
Setelah peperangan dengan raja kegelapan berakhir, kerajaan Seanthuria diakuisisi oleh Kaisar Ein dan menjadi bagian dari Kekaisaran. Namun kerjaan Seanthuria tetap dipimpin oleh seorang raja.
Jim dan rombongannya pamit karena Leona yang pingsan setelah bertarung. Namun langkah mereka dihadang oleh duke dan tuan muda Castallio.
"Leona ikut dengan kami, Jim. Dia adalah putri sah dari keluarga Castallio." Ucap Calvian tegas.
"Maaf, Tuan. Tapi Leona telah Anda usir dari kediaman beberapa tahun lalu. Bagi kami, bangsa Tigries, pengusiran itu pertanda penghinaan dan pemutusan hubungan darah." Tutur Jim.
"Tapi dia tetap adikku!" Seru Emillio tak terima.
"Dan dia keponakanku." Balas Jim tegas yang membuat mereka kaget. Bahkan semua yang berada di sana juga ikut kaget mendengar pernyataan pria itu.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa?!"
"Karena sepupuku yang kau nikahi adalah adik dari Kaisar terdahulu. Lebih tepatnya adik bungsu yang hendak mengunjungi sebuah desa yang bertarung dengan kerajaan ini saat raja Grambiel menjabat sebagai putra mahkota." Tutur Jim serius. Calvian dan Emillio mendadak pucat, bahkan Iris pun menatapnya tak percaya.
"Dan ibuku adalah kerabat jauh dari Kaisar terdahulu yang bekerja sebagai pelayan. Mata runcing adalah bukti dari klan kami. Semakin jernih warna mata, semakin tinggi tingkat kebangsawanan nya."
"Dan karena mengira bangsa Tigries itu hanyalah sekumpulan desa kecil, banyak warga desa Kekaisaran yang berada di tempat perbudakan. Bahkan tak jarang bangsa siluman juga ikut di berantas. Padahal Kekaisaran dan bangsa siluman itu bersahabat, loh." Imbuh Kaisar Ein memberi penjelasan.
Mereka yang ikut dalam penyerangan itu merasa bersalah. Mereka tak tau jika desa itu bagian dari kekaisaran.
"Biarkan aku yang merawatnya. Aku ingin menebus waktu yang terbuang bersamanya selama ini." Pinta Calvian.
"Luka hati yang diabaikan bertahun-tahun tidak dapat di obati, Tuan. Meskipun dengan mudah memaafkan, namun menghapus ingatan itu tidaklah mudah." Sergah Jim pedas .
Lalu pria itu juga menatap keluarganya yang dulu telah membuangnya dengan dingin. Heliose. Mereka menatap Jim dengan menyesal dan bersalah.
"Apalagi kalian lebih membela nona Iris disaat Leona tidak membuat kesalahan apa-apa. Bukankah kalian lebih menyayangi nona Iris daripada Leona?" Jim memojokkan mereka.
Mereka menunduk penuh penyesalan. Mereka tidak pernah berbicara baik-baik dengan Leona selain membentak ataupun mengabaikan rengekannya. Bahkan dengan terang-terangan mengusir Leona dari kamarnya sendiri dan menyuruhnya tinggal di paviliun.
"Wah, mereka benar-benar keluarga yang baik, Jim-sama. Aku tidak tau jika Leona-sama pernah hidup bahagia." Celetuk Ken dengan nada menyindir. Seringai kejam dan menyebalkan terpatri di wajahnya.
"Kau bodoh atau bagaimana? Leona-sama terlalu menderita sebelum bersama kita. Aku rasa sikapnya selama ini hanya untuk melupakan sakit hatinya." Tegur Kei kesal.
"Diamlah panther hitam sialan!"
"Kau yang seharusnya diam, dasar harimau bodoh!"
Dan Kazuma dengan senang hati membekap mulut dua pria siluman tampan itu dengan sebuah kain yang didapat entah darimana.
"Berisik. Sebaiknya kita pulang secepatnya. Leona-sama dalam keadaan pingsan. Dia perlu pemulihan karena kelelahan."
"Tapi dia membutuhkan keluarganya." Ucap Calvian tak mau kalah.
