
Casian berlari menyembunyikan diri saat melihat kekacauan itu. Setelah mengikuti perang beberapa waktu lalu, mana di dalam dirinya mengalami kekacauan yang membuatnya tidak bisa menggunakan sihir terlalu sering dan sakit-sakitan.
Apalagi saat melihat gadis yang dia bunuh beberapa waktu lalu. Apakah gadis itu melakukan sihir hitam atau perjanjian dengan bangsa iblis? Entahlah. Yang penting menyelamatkan diri terlebih dahulu.
Pria itu memacu kudanya dengan kecepatan penuh menuju istana. Setelah tiba di istana, dia segera turun dan menyerahkan kudanya pada salah satu penjaga dan berjalan tergesa-gesa menuju istana miliknya. Entah mengapa tubuhnya merasa aneh akhir-akhir ini.
Begitu tiba di kamarnya, seketika ledakan mana terjadi di dalam tubuhnya, menyebabkan pria itu memuntahkan seteguk darah hingga membasahi pakaian kebesarannya. Seketika pria itu merasa tubuhnya lemah tak bisa digerakkan.
Sementara itu raja Grambiel segera menuju ruangan khusus yang berisi altar. Dia segera berdiri di salah satu tempat dan menyuruh seorang pelayan mengambil mangkok yang berisi darah empat duke.
"Di mana putra mahkota?" Tanya raja Grambiel sambil mengelus dagunya.
"Dia berada di kamarnya, Yang Mulia. Sepertinya kondisi beliau tidak baik." Sahut ajudan kepercayaannya.
"Panggil dia untuk kemari."
"Baik, Yang Mulia." Ajudan itu segera pergi meninggalkan raja Grambiel.
Beberapa saat kemudian datang seorang pelayan membawa sebuah nampan yang berisi empat mangkok cairan bewarna merah. Raja Grambiel segera mengambil ke empat mangkok itu dan mencampurkan dalam sebuah wadah.
"Seandainya saja aku mendapatkan darah siluman dan bangsa Tigries, semuanya akan menjadi cepat dan aku bisa memuaskan raja kegelapan." Ucapnya sambil memasukkan sihir cahaya di dalam mangkok itu.
"Ada apa Ayahanda memanggilku?" Tanya Casian dengan wajah yang terlihat sedikit pucat. Sesekali pria itu berbatuk ria.
"Perintahkan prajurit berjaga di istana. Kau juga ikut berjaga." Perintahnya mutlak.
"Uhuk... Uhuk... Baik, Ayahanda." Sahut Casian tanpa bertanya lebih lanjut. Sepertinya para rakyat dan bangsawan akan memanas mengingat sang raja kabur begitu saja tanpa menurunkan perintah, belum lagi ketidakhadiran putra mahkota setelah kekacauan terjadi. Setelah kepergian putra mahkota, raja Grambiel membuka kalung yang di gunakannya dan merendamnya dalam darah itu. Tanpa mengetahui jika darah itu merupakan darah ayam yang di campur dengan darah sapi, darah bangsa Orch dengan sedikit racun serta sambal oleh Kiara dan Khalix.
"Hahaha! Akhirnya aku bisa mengendalikan ke empat duke itu, hahaha!"
💠💠💠💠ðŸ’
Kaisar Ein memasuki istana kerajaan Seanthuria bersama beberapa pengikutnya. Begitu memasuki wilayah istana, terjadi pertarungan antara pasukan kerajaan dengan pasukan kekaisaran. Dengan mudah mereka menaklukan prajurit itu dan segera merangsek menuju istana tempat sang raja berada.
Istana raja terlihat cukup sepi dan suram mengingat banyak orang yang enggan bekerja di istana ini. Bahkan banyak prajurit yang mengundurkan diri menjaga istana dan hanya segelintir orang yang mau melindungi raja.
Mereka menggeledah istana, hingga mereka berpapasan dengan putra mahkota Casian.
Casian terkejut saat melihat Leona yang kini tidak mengenakan masker.
"K-kau!"
"Apa? Masih hidup?" Ledek Leona sambil menelengkan kepalanya, tidak lupa memasang wajah polos seolah-olah tidak tau apa-apa.
Casian geram dengan perkataan gadis itu. Tidak mungkin dirinya masih hidup. Dia ingat jika telah menusuk Leona tepat di jantungnya.
"Kau pasti melakukan perjanjian dengan iblis atau menggunakan sihir hitam, kan?" Tudingnya penuh tuduhan. Pasalnya gadis itu telah mati di tangan putra mahkota empat tahun lalu.
