Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 47


__ADS_3

Derap langkah kuda memecah sunyinya malam. Beberapa orang yang sedang berjaga memicingkan mata menatap ke arah asal suara itu . Saat menyadari siapa yang datang itu, seketika mereka panik dan memanggil rekannya.


"Penyerangan! Ada penyerangan!!"


"Siapkan senjata!!"


"Tutup gerbangnya!!"


Teriakan kepanikan menjadi nyanyian malam yang sunyi yang entah kenapa terasa begitu mencekam. Beberapa warga sipil memilih menyelamatkan diri, enggan keluar dari rumah mereka.


Beberapa orang yang tengah bersantai dan menikmati hiburan buru-buru bangkit dan segera bersiap menyerang penyusup.


Kepanikan yang melanda membuat mereka tidak sempat mempersiapkan diri. Rencana penyerangan akan di lakukan dua hari lagi, siapa sangka mereka datang dua hari lebih awal.


'Srasshh'


'Srasshh'


Beberapa orang di pintu gerbang desa kini telah tewas bersimba darah. Penyusup itu telah berhasil menghabisi penjaga dalam sekali tebas tanpa hambatan yang pasti.


Penyusup itu segera menyebar menuju bagian dalam desa, menghabisi siapapun yang terlihat di luar rumah.


Malam ini banyak nyawa yang melayang sia-sia. Banyak bangsa Orch tergeletak tanpa sempat melawan.


Beberapa saat kemudian terdengar gemuruh derap langkah kuda. Beberapa ksatria datang menghunuskan pedangnya. Pertarungan sengit tak dapat di hindarkan lagi.


Seorang pemuda berambut merah berlari sambil menghunuskan pedang besarnya yang kini bewarna merah. Sekali tebas, musuh itu tewas dengan isi perut terburai.


Sementara sebuah pola sihir muncul di bawah beberapa pasukan Orch, membuat mereka penasaran dan menghentikan langkahnya. Tak lama kemudian muncul banyak tombak es dan menusuk tubuh mereka. Teriakan kesakitan menggema membuat pemuda berambut baby blue menyeringai sadis.


Banyak prajurit menatap mereka ngeri, namun hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh seorang pria berambut ungu yang dikuncir. Tanpa aba-aba, dia menggumamkan sesuatu secara singkat lalu keluar pisau angin yang langsung menebas musuh mereka.


Mereka adalah Wei Tao, Eura dan Carl yang sibuk membabat habis pasukan pemberontak, sementara Kaisar Ein tengah sibuk memacu kudanya sambil menebas para musuh yang menghalangi jalan.


Pasukan pemberontak mulai bermunculan secara bertahap di pimpin oleh beberapa orang yang membuat beberapa Duke dari Seanthuria membelalakan matanya tak percaya.


Dia adalah kerabat permaisuri Seanthuria, count Quirky serta beberapa bangsawan yang juga merupakan keluarga besar permaisuri.


"Aku tak menyangka kau berniat menjadi pemberontak, count Quirky." Geram Duke Airion.


"Heh, siapa juga yang tidak ingin kekuasaan, Duke Airion. Hanya orang bodoh yang tidak tergiur dengan keuntungan begitu saja." Cemooh count Quirky dengan sombong.


"Penghianat!" Geram Duke Airion dan langsung menyerang count Quirky. Mereka kini bertarung dengan sengit.


💠💠💠💠


Leona kini telah selesai mengikat dua pria paruh baya itu dengan kencang, tidak lupa dengan mulutnya yang di sumpal dengan kain lap yang di dapat entah dari mana.


"Astaga, baunya bikin mual." Gerutu Leona menahan mual. Meskipun dia sudah terbiasa melihat darah maupun organ berceceran, namun hubungan sesama jenis ini membuat isi perut mereka ingin keluar.


"Nona, kita apakan dua bedebah ini?" Tanya Kei geram.


"Biarkan korban dan warga yang mengeksekusi mereka. Lagipula korban mereka cukup banyak." Sahut Leona sambil menatap beberapa wanita dan pemuda yang menangis. Hidup mereka telah hancur oleh dua penguasa bejat itu.


"Bedebah sampah ini jika di bunuh, itu terlalu mewah, Nona. Disiksa saja belum cukup." Racau Kei. Prajurit yang ikut bersamanya tidak menyangka jika pemuda siluman itu berani berbicara kasar dan mengumpat di depan gadis itu.

