Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 67


__ADS_3

"Berani sekali kau menggoda tunanganku!" Teriak seorang gadis bangsawan pada Leona. Gadis itu mengernyitkan dahinya kebingungan. Memang dia menggoda siapa seakan tidak punya kerjaan?


"Maaf?"


"Beraninya kau menggoda tunanganku? Dasar ja!ang!"


"Memang aku menggoda siapa, Nona? Ngomongnya yang jelas, dong." Balas Leona sambil melirik sekitar. Tidak terlihat siapapun yang dekat dengannya selain Khalix.


"Khalix, apa dia pacarmu? Dia seperti orang sinting." Ujar Leona sambil menunjuk ke arah nona bangsawan yang kini wajahnya memerah, entah malu atau marah. Leona tidak peduli.


"Aku tidak mengenalnya." Balas Khalix dan menatap gadis bangsawan itu dingin.


"Beraninya kau menghinaku!" Teriaknya marah.


Leona menatap nya malas sambil mengorek telinganya yang berdengung. Seketika mereka menjadi pusat perhatian karena teriakan wanita bangsawan itu.


"Memang siapa tunanganmu itu?" Tanya Leona sambil menguap bosan.


"Tentu saja Lyen Igiova!"


"Aku ga kenal, tuh. Memangnya tadi aku menggoda dia seperti apa?" Tanya Leona pura-pura tidak tau dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. Khalix yang berada di sebelahnya sampai gemas sendiri dengan tingkah Leona yang kadang seperti orang bodoh.


Gadis bangsawan itu geram. Dia ingin menjambak rambut Leona detik ini juga.


"Bukankah tadi Anda berbicara dengan Lyen, Nona?" Celetuk salah satu pemuda yang tiba-tiba muncul di depannya.


"Oho~ Orang gila itu, ya?" Ucap Leona seakan pura-pura ingat. Lalu menatap mereka berdua dengan mengejek.


"Aku tidak tau kenapa kalian mencegatku. Yang satu menyalak seperti anjing gila dan yang satu menggonggong seperti anjing birahi." Ucap Leona sambil menatap mereka dengan merendah. Moodnya hari ini sudah hancur lebur gara-gara tiga tikus yang mengganggunya.


Sementara dua orang itu menggeram marah karena dihina terang-terangan oleh Leona.


"Sialan kau! Siapa yang kau panggil anjing gila, hah?!" Seru gadis itu tak terima. Dia menghampiri Leona dan hendak menjambak rambutnya, namun...


'Brukh'


Gadis itu terjerembab tidak elit karena tersandung kakinya sendiri.


Leona menghampiri gadis itu lalu berjongkok dan mencengkram dagunya dengan kencang.


"Aku tidak mengenal kau dan juga tunanganmu. Jadi berhenti berbicara omong kosong yang menjijikkan seperti itu." Ucap Leona sambil mengeluarkan killing intense nya. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka merinding, bahkan gadis bangsawan itu mulai menahan tangis.


"Sebaiknya kita kembali, Leona. Lagipula mereka hanyalah orang yang tidak penting." Khalix mencoba melerai keadaan. Leona yang kadang kesabarannya bisa lebih tipis dari tisu dan itu sangat berbahaya.


"Ah, kau benar Khalix. Aku juga punya segudang pekerjaan yang belum aku periksa. Aku jadi kasihan dengan pamanku." Ucap Leona dengan sing a song sambil menghempaskan wajah gadis itu hingga membentur trotoar.


Leona dan Khalix? Seketika semua yang berkumpul menyaksikan perdebatan itu gemetar ketakutan. Mereka terkenal pembantai berdarah dingin dan prajurit kesayangan kaisar.


Leona, si lidah tajam pembuat onar berdarah dingin. Kemampuannya cukup hebat di medan perang. Dengan kata-kata provokasinya, dia mampu menghabisi musuh dalam waktu singkat. Bahkan dia berteriak kegirangan di sarang monster dan menghabisinya seorang diri.


