Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 51


__ADS_3

Leona dan para sahabatnya duduk di cafe milik Leona. Dia membagikan uangnya kepada mereka berempat sambil tersenyum sumringah.


"Ini adalah uang milik kalian."


"Sudah sepantasnya kau membayar kami mengingat kau menggunakan uang kami." Ucap Iven sambil menerima sekantong besar yang berisi koin emas.


"Haha! Lain kali aku akan mengajak kalian ke kasino lainnya."


Tak berapa lama berbagai macam hidangan seafood tersaji di hadapan mereka. Tanpa buang waktu mereka langsung menyantap hidangan tersebut.


"Wah, makanan ini benar-benar enak!" Puji Eura dengan mata berbinar saat merasakan sensasi asam pedas dari ikan yang di santapnya.


"Ho-oh! Aku baru pertama kali merasakan olahan seafood seperti ini." Ucap Kiara antusias sambil meneruskan suapannya.


"Bahkan di kediaman bangsawan pun, olahan seafoodnya kalah dengan ini."


Leona hanya tersenyum dan menatap dua pemuda silumannya yang makan dengan tenang.


"Tidak sia-sia aku mengajak kalian kemari. Kalau begitu habiskan makanannya. Aku traktir kalian sepuasnya!"


Leona dekat dengan Kiara saat ujian masuk akademi, lalu dengan Eura ketika sparing, Wei Tak saat berkunjung di perpustakaan dan Iven saat melihat pemuda itu membuat patung.


Lalu suatu hari Leona membawa mereka pergi ke pusat kota kerajaan untuk berkeliling, siapa sangka dalam perjalanan mereka bertemu dengan sekelompok bandit.


Leona yang tidak memiliki mana hanya memerlukan sebuah balok kayu untuk mengalahkan bandit-bandit itu dalam waktu singkat, lalu mencari markas bandit itu dan menjarahnya.


Sontak saja mereka berempat menatap Leona dengan kagum. Tidak ada bangsawan yang ahli bela diri, kecuali berpedang dan menggunakan sihir.


"Meskipun memiliki mana yang besar, namun percuma jika kau tidak bisa mengendalikannya. Jika kau memiliki kapasitas mana yang sedikit, namun bisa mengendalikannya. Kau bisa menghancurkan sebuah gunung dengan sihir yang kecil." Ucap Leona saat sparing bersama salah satu bangsawan yang sama-sama siswa akademi Moon Shadow.


Leona bahkan mengajari mereka sihir yang rumit, bahkan menggunakan sihir tanpa mantra. Meskipun dia tidak memiliki mana, namun Leona tetap mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sihir.


Meskipun mereka kerap kali mendapatkan julukan sebagai pembuat onar, namun kekuatan fisik mereka lebih unggul dari ksatria dalam kecepatan dan kelincahan. Tidak heran beberapa murid segan kepada mereka.


"Aku dengar Iris akan mengadakan pertunangan dengan putra mahkota." Ucap Kiara sambil menatap Leona.


"Benar. Katanya mereka akan mengadakan pesta yang sangat meriah. Aku penasaran dengan hidangan yang disajikan oleh pihak kerajaan." Ucap Leona sambil menyuap makanannya.


"Aku pikir kau merasa tersaingi dengan anak pungut itu." Ucap Kiara.


"Tidak. Justru aku merasa tidak terbebani dengan lamaran itu. Aku terselamatkan."

__ADS_1


"Yah, siapa juga yang tahan dengan sikap bar-barmu itu yang tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan." Celetuk Iven.


"Oh, terimakasih pujian Anda, Tuan Iven." Ucap Leona dengan sopan dengan nada lemah lembut yang justru membuat pemuda bersurai hijau itu merinding.


"Hentikan itu, Leona! Itu terdengar menggelikan!" Seru Iven kesal.


Bahkan Kei dan Ken merinding dan menatap Leona dengan horor. Jika mereka dalam wujud hewannya, sudah dipastikan bulu mereka berdiri sepenuhnya.


"Hahahah...."


💠💠💠💠💠


Kaisar Ein memijit pelipisnya pelan. Salah satu artefak penting telah hilang belasan tahun lalu membuatnya semakin pusing, belum lagi tuntutan fraksi bangsawan yang memintanya untuk segera menikah membuat pria itu geram.


"Bisakah kalian berhenti menjodohkan putri kalian kepadaku? Kau pikir aku ini seekor pejantan langka yang harus kawin dengan putri kalian, hah?!" Bentak Kaisar Ein sambil menggebrak meja. Seketika seluruh ruangan senyap mendadak.


"Aku pikir ada rapat penting yang mewajibkan aku hadir, ternyata rapat tentang hal bodoh begini?"


Kaisar mengeluarkan sihir lalu membakar semua berkas itu.


Salah satu bangsawan menyela dengan gugup, "T-tapi Baginda..."


"Diam! Jika sebegitu nya kalian ingin putri kalian melolong minta kawin, kenapa tidak dengan pilihannya sendiri? Kalian pikir aku ini ajang pamer, hah?!"


Emosi Kaisar Ein mereda mendengar salah satu perkataan salah satu bangsawan itu.


Kaisar menatap bangsawan itu dengan tatapan berbinar dan menggenggam tangannya. Seketika bangsawan itu merasa gugup karena di tatap sedemikian oleh Kaisar. Ayolah, dia sudah memiliki istri dan dia masih normal.