Jim diam. Mau bagaimanapun mereka tetap keluarga Leona. Namun Jim terlampau menyayanginya seperti adiknya sendiri meski gadis itu kurang ajar.
Leona menggeliat dan membuka mata yang terlihat redup. Tubuhnya terasa sangat lemah. Dia melirik Jim dan Calvian yang tengah bersitegang.
"Paman, aku ingin tidur. Bisakah kita pulang sekarang?" Lirih Leona.
'Brukh'
__ADS_1
Mereka yang mendengar suara itu melirik ke asal suara dan mendapati Iris yang jatuh pingsan. Segera Calvian dan Emillio menghampiri gadis itu dengan panik. Leona yang mengamati gerak gerik Iris paham, jika dia tidak ingin dirinya kembali. Masa bodo dengan keluarga duke, dia telah di buang. Jadi dia membuang keluarganya dan lebih memilih ikut Jim. Pria yang merawatnya selama ini dengan tulus.
"Tentu saja. Kita akan pulang." Balas Jim.
"Kita ke desa Bloom Mist. Aku ingin di sana." Lalu mata Leona kembali terpejam dengan nafas teratur.
💠💠💠💠ðŸ’
Kaisar mengumpulkan tim devil minus Leona serta beberapa bangsawan kerajaan Seanthuria untuk memilih raja selanjutnya.
Bahkan Khalix juga ikut hadir di sana karena dia adalah pangeran yang statusnya dulu di cabut.
"Karena posisi raja dan putra mahkota kosong, aku ingin Khalix menjabat sebagai raja Seanthuria." Putus Kaisar Ein mutlak.
Khalix ingin menolak, tapi tidak mungkin. Dia sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Dia yang selama ini dekat dengan Leona yang suka seenaknya membuat dirinya tidak ingin kehilangan kebebasannya. Menjadi rakyat biasa sangat menyenangkan untuknya karena tidak terikat dengan aturan dan etiket kebangsawanan yang memusingkan. Belum lagi wanita yang mendekatinya karena kedudukan dan harta.
Dia juga diam-diam mengamati Leona untuk kabur dari masalah. Satu-satunya cara agar bisa kabur adalah dengan tipu muslihat.
Dia tidak bisa seperti Leona yang tiba-tiba bisa menghilang dan di temukan tiga hari hingga tiga minggu kemudian. Maka dia memerlukan ide licik untuk lari dari tanggung jawab.
Khalix tiba-tiba memegang dadanya dsn memasang ekspresi kesakitan yang meyakinkan di iringi dengan memuntahkan seteguk darah. Lalu dia tergeletak begitu saja di lantai. Disusul oleh Iven, Wei Tao dan Eura yang melakukan hal yang sama membuat acara rapat menjadi kacau.
Kaisar Ein berkedut. Entah mereka sengaja menolak atau benar-benar masih terluka karena kekacauan mana yang parah. Entahlah. Mereka dan Leona terlalu sering membuat ulah. Belum lagi tiga siluman yang mengikuti adik sepupunya yang semakin membuatnya pusing. Oh, jangan lupakan Kiara. Gadis cantik dengan mulut yang blak-blakan bikin gemas. Saking gemasnya membuat Kaisar ingin mengirimnya ke dunia antah berantah demi menjaga kewarasannya.
"Dasar cunguk! Jika kalian menipuku, aku tak segan mengirim kalian ke sarang monster tingkat tinggi selama dua bulan penuh!!" Kaisar meraung marah.
Bukannya bangun, mereka mempertahankan aktingnya dan bersorak dalam hati serta berjoget ria dalam khayalannya.
Untungnya Leona tidak berada di sini, sehingga memudahkan mereka mengibuli Kaisar. Bisa-bisa berabe urusannya kalau Leona ikut di ruangan ini lalu tiba-tiba menghilang.
Kericuhan mendadak hening saat mendengar kicauan Kiara yang panik. Apakah gadis itu waras? Pikir mereka.
Carl membenturkan kepalanya di meja hingga berdarah karena tidak tahan dengan aksi mereka. Sementara Kaisar Ein hanya bisa memijit pelipis nya yang mendadak pening. Okelah, teman Leona semuanya tidak ada ahklak. Bahkan seratus prajurit elitnya sekalipun.
