
Leona dan timnya diikuti oleh beberapa prajurit mulai memasuki aula pesta yang di pimpin oleh pangeran kedua tak lain adalah Khalix. Astaga, beberapa saat yang lalu dia sempat menjahili pria itu saat sedang di istana Kekaisaran Kamitsuki.
Bisik-bisik mulai terdengar saat mereka mulai memasuki aula pesta. Banyak yang menatap siswa Moon Shadow dengan meremehkan, banyak pula yang menatap mereka dengan penuh penghinaan.
Pangeran kedua, Khalix Arata di juluki pangeran kejam berdarah dingin. Tak terhitung banyak mayat yang di temukan pada malam hari di istananya sejak dia berusia sepuluh tahun.
Mayat-mayat itu tak lain merupakan pembunuh bayaran yang di kirimkan oleh permaisuri untuk membunuhnya dalam memperebutkan tahta putra mahkota. Ibunya yang merupakan seorang ratu juga tidak luput dari incaran pembunuh bayaran.
Raja sendiri tidak mau ambil pusing. Dia lebih mementingkan putra kesayangannya daripada anak-anaknya yang lain.
"Kami menghadap matahari dan bulan kerajaan. Semoga di berkati." Ucap mereka serentak sambil membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Pangeran Khalix. Ku dengar kau telah berhasil membantu kaisar dalam memberantas pemberontak." Puji raja Grambiel sambil tersenyum merendahkan.
"Terimakasih, Ayahanda. Kami berhasil memberantas pemberontak dalam waktu semalam." Sahut Khalix sambil tersenyum mengejek.
"Kau telah kembali, Nak. Bagaimana dengan misi yang kalian jalankan?" Tanya ratu dengan nada keibuan.
"Misi berjalan lancar, Ibunda. Berkat bantuan dari akademi Moon Shadow yang di kenal dengan sampah kerajaan, kami berhasil memberantas mereka dalam waktu semalam. Hanya mereka yang berhasil memporak-porandakan markas musuh." Jawab pangeran Khalix dengan nada memuji dan menyindir sekaligus.
Sontak mereka yang merasa bersekolah di akademi bergengsi BlackMoon Mage and Knight merasa tersindir. Mereka bahkan tidak pernah mendapatkan misi apapun selain berburu monster dan berlatih sihir. Jangan lupa mereka juga termasuk lemah secara fisik.
"Wah, mereka benar-benar hebat." Puji ratu saat melihat tim Devil yang masih membungkuk di hadapannya. "Kalau begitu silahkan nikmati pestanya."
"Terimakasih, Yang Mulia Ratu." Jawab pangeran Khalix. Mereka segera undur diri dan mulai menikmati pestanya.
Permaisuri mengepalkan tangannya penuh emosi saat melihat pangeran kedua masih baik-baik saja. Sebuah ide brilian terlintas begitu saja di pikirannya.
Sementara raja memilih tidak peduli dan memikirkan rencana untuk menyingkirkan putra yang tidak diinginkan kehadirannya. Meskipun dia adalah putranya sendiri, namun penampilan fisiknya justru menyerupai sang ratu.
Ratu memiliki paras yang cantik menawan dengan rambut merah darah dan mata bewarna biru laut yang jernih yang di wariskan pada putranya sendiri.
Leona dan rekannya lebih memilih berada di stand makanan. Perutnya yang lapar lebih penting daripada membangun relasi dengan bangsawan.
💠💠💠ðŸ’
Leona dan rekannya makan dengan elegan bersama beberapa prajurit yang ikut hadir dalam acara ini. Mereka tidak terlihat seperti rakyat jelata pada umumnya meskipun Eura dan beberapa prajurit merupakan seorang rakyat biasa. Justru gaya mereka sangat elegan melebihi keluarga kerajaan.
Segerombolan bangsawan wanita datang menghampiri mereka dengan angkuh. Pakaian mereka terlalu mencolok dan menyakiti mata Leona. Gadis itu melirik sekilas dan memilih mengabaikan nya.
"Aku tidak menyangka ada seorang sampah yang berani hadir di acara ini. Bahkan memakai pakaian tak pantas." Ucap bangsawan itu dengan nada menghina. Suaranya sengaja dikeraskan sehingga banyak bangsawan yang menatap ke arah Leona dengan merendahkan.
