
"Yang Mulia, saya mendengar jika Lady Leona dan temannya ingin membawakan sebuah pertunjukan. Apakah Anda berkenan dengan penampilan mereka, Yang Mulia?" Tanya Iris pada raja Grambiel dengan nada memohon. Namun Leona dapat melihat senyuman mengejek di wajah gadis itu.
Seketika semua mata menatap mereka dengan merendah. Yang langsung menjatuhkan mood mereka.
"Tiba-tiba aku merindukan Kazuma, Kei atau Ken. Aku ingin menghadiahkan nya untuk dessert istimewa pada mereka." Geram Leona.
"Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu." Celetuk Eura kesal.
"Apakah aku perlu menjadikan nya seni patung terbaru? Harganya pasti tinggi jika di lelang." Sinis Iven.
"Benar-benar menyebalkan." Ujar Wei Tao datar.
"Bagaimana menurut Anda, Kaisar? Apakah Anda ingin melihat pertunjukan mereka?" Tanya raja Grambiel pada Kaisar Ein.
Kaisar Ein hanya bisa menahan tawa saat melihat ekspresi keempat anak didik Carl yang menahan kesal. Sebuah ide jahil terbit begitu saja di kepalanya.
"Tentu saja."
'Doeng'
Mereka berempat hanya bisa swatdrop ria. Lalu dia menoleh ke arah Carl yang tengah berdiri di jendela dengan tatapan memelas. Namun tanpa di duga pria itu hanya memberi isyarat lewat mulut untuk melakukan dance.
Dengan terpaksa Leona menghampiri pemain musik dan memberi instruksi. Setelah beberapa saat, gadis itu memberi isyarat pada ketiga rekannya untuk membentuk formasi.
Musik di mainkan dengan tempo cepat. Mereka mulai melakukan beberapa dance dalam satu waktu. Hanya dalam waktu singkat mereka berhasil membuat penonton terpukau. Bahkan Iris yang niat awalnya ingin menjatuhkan mereka justru kesal sendiri.
Kaisar Ein bertepuk tangan menyadarkan penonton di susul oleh Carl. Perlahan gemuruh tepuk tangan terdengar memenuhi aula istana.
"Haha... Tarian yang indah. Aku belum pernah melihat tarian yang energik seperti itu." Ucap Raja Grambiel dengan raut wajah puas.
"Terimakasih, Yang Mulia."
"Penampilan kalian benar-benar luar biasa. Omong-omong, hadiah apa yang pantas untuk mereka, Raja Grambiel?" Ucap Kaisar Ein sambil menatap Raja Grambiel yang kini mendadak gugup.
Jika menyangkut hadiah, paling tidak Raja Grambiel hanya memberikan sekotak emas. Namun untuk menaikkan citra sebagai Raja yang dermawan, terpaksa dia mengeluarkan permata langka miliknya.
"Aku ingin memberikan sepeti permata langka milikku. Pelayan! Ambilkan sepeti permata milikku!" Seru Raja Grambiel tegas.
"Hoho... Kau memang Raja yang bijaksana." Ucap Kaisar Ein dengan riang.
Dan benar saja, Raja memberikan mereka hadiah berupa sepeti permata yang langsung saja di sambut sukacita oleh tim Devil. Apalagi permata-permata itu merupakan permata langka yang sangat susah untuk di dapatkan.
Hadiah itu membuat para hadirin yang hadir hanya bisa menatap iri. Begitupun dengan Iris dan permaisuri Lydia.
💠💠💠ðŸ’
"Heh, kita tidak menyangka bisa mendapatkan sekotak permata langka." Ucap Iven dengan riang. Kini mereka berempat berada di taman menikmati hembusan angin malam.
"Apakah kalian tidak melihat bagaimana ekspresi permaisuri dan Iris saat melihat sekotak permata langka? Raut wajah mereka seperti orang bodoh." Sahut Leona dengan nada mengejek yang kentara.
"Bukankah menyenangkan membuat mereka emosi? Topengnya jadi terbuka begitu jelas." Eura menimpali dengan semangat.
"Hoho... Aku jadi kepikiran sesuatu, nih." Ucap Leona sambil memasang pose berfikir yang membuat mereka menghela nafas berat. Entah apa lagi yang di pikirkan oleh gadis itu.
__ADS_1
"Kita sudah lama berada di luar, sebaiknya kita segera kembali." Ucap Wei Tao sambil berdiri, disusul oleh ketiga temannya.
"Tentu saja. Lagipula guru akan pusing jika kita tidak di sana. Bukankah menyenangkan membuat guru Carl panik?" Ucap Leona sambil menyeringai.
Suasana di aula pesta masih terlihat ramai begitu mereka tiba di sana. Terlihat bangsawan berkelompok seakan membentuk grupnya sendiri.
"Hee~ Ini tidak lebih dari ajang penjilat." Celetuk Leona tiba-tiba yang langsung saja mendapatkan sikutan dari Wei Tao.
"Diam atau kita mendapatkan masalah jika ada yang mendengar." Tegur Wei Tao kesal.
'Prang!!'
Seketika suasana mendadak hening saat mendengar suara pecahan. Mereka menoleh ke asal suara itu dan melihat ratu Errena memegang dadanya dengan ekspresi kesakitan. Tubuhnya mulai sempoyongan sebelum akhirnya ambruk.