Khalix, mantan pangeran Seanthuria yang memiliki kemampuan berpedang hebat ditambah sebagai pengguna sihir. Bahkan dia juga bisa menggunakan sihir tanpa rapalan yang panjang dan rumit.

__ADS_1


Keduanya memiliki paras rupawan, namun tidak memiliki akhlak yang baik. Jika ada seseorang yang menyinggungnya, maka seseorang harus mempersiapkan dokter jiwa dengan biaya cukup mahal atau memesan peti mati secara ekslusif.


"Maafkan kami." Ucapnya serentak. Mereka menyadari siapa yang baru saja mereka hina dan merasa menyesal.


"Woah~ Kalian menghinaku lalu meminta maaf? Sepertinya kepala kalian sangat cocok untuk di jadikan pajangan." Sarkas Leona dan menghilangkan killing intensenya. Beruntung tidak ada yang pingsan di sekitarnya.


Leona dan Khalix pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih gemetar ketakutan.


💠💠💠💠


Kazuma tengah bersantai di bawah sebuah pohon apel yang terletak di belakang kediaman. Ditemani beraneka jenis kudapan manis dan setoples madu serta secangkir lemonade dingin.


Sebuah tangan muncul dan mengambil segelas lemonade miliknya, membuat pria berambut cokelat itu jengkel dan berteriak marah.


"Hei, kembalikan lemonade ku, dasar ayam! "


"Ah! Gigiku!" Seseorang memekik sambil meringis tatkala rasa terlalu manis yang membuat giginya berteriak ngilu.


Kazuma tersentak saat mendengar suara yang dirindukan nya selama dua setengah tahun ini. Dengan patah-patah dia menoleh ke asal suara dan mendapati Leona tengah meringis menahan ngilu.


"Leona-sama!"


"Ah, Kazuma. Apakah kau menambahkan setetes lemonade dalam segelas madu? Gigiku nyaris rontok karena ngilu." Protesnya sambil meletakkan lemonade milik Kazuma.


"Maafkan saya karena telah mengumpat Anda, Leona-sama." Ucapnya penuh penyesalan.


"Hmm? Tidak masalah." Leona duduk di hadapan siluman beruang madu itu.


Beberapa saat kemudian Kazuma kembali membawa segelas lemonade tawar dan menyerahkan pada gadis itu.


"Bagaimana kabar Anda, Leona-sama?" Tanya Kazuma menatap sang majikan dengan berbinar seperti seekor anjing yang bertemu kembali dengan majikannya setelah sekian bulan tak berjumpa.


"Kabarku cukup baik. Bagaimana dengan kalian? Tidak ada masalah, kan selama aku pergi?"


"Kabar kami semua baik, Leona-sama. Terjadi banyak hal selama kepergian Anda."


Kazuma mulai menjelaskan berbagai hal selama kepergian Leona. Mulai dari kemajuan desa yang semakin pesat dari segala aspek, informasi di seputaran bangsawan serta lainnya disampaikan dengan jelas.


Leona hanya mengangguk mendengar informasi yang disampaikan oleh pria tampan itu. Lagipula beberapa bisnis yang di kelolanya juga berjalan dengan baik.


"Terimakasih jamuannya, Kazuma. Aku harus menemui paman dulu. Aku berharap dia tidak menua lima puluh tahun." Kelakar Leona dan meninggalkan Kazuma yang kini berkencan dengan kudapan manis di sana.


Leona tiba di ruangan Jim dan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Terlihat Jim yang sibuk dengan segunung dokumen yang diperiksa nya hari ini.


"Paman~" Sapa Leona yang langsung membuat Jim kaget dan menatap ke asal suara dengan spontan. Terlihat Leona berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar.


Jim menatap Leona cukup lama lalu mengucek matanya, memastikan jika keponakan kurang ajarnya benar-benar nyata.


