
"Paman, karena desa kita memiliki sangat banyak batu sihir, bagaimana jika kita membuat kereta sihir?" Tanya Leona sambil memandang pemandangan desanya yang terlihat seperti surga.
Semilir angin dengan semerbak bunga dengan aneka bunga bewarna-warni dari bermacam-macam jenis bunga mengingat sekarang merupakan puncak musim semi membuat Leona merasa rilex.
"Sepertinya itu ide bagus, Leona-sama. Mengingat pemandangan di luar desa yang begitu menakjubkan serta jaraknya lumayan jauh dari desa lainnya, kita bisa memanfaatkan itu." Usul Herling, siluman elang.
"Degan memanfaatkan orang-orang dari desa lain yang ingin mengajukan kerjasama, kita bisa menjadikan desa kita sebagai desa wisata. Karena ini desa tanpa pemilik, aku khawatir jika desa kita bisa menimbulkan perang." Jim berkata dengan nada khawatir.
"Ohoho... Desa kita tidak bisa di temukan dengan mudah, Paman. Bukankah ada empat desa yang ingin bergabung dengan kita? Pihak kerajaan maupun orang yang ingin merebut desa kita tidak bisa menemukan desa kita dengan mudah karena aku telah membuat ilusi khusus. Mereka akan melihat desa kita sebagai desa reruntuhan." Ucap Leona santai.
"Leona-sama, Anda memang luar biasa. Otak Anda yang cemerlang bisa mengubah nasib kita menjadi lebih baik." Puji Xavier. Pelayan itu terus bercuap-cuap ria memuji Leona yang membuat gadis itu jengah.
"Xavier, mulutmu itu terlalu berbusa. Sebaiknya kau diam atau aku akan memotong gajimu selama setahun penuh."
"Baik, Leona-sama. Mohon maafkan saya." Ucap Xavier dan dia langsung diam seketika.
Meskipun mereka dan para penduduk ingin memuji Leona karena membuat perubahan lebih baik dalam segala hal, namun niat mereka di urungkan. Selain tidak suka di puji berlebihan, Leona mengancam mereka dengan membayar pajak sebanyak seratus kali lipat jika mereka bercuap-cuap memujinya. Bahkan memotong gaji pekerja selama setahun penuh.
Bagi Leona, pujian berlebihan merupakan tipikal penjilat. Dia tidak ingin ada penjilat di desanya, meskipun dari anak buahnya.
Jadi mereka hanya bisa menatap Leona dengan kagum dan bertekad tidak akan menghianati Leona. Mereka bahkan dengan sukarela meminta segel tutup mulut yang kadang membuat Leona frustasi.
💠💠💠ðŸ’
Puncak musim semi telah tiba. Carl dan ketiga pemuda yang menjadi rekan setim Leona kembali mengunjungi desa Bloom Mist. Kali ini mereka semua, baik pelayan maupun siluman serta seluruh penduduk menikmati indahnya bunga yang bermekaran.
Bahkan warga yang tinggal di tepi danau itu ikut menikmati suasana musim semi, karena merupakan wilayah Bloom Mist. Meski wilayah itu merupakan padang rumput.
Carl yang notabene seorang bangsawan tinggi pertama kali ikut berbaur dengan rakyat biasa. Dan untuk pertama kalinya pria itu mengikuti festival setelah sekian lama mengingat sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam medan perang.
Kaisar menganugerahi gelar Grand Duke mengingat perannya dalam medan perang. Namun pria itu menolak dan memberikan gelar itu pada kakaknya. Dia tidak ingin mengerjakan hal-hal yang merepotkan selain mengayunkan pedang.
Kaisar juga tidak memaksa dan tidak ingin kehilangan pria itu. Maka dia memberikannya sebuah pilihan untuk menjadi guru pembimbing dari keempat murid yang terkenal sebagai pembuat onar.