__ADS_1


"Abaikan itu. Sebaiknya kita cari monster level dua yang di sembunyikan di sini. Itu lebih berbahaya dari seonggok sampah rendahan ini." Lanjut Leona.


Mereka segera keluar dan pergi menuju tempat monster yang di sembunyikan. Setelah mencari cukup lama, mereka akhirnya menemukan monster itu di ruang bawah tanah.


Terlihat beberapa monster tengah lepas dari kandangnya tengah memakan beberapa mayat manusia. Kedatangan Leona dan lainnya mengusik mereka. Mereka saling bertatapan layaknya pandangan pertama sebelum...


'GRRAAAA!!'


"CEPAT LARI KELUAR!!"


Terjadilah aksi kejar-kejaran antara pasukan Leona dengan sekumpulan monster itu. Mereka berlari ke atas dan keluar menyebar menghindari monster itu.


Mereka berlari kocar kacir. Monster level dua bukanlah tandingan mereka. Namun beberapa monster level rendah menengah ikut keluar mengejar mereka.


"GYAAA!! MENJAUH DARIKU, MONSTER JELEEKK!!" Teriak Leona sambil berlari saat seekor monster tiga kepala menyerupai anjing, ular dan burung dengan gigi menyerupai taring yang besar dan tajam mengejarnya.


"ABAIKAN DIA! FOKUS DENGAN MONSTER YANG ADA DI HADAPAN KALIAN!" Teriak Iven memperingati. Dalam waktu singkat mereka telah menghabisi monster-monster itu dan mengambil intinya. Mereka mengalahkan monster itu dengan mudah mengingat perut mereka telah kekenyangan.


Tak lama kemudian monster yang mengejar Leona berlari kocar kacir dengan dua kepala yang putus, tidak lupa banyak luka menganga di tubuhnya.


"UHUYY!! KEMARILAH SAYANG!! DATANGLAH PADA MAMA!! UANGKU, KEMARILAH!!" Teriak Leona sambil berlari mengejar monster itu. Seketika para prajurit yang mendengar teriakan Leona sweadrop ria. Mereka tak habis pikir dengan tingkah Leona yang kadang di luar akal sehat.


Leona melompat tinggi-tinggi dan mendarat di punggung monster itu dengan mulus lalu mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna ungu. Tanpa basa basi dia langsung menuangkan pada luka si monster.


Jeritan memekakkan telinga seketika memecah keheningan malam. Leona segera mengeluarkan sebuah rantai chakra dan mengikat mulut monster itu.


"Suaramu jelek sekali." Cibir Leona.


Beberapa saat kemudian tubuh monster itu meleleh dan meninggalkan intinya. Leona tersenyum senang lalu mengambil inti itu sambil bersiul-siul bahagia.


Sementara Iven dan prajurit menatap Leona ngeri. Memang gadis itu sangat cantik namun terlalu brutal.


💠💠💠💠


Mereka kini segera menuju sebuah kediaman besar yang merupakan markas milik ketua pemberontak. Begitu mereka tiba di sana, terlihat beberapa orang melawan seekor monster level dua.


Seorang gadis dengan mata merah menyala berteriak kegirangan. Dia melompat setinggi-tingginya lalu mendarat cantik di punggung monster itu seakan mencoba menjinakan banteng liar.


Beberapa orang segera menyingkir sejauh mungkin sambil menyeret rekannya yang terluka saat mendengar perintah dari pemuda bersurai hijau itu.


Ya, gadis itu adalah Leona yang menggila. Entah hal ajaib apa lagi yang dia tampilkan membuat Wei Tao dan Eura terkekeh geli.


"Ahaha... Dia terlalu semangat, Baginda." Ucap Carl saat melihat hal gila murid perempuan nya.


"Itu sudah biasa, Guru. Dia bahkan lebih gila dari ini." Celetuk Eura dengan watadosnya.


"Memang hal gila apa yang biasa dilakukan oleh rekanmu itu?" Tanya Kaisar Ein sedikit tertarik.


"Mengobrak-abrik sarang monster, menghancurkan markas bandit, bahkan menghancurkan beberapa properti akademi." Jawab Wei Tao.


"Dia menggila begitu melihat darah. Dia bermain-main dulu dengan musuhnya sebelum menghabisi mereka." Timpal Eura.


