Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 66


__ADS_3

Iven, Carl, Eura dan Wei Tao memacu kuda mereka dengan kecepatan tinggi. Mereka tertinggal cukup jauh oleh Leona dan seratus prajurit yang ikut menjalankan tugas. Kecepatan mereka yang luar biasa itu cukup membuat mereka tercengang.


Perjalanan yang membutuhkan waktu setidaknya tiga hari, kini dipersingkat menjadi sehari saja.


"Pacu kuda dengan kecepatan maksimum! Kita harus tiba sebelum malam!" Seru Carl sambil memacu kudanya.


"Baik!" Jawab ketiganya kompak.


"Leona sialan! Teganya kau meninggalkan kami..." Umpat Carl kesal. Bagaimana tidak, gadis itu pergi begitu saja tanpa pamit bersama para rombongan, meninggalkan mereka yang masih sibuk membantai monster-monster.


Sore menjelang, mereka kini tiba di istana dengan keringat membanjiri tubuh mereka. Terlihat kuda-kuda itu ambruk dan gemetaran hebat, bahkan sampai tidak bisa berdiri saking di paksa berlari dengan kecepatan penuhnya. Keempat pria itu terkapar kelelahan karena memaksakan diri dan memutuskan beristirahat.


Setelah merasa lebih baik, Carl segera menghadap ke istana. Sementara ketiga pemuda yang kini telah menginjak usia dua puluh tahun memilih tinggal di rumah mereka.


Mereka telah memiliki sebuah rumah sederhana di pinggiran kota dengan membeli patungan. Rumah mereka merupakan bangunan berlantai dua dengan tiga kamar. Lantai bawah digunakan sebagai ruang tamu, dapur dan kamar mandi, sementara lantai tiga merupakan kamar tidur mereka.


"Sudah lama, ya kita meninggalkan rumah kita." Celeruk Eura begitu tiba di depan rumah berlantai dua. Terlihat rumput dan semak memenuhi halaman rumah mereka.


"Besok saja kita bersihkan halaman. Aku ingin istirahat." Keluh Iven.


Mereka melangkah mendekati pintu rumah dan membukanya yang langsung disambut dengan sekumpulan debu tebal.


"Hatci!! Astaga.” Wei Tao menggosok hidungnya yang gatal. Seisi bangunan kini mulai berdebu karena sudah lama tidak di bersihkan. Mengabaikan rasa lelah, mereka bertiga memutuskan membereskan rumah


"Sebaiknya kita bereskan ini lalu istirahat."


💠💠💠


Kerajaan Seanthuria selama tiga tahun ini mengalami perubahan. Setelah dicopotnya gelar Pangeran Khalix, kondisi ratu Errena semakin memburuk dan beliau akhirnya wafat.


Acara pemakaman beliau sebagai seorang ratu diadakan cukup mewah. Bahkan permaisuri mengadakan berbagai pesta untuk merayakan wafatnya sang ratu selama tujuh hari penuh.


Permaisuri Lydia kini dilantik menjadi ratu, namun sebulan setelah resmi menjadi ratu, kerajaan Seanthuria mendadak geger.


Banyak pembunuh bayaran yang berkeliaran di istana pada malam hari membuat raja memperketat penjagaan. Belum lagi terjadi pemberontakan di beberapa wilayah yang membuat putra mahkota turun tangan langsung yang malah pulang dengan luka parah.


Lalu putri kedua dan ketiga menghilang dari istana tanpa diketahui jejaknya bersama prajurit dan pelayan pribadi mereka. Kehidupan mereka cukup buruk di istana yang membuat mereka muak dan kabur dari sana.


Duke Castallio dan putranya di kirim langsung untuk memberantas pemberontakan, membuat Iris yang notabene berstatus tunangan putra mahkota dalam bahaya. Gadis itu sering di datangi pembunuh bayaran yang membuatnya terpaksa pindah ke istana agar lebih aman.


Sejak resmi bertunangan dengan putra mahkota, Iris mulai bersikap semena-mena pada pelayan dan prajurit kediaman Castallio. Tak jarang prilaku buruknya membuat Calvian melonggarkan keamanan kediamannya dan memindahkan pekerja yang setia padanya ke mansion yang terletak di pinggir kota Eige yang tentu saja tidak di ketahui oleh Iris.


Perlahan dalam tiga tahun terakhir ini, kehidupan di kerajaan Seanthuria kini berbanding terbalik saat ratu Errena masih hidup. Keadaan rakyat cukup menderita karena pajak yang tinggi, beberapa penduduk kehilangan tempat tinggal karena di gusur paksa. Alasannya, tanah tempat tinggal mereka akan di bangun villa yang di khususkan untuk putri Cosette sebagai hadiah debut nanti sekaligus hadiah ulang tahunnya.


