
Tiga Tahun Kemudian....
Seorang gadis cantik tengah melompat-lompat dengan lincah sambil sesekali bermanuver di udara. Di belakangnya terlihat seekor monster dengan gigi runcing yang berukuran cukup besar. Terlihat beberapa tentakel dengan memiliki kepala serigala, serta tubuh seperti kuda laut bewarna cokelat gelap yang terlihat marah.
"AHAHAY!! AYO SAYANG, DATANG PADAKU!!" Teriak gadis itu kegirangan. Dia merapalkan beberapa segel tangan dan muncul tombak-tombak kristal yang langsung menghujani monster aneh itu.
"GYAAAKKK!"
Monster itu menjerit dengan suara seperti burung elang dengan suara melengking nyaring. Beberapa orang spontan menutup telinga saking nyaringnya teriakan hewan itu.
'Tap'
Gadis itu menatap monster itu yang bergeliat kesaktian. Lalu dia kembali merapalkan beberapa segel tangan dan mengeluarkan jurusnya.
'Elemen lava: Kakazan!'
Gadis itu menghentakkan kedua tangannya di tanah, lalu muncul semburan lava dari bawah monster itu dan langsung memanggang nya hidup-hidup.
Beberapa saat kemudian monster itu mati terpanggang. Gadis itu segera mendekati bangkai monster itu lalu menyayat tubuhnya seakan mencari sesuatu. Hingga akhirnya dia menemukan sesuatu yang terletak di perut bangkai itu.
'Tap'
"Leona-sama, kami sudah berhasil mengalahkan beberapa monster." Lapor salah satu pria berpakaian prajurit lengkap dengan rompi besi di tubuhnya.
"Kerja bagus, Ken." Gadis itu membalikkan tubuhnya sambil tersenyum puas menatap inti monster di tangannya.
Gadis itu adalah Leona Arathena. Kini dia menjelma menjadi sosok gadis yang sangat cantik jelita, rambut hitam ikal diikat ponytail dengan beberapa anak rambut yang menghiasi wajahnya, mata bulat dengan iris runcing berwarna merah ruby yang indah berkilauan. Dia terlihat seperti boneka cantik yang hidup dengan wajah oval yang sedikit bulat dan kulit seputih porselen.
Sejak berita kematiannya tiga tahun lalu di tersebar di Kerajaan Seanthuria, Leona memutuskan pergi ke hutan yang berdekatan dengan wilayah tengah untuk memberantas monster-monster yang memasuki desa-desa yang berdekatan dengan pintu masuk wilayah tengah.
Jim yang mengira dirinya telah mati sempat jatuh sakit selama seminggu. Merasa bersalah karena membuat pria yang dia anggap sebagai keluarganya jatuh sakit, Leona memutuskan pulang ke kediaman Calisius dan menjenguk sang paman.
Kondisi Jim perlahan membaik, lalu Leona meminta Jim untuk menutup akses desa Bloom Mist untuk wilayah kerajaan Seanthuria dan membuang nama Calisius. Mengingat kerajaan itu mengetahui jika desa ini merupakan wilayah Calisius, jadi untuk mencegah pertumpahan darah yang tak diperlukan, Leona mendesak sang paman agar membuang nama Calisius.
Jim menyetujui permintaan Leona setelah mendengar penjelasan gadis itu. Bahkan Leona juga mengganti pakaian kerja Jim dengan menggunakan jas ala-ala CEO dan mafia, tidak lagi menggunakan pakaian ala-ala bangsawan yang menurutnya seperti parade pakaian.
Beruntungnya dulu mereka tidak menghancurkan desa kumuh itu. Sehingga istana kerajaan tidak menemukan keberadaan mereka, kecuali reruntuhan desa yang kini di tumbuhi semak belukar.
__ADS_1
Leona menatap Ken, siluman harimau yang sangat setia padanya, lalu dia melirik beberapa prajurit yang kini ikut berdiri dengan cipratan darah bewarna hitam di wajah dan tubuh mereka.
"Kerja bagus. Jangan lupa cari inti monsternya."
"Siap, Leona-sama!" Sahut mereka kompak.
💠💠💠ðŸ’
Tiga tahun lalu kaisar Ein, Carl, Iven, Eura dan Wei Tao yang kesal karena kejahilan Leona meminta gadis itu melatih seratus pasukan seorang diri. Dengan catatan, gadis itu bebas melatih di manapun dan mereka merupakan prajurit magang baru hanya dalam waktu setahun. Dan mereka harus menjadi prajurit hebat dalam waktu setahun.
Leona tentu saja dengan senang hati melatih mereka selama setahun penuh di sebuah desa kecil dengan jalanan yang dipenuhi rintangan dan tantangan serta lokasinya berbahaya.
Awalnya mereka meremehkan kemampuan Leona, namun setelah melihat bagaimana gadis itu mengalahkan kepala ksatria kekaisaran dalam waktu singkat, mereka akhirnya mau di latih oleh gadis itu.
Mereka di latih dengan keras. Minggu pertama, mereka di suruh lari mengelilingi desa yang luasnya mencapai empat kilometer sebanyak tiga putaran, lalu menambahkan beban seberat lima kilogram pada kaki mereka, dan tiga kilogram di lengan pada minggu kedua.
Minggu ketiga dan keempat, mereka kembali berlari mengelilingi desa sebanyak lima putaran. Belum termasuk sit up sebanyak seratus kali, push up sebanyak seratus lima puluh kali dan gerakan lainnya. Serta mereka di suruh membantu warga yang sedang meminta pertolongan, seperti membawa kayu bakar, hasil panen maupun lainnya.