Mereka kembali menonton Leona yang mengambil ancang-ancang untuk meninju sang monster yang kini mulai kelelahan.


'Duakh'

__ADS_1


'Bruakh'


Pukulan itu membuat retakan besar di sekitarnya, dan sebuah retakan merambat di bangunan yang terletak di belakang gadis itu, lalu bangunan itu roboh rata dengan tanah.


Seketika mereka semua melongo tak percaya dengan kekuatan milik Leona yang begitu luar biasa. Sementara sang pelaku malah tersenyum tanpa dosa sambil mengambil inti monster. Dia melompat sambil bersiul-siul senang.


"Wow... Dia benar-benar klan Tigries."


Calvian yang melihat hal itu terkesima. Pukulan Leona mampu membunuh seekor monster yang bahkan susah di habisi oleh prajurit biasa. Hanya orang circle lima keatas yang mampu menghabisi nya, itupun harus menerima beberapa luka dan menghabiskan banyak mana.


Sementara gadis tanpa mana mampu membunuh dengan mudah hanya dengan tinjunya. Seketika Calvian merasa menyesal telah mengabaikan Leona selama ini, apalagi mendengar penuturan dari Eura dan Wei Tao. Sudah pasti gadis itu lebih kuat darinya.


💠💠💠💠


Banyak warga desa berkumpul di alun-alun desa dengan rasa takut. Mereka yang melihat hal itu langsung paham jika selama ini mereka hidup kesusahan.


"Aku mengumpulkan kalian semua untuk membagi kabar bahagia." Seru Leona sambil menatap mereka yang kini memandangnya penasaran.


"Aku hadiahkan sesuatu yang istimewa. Terserah mau kalian apakan." Leona melanjutkan perkataannya bertepatan dengan munculnya Kei sambil menyeret dua orang pria paruh baya yang kini telah terikat dalam kondisi babak belur. Seketika sorak sorai terdengar bergemuruh. Leona segera mengikatnya di sebuah tiang dengan posisi terbalik.


"Siapapun yang dendam atau benci dengannya, silahkan lampiaskan. Aku akan memberi kalian sekantong emas dan stok makanan!" Seru Leona memprovokasi penduduk.


Kaisar Ein dan lainnya hanya bisa menatap Leona dengan tatapan tanda tanya. Darimana gadis itu mendapatkan banyak koin emas dan stok makanan yang menggunung di belakangnya?


"Gara-gara mereka, kami kehilangan masa depan!"


"Karena mereka, anak-anakku tidak memiliki ayah!"


Dan banyak seruan lainnya yang memilukan.


Mereka segera menyiksa dua pria yang terikat itu. Ada yang melempari dengan batu, menggunakan sihir bahkan melemparkan senjata. Kondisi keduanya cukup memperihatinkan dengan luka yang semakin parah, lalu seorang pria tua datang dan mencambuk mereka berdua yang kini telah sekarat.


'Ctarr'


'Ctarr'


"Gara-gara mereka, kami menderita. Mereka telah merampas apa yang menjadi milik kami!"


Setelah beberapa cambukan, mereka berdua akhirnya tewas dengan keadaan yang mengenaskan.


"Sesuai janji, kalian bisa mengambil stok makanan dan sekantong koin emas yang terdapat di belakang saya."


Sontak mereka kegirangan dan mengambil stok makanan dan koin emas secara tertib.


"Darimana kau mendapatkan semua itu?" Tanya Duke Airion penasaran.


"Ini adalah hasil penjarahan kediaman besar milik pemberontak, Tuan. Lagipula sayang sekali jika uang dan makanan terbuang begitu saja." Jawab Leona santai.


"Hahaha! Kau cerdas sekali." Puji Duke Spedarrow sambil menepuk pundak gadis itu. Mereka benar-benar takjub dengan Leona dan timnya.


"Misi telah selesai. Kita kembali ke akademi." Ucap Carl yang langsung membuat Leona dan temannya memekik senang.


"Yay! Liburan! Liburan!"


"Liburan kali ini Guru yang mentraktir!"

__ADS_1


Calvian yang melihat Leona lebih dekat dengan Carl hanya bisa tersenyum miris, sementara Arthur tersenyum haru. Leona kini terlihat lebih banyak tersenyum saat terakhir kali tinggal di kediaman Castallio.


'Aku harap Nona bahagia selalu.' Doa Arthur dengan tulus.


__ADS_2