__ADS_1
"Apakah para bangsawan gemar mengomentari penampilan orang lain? Aku heran kenapa bangsawan suka ikut campur dengan apa yang aku pakai." Balas Leona dengan malas.
"Kau tidak mencerminkan bangsawan dengan pakaian seperti itu." Ucap salah satu pria bangsawan di sana.
"Lalu apakah dengan gaun yang berat dan ribet yang penuh perhiasan itu mencerminkan bangsawan? Aku saja nyaman memakai pakaian seperti ini. Kenapa kau yang repot, sih? Lagipula aku bukan bangsawan." Ketus Leona jengkel.
"Hanya saja kau terlihat seperti laki-laki." Sinis salah satu rombongan gadis bangsawan itu.
Seketika suasana mendadak hening. Iven, Wei Tao dan Eura menahan tawa mendengar perkataan mereka.
"Pfftt... Kadang aku merasa Leona itu lebih mirip laki-laki, pfftt..." Iven berusaha menahan tawa.
"Ahahaha... Benar. Aku merasa dia itu cocok menjadi laki-laki daripada perempuan. Kau tidak lihat bagaimana gaya bertarungnya yang terkesan brutal dan tanpa ampun itu, hahaha..." Ucap Eura sambil menahan tawa yang sayangnya tidak bisa.
"Ehem hem... Berhentilah atau dia akan mengamuk." Wei Tao justru ikut memanasi keadaan.
Leona hanya bisa mendelik galak pada mereka yang terang-terangan mengejeknya. Sontak mereka bertiga berdehem sejenak lalu kembali sibuk dengan makanannya
"Apakah memakai gaun yang berat itu nyaman, Nona? Atau memakai korset super ketat yang menyesakkan itu sangat nyaman? Kalau aku sih tidak masalah selama aku nyaman. Lagipula aku bisa bergerak bebas tanpa harus repot khawatir terjatuh akibat menginjak gaun. Kan tidak elegan tuh. Apalagi disaksikan banyak pria tampan." Celoteh Leona tanpa sopan santun yang membuat para lady tertampar. Apa yang di katakan Leona itu benar, mereka kesulitan bergerak karena korset yang ketat di tubuh mereka.
"Kau..." Geram mereka kesal.
"Apa? Topeng munafik mu kelihatan tuh. Kenapa bangsawan disini munafik sekali, sih? Sayang sekali oksigennya." Ucap Leona dengan watadosnya sambil mengorek telinga yang terasa berdengung.
"Kenapa menatapku seperti itu? Terpesona padaku?" Tanya Leona narsis yang membuat ketiga rekannya mati-matian menahan tawa. Belum lagi prajurit yang ikut bergabung bersama mereka hanya bisa melongo dengan tingkah Leona yang tanpa akhlak ini.
"Aku akui aku ini cantik, tapi wajah kalian yang seperti ingin robek membuatku urung menghampiri kalian. Sayang kan jika aku menyukai yang tidak ada wajah sama sekali." Ucap Leona sambil menatap wajah para bangsawan yang hadir.
"Oh, lagipula Nona, ada apa gerangan menghampiri meja yang di penuhi sampah ini? Anda tidak menyatakan cinta padaku, kan? Lagipula trend fashion bukan hanya tentang gaun ribet saja." Celoteh Leona sambil mengedipkan matanya genit dan bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ala super model memutari meja makan lalu kembali duduk dengan elegan. Sontak rombongan bangsawan itu kesal sendiri dan meninggalkan meja itu.
Sementara mereka yang berada semeja dengan Leona hanya bisa tertawa tanpa suara, terlihat dari tubuh mereka yang bergetar.
"Ck. Berhenti mentertawakan ku, sialan!" Kesal Leona yang justru membuat meja itu semakin bergetar.
💠💠💠ðŸ’
Acara pertunangan telah selesai di lakukan. Kaisar Ein dan Carl juga hadir di acara ini. Terlihat Iris dengan gaun putih yang terlihat berat bertahta permata membuat nya tampak cantik malam ini.