"Benarkah? Apakah ada hal yang ingin kau katakan?"


"Baginda, tolong tatapan mata Anda di jaga. Nanti orang-orang salah paham melihat Anda begitu." Tegur Markian tegas.


"Bisakah kau tidak berisik, Markian? Aku akan menyiksamu dengan setumpuk dokumen jika berbicara lagi." Ancam Kaisar Ein


"Baik, Baginda." Markian langsung diam dan berdiri di belakang kaisar.


"Baginda, raja Seanthuria akan mengadakan pesta pertunangan dengan putri angkat Duke Castallio akhir musim semi di istananya. Anda mendapat undangan khusus dari beliau." Ucap bangsawan itu sopan.


"Panggilkan Carl dan timnya. Aku ingin mereka menghadap ke istana tiga hari lagi."


"Baik, Baginda."

__ADS_1


Pria itu segera undur diri dari sana. Kaisar Ein kembali menatap kumpulan bangsawan itu dengan tajam. Di tambah dengan retinanya yang runcing membuat tatapannya semakin tajam.


"Jika kalian ingin meminta kekuasaan dengan perjodohan bodoh ini, sebaiknya kalian saja yang menikahi putri kalian." Lalu Kaisar Ein meninggalkan ruangan rapat dengan emosi yang meluap-luap.


'BRAAKK'


Pintu ruangan itu di tutup dengan kencang membuat seisi ruangan berjengit kaget.


"Astaga, dokumenku belum di sentuh sama sekali dan mereka malah membahas hal bodoh begini. Waktuku untuk beristirahat semakin berkurang." Kaisar meratapi nasibnya sambil menendang pintu ruang kerjanya dengan keras membuat beberapa asistennya terlonjak kaget.


Kaisar menghempaskan bokongnya di meja kerjanya sambil menghela nafas kasar. Lalu dia mengambil sebuah dokumen dan mencoret-coretnya dengan asal, bahkan beberapa di lipat menjadi kapal kertas dan menerbangkannya.


Mau berkas penting atau tidak, Kaisar tidak peduli dan tetap mencoret-coretnya dengan santai. Bahkan setumpuk dokumen di lemparkannya dalam perapian begitu saja.


Para bawahannya tidak berani menegur pria itu. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah Kaisar mereka yang di luar nalar.


💠💠💠💠


Calvian menatap kepala manusia yang di dapatkan dari kamar Iris beberapa waktu lalu dengan datar. Kepala itu tetap segar karena terdapat sebuah sihir pengawet.


Dia juga membaca laporan yang di bawa oleh Harres dan Lucas, ternyata kepala itu milik dari Baron Cohen yang di bunuh oleh baron muda Calisiuss.


Seketika emosi Calvian meluap saat mengetahui laporan yang di bacanya. Ternyata Baron Cohen ingin menguras kekayaannya dengan menggelapkan dana darurat yang dikirimkan setiap tahunnya dalam jumlah yang tak sedikit.


Bahkan dia baru mengetahui jika Iris merupakan anak luar nikah dari Baron Cohen yang sengaja di usir dari kediamannya sendiri.


Untungnya Baron muda Calisius berhasil membunuhnya saat baron Cohen ingin bergabung dengan desa Bloom Mist, desa tanpa pemilik sekaligus desa yang keberadaannya di hapus dari peta.


Calvian penasaran dengan keberadaan desa tersebut dan ingin berkunjung ke sana sekaligus bertemu dengan pemimpin desa itu.


"Harres, siapkan kuda. Aku ingin pergi ke suatu tempat."


"Baik, Tuan."


Harres segera pergi meninggalkan Calvian seorang diri.


Calvian kembali membaca tentang desa Bloom Mist. Menurut informasi yang di dapatkan, desa itu berdiri dua tahun lalu bertepatan dengan kepergian Leona. Desa itu di pimpin oleh baron muda Calisius bersama seorang gadis cantik yang merupakan keponakannya. Mereka berdua membangun dan menata ulang desa itu tanpa bantuan dari siapapun dan merupakan desa paling maju diantara desa lainnya dalam waktu yang singkat. Bahkan lebih maju dari duchy dan kerajaan, bahkan Kekaisaran.


Kebanyakan penduduk desanya merupakan Nolid dan orang yang di buang oleh kerajaan serta terdapat beberapa siluman di sana. Dulu tidak ada bangsawan yang mengulurkan tangan untuk membantu desa itu. Dan lebih mencengangkan lagi, desa itu masih berada dalam wilayah kekuasaannya.


"Apakah Leona pergi ke desa ini?" Gumamnya tak percaya. Dia ingin mengajak Leona kembali tinggal di kediaman Castallio dan memberikan kasih sayangnya yang tak pernah di berikan Leona, namun sayangnya gadis itu telah debut setahun lalu.

__ADS_1


Mengingat sikapnya yang dingin dengan Leona beberapa waktu lalu dan selalu meremehkannya, seketika Calvian merasa putus asa. Jika saja waktu bisa di putar kembali, Calvian hanya bisa berandai-andai mengingat dia telah menorehkan banyak luka pada putri kandungnya sendiri.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku telah membuat kesalahan fatal..." Lirihnya putus asa.


__ADS_2