Ibu kota kerajaan perlahan mulai kekurangan pasokan makanan yang membuat terjadi pemberontakan. Raja Grambiel mulai pusing dan menyuruh orang kepercayaannya untuk menangani mereka.


Ratu Lydia tidak membantu sama sekali. Dia sibuk berpesta sana sini dan menghadiri jamuan teh dengan para sosialita. Bahkan sampai menelantarkan pekerjaannya.


Tanpa mereka sadari, beberapa orang tersenyum licik di atas sebuah atap bangunan dengan menggunakan jubah hitam. Mereka menunggu waktu terbaik untuk menyingkirkan mereka. Membalas dendam atas ketidakadilan yang selama ini mereka alami.


Lalu mereka menghilang dalam gelapnya malam, meninggalkan siluet bayangan hitam dan kelopak bunga yang dihembuskan angin malam.

__ADS_1


💠💠💠💠💠


Leona menatap Khalix yang duduk di hadapannya dengan sebelah alis terangkat. Mantan pangeran kerajaan Seanthuria itu menatap nya lamat-lamat dengan tatapan serius. Ingin sekali Leona menginjak wajah tampan itu yang menurutnya menjengkelkan.


Khalix sekarang menjadi prajurit istana kaisar dan merupakan prajurit berbakat. Merupakan sword master dan ahli sihir terbaik. Dan tentu saja dia sangat diperhatikan oleh kaisar Ein mengingat bakatnya yang mengagumkan.


"Haah~ Aku tidak ingin ikut campur dengan kerajaan itu. Lagipula aku tidak berniat balas dendam dengan mereka. Dendamku hanya dengan Iris." Jelas Leona dan menatap pria itu dengan jengkel.


"Kau itu bodoh atau bagaimana, sih? Iris itu tunangan putra mahkota. Jika kita berhasil meracuni ratu Lydia, reputasi Iris sebagai pemilik sihir cahaya akan jatuh." Ucap Khalix dengan tatapan memohon layaknya anak anjing minta dipungut.


Leona mendengus dan menatap Khalix dengan jengkel.


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Jika kondisi ratu memburuk, sudah pasti Iris yang merupakan tunangan putra mahkota di panggil ke istana untuk mengobati ratu. Jika tidak ada perubahan, otomatis statusnya sebagai pemilik sihir cahaya akan dipertanyakan. Belum lagi sekarang duke dan tuan muda Castallio tidak peduli lagi dengannya."


"Lalu apa keuntungan yang aku dapat?"


Khalix mengusap kepalanya frustasi. Kenapa gadis ini begitu perhitungan, sih?


"Aku tidak mau harta, kedudukan ataupun pernikahan. Aku sudah kaya raya karena aku merupakan keponakan dari pemimpin desa yang kaya raya. Kalau kedudukan, aku tidak mau karena merepotkan apalagi pernikahan. Ogah, deh." Celoteh Leona sambil mengibaskan ekor rambutnya dengan tengil.


"Aku akan mengabulkan apapun keinginanmu!" Seru Khalix putus asa dan berlutut di hadapan Leona.


"Apapun?" Beo Leona memastikan.


"Ya, apapun. Asalkan kau mau membantuku."


Suara semak-semak yang berada tak jauh darinya menarik perhatian gadis itu. Leona memutuskan menatapnya sejenak dan terlihat sesuatu yang mencurigakan.


Terlihat beberapa tudung dan telinga hewan yang menyembul di balik semak-semak itu yang langsung membuat Leona menyeringai.


"Baiklah. Aku menerima tawaran mu."


Sementara di balik semak-semak....


"Apakah Khalix si keparat itu ingin melamar Leona-sama?" Tanya Ken sambil mengumpat kesal.


"Jangan biarkan Leona-sama diambil oleh keparat itu." Bisik Ken sambil menatap Khalix dengan tatapan membunuh.


"Jangan sampai geraman kalian terdengar. Bisa-bisa kita ketahuan." Bisik Iven.


"Lihat, mereka mau pergi." Bisik Kaze saat melihat Leona dan Khalix beranjak dari tempatnya.


"Sebaiknya kita ikuti." Eura langsung keluar dari tempat persembunyiannya begitu Leona dan Khalix menghilang.


Wei Tao hanya diam saja, namun dia menatap kepergian Leona dan Khalix dengan kesal.


"Apakah kita perlu mengganggu acara mereka?" Tanya Wei Tao spontan dan semua yang berada di sana menatap pria muda itu sekilas.


"Ide bagus!" Seru mereka kompak.

__ADS_1


💠💠💠💠💠


Leona merasa beberapa orang mengikuti mereka dan memilih membiarkannya. Saat ini dia dan Khalix sedang berjalan-jalan di ibukota Kekaisaran Kamitsuki, kota Cyinn.


Mereka berjalan di sepanjang toko dan mulai memasuki sebuah toko herbal. Seketika Khalix merasa menyesal dengan mengabulkan apapun keinginan gadis itu.


