
'Tap'
'Tap'
Leona terlihat melompati beberapa pepohonan sambil menancapkan beberapa kunai yang berisi benang kawat dengan hiasan kertas peledak. Setelah dirasa cukup, Leona segera turun dari sana dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Nona, kami menemukan beberapa lumpur hisap di sini." Lapor salah satu prajurit yang ikut dengannya.
"Oh, bagus sekali! Aku ingin melihat mereka memanjakan diri dalam lumpur ajaib itu." Ucap Leona dengan nada riang, "Antar aku kesana."
Prajurit itu mengangguk lalu mengantar Leona ke tempat lumpur hisap itu. Setelah berjalan beberapa langkah, mereka tiba di tempat lumpur hisap itu di temukan. Leona segera mengeluarkan sebuah gulungan kecil dan mengeluarkan isinya. Terdapat beberapa botol berukuran kecil dengan warna ungu pekat.
"Alangkah baiknya jika mereka berendam disini dengan ramuan buatanku, khihihi..." Kikik Leona dengan nada riang yang membuat beberapa prajurit bergidik ngeri.
Tanpa basa basi Leona menumpahkan isi botol kecil itu ke dalam lumpur hisap itu. Leona segera membuang botol bekas itu tepat ke dalam lumpur hisap, seketika botol kaca itu meleleh.
"Kalian berhati-hatilah. Jangan sampai masuk ke dalam lumpur ini." Ucap Leona tegas.
"Baik, Nona."
Sementara Iven membuat beberapa lubang dan mengisinya dengan tombak tanah yang runcing lalu menutupnya dengan ranting dan dedaunan. Pemuda itu juga membuat beberapa jebakan di sekitar lubang itu.
"Kalian jangan sembarang bergerak jika tidak ingin nyawa kalian melayang sia-sia." Iven memperingati beberapa prajurit yang ikut bersamanya.
"Baik."
Setelah dirasa cukup, Iven segera menghampiri Leona yang juga telah selesai memasang jebakan. Mereka berdua cekikikan sambil bertos ria saat mendapati hasil kerja mereka.
"Siapa di antara kalian yang berlari paling cepat?" Tanya Leona.
Beberapa prajurit segera menunjuk pada salah satu ksatria milik Duke Castallio. Dia adalah Robert.
Atas saran dari kaisar, beberapa prajurit digabungkan menjadi satu untuk membantu mereka berdua, yang masing-masing orang mendapatkan jatah dua belas orang prajurit. Itupun beberapa prajurit yang belum berpengalaman.
"Oh, Sir Robert, lama tak bertemu." Sapa Leona riang dan menghampiri pemuda itu yang kini menunduk hormat.
"Lama tidak bertemu, Nona." Sapanya ramah.
"Aku ingin minta bantuanmu. Mungkin ini di sebut misi bunuh diri." Ucap Leona sambil tersenyum miring.
"Saya dengan senang hati melakukannya."
Leona tersenyum iblis dan segera menarik Robert untuk membungkuk sedikit agar sejajar dengannya lalu membisikkan sesuatu kepada pria itu, tidak lupa tanduk iblis imajiner menghiasi kepala gadis itu.
💠💠💠ðŸ’
Robert berjalan santai menuju sebuah barak yang terletak di pinggir hutan. Dengan menggunakan helm dan baju zirah, dia berjalan santai mendekati sekumpulan orang yang sibuk berpatroli.
"Hei! Siapa kau!" Seru mereka dan segera menghampiri Robert sambil menghunuskan pedang.
"Oh~ Astaga! Apa ini? Ternyata ada sekumpulan tikus yang menyamar jadi manusia~ Aku tidak menyangka tikus-tikus ini sangat lemah." Ucap Robert dengan nada mengejek lalu membalikkan tubuhnya. Dia menengok ke belakang dan berkata dengan mencemooh, "Jangan pura-pura sok kuat, dasar banci!"
Robert segera meninggalkan mereka yang termenung dengan perkataannya dengan langkah santai hingga...
