
Setelah melewati malam mencekam yang panjang, keesokan harinya beberapa guru dan murid akademi Moon Shadow yang selamat menyemayamkan jasad rekan mereka yang tewas karena pembantaian. Mereka menatap sendu makam orang-orang tidak bersalah yang menjadi kambing hitam raja Seanthuria.
Air mata mengalir begitu saja melewati pipi mereka. Mereka menangisi sahabat dan rekan mereka yang telah menyatu dengan tanah.
Kaisar Ein datang dan ikut memberi doa pada mereka. Dalam hati, pria itu merencanakan pembalasan pada kerajaan Seanthuria yang menjengkelkan di matanya, bahkan lebih menjengkelkan dari orang paling munafik.
Dia tidak ingin membunuh mereka atau menghancurkannya meskipun tangannya gatal ingin melakukan pembantaian. Dia ingin membalas mereka dengan sadis.
Buat mereka bahagia dulu, lalu jatuhkan secara perlahan dan buat mereka menderita. Jika membunuh, sakitnya hanya sekejap dan terlalu mewah menurutnya. Begitulah cara kaisar Ein menghabisi musuhnya.
"Sebaiknya kalian tinggal di kota pesisir bersama keluarga kalian. Desa itu dulunya merupakan markas pemberontak, dan sekarang desa itu kekurangan penduduk dan banyak rumah kosong di sana." Ucap Kaisar Ein menawarkan tempat tinggal pada mereka.
"Terimakasih tawarannya, Baginda." Ucap mereka serentak.
"Hn."
Kaisar menatap Khalix yang menunduk sedih. Pemuda itu kehilangan seluruh rekan tim, sahabat dan termasuk guru pembimbing yang selama ini peduli dengannya. Jika dia di tuduh melakukan kudeta oleh ayahnya sendiri, maka dia harus mengumpulkan kekuatan dan melakukan kudeta.
"Kau harus kuat. Sekarang kita pergi kekaisaran sebelum menuju wilayah tengah." Ucap Kaisar Ein.
"Baik, Baginda."
Mereka berdua pergi meninggalkan bangunan akademi itu, bangunan yang menjadi saksi bisu pembantaian besar-besaran yang melibatkan orang-orang yang tidak mengetahui apapun.
💠💠💠ðŸ’
Leona memakai jubah hitam dan berdiri di atas sebuah pohon. Setelah cukup sepi dan merasa tidak ada orang di sana, dia segera turun dan menghampiri makam-makan korban pembantaian kerajaan Seanthuria.
Leona mengeluarkan sebotol arak dan menuangkan di depan makam itu, lalu berkata dengan nada getir.
"Aku tidak mengenal kalian terlalu dekat, tapi aku mengenal beberapa diantara kalian. Maafkan aku karena membawa sebotol arak, karena aku tidak tau minuman kesukaan kalian."
Hening sejenak. Semilir angin berhembus lembut membuat jubah Leona berkibar di tiup angin. Leona menatap makam itu sendu.
"Aku tau ini tidak adil untuk kalian, aku janji akan membalaskan ketidakadilan ini." Ucap Leona penuh tekad.
Gadis itu menjulurkan tangannya seolah memegang sesuatu. Tiba-tiba muncul beberapa kelopak bunga, semakin lama kelopak bunga semakin banyak dengan beraneka warna dan jenis. Perlahan kelopak bunga itu membentuk sebuah buket bunga berukuran besar dan sangat cantik dengan beraneka warna dan jenis.
Leona meletakkan buket bunga itu di depan makam. Dia berdoa sejenak lalu menatap makam itu untuk terakhir kalinya.
"Semoga kalian tenang di sana."
Leona berbalik pergi meninggalkan makam itu diiringi semilir angin yang menerbangkan dedaunan dan kelopak bunga. Perlahan tubuh Leona berubah menjadi kelopak bunga dan berserakan terbang di udara.
__ADS_1
Sementara itu kabar kematian Leona terdengar di telinga Jim. Pria itu merosotkan tubuhnya. Dia harap kabar itu bohong dan Leona masih hidup. Dia tidak bisa membayangkan jika keponakan kurang ajarnya itu tiada begitu cepat.
"Aku tidak percaya selama jasadnya tidak ada di sini." Gumam Jim menatap kosong ke depan. Leona adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Meskipun keponakan jauh, namun mereka masih memiliki hubungan darah. Dia sudah menyayangi gadis itu seperti adiknya sendiri.
Beberapa pelayan maupun pekerja yang mendengar berita itu merasa sedih. Leona adalah penyelamat mereka, cahaya harapan mereka. Dia menyelamatkan mereka dari perbudakan terkutuk dan di beri kehidupan yang layak. Memperlakukan mereka seperti manusia dan memperbaiki taraf hidup mereka. Bahkan beberapa siluman juga merasa kehilangan.
"Nona tidak meninggal, Jim-sama. Dia masih hidup." Ucap Kaze tiba-tiba dengan tampang kesal yang kentara.
"Dimana dia, Kaze? Jika dia benar masih hidup, seharusnya dia bersama kalian." Ucap Jim penuh harap saat melihat Kei, Ken dan Kaze berdiri di depan pintu kerjanya.
Mereka bertiga menunduk. Ken menjawab dengan lirih yang dapat di dengar oleh semua orang.
"Akademi Moon Shadow mengalami pembantaian. Semua orang yang bersekolah di sana tewas, Jim-sama. Hanya beberapa orang yang berhasil selamat karena mereka menjalankan misi atau berlibur."
'Jederrr!'
Bagai di sambar petir siang bolong, hati Jim mencelos mendengar perkataan Ken. Dia mengira Leona menjadi korban diantara para murid yang tewas.
"Untuk itu, seekor serangga harus di basmi, bukan?" Ucap Kei sambil menembakkan feromonnya ke arah Jim, lebih tepatnya di jendela tempat kerjanya.
Kei menjentikkan feromonnya bertepatan dengan teriakan kesakitan beberapa orang dan suara tubuh yang terjatuh. Sudah dipastikan mereka telah tewas.
"Jelaskan apa yang terjadi."
💠💠💠ðŸ’
Kelopak bunga itu perlahan membentuk tubuh manusia, semakin lama terlihat sesosok gadis cantik berambut hitam legam ikal sedikit emo. Mata merahnya menyala dalam gelap.
"Maaf, akun terlambat."
Keempat pria itu membuka tudung di kepalanya, yang tak lain merupakan rekan gadis itu.
"Wah~ Kau memiliki teknik yang bagus." Puji pria berambut ungu yang dikuncir di tengkuknya.
"Ini hasil latihan ku, Guru. Aku memang tidak memiliki mana maupun aura, tapi aku memiliki chakra." Jelas gadis itu.
Empat pria itu menganggukkan kepalanya seakan paham.
"Lalu apa rencana kita?" Tanya pemuda berambut baby blue.
"Kita akan pergi ke hutan wilayah tengah. Tapi kita berlibur dulu sejenak di Bloom Mist sambil menunggu pangeran Khalix bersama rombongannya." Jelas Carl.
"Kenapa kita harus ke wilayah tengah, Guru? Bagaimana dengan misi kita?" Tanya Eura tak terima. Dia tidak rela jika kehilangan sumber pendapatan.
__ADS_1
"Kalian di luluskan lebih awal. Lagipula akademi sudah hancur. Siswa yang selamat akan di kirim ke wilayah tengah." Carl mencoba menjelaskan.
"Selama ini belum ada yang mencoba masuk ke wilayah tengah, Guru. Paling tidak hanya beberapa orang yang sampai di pinggir wilayah tengah, namun mereka meninggal setelah beberapa hari." Iven memberikan beberapa fakta.
"Mereka memasuki sarang parasit yang berada di barat laut Bloom Mist." Jelas Leona yang membuat mereka menatap ke arahnya.
"Beberapa waktu lalu, beberapa prajurit Castallio memasuki wilayah itu. Terdapat parasit di dalam tubuh mereka. Jadi aku membedah tubuh mereka dan mengeluarkan parasitnya. Hanya pembedahan yang dapat menyembuhkan mereka." Tutur Leona yang membuat mereka bergidik ngeri. Fikiran mereka berkelana membayangkan pembedahan yang di lakukan Leona dalam versi masing-masing. Mengerikan!
💠💠💠ðŸ’
"Aku kecewa padamu, Calvian. Kau menelantarkan anakku setelah kematianku, membawa anak yang tidak di ketahui asal usulnya, melupakan darah daging mulai sendiri lalu mengusirnya?"
Seorang wanita cantik dengan rambut cokelat gelap menatapnya dengan ekspresi yang terluka sambil mendekap seorang gadis cantik berambut hitam yang menangis terisak-isak di pelukannya.
"Miria, maafkan aku." Ucap pria berambut hitam itu dengan perasaan bersalah dan terluka.
"Aku mengambil kembali putriku. Dia akan bahagia bersamaku, bersama keluarganya. Aku menyesal membiarkannya hidup." Mata merah indah dengan iris runcing itu menatap Leona dengan kerinduan dan kesedihan. Membayangkan bagaimana kesepiannya gadis itu yang merupakan putri kandungnya.
"Maafkan ibu yang telah meninggalkanmu, Nak. Sekarang kita bertemu lagi setelah sekian lama."
"Aku kesepian, bu... Hiks... Aku kesepian..." Tangis gadis itu pecah yang menyayat hati.
"Semua orang membenciku, Ibu! Ayah, bahkan kakak juga membenciku. Kenapa ibu menyelamatkanku dan tidak membiarkanku mati?!" Raung Leona histeris.
Miria menenangkan Leona yang kini menatapnya kecewa. "Apakah aku dilahirkan untuk di benci? Jika benar, maka aku akan membuat kalian semakin membenciku!" Putus Leona mutlak yang membuat mereka berdua terhenyak.
"Maafkan kami, Nak." Ucap Calvian penuh penyesalan.
Leona menatap Calvian sinis. Dia sudah muak dengan berbagai cara untuk menarik perhatian ayah dan kakaknya, mulai menjadi murid teladan, berlatih hingga sekarat, etika dan lainnya. Namun semuanya sia-sia. Hanya Iris dan Iris yang mendapat perhatian mereka.
"Kenapa kau meminta maaf setelah aku pergi, Ayah? Kenapa baru sekarang? Sekarang aku mengutuk siapapun yang mengisi ragaku, dia tidak akan pernah mengharapkan apapun, termasuk cinta dari siapapun! Karena sekarang ragaku telah di isi oleh jiwa yang lain..." Ucapnya tegas dengan nada lirih di akhir perkataannya.
"Aku sudah memaafkan Ayah, jadi enyahlah. Beruntung sekarang Leona yang mengisi ragaku berbaik hati padamu. Dan satu hal lagi, aku sudah mati karena terjatuh dari tangga karena didorong Iris, putri tercintamu. Dia bukan seperti yang kau bayangkan. Selamat tinggal."
'Hah!'
Calvian tersentak saat mimpi itu datang lagi. Mimpi yang datang setiap malam sejak kepalanya di timpuk bola basket oleh Leona di Bloom Mist.
Calvian kini sangat menyesal dan merasa bersalah. Dia telah gagal menjadi ayah untuk Leona dan lebih menyayangi Iris yang bukan darah dagingnya.
Pria paruh baya yang masih tampan di usianya yang tak lagi muda hanya bisa menatap sang rembulan yang bersinar lembut. Dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menebus dosa kepada putri kandungnya.
Jasadnya sudah di bawa pergi oleh pemuda berambut hitam, yang mungkin saja seekor siluman, dilihat dari fitur wajahnya. Samar-samar dia juga mendengar pria itu menggeram layaknya seekor predator.
__ADS_1
Mengingat fakta jika Leona sudah di usir membuatnya tidak memiliki hak apapun lagi. Jika saja dia bisa meruntuhkan egonya, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.