Leona hanya terkikik geli, sementara Kaisar Ein, Iven, Wei Tao dan Eura hanya bisa menahan kesal saat mengingat hari itu, dimana mereka menangisi seonggok ranting karena mengira gadis itu telah mati.
"Pfftt... Oh, astaga. Aku tak menduga jika putra mahkota kerajaan ini sangat bodoh." Cibir Leona yang membuat Casian menggeram marah.
__ADS_1
"Beraninya kau menghina keluarga kerajaan?" Geram Casian kesal yang di balas cibiran dengan menirukan perkataan Casian.
"Sialan, kau! Serang mereka!"
Pertarungan tak dapat di hindarkan lagi. Leona dengan santai mengalahkan pengawal itu dengan tangan kosong. Casian melayangkan serangan sihir pada gadis itu, namun berhasil di halau oleh Khalix.
"Kalian pergi ke ruang bawah tanah. Cegah raja untuk membangkitkan raja kegelapan!" Perintah Khalix.
"Kami percayakan padamu, Khalix." Ucap Kaisar dan pergi meninggalkan Khalix yang kini berduel dengan putra mahkota.
Mereka segera menyusuri istana itu sambil mencari tempat yang di duga menjadi tempat persembunyian raja. Hingga akhirnya mereka tiba di ruang bawah tanah dan mengacak-acak tempat itu.
Kaisar menemukan sebuah ruangan dengan tulisan kuno dan mendobraknya. Terlihat raja Grambiel tengah sibuk melakukan ritual dengan mantra-mantra yang sulit di mengerti.
"Hahaha! Dengan begini, raja kegelapan akan muncul!"
"Hentikan, raja Seanthuria!"
Terlihat Kaisar Ein bersama pengikutnya menatap raja itu dengan dingin.
"Kau tidak bisa menghentikan ku, Kaisar! Setelah ini, aku akan menjadi terkuat dan menguasai benua ini! Dengan begitu, tidak ada lagi yang meremehkan dan menghinaku." Desis raja Grambiel penuh percaya diri.
"Setelah ritual ini selesai. Kalian semua bahkan seluruh bangsawan hanya tunduk padaku dan menyembahku. Hahaha!"
"Hei, sepertinya dia masih tidur mengingat igauannya keras keras sekali." Celetuk Leona setengah berbisik.
"Kau benar, Leo. Atau mungkin dia sedang mengkhayal dengan mimpinya." Balas Kaisar Ein sambil siaga.
"Amati situasinya dulu sebelum mengambil keputusan. Kita tidak bisa mati konyol di tempat ini."
💠💠💠💠ðŸ’
Para bangsawan yang melihat rombongan Kaisar Ein memasuki istana segera menyusul secara diam-diam. Apalagi saat melihat mereka membabat habis beberapa penjaga istana dan melihat pertarungan Khalix dengan putra mahkota.
"Seharusnya kau sudah mati sejak dulu! Hanya karena kau anak ratu, semua orang memandang rendah aku yang merupakan anak permaisuri!" Teriak putra mahkota sambil menyerang Khalix dengan sihirnya.
"Bukankah raja menyayangi permaisuri daripada ibuku sendiri? Bahkan selir agung meninggal karena ibumu, dan ibuku selalu menangis sendirian di istana seorang diri." Balas Khalix sambil menahan serangan sihir Casian.
"Persetan! Kau harus mati! Aku muak melihatmu!"
Iris yang melihat hal itu hanya bisa menonton dari kejauhan, begitupun dengan beberapa bangsawan yang ikut ke istana.
"Kau sudah membunuh semua orang terdekat ku. Kau benar-benar menyedihkan."
Para bangsawan mengabaikan pertarungan itu dan segera menyusul rombongan kaisar yang menuju ruang bawah tanah. Mereka sampai di sebuah ruang khusus dengan energi yang cukup pekat dan kuat.
Apa yang mereka lihat dan dengar membuat mereka semakin kecewa dengan raja mereka.
"Anda benar-benar raja serakah, Yang Mulia." Celetuk Calvian menahan emosi yang membuncah.
"Heh, kalian berani mengkhianati ku? Tidak masalah. Setelah ini aku akan membunuh kalian!" Seru raja Grambiel percaya diri.
__ADS_1
Lalu semuanya berubah hening saat kalung itu retak dan muncul asap hitam yang membumbung tinggi memenuhi udara.