"Bedebah! Tangkap dia!" Seru mereka saat tersadar dengan perkataan Robert. Kericuhan pun tak dapat terelakkan lagi dan Robert memanfaatkan hal itu untuk memukul seorang berpakaian ksatria yang berada dekat dengannya tepat di bagian hidung dengan cukup kuat.
__ADS_1
'Bugh'
'Brukh'
Pria itu tersungkur dengan hidung yang mengeluarkan darah. Robert segera berlari meninggalkan tempat itu.
"Penyusup! Tangkap dia!" Raungnya penuh amarah. Wajah pria itu memerah sepenuhnya hingga mencapai leher, tidak lupa urat-urat menonjol di permukaan kulitnya.
Robert segera berlari secepat yang dia bisa dan segera memasuki hutan tempat Leona dan Iven menanti. Dalam hati pria itu mengumpat kesal, "Pantas saja mereka marah! Nona, ide Anda terlalu mengerikan."
Tiba-tiba Kei muncul entah dari mana dan mencengkram lehernya seperti induk kucing membawa anaknya dan segera pergi meninggalkan keributan di belakang mereka yang semakin mendekat.
Robert hanya bisa menangis dalam hati meratapi nasibnya yang di gondol panther hitam yang berlari sangat cepat.
'Brukh'
Kei melepaskan cengkraman pada leher Robert dan segera berubah menjadi manusia.
"Oho~ Kalian telah kembali dengan cepat. Kerja bagus, Sir Robert, Kei." Puji Leona dengan wajah tengilnya.
Robert melupakan satu hal, Leona adalah pembuat onar yang menjengkelkan.
"Nona, bisakah kau menyuruh siluman mu ini membawaku dengan benar? Aku merasa dia menjadikan ku santapannya!" Protes Robert sambil menunjuk-nunjuk ke arah Kei yang memasang wajah datar, tidak lupa telinga panther hitamnya menyembul di atas kepalanya dan bergerak lucu.
"Jangan protes, Sir. Sudah beruntung aku menyuruh Kei menjemputmu. Jika aku yang datang, mungkin kau mengeluarkan semua isi perutmu." Sahut Leona.
"Jadi apa yang kita lakukan sekarang, Nona?" Tanya salah satu prajurit.
"Kita tunggu mereka menemukan kita. Sebelum itu..." Leona melirik beberapa ksatria yang ikut bersamanya. Mereka mengenakan baju zirah khas keluarga dan Kekaisaran yang membuat Leona memiringkan kepalanya. "... Bagaimana jika kalian mengenakan pakaian sipil saja? Kita akan berpura-pura menjadi warga sipil dan mereka pasti akan menangkap kita. Agar tidak ada korban, biarkan mereka menangkap kita lalu ikuti instruksi selanjutnya." Ucap Leona.
"Justru hal itu lebih menguntungkan, Iven. Coba pikirkan. Pertama, jika mereka mengira kita adalah warga biasa, kira-kira apa yang mereka lakukan?"
"Kemungkinan kita di tangkap dan di bawa ke markasnya. Mereka mungkin saja tidak melukai warga sipil. Jika mereka melihat beberapa orang memakai baju zirah, kemungkinan mereka membunuh kita, meskipun hal itu mungkin saja terjadi." Ucap Kei tenang.
"Yap, kau benar. Jika kita dibawa ke markasnya tanpa curiga, kita bisa menyerang markasnya dengan kekuatan penuh tanpa kehilangan rekan kita." Ucap Leona.
Iven dan beberapa ksatria tampak berfikir sejenak lalu menyetujui perkataan Leona, "Kau benar. Bagaimana kau bisa berfikir seperti ini?"
"Kadang kau harus lebih menggunakan otak daripada otot untuk peperangan. Kau perlu lebih licik dari musuhmu." Sahut Leona santai.
"Bagaimana jika kita sedikit menjauh dari sini? Jika kita berada disini, mereka akan curiga." Ucap Leona dan segera menjauh dari sana.
💠💠ðŸ’
Beberapa orang ksatria dan bangsa Orch berlari memasuki hutan untuk mengejar seseorang. Mereka berlari tanpa memperhatikan langkah mereka, hingga salah satu diantara mereka tersandung sebuah tali lalu muncul sebuah kayu gelondongan tepat di depan mereka.