Dan tentu saja Carl menyanggupi nya dengan senang hati. Mengingat menjadi guru pembimbing bisa menjalankan misi bersama sekaligus bisa mengayunkan pedang serta mendidik keempat muridnya. Siapa sangka hasilnya malah seperti ini.
Keempat muridnya justru sangat membuatnya sakit kepala. Seperti sekarang ini,
"Hei, apa kalian tau tempat judi di ibu kota?" Tanya Leona sambil memakan buah bery tanpa etiket bangsawan.
__ADS_1
"Aku dengar ada sebuah kasino di bawah tanah. Apa kau ingin pergi kesana?" Tanya Eura penasaran.
"Yah, sepertinya begitu. Bukankah banyak bangsawan yang menghabiskan uang di sana? Kita habiskan saja uang mereka."
"Kau ini benar-benar." Jim menjewer telinga Leona gemas yang membuat sang empu memekik kesakitan.
"Aduduh! Paman, apakah kau mau melepaskan telingaku dari tempatnya? Aku bisa tuli karenamu!" Protes Leona.
Jim melepaskan jewerannya pada telinga Leona lalu pria dengan mata cokelat indah dengan retina runcing itu memelototi keponakan cantiknya, "Justru aku khawatir denganmu, Leona. Bagaimana jika kau gagal nantinya?"
"Aku tau siapa yang harus aku tantang, Paman. Setidaknya membangkrutkan satu kasino adalah hal yang sangat mudah untukku." Sahut Leona pongah.
"Selama ini kau membuat lima kasino bangkrut, Leona. Jadi bagaimana jika raja curiga dan menangkapmu?" Tanya Iven khawatir.
"Raja bodoh itu hanya sibuk dengan acara pesta di sana sini, permaisuri juga sibuk dengan perhiasan dan gaun mewah. Jadi tidak masalah jika membuat beberapa bangsawan bangkrut mendadak, kan?" Cengir Leona.
"Ah, benar. Aku berhasil membuat permaisuri berbelanja cukup banyak. Dia bahkan menghabiskan separuh uang kerajaan untuk belanjaannya." Ucap Saga bangga.
"Ahaha! Kerja bagus, Saga. Lagipula kerajinan dari desa kita memang tiada tandingnya karena para pengrajin membuatnya susah payah." Puji Leona. "Lalu informasi apa yang kau dapatkan?"
"Akhir musim semi nanti, raja akan mengundang beberapa orang yang ikut dalam memberantas pemberontak ke istana sekaligus pengumuman pertunangan putra mahkota dengan Nona Iris."
"Oho~ Pesta, ya? Kira-kira aku hadir gak ya~? Soalnya di sana banyak topeng penjilat yang menjijikkan." Ucap Leona sambil mengerjapkan matanya polos.
"Tidak, tuh. Lebih baik aku menghabiskan waktu untuk berlatih dan bersantai daripada memikirkan percintaan yang bisa membuat lebih bodoh dari orang bodoh." Jawab Leona riang lalu memeluk Ken yang kini dalam wujud harimau dengan mesra. "Ken, kau tampak lebih imut dari terakhir yang ku ingat~! Kyaaa~~"
Seketika mereka yang mendengar perkataan Leona tersedak berjamaah.
💠💠💠💠ðŸ’
Setelah menyelesaikan liburan misi, kini mereka kembali ke akademi. Leona bertemu dengan Keira dan beberapa temannya yang lain dan menceritakan pengalaman mereka.
"Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama!" Pekik Kiara sambil memeluk Leona erat.
"Lepaskhan akhu! Kau mau membunuhku, hah?!" Seru Leona sambil melepaskan diri dari jeratan Kiara.
"Hehehe... Aku hanya merindukan sahabatku ini." Cengir Kiara tanpa dosa. Lalu dia melirik ke arah dua hewan predator yang berada di sebelah Leona.
"Kau membawa seekor Harimau lagi?"