'Brukh'
"Ibunda!" Seru pangeran Khalix saat melihat ibunya tergeletak lemah. Sementara para putri yang berdiri di kerumunan berlari menghampiri ratu Errena dengan wajah panik.
Kasak kusuk mulai terdengar. Aula mulai di penuhi kepanikan para bangsawan yang hadir di istana dan menduga-duga kejadian ini.
"Kumpulkan semua tamu undangan! Jangan ada yang keluar dan geledah mereka!" Kaisar Ein mulai memberi perintah.
"Lakukan apa yang di perintah oleh Kaisar!" Ucap Raja Grambiel. Mengingat kedudukan Kaisar lebih tinggi darinya, sehingga Raja Grambiel mau tidak mau menuruti perintahnya.
Semua bangsawan berkumpul dan di geledah, namun tidak ada bukti apapun. Bahkan mereka tidak menemukan tersangka di antara para bangsawan.
"Mungkin orang dalam, Yang Mulia." Celetuk Kaisar Ein.
"Ah, mungkin saja. Biar aku yang memeriksa orang dalam, Baginda. Mungkin saja ada masalah internal di istana." Ucap Raja Grambiel sopan.
Iris segera mengeluarkan sihir cahaya nya, dalam waktu singkat racun yang berada di tubuh ratu mulai hilang dan wajahnya tidak lagi pucat.
Setelah selesai mengobati ratu Errena, tiba-tiba muncul beberapa orang berjubah hitam dan menyerang aula pesta yang membuat mereka panik.
Salah satu diantara mereka menyandera Leona dengan menghunuskan pedang di leher gadis itu. Seketika Eura, Iven dan Wei Tao hanya bisa menatap penyandera dengan tatapan kasihan.
💠💠💠ðŸ’
"Jangan ada yang bergerak atau gadis ini akan mati!" Seru salah satu diantara mereka. Beberapa prajurit datang menerobos aula dengan pedang terhunus dan melindungi tuan mereka.
Leona mendorong pedang yang menempel di lehernya sambil menguap lebar. Bukannya takut, justru gadis itu hanya tenang-tenang saja seolah pedang itu hanya sebuah ranting pohon.
Penyandera itu dengan kesal kembali menempelkan pedang di leher Leona. Dan Leona yang sekarang moodnya buruk langsung saja menepis tangan penyandera itu hingga membuat pedangnya terlempar cukup jauh.
'Brakh'
Leona juga dengan santai membanting pria berjubah itu hingga membuatnya meringis kesakitan dan terdengar retakan yang mengerikan.
'Fire ball'
Sebuah bola api melesat cepat ke arah Leona. Dengan santai gadis itu menghindari bola api dan bola api itu menabrak sebuah pilar yang dekat dengan tempat duduk permaisuri.
Permaisuri Lydia gemetar karena shok. Dia tidak menduga jika serangan bola api melesat hampir mengenal dirinya.
__ADS_1
"Lindungi Kaisar dan keluarga raja!" Seru seorang prajurit. Segera mereka mengevakuasi raja dan permaisuri. Pangeran Khalix sudah membawa ratu Errena setelah di obati oleh Iris.
Kaisar sendiri enggan pergi dan memilih menetap di sana. Dia hanya menonton pertunjukan yang menarik.
"Hei, tembakannya meleset, tuh." Ejek Leona sambil mengeluarkan senjata apinya yang berupa dessert Eagle dan melayangkan tembakan ke arah salah satu orang yang masih berbaring di bawahnya.
'Dor'
Orang itu langsung tewas dengan sebuah lubang di kepalanya. Dengan santai Leona meniup ujung laras yang masih mengeluarkan asap.
"Tidak bisa sihir bukan berarti lemah. Tidak memiliki mana juga bukan sebuah masalah selama mau berlatih dan bekerja keras." Ucap Leona sambil menatap orang berjubah dengan dingin.
Melihat salah satu rekannya mati membuat mereka tersulut amarah. Mereka segera menyerang Leona dengan membabi buta.
Leona dengan santai menghindar sambil melayangkan tembakan ke arah orang-orang berjubah hitam, dan sesekali melancarkan beberapa jurus mua thai. Di bantu beberapa prajurit dan bangsawan, dalam waktu singkat mereka berhasil melumpuhkan orang-orang berjubah hitam itu.
Para bangsawan yang melihat aksi Leona hanya bisa menatapnya takjub. Beberapa laki-laki merasa segan dengan tindakan Leona yang ternyata ahli bela diri.
"Wah, kau benar-benar hebat." Puji Eura sambil mengacungkan jempolnya.
"Karena aku sering berlatih sampai melampaui batas." Balas Leona sombong sambil menyampirkan jubah miliknya di bahu.
Mereka yang mendengar perkataan Leona hanya bisa tergugu. Jadi selama ini mereka hanya mendengar rumor bohong belaka? Sementara para gadis bangsawan hanya menatap Leona dengan takjub, bahkan ada yang iri dengannya.
"Kau telah membunuh mereka, Leona. Bagaimana kita mendapatkan informasi?" Tanya Wei Tao sambil memeriksa orang-orang berjubah yang tergeletak dengan darah yang masih mengucur.
"Oh? Yang di sana masih hidup, tuh." Sahut Leona santai sambil