'Duakh'
'Ugh'
'Brukh'
Beberapa Orch dan ksatria terkena pukulan telak dari gelondongan kayu itu dan tewas seketika.
"Hati-hati! Banyak perangkap di sekitar sini!"
__ADS_1
Mereka memutuskan melangkah dengan hati-hati. Setelah sepuluh meter melangkah, beberapa orang tiba-tiba terjatuh dalam sebuah lubang dan tewas seketika dengan tubuh tertusuk sebuah tombak tanah.
Melihat banyak rekan mereka tewas membuat mereka semakin waspada dan marah.
"Cari bantuan, cepat!" Seru salah satu diantara mereka yang memakai pakaian khas bangsawan tinggi.
"Baik."
Prajurit itu segera pergi mencari bantuan dengan memacu kudanya dengan cepat. Sambil menunggu bantuan tiba, mereka mengamati lokasi ini sambil mengamati jebakan yang terpasang.
"Siapa yang memasang jebakan disini?" Batinnya sambil memperhatikan sekitar.
Tidak terlihat hal aneh di sekitar sana, selain beberapa timbunan dedaunan yang sedikit mencurigakan jika dilihat lebih teliti.
Mereka memutuskan memutar arah dan melihat sebuah kertas peledak yang menari-nari di atas kepala mereka, tidak lupa dengan beberapa kawat terhubung ke sembarang arah.
"Kertas apa ini? Tulisannya aneh sekali." Ejek dah satu prajurit itu.
"Mungkin ini jebakan?"
"Sebaiknya tetap berhati-hati." Ucapnya memperingatkan.
Mereka segera berjalan melewati jebakan itu dengan selamat dan mereka tiba di kawasan lumpur hisap. Dengan hati-hati mereka melangkah, namun...
"Aarrgghh!!"
Teriakan kesakitan dan kepanikan terdengar bersahutan. Beberapa prajurit dan bangsa Orch terjebak dalam lumpur hisap yang telah diberi racun oleh Leona.
"Apa-apaan ini!" Geram bangsawan pemberontak itu marah.
💠💠💠ðŸ’
Leona menggelantung dengan kepala menghadap ke bawah. Sesekali gadis itu bersiul-siul tenang membuat Iven dan beberapa ksatria menatapnya aneh.
"Bisakah kau bertindak normal sekali saja, Leona?" Gerutu Iven kesal. Leona mencibir dengan menirukan perkataan Iven.
"Ayolah, kenapa kau yang ribet, sih? Kau bisa menggantung lehermu di sebelah sana jika kau keberatan melihatku menggantung kaki." Balasnya santai sambil menunjuk ke sebuah pohon yang terletak tak jauh darinya.
"Kau menyuruhku bunuh diri, hah?!"
"Aku tidak menyuruhmu. Aku hanya memberi saran. Kau boleh mencobanya jika ingin." Sahutnya tak acuh yang sukses membuat Iven kesal sendiri.
"Aarrrhh! Berdebat denganmu hanya menguras emosiku!"
"Terimakasih pujiannya~"
'DUAARR!!'
Terdengar suara ledakan dikejauhan yang membuat Leona tersenyum lebar. Gadis itu segera turun dengan melompat dan merampas sebuah teropong yang di pegang oleh salah satu prajurit.
"Wah, mereka telah datang~! Aku tak menyangka mereka menjemput kita dengan meriah~!" Pekik Leona kegirangan yang sukses membuat orang-orang yang berada di sana sweatdrop. Astaga, gadis itu benar-benar aneh.
"Nona, kenapa Anda malah kegirangan seperti itu? Kita bisa saja ditangkap oleh mereka!" Seru salah satu prajurit dengan panik.
"Ayolah, Sir. Kita datang ke sana dengan baik-baik lalu... BOM! Kita menghancurkan markas mereka dengan baik. Kita tidak perlu menahan luka atau menghadap malaikat maut dengan sia-sia." Balas Leona dengan wajah tengil.
__ADS_1
Sontak perkataan Leona membuat mereka yang berada di sana ingin mengubur gadis itu sekarang juga.