"Carl, Arthem, Markian. Singkirkan cecunguk yang mendadak jadi mayat ini keluar. Bila perlu kubur mereka."
"Baik." Ucap mereka setelah terdiam cukup lama.
Para bangsawan hanya memandang penuh duka pada mayat jejadian tersebut.
Begitu tubuh mereka di seret keluar, empat pria itu seketika membuka mata dan lari tunggang langgang meninggalkan istana dengan kecepatan penuh, membuat Arthem, Markian dan Carl membatu seketika, seakan mencerna apa yang baru saja terjadi. Setelah sadar karena di tipu mentah-mentah oleh anak didiknya, pria berambut ungu di kuncir itu berteriak marah hingga terdengar sampai di ruang rapat.
"Dasar berandalan kurang ajar!!"
Dan Kaisar Ein tersenyum iblis membayangkan hukuman yang pantas untuk mereka.
💠💠💠ðŸ’
Setelah beberapa hari berlalu, raja Grambiel akhirnya dihukum mati setelah sebelumnya mendapat cacian dan hinaan dari penduduk. Tak sedikit penduduk yang senang atas lengsernya raja Grambiel. Mereka bahkan membuat festival selama sebulan penuh.
Beliau dimakamkan dengan pemakaman tak terhormat, meskipun dia berasal dari keluarga kerajaan. Menghina bagaimana selama ini raja Grambiel memerintah.
Cosette yang mendengar kabar kematian sang ayah hanya bisa menangis di kamar pengasingannya. Dia tidak berani keluar karena wajahnya yang buruk rupa.
__ADS_1
Kesedihan yang menimpanya membuat Cosette gelap mata dan mengakhiri hidupnya sendiri.
Casian sendiri tewas setelah bertarung dengan Khalix, mengingat pria itu mengalami luka parah sebelumnya.
Di desa Bloom Mist...
Seorang gadis cantik tengah tergulung selimut seperti kepompong. Tubuh gadis itu perlahan menggeliat sebelum memperlihatkan mata merahnya yang indah.
Dia menguap sebentar lalu berguling-guling dan terlentang menatap langit-langit kamarnya.
"Hoaammm~ Tidurku nyenyak sekali~" Ucap seorang gadis cantik sambil meregangkan tubuhnya.
Leona segera duduk dan melakukan beberapa pemanasan untuk melemaskan tubuhnya yang kaku.
'Cklek'
"Leona-sama! Akhirnya Anda telah bangun!" Seru Arelle terharu. Teriakan gadis itu sukses membuat kericuhan di luar kamarnya.
'Drap' 'Drap' 'Drap'
'Brakh'
Suara beberapa langkah kaki terdengar terburu-buru mendekat disusul dengan dobrakan pintu kamarnya yang sukses membuat Leona berjengit kaget dan mendapati beberapa pelayannya mengerubungi dirinya layaknya kumpulan lalat.
"Leona-sama, apakah Anda baik-baik saja?"
"Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"
"Apakah ada yang sakit?"
"Hwaaa!! Kami senang akhirnya Anda bangun!" Seru mereka kompak.
"Tenanglah. Aku merasa baik-baik saja. Tidur seharian membuatku terasa segar. Kalian jangan khawatir begitu." Ucap Leona yang membuat hening seketika.
Krik
Krik
"Kenapa?"
"Apakah Anda tau, jika Anda tidak sadar selama dua minggu penuh? Kami sangat khawatir dengan Anda!" Seru mereka serempak.
"Hah? Dua minggu penuh?" Tanya Leona memastikan dengan tampang bodoh.
Mereka mengangguk kompak.
"Kalian tidak bohong, kan?"
Mereka menggeleng kompak.
"Sekarang masih pagi, kan?"
"Ini sudah malam, Leona-sama. Sebentar lagi makan malam siap." Ucap mereka kompak.
__ADS_1
Dan Leona buru-buru melompat dari ranjang dan menyambar handuk. Dengan secepat kilat gadis itu menuju kamar mandi yang sukses membuat para pelayan kaget.