Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 53


__ADS_3

Suasana mendadak terasa berat dan canggung. Kaisar menatap kelima tamunya dengan serius.


"Ada satu hal yang ingin aku selidiki sejak dulu tentang musnahnya klan Tigries dan bangsa siluman secara bersamaan serta tentang raja Seanthuria."


Mereka menatap Kaisar dengan penasaran.


"Klan Tigries memiliki ciri khas yang unik. Mereka memiliki mata indah dengan retina runcing seperti milikku dan Leona, garis hitam di bagian atas dan bawah garis bulu mata serta kepribadian yang di luar nalar." Kaisar mulai bercerita dan menyesap jus anggur nya sejenak.


Mereka menatap Leona sejenak. Pantas saja gadis itu selalu bertindak di luar nalar. Keempat pria itu manggut-manggut paham.


"Klan kami tidak mengenal asmara. Karena bagi kami, hal itu terlalu merepotkan. Meskipun kami menikah, namun untuk asmara kami menempatkannya dalam urutan terakhir karena kami suka kebebasan dan tidak suka di ikat dalam sebuah status."


Keempat rekan Leona melirik gadis itu. Akhirnya mereka paham kenapa gadis itu tidak pernah tertarik dengan lawan jenis dan selalu memasang ekspresi tertekan saat ada yang menyatakan perasaannya dan menolak mereka dengan kejam.


Klan Tigries memiliki fisik di atas rata-rata manusia pada umumnya dan sangat jarang memiliki mana. Jika mereka memiliki mana, mana mereka akan menghilang saat beranjak dewasa bahkan bisa di rebut oleh orang lain.


Bahkan beberapa ada percaya jika menyerap mana dari Klan Tigries dapat membuat mereka lebih kuat.


"Raja Grambiel dulunya putra mahkota kesayangan Raja Seanthuria terdahulu. Dia sangat dimanjakan karena beliau memiliki ciri khas keluarga kerajaan Seanthuria, rambut biru pudar mendekati putih dan mata biru. Anak-anak yang lainnya di abaikan karena tidak memiliki ciri khas yang sama, bahkan di bunuh oleh Raja terdahulu. Karena terbiasa dimanjakan, suatu hari putra mahkota Grambiel mengalami kekalahan saat sparing di Akademi oleh seorang siswa yang berasal dari klan Tigries. Tidak terima dengan kekalahan itu, putra mahkota menganggap pemuda itu melakukan penghinaan keluarga kerajaan dan putra mahkota menyelidiki tentang pemuda itu lalu meminta raja menurunkan pembasmian klan Tigries.


Bahkan bangsa siluman ikut di bantai karena menganggap mereka penghalang serta status lebih rendah dan beberapa diantaranya berhasil selamat dan bersembunyi.


Kebanyakan klan Tigries yang di bantai adalah rakyat biasa, sementara beberapa bangsawan di kerajaan ini adalah klan Tigries, termasuk aku sendiri selamat.


Miria yang merupakan bibiku di culik oleh putra mahkota saat sedang pulang dari kunjungan istana. Aku dengar bibiku di hadiahkan pada Duke Castallio dan memiliki dua orang anak." Kaisar melirik Leona yang kini mengusap air matanya.


"Kakekmu gugur saat mencoba menyelamatkan Miria bersama beberapa prajurit. Beberapa yang selamat memilih tinggal di desa buangan yang kumuh di wilayah Castallio. Aku sendiri tidak terima dengan hal itu memutuskan berhubungan baik dengan Raja Seanthuria untuk menyelidiki sebuah artefak yang berhasil di curi dari situs kuno milik klan Tigries."


Leona terisak. Ternyata ini ulah Raja Grambiel bodoh yang lemah itu. Leona akan membalas mereka dengan berkali-kali lipat nanti.


"Sepupu, kau tidak harus menangisi hal menyedihkan yang sudah lewat. Kau tau, kita harus bermain cantik dengan mereka sebelum menghadiahkan kado terindah untuk mereka." Kaisar Ein mencoba membujuk Leona yang terisak.


'Jedeerr!'


Lagi-lagi keempat laki-laki itu terkejut dengan fakta yang mereka dengar. Leona adalah sepupunya Kaisar Ein? Pantas saja tingkah mereka sama-sama absurd.


Leona sendiri kaget mendengar perkataan Kaisar. Dia tidak menyangka jika mereka memiliki hubungan darah dari pihak ibu.

__ADS_1


"Alasan sederhana permaisuri menginginkan kematian mu dan bibi Miria itu, karena klan kita istimewa secara fisik." Ucap kaisar Ein sambil menyugar rambutnya ke belakang dan mengedipkan sebelah matanya dengan menggoda.


Keempat pria yang berada di sana dan dua hewan buas milik Leona merinding jijik seketika.


💠💠💠💠


Leona memilih menenangkan diri di desa Bloom Mist setelah selesai membicarakan misi. Dia telah meminta ijin pada Kaisar dan rekannya. Mereka yang mengerti dengan kondisi Leona mempersilahkan gadis itu kembali ke desanya.


Desa ini ternyata masih di perhatian oleh Kaisar secara diam-diam.


Leona menghela nafas berat. Hidup di dunia ini membuatnya gila, lebih gila saat melihat target di depan mata yang nyaris di tangkap lalu kabur begitu saja.


"Hei, Leona. Tidak apa, kan jika aku membalas keluarga mu dan keluarga kerajaan dengan caraku sendiri? Kau sudah mendengar perkataan Kaisar, kan. Jadi kau beristirahatlah dengan tenang. Jika keberatan, kau bisa menghampiri ku lewat mimpi." Ucap Leona sambil menatap langit malam di kamarnya.


