah kaki itu.
'BRAAKK!'
"Paman! Beberapa orang sinting dari permaisuri opera telah duduk manis di penjara bawah tanah. Haruskah aku cungkil ginjal mereka lalu melelangnya?" Tanya Leona sambil mendobrak pintu. Dia belum menyadari tamu penting berada di ruangan itu.
'Uhuk'
Para tamu itu tersedak dan batuk berjamaah mendengar penuturan gadis itu. Bahkan beberapa orang yang hendak menyeruput minuman mengurungkan niatnya.
"Bisakah kau sopan sedikit? Kaisar dan rekanmu tengah berkunjung." Tegur Jim.
Leona hanya nyengir kuda menanggapi teguran sang paman. Dia menunduk meminta maaf lalu pergi meninggalkan Jim dengan para tamunya.
"Mohon maafkan tingkah kurang ajar keponakan saya, Baginda."
"Hahaha... Tidak masalah. Karena wilayah ini sudah berada di wilayah tengah, peraturan dari Kaisar maupun kerajaan tidak berlaku lagi disini. Kami kemari hanya ingin berlibur, Jim." Ucap Kaisar bijak.
Jim menghela nafas lega. Leona dan segala tingkah lakunya membuat pria itu sakit kepala.
"Jadi, apakah sepupuku membuatmu sakit kepala, Jim?" Tanya Kaisar Ein sambil menaik turunkan alisnya.
Jim kaget bukan kepalang. Keponakannya itu adalah sepupu Kaisar? Tidak mungkin.
"Keponakan saya memang cukup kurang ajar dan membuat saya sering sakit kepala, Baginda. Tapi itu lebih baik daripada bertata krama namun munafik." Jawab Jim sambil menekan kata keponakan. Dia tidak ingin gadis itu tinggal jauh darinya.
__ADS_1
"Kau benar, Jim. Meskipun Leona cukup kurang ajar, namun dia cukup peduli dengan rekannya. Saya sendiri bahkan senang satu tim dengannya meskipun tingkahnya membuat kami kesulitan." Imbuh Carl menyetujui.
"Mari kita bahas sesuatu sambil berkeliling, Tuan Jim." Ucap Kaisar Ein serius.
💠💠💠ðŸ’
"Leona!" Seru Wei Tao, Iven dan Eura saat melihat gadis itu tengah sibuk di dapur bersama beberapa pelayan.
"Oh, kalian. Ada apa?" Tanya Leona sambil sibuk mengaduk sesuatu. Sepertinya sebuah adonan.
"Kau sedang memasak? Kali ini kau buat apa?" Tanya Eura bertubi-tubi dengan semangat.
"Nanti kau akan tau." Ucap Leona sambil tersenyum sok misterius. Lalu dia memanggil kepala dapur dan menyuruhnya menggoreng adonan itu dalam minyak panas.
Leona juga sibuk memberi instruksi pada beberapa koki dapur. Sepertinya gadis itu cukup sibuk. Ketiga pemuda itu memutuskan ikut membantu.
"Kau tampak sibuk. Apa kami boleh membantu?" Tawar Iven. Seketika mata Leona berbinar senang mendapat tawaran itu.
"Tentu saja. Tolong, ya."
Leona merindukan kuliner di dunia asalnya. Jadi kali ini dia memutuskan memasak makanan khas Korea, Jepang dan Cina, serta beberapa masakan khas nusantara.
Leona memberikan instruksi pada ketiga temannya, namun sayangnya Iven dan Eura hanya menonton sambil berlagak menjadi juri dengan mencicipi makanan yang telah matang. Hanya Wei Tao saja yang benar-benar mau membantu. Dapur kini menjadi ramai berkat kehadiran tiga pemuda itu.
Dalam waktu dua jam mereka berkutat di dapur kediaman Calisius. Akhirnya setelah memakan waktu lama, mereka selesai memasak berbagai jenis makanan.
Ada ayam pedas, kimchi, sop miso, sushi panggang, takoyaki dan lainnya. Bahkan ada bakwan, sate, lawar, dan gulai.
"Wah!! Sepertinya makanan ini sangat enak!" Seru Eura penasaran dengan air liur yang hampir menetes.
'Pletak'
"Jangan sampai air liurmu menetes di atas makanannya, bodoh!" Iven menjitak kepala Eura kesal khawatir makanannya tercemar air liur pemuda berambut merah itu.
"Aku tidak seburuk itu, dasar." Sungut Eura cemberut sambil memegang kepalanya yang nyut-nyutan.
"Sisakan untuk kalian dan pelayan serta penjaga, ya." Titah Leona mengabaikan perdebatan dua pemuda itu.
"Baik, Leona-sama."
Beberapa pelayan datang dan membantu Leona menghidangkan makanan di meja makan. Lalu Leona memerintahkan salah satu pelayan memanggil Jim dan para tamu untuk makan bersama mengingat sebentar lagi akan memasuki jam makan siang.
Sambil menunggu, keempat remaja itu duduk manis di sana sambil berbincang-bincang. Hingga tak lama kemudian sebuah suara menginterupsi mereka.
"Wah, kalian sudah disini, ya."
Sontak keempat nya menoleh dan mendapati Jim tersenyum ramah padanya. Mereka hanya terkekeh dengan watadosnya.
Di belakang pria itu terdapat Carl dan Kaisar, lalu beberapa prajurit yang berpakaian rakyat sipil memasuki ruangan itu dan ikut bergabung di meja makan dengan canggung.
"Silahkan menikmati makanannya, kami harap kalian suka." Seru mereka serempak.
"Oh, kalian yang memasak? Kelihatannya sangat enak." Ujar Kaisar Ein saat melihat makanan asing di hadapannya.
"Benar, Baginda. Ini sangat enak. Anda akan menyesal jika mengabaikannya." Ucap Eura menggebu dan anggukan dari Iven seakan menyetujui ucapan pemuda itu.
"Silahkan, Baginda." Jim mempersilahkan.
"Ini sup miso, ini sushi panggang, ini kimchi, yang ini bakwan, ini lawar, ini sate, ini takoyaki..." Leona menyebut nama makanan yang tersaji di meja makan.
Kaisar mengambil beberapa makanan dan mencicipinya, "Wah, ini benar-benar enak. Aku pertama kali memakan makanan seperti ini. Makanan ala bangsawan kadang membosankan." Ucap Kaisar Ein sambil memakan makanan dengan lahap tanpa mengabaikan etiket kebangsawanan.
Seketika kericuhan terjadi di meja makan itu seakan takut tak kebagian makanan. Kini meja makan terlihat seperti ajang lomba makan.
Jim dan Leona hanya bisa sweatdrop melihat Kaisar dan pengikutnya lalu mulai menyantap makanan dengan tenang. Karena Jim sudah terbiasa dengan makanan buatan Leona.
__ADS_1