Lalu asap hitam itu membentuk sesosok manusia tampan dengan mata merah menyala. Suara tawa terdengar membahana membuat siapapun merinding mendengarnya.
"Hahaha! Akhirnya kau bangkit juga, raja kegelapan!"
Mendengar perkataan itu membuat raja kegelapan menghentikan tawanya dan menatap sekitar dengan dingin saat melihat beberapa manusia menatap mereka dengan keringat dingin.
"Wah, wah~ Aku tak menyangka bisa bebas!" Teriaknya kegirangan.
"Salam raja kegelapan." Hormat raja Grambiel yang membuat raja kegelapan itu menatapnya dengan dahi berkerut.
"Oh, rupanya kau. Mana darah yang ku minta? Aku harap kau menepati janji mu." Ucapnya tanpa basa basi.
"Bangsa siluman dan Klan Tigries telah lama musnah. Tapi aku mengganti darah mereka dengan darah empat duke yang dipenuhi mana dan sihir cahaya." Ucap raja Grambiel sambil menyerahkan sebuah mangkok besar bewarna merah.
"Tidak masalah." Ucapnya sambil menerima darah itu dan meminumnya. Namun tiba-tiba raja kegelapan itu mendesis kepedasan dan mengamuk, membuat mereka segera mundur meninggalkan ruang itu.
"Hwaaa!! Darah aneh apa ini?!" Raungnya marah dan menatap raja Grambiel dengan marah.
"Beraninya kau menipu ku!" Teriaknya sambil mendesis kepedasan lalu menghempaskan raja Grambiel ke dinding dengan kuat.
'Bruakh'
Raja Grambiel memuntahkan seteguk darah sambil memegang dadanya yang terasa nyeri. Sial, dia tidak tau jika darah itu telah di ganti.
Namun pandangan raja kegelapan berubah lembut saat melihat kaisar Ein. Dengan segera raja kegelapan mendekati kaisar Ein yang berada di luar ruangan khusus itu.
"Hai, tampan! Setelah sekian lama aku akhirnya dapat bertemu dengan pria tampan sepertimu! Kau memang salah satu kandidat tunangan ku! Tidak apa-apa kita berbeda, tapi pasti lebih menegangkan jika manusia menjalin kasih dengan raja kegelapan sepetiku!" Racaunya tak jelas.
Doeng
Hening mendadak. Para bangsawan mencerna hal yang baru saja terjadi, sementara itu Leona menatap kedua insan itu dengan antusias yang tinggi. Tidak menyangka jika sepupunya di lamar oleh seorang pria yang merupakan raja kegelapan.
Sementara Jim dan lainnya menahan tawa melihat hal itu. Tidak menyangka jika kaisar di lamar oleh sesama jenis yang membuat mereka menahan geli.
"Hei, ini tidak romantis sama sekali. Kau harus menyiapkan cincin dan bunga serta tempat yang mendukung." Celetuk Leona yang membuat raja kegelapan tersadar dan menatap Leona dengan berbinar, sementara kaisar Ein menatapnya horor.
"Ah, kau benar. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Pekiknya heboh.
"Aku akan membantumu menyiapkan tempatnya. Sebaiknya kau beli bunga dan cincin pertunangan. Ah, jangan merampas karena itu tidak romantis." Nasehat Leona serta memberikan sebuah catatan kecil. "Ini adalah toko perhiasan yang aku rekomendasikan. Pergilah ke sana."
"Aku percaya denganmu. Awas kalau kau tidak membantuku, aku akan membunuhmu." Ancam raja kegelapan itu dan menghilang dari sana.
"Apa yang kau katakan?! Aku masih normal, dasar bodoh!" Sembur kaisar Ein pada Leona yang memasang wajah tanpa dosa.
"Aku hanya mengulur waktu. Jadi ayo siapkan tempat untuknya." Lalu Leona menyeret Kei dan Ken lalu pergi dari sana.
"Kita tidak punya banyak waktu! Persiapkan tempat untuk pasangan baru kita!" Seru Leona sambil menjauh.
"Gaaahhh!! Dasar sepupu sengklek!!" Raungnya murka.
__ADS_1
"Ehem, sebaiknya kita serahkan raja itu pada bangsawan kerajaan. Kita bantu Leona untuk mempersiapkan acara pertunangan kaisar kita." Ucap Carl dengan nada menggoda dan pergi dari sana diikuti oleh yang lainnya.