Leona lelah. Berperilaku sebagai Leona asli membuat mentalnya sedikit tertekan. Beruntunglah dia di usir dari kediaman Castallio, sehingga perasaannya tidak terbebani. Mungkin Leona asli juga sudah muak dengan perlakuan tak adil yang dialaminya selama belasan tahun. Dan surat wasiat peninggalan mendiang Miria juga menyuruhnya segera pergi dari kediaman Castallio saat berusia enam belas tahun.


Jim melihat keponakannya merenung setelah kembali dari Kekaisaran hanya bisa menghela nafas pelan. Pria itu tau jika Leona telah mendengar sebuah fakta yang mengejutkan dari Kaisar.


Jim ingin menghibur Leona, namun gadis itu pasti membutuhkan waktu untuk sendiri terlebih dahulu.


"Pokoknya aku akan membalas ketidak adilan ini! Mereka sudah membuat keadilan yang menjijikkan." Geram Leona lalu menoleh ke belakang saat merasa ada yang memperhatikan.


Terlihat Jim dan beberapa pelayan melongokkan kepalanya di pintu dengan wajah penasaran. Kepala mereka tersusun dari bawah ke atas membuat Leona mengernyitkan dahinya.


"Apa yang kalian lakukan di sana?" Tanya Leona penasaran.


Mereka yang kaget karena ketahuan segera memposisikan diri dan berdehem sejenak.


"Leona-sama, kami khawatir saat melihat ekspresi Anda begitu datang dari Kekaisaran. Kei dan Ken sangat khawatir dengan Anda, bahkan Kaze sibuk mencicit dalam wujud tupainya." Ucap salah satu pelayan di sana.


"Aku tidak apa-apa. Oh, tolong sediakan sebuah samsak di doujo." Titah Leona.


"Baik, Leona-sama." Mereka segera undur diri.


Jim segera masuk ke kamar Leona dan duduk di sofa yang berada di sana.


"Sepertinya Kaisar telah memberitahu sesuatu." Ucap Jim berbasa basi.

__ADS_1


"Benar. Kaisar telah menceritakan semuanya." Sahut Leona. Gadis itu segera menceritakan apa yang di ceritakan oleh kaisar tanpa di lebih-lebihkan maupun di kurangi.


Jim mendengar penuturan itu mengepalkan tangannya, meredam emosi yang menjalar di hatinya.


"Sebenarnya, Leona. Wilayah ini milik Kaisar Kamitsuki dan merupakan perbatasan langsung dengan kerajaan Seanthuria. Sejak Baron Calisius sebelumnya di asingkan disini oleh Raja Seanthuria, dia telah menyetujui jika wilayah ini harus di hapus dari peta dan menjadi wilayah tengah. Karena ini adalah wilayah netral yang siapapun tidak boleh ikut campur di sini." Jim menerangkan dengan serius.


"Castallio mengkalim ini sebagai wilayahnya karena berdekatan dengan ibukota Eige. Hanya saja medannya cukup sulit dan berkabut serta terletak di pinggir wilayah tengah membuat Castallio enggan datang mengirim bantuan." Imbuh Jim.


Leona menganggukkan kepalanya mengerti. Hanya karena lokasinya yang sulit sehingga kerajaan tidak memperhatikan wilayah pelosok pinggiran membuatnya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingin jerih payah kita di rebut begitu saja." Ucap Leona dingin.


Mereka berdua membangun desa ini dari nol tanpa meminta bantuan dari siapapun dan penguasa malah seenak jidatnya datang dan mengkalim wilayahnya? Tidak bisa!


Bulir-bulir air mata seketika mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung. Rasa sesak menyelimuti dada Leona. Dia menepis kasar wajahnya yang berlinang air mata. Mungkinkah ini perasaan Leona yang asli? Entahlah, lebih baik dituruti dan di keluarkan dari pada bikin tersiksa.


"Tidak apa, Leona. Kau sudah berjuang sejauh ini." Jim menepuk-nepuk pucuk kepala Leona lembut.


"HWAAAAA!!"


Leona menghamburkan diri ke pelukan Jim, membenamkan wajahnya di dada pria itu dan menangis histeris, mengeluarkan beban selama ini yang ditanggungnya. Baik beban Leona asli maupun beban dirinya.


Jim menepuk-nepuk punggung Leona. Keponakannya telah menjalani kehidupan yang sulit, apalagi setelah mendengar cerita dari kaisar yang membuat hati gadis itu terluka.


Di abaikan, dikucilkan dan di buang oleh keluarganya sendiri karena tidak memiliki mana, belum lagi banyak rumor buruk yang beredar tentangnya membuat luka gadis itu terlalu dalam. Beban yang cukup berat di tanggung oleh gadis Itu seorang diri sejak kematian sang ibu saat masih belia.


Pertama kalinya Leona memperlihatkan sisinya yang begitu rapuh membuat pria itu mengeratkan pelukannya dan ikut meneteskan air mata seakan merasakan bagaimana penderitaan Leona.


Cukup lama Leona menangis histeris sampai-sampai beberapa pelayan ikut merasakan kepahitan dari majikannya. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan gadis itu.


Perlahan isak tangis Leona terdengar samar-samar. Sudah tiga jam lamanya gadis itu menangis dan Jim merasa pakaiannya basah.


"Leona." Panggil Jim.


Tidak ada jawaban. Jim menguraikan pelukannya dan melihat Leona tertidur meski sesekali terisak. Mata gadis itu cukup bengkak akibat terlalu lama menangis.


Jim menidurkan Leona di ranjangnya lalu menyelimuti nya. Pria itu menatap Leona dengan prihatin.

__ADS_1


__ADS_2