Bagaimana tidak, Leona memborong semua jenis herbal di toko itu, belum lagi harganya yang cukup mahal sehingga Khalix harus merelakan uangnya ludes tak tersisa.


Tentu saja pemilik toko itu senang bukan kepalang karena dagangannya habis. Khalix hanya bisa menatap getir uangnya yang tinggal kenangan itu.


"Aku membutuhkan ini semua untuk membantumu. Jadi jangan protes dan anggap saja ini adalah uang muka karena melibatkan ku." Ucap Leona mutlak sambil menyerahkan bungkusan herbal yang menggunung.


"Baik." Jawab Khalix lesu sambil menerima bungkusan herbal itu dan menyimpannya dalam cincin ruang.


"Lalu bagaimana dengan sisa bayarannya?"


"Aku akan memintanya nanti." Ucap Leona misterius yang membuat Khalix merasakan firasat buruk. Entah apa lagi yang akan di lakukan gadis itu padanya.


Khalix sebenarnya menyukai Leona, namun sayang perasaannya harus dia kubur dalam-dalam. Dia tidak takut di tolak, namun penolakan gadis itu bikin kena mental. Seperti sekarang ini.


"Senang bertemu dengan Anda, Lady." Ucap salah satu pemuda bangsawan sambil mencium punggung tangan Leona. Gadis itu hanya mengernyit tanda tak nyaman lalu menarik kembali tangannya. Dan dengan santai menggosok tangannya di pakaian Khalix agar bekasnya menghilang.


Pria itu hanya tersenyum lebar hingga matanya menyipit, menyembunyikan kejengkelannya karena tingkah Leona yang menurutnya kurang ajar.


"Mohon maaf, saya tidak suka tangan saya di cium, Tuan Duke." Ucap Leona penuh penyesalan namun dengan tampang menyebalkan.


"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Duke." Sapa Leona dengan pura-pura ramah.


Pria yang menyapanya adalah putra dari Duke Igiova, salah satu bangsawan di Kekaisaran Kamitsuki. Dia terkenal dengan sikap playboy di kalangan bangsawan. Namun anehnya banyak wanita yang menyukainya karena parasnya cukup tampan.


"Tidak apa, Lady. Saya melihat Lady berjalan seorang diri. Apakah Anda memiliki waktu luang?"


"Mohon maaf, Tuan Igiova. Saya sedang bersama teman saya, jadi mohon maaf." Tolak Leona sopan sambil menunjuk ke arah Khalix yang kini menatap Duke Igiova dengan datar.


"Oh, prajurit rendahan ini teman Anda, Lady?" Ucapnya dengan tak percaya sambil tersenyum remeh.


Leona mengangkat sebelah alisnya. Meskipun Khalix seorang prajurit, namun dia sangat disayangi oleh Kaisar Ein karena kekuatan tempurnya yang luar biasa. Bahkan kaisar Ein akan menangis dan merengek jika tidak ada Khalix yang mengawalnya. Sungguh kaisar sekaligus sepupu yang memalukan.


"Sepertinya saya bisa menemani Anda, Lady. Lagipula saya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Anda." Ucapnya sambil tersenyum manis.


Suara jeritan tertahan terdengar di sekitar nya. Leona yang sudah biasa di kelilingi pria tampan tidak terpengaruh sama sekali. Dia bisa melihat maksud dari perkataan pria yang berada di hadapannya saat ini.


Sementara beberapa orang yang menguntit Leona hanya menonton drama itu dengan seru sambil memakan jajanan yang sempat di belinya tadi. Entah drama apalagi yang terjadi, yang pasti mereka sudah terbiasa menonton penolakan cinta putra bangsawan. Meskipun mereka ingin menggagalkan nya.


"Oho~ Anda ingin menghabiskan waktu berdua dengan saya? Kebetulan saya sangat senggang hari ini. Saya ingin memancing di sarang monster dan memerlukan umpan. Mungkin saja Anda berkenan menjadi umpan monster-monster imut itu untuk saya~" Ucap Leona dengan nada tajam yang di lemah lembutkan namun ekspresi wajahnya datar.


Seketika pria itu pucat mendengar perkataan Leona. Rumor yang mengatakan jika Leona merupakan gadis aneh bermulut tajam benar-benar terbukti.


Seketika dia merasa menyesal mendekati Leona karena taruhan dengan teman-temannya.


"Ah, maaf aku tidak bisa. Aku permisi." Pamitnya dengan buru-buru.

__ADS_1


"Wah, aku tidak menduga jika Anda sangat penakut. Sayang sekali. Lagipula saya tidak mengenal Anda, tetapi Anda bertindak seolah mengenal saya. Dasar babi." Maki Leona sarkas yang makjleb membuat pria itu pergi menahan malu.


__ADS_2