"Leona, kau kah itu?" Tanya Jim lalu berdiri menghampiri Leona yang tersenyum lebar padanya. Dia terlihat berbeda dari tiga tahun lalu. Penampilan gadis itu terlihat dewasa dan sangat cantik. Meskipun sering berkomunikasi lewat surat, namun mereka tidak pernah bertemu selama tiga tahun.


"Benar, Paman. Ini aku. Apakah tidak bertemu selama tiga tahun membuat kau pikun, eh?"

__ADS_1


Jim memeluk Leona erat. Keponakan kurang ajarnya kini telah pulang.


"K-kau berniat membunuhku?" Ucap Leona sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan maut sang paman.


Jim buru-buru melepaskan pelukannya lalu menatap Leona yang kini cemberut di hadapannya.


Jim terkekeh lalu mencubit pipi Leona dengan gemas. Dalam hati dia menangis kejer mengingat surat lamaran yang di terimanya cukup banyak semenjak Leona debut. Mungkin saja sekarang menjadi bertambah mengingat Leona sudah tumbuh menjadi gadis tercantik di kerajaan, bahkan di kekaisaran.


"Sepertinya surat lamaran yang ditujukan untukmu semakin banyak, Leona." Gerutu Jim kesal yang langsung saja dibalas dengan tawa mengejek dari gadis itu.


💠💠💠💠💠


Leona merebahkan dirinya di kasur empuk yang selama tiga tahun ini tidak tersentuh. Dia merindukan ranjang dan kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan.


Hari ini Leona ingin bermalas-malasan saja seharian. Dia cukup lelah karena tidak bisa beristirahat dengan nyenyak.


"Arelle, aku ingin beristirahat selama tiga hari penuh. Tolong jangan ganggu aku." Titah Leona.


"Baik, Leona-sama." Jawab Arelle patuh. Namun gadis itu tidak yakin jika Leona benar-benar tidur pulas selama tiga hari penuh.


Keesokan harinya...


Arelle bersama beberapa pelayan mengetuk pintu kamar Leona, namun tidak ada jawaban. Khawatir dengan majikan mereka, segera Arelle dan para pelayan mendobrak masuk ke kamar Leona. Mereka melihat gadis itu masih tidur dengan pulas.


"Leona-sama, saatnya cuci muka." Ucap Arelle menghampiri Leona, sayangnya gadis itu masih tidak bangun.


Berbagai cara mereka gunakan untuk membangunkan Leona, namun usaha mereka sia-sia saja. Leona masih anteng dan tertidur nyenyak.


Mereka memutuskan menyerah dan membiarkan Leona terlelap begitu saja.


Jim yang mendengar laporan dari pelayan memutuskan menghampiri Leona. Ternyata gadis itu benar-benar tertidur lelap. Bahkan dia mengabaikan makan siangnya.


"Biarkan saja dia. Mungkin dia benar-benar kelelahan." Ucap Jim sambil mengusap pucuk kepala keponakannya.


Mungkin selama tiga tahun gadis itu tidak mendapatkan tidur yang cukup, jadi dia memuaskan hasratnya untuk hibernasi selama tiga hari.


Dan tiga hari datang dengan cepat. Leona meregangkan tubuhnya lalu mengusap matanya yang terasa sepat. Dia menatap sekeliling dan melihat semua pelayannya menatap gadis itu dengan cemas.


"Selamat pagi~ Kenapa kalian berasa sepagi ini dikamarku?" Tanya Leona sambil menguap.


"Sekarang sudah malam, Leona-sama." Sahut Arelle kesal.


"Kenapa kau kesal begitu?"


"Kami khawatir karena Anda tidak bangun selama tiga hari penuh!" Serunya khawatir.


"Bahkan Anda juga tidak makan selama tiga hari penuh." Ucap Sam cemas.


Leona menatap semua pelayan yang kini menatapnya penuh haru dan kelegaan. Bahkan ada yang sampai meneteskan air mata yang membuat Leona sweatdrop.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku cuma kelelahan dan ingin tidur. Sekarang aku sudah jauh merasa lebih baik." Leona menjelaskan sambil tertawa canggung.

__ADS_1


__ADS_2