Bahkan mereka berlari sambil membantu warga membawa hasil panen yang cukup berat. Setelah berlari selama dua bulan dengan beban yang di tingkatkan, mereka mulai terbiasa dan Leona memutuskan melatih mereka dalam menggunakan senjata dan sedikit bela diri.
Meskipun nyawa mereka sering kali nyaris melayang, tetapi hanya dalam waktu enam bulan saja, Leona telah berhasil menjadikan mereka kuat secara fisik. Mereka mampu berlari mengelilingi desa itu selama dua puluh putaran dengan beban lima belas kilogram di kaki dan tangan lima kilogram di tangan mereka.
Dan dalam waktu setahun, Leona berhasil menjadikan mereka seorang monster sejati. Fisik mereka jauh lebih kuat dari siluman. Mereka berlari dengan sangat cepat seperti bayangan yang membuat kaisar menangis haru dengan pencapaian mereka.
Dan dengan senang hati kaisar Ein langsung mengirim Tim Devil beserta seratus orang itu ke sarang monster yang terletak di timur laut kekaisaran. Mereka tidak menunggangi kuda, namun memilih melompat-lompat ala ninja bersama Leona yang justru membuat kaisar dan para bangsawan menganga tak percaya.
Satu hal yang sempat dia lupakan, Leona itu biang onar!
💠💠💠ðŸ’
Kembali ke masa sekarang.
'Tap'
'Tap' 'Tap'
Leona bersama seratus prajuritnya kini mendarat mulus setelah sekian lama berlari sambil melompati rumah warga di sepanjang jalan menuju istana. Tentu saja aksi mereka menjadi tontonan warga, mengingat sebagin besar orang memilih menunggangi kuda atau menggunakan kereta kuda.
__ADS_1
Namun mereka melompat-lompat meninggalkan siluet bayangan hitam. Kabar itu sampai dengan cepat ke istana kaisar Ein, membuat pria itu berkedut jengkel.
Bahkan beberapa prajurit yang menjaga gerbang istana sempat menatap mereka tak percaya karena kemunculan mereka yang tiba-tiba.
"Kami datang menghadap." Lapor Leona pada penjaga gerbang.
"Silahkan ikuti saya." Ucap salah satu penjaga gerbang. Leona dan rombongan segera mengikuti penjaga gerbang itu dengan langkah santai.
Mereka tiba di sebuah pintu besar mewah dengan ukuran rumit dilapisi emas murni dan taburan permata. Penjaga gerbang yang mengantar mereka segera pamit undur diri.
Leona mengucapakan terimakasih, dan salah satu penjaga yang berdiri di depan pintu kaisar segera membukakan pintu. Leona mengucapakan terimakasih dan memberi isyarat agar ke seratus orang itu ikut masuk bersamanya ke dalam.
"Kami sudah kembali, Baginda." Leona menghadap kepada kaisar Ein yang kini duduk anteng di kursi kebanggaannya. Penampilan gadis itu beserta seratus prajurit nya cukup membuat kaisar mengerutkan kening. Lihatlah, mereka datang menghadap dengan tubuh kotor di penuhi darah hitam yang telah mengering, meninggalkan bau anyir darah di ruangan ini.
"Dimana Carl, Iven dan Wei Tao?"
"Oh, sepertinya mereka menyusul." Jawab Leona sambil memiringkan kepalanya dengan tampang polos.
Kaisar berkedut kesal. Apa-apaan ekspresi wajahnya itu?
Pria itu melirik prajurit yang masih membungkus hormat padanya. Seketika pemandangan itu membuatnya jengkel.
"Ehem! Bagaimana dengan pemberantasan monsternya?" Tanya Kaisar Ein mencoba berasa basi. Di hadapannya terdapat seratus orang dengan kekuatan yang luar biasa. Satu orang kekuatannya mungkin setara dengan sepuluh prajurit biasa, lima siluman, dan dua sword master. Jika seratus orang ini di suruh menghancurkan sebuah kerajaan, maka mereka pasti mampu menghancurkan dalam waktu singkat dan menjadikannya sebagai kekaisaran terkuat di benua.
"Baginda, sepertinya Anda ingin menurut kami menghancurkan sebuah kerajaan. Kami menolak misi itu karena kami kelelahan dan butuh liburan, Baginda." Ucap Leona tiba-tiba yang langsung saja menghancurkan khayalan Kaisar Ein dengan telak. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan kaisar Ein saat melihat ekspresi sang kaisar sekaligus sepupunya itu yang terlihat mencurigakan.
Kaisar berdehem sejenak dan menatap Leona tajam. Namun gadis itu dengan kurang ajar memamerkan cengiran tak berdosanya yang membuat pria itu menahan kesalnya.
"Jangan sembarangan bicara kau." Kesal kaisar. Pria itu berdehem sejenak. Memang dia berencana menghancurkan sebuah kerajaan, yang tak lain merupakan kerajaan Seanthuria. Karena raja itu sering kali membuatnya emosi. Bagaimana tidak, selain sudah menghancurkan klannya sekaligus membunuh bibinya, raja Grambiel memaksa pria itu untuk menerima putri kesayangannya, yang tak lain putri Cosette setelah apa yang dilakukannya tiga tahun lalu.
Apalagi raja itu semakin menjadi seakan dirinya adalah seorang kaisar. Padahal mengurus wilayahnya sendiri saja tidak mampu.
Jika dia menerima lamaran itu, bagaimana nasib rakyatnya nanti? Membayangkan saja membuatnya ingin bunuh diri.
"Tapi ekspresi Anda bilang begitu, Baginda." Celetuk Leona.
"Kalian boleh bubar dan liburan." Usir kaisar jengkel. Segera mereka pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1