__ADS_1
"Dia menatapku dengan tatapan imutnya yang membuatku tak tahan. Jadi aku bawa saja dia."
Harimau itu menggoyangkan ekornya lalu menggosokkan kepalanya di kaki Leona sambil mengeluarkan dengkuran khasnya. Mereka yang melihat pemandangan itu sedikit ngeri lalu menatap Leona yang kini menatap harimau itu dengan berbinar.
Suara tawa memenuhi kasino yang terlihat mewah dan elegan. Beberapa pengunjung tengah sibuk menonton orang-orang yang bertaruh. Terlihat seorang gadis cantik bak peri tengah menatap pria paruh baya dengan tatapan angkuhnya.
Pria itu menatap gadis cantik itu dengan marah. Gadis itu telah berhasil mengalahkan semua penantangnya dan dia tidak ingin gadis itu pergi begitu saja. Bisa-bisa dia bangkrut nantinya.
Gadis itu tak lain adalah Leona. Di dampingi oleh Kei dan Ken yang kini berwujud manusia serta Kiara dan rekan setimnya, dia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan mengejek.
"Hei, Tua Bangka. Apakah kau tidak menyerah juga?" Tanya Leona dengan senyum miring tercetak di wajahnya.
"Aku tidak akan menyerah sebelum membuat mu bertekuk lutut dan memohon-mohon di kakiku! Tidak sebelum aku mendapatkan dua siluman di belakangmu!" Teriaknya sambil menunjuk ke arah Kei dan Ken dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku sudah bilang bahwa mereka bukan siluman, Tua Bangka! Aku yang menjahili mereka kemarin karena mereka kalah taruhan. Mereka ini orangku." Bantah Leona santai. Dia tidak ingin keberadaan mereka ketahuan oleh Raja dan memperburuk keadaan mereka.
Pria itu membuka kartunya dan menatap Leona dengan sombong.
"Aku tak percaya! Jelas-jelas mereka siluman!" Kekeh pria tua itu.
"Ya sudah jika kau tak percaya. Apa kau ingin memiliki rambut yang sama juga? Mau motif seperti macan tutul? Harimau putih atau yang lainnya?" Tanya Leona dengan senyum mengejek lalu mengeluarkan kartunya.
Seketika pria itu menatap tumpukan koin di hadapannya yang kini menyusut. Dia menatap Leona tajam dengan banyak koin emas di sebelahnya.
"Yah~ Sangat disayangkan. Aku menang lagi, Pak Tua. Jadi kau kalah deh~" Ucap Leona dengan nada yang di buat sedih.
"Sialan kau!" Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Leona segera menyuruh Kiara menyimpan tumpukan koin emas itu di ruang penyimpanannya.
"Aku menang, Pak Tua. Terimakasih untuk malam yang memuaskan ini." Leona segera beranjak meninggalkan tempat itu di susul oleh teman-temannya.
"Tangkap dan bunuh mereka!" Raung pria itu marah.
Beberapa pengawal datang mengepung mereka sambil menyodorkan pedang. Leona dan lainnya sudah terbiasa dengan kejadian ini hanya terkekeh riang sambil melemaskan otot nya.
"Mau bersenang-senang, Tuan? Akan kami ladeni."
Seketika pertarungan sengit tak dapat di hindarkan lagi. Leona dan lainnya mengalahkan mereka dengan tangan kosong. Dalam waktu singkat kasino itu hancur berantakan dengan beberapa orang tergeletak tak sadarkan diri dalam kondisi babak belur.
Melihat orangnya di kalahkan dengan mudah, pria itu menggumamkan sesuatu lalu mengeluarkan sebuah sihir dan mengarahkan pada Leona. Kiara dengan sigap mengeluarkan sihir pelindung dan menyerang balik pria itu.
__ADS_1
'DUAARR'
Pria itu terkapar tak sadarkan diri. Leona dan yang lainnya pergi meninggalkan kasino yang berantakan itu.