Leona memperhatikan beberapa putra bangsawan menatap penuh kecemburuan pada putra mahkota membuat Leona mengangkat alisnya sebelah.
"Sepertinya mereka terlibat cinta segi banyak. Layaknya dalam sebuah novel." Celetuk Leona.
__ADS_1
"Orang yang memiliki sihir cahaya memang berbeda, Nona." Sahut prajurit yang berdiri di sebelahnya.
"Begitukah?"
"Benar."
Gemuruh tepuk tangan terdengar memenuhi aula ini. Leona ikut bertepuk tangan dengan malas. Lalu tatapannya tak sengaja bersibobrok dengan Iris yang kini tersenyum penuh kemenangan padanya yang justru di balas dengan acungan dua jempol dari Leona.
"Seperti dugaanku, dia ingin mempermalukan mu." Komentar Wei Tao yang berdiri di sebelah Leona dengan segelas jus anggur di tangannya.
"Apakah aku harus menangis, cemburu, marah atau berguling di lantai? Itu terlihat konyol sekali." Sarkas Leona.
"Ah, benar juga. Bukankah di pikiranmu hanya memburu monster atau membuat onar?" Tanya Iven dengan nada mengejek.
"Itu lebih baik daripada terlibat cinta yang berujung terkekang. Aku tak mau." Ucap Leona mendramatisir.
"Leona! Akhirnya kau datang juga!" Seru Iris yang kini sudah berdiri di hadapan Leona dengan menggandeng lengan putra mahkota. Terlihat raut mengejek di wajah gadis itu.
"Selamat atas pertunangannya, Lady." Ucap tim Devil bersamaan.
Iris hanya tersenyum sinis dan menatap Leona dengan tatapan mengejek, lalu menatap penampilan Leona yang menurutnya tak pantas. Hanya celana hitam panjang dengan kemeja merah hitam yang bagian atasnya tidak di kancing yang di balut jubah akademi.
"Kenapa kau berpakaian tak pantas begini, Leona?" Tanya Iris dengan nada yang terkesan menyindir.
"Maaf, apa kita saling mengenal, Lady?" Tanya Leona dengan wajah pura-pura kaget membuat Iris terbelalak tak percaya.
"Entah kenapa bangsawan disini suka sekali menyebut pakaian yang saya pakai ini tak pantas. Padahal saya hanya memakai celana hitam dan kemeja, bukan karung goni. Apakah trend fashion di kota ini hanya gaun saja?" Tanya Leona polos.
"Tapi dia hanya menegurmu. Sebaiknya kau jaga sikap pada tunangan putra mahkota." Sentak putra mahkota tak terima dan menatap Leona dengan tajam.
"Benarkah? Tapi sungguh, Yang Mulia saya tidak mengenal tunangan Anda sama sekali. Jangankan kenal, akrab saja tidak." Balas Leona dengan wajah kebingungan.
Bisik-bisik mulai terdengar di aula. Wajah Iris mulai merah padam menahan malu dan marah.
"Tapi bukannya kau saudara ku?"
"Saya tidak punya saudara, Lady. Saya tidak ingat jika ibu saya melahirkan saudara untuk saya." Ucap Leona santai lalu menatap putra mahkota yang berdiri di hadapannya dengan tatapan menggoda.
"Bukankah sekarang waktunya untuk berdansa pasangan, Yang Mulia? Kenapa kalian kemari?" Usir Iven yang langsung membuat mereka tersadar. Pasangan itu segera meninggalkan Leona dengan kesal.
Alunan musik romantis mulai terdengar. Casian dan Iris mulai berdansa dengan begitu indah penuh cinta seakan dunia milik berdua. Para bangsawan yang hadir seakan terpukau dengan penampilan mereka malam ini yang terlihat seperti sepasang malaikat cinta.
__ADS_1
Lalu beberapa pasang bangsawan mulai ikut bergabung bersama pasangan Iris dan Casian. Mereka berdansa dengan begitu memikat seakan tidak ingin kalah dengan pasangan itu.
Setelah beberapa saat, musik berhenti di mainkan dan mereka telah selesai menari. Tiba-tiba perkataan Iris membuat tim Devil ingin membantai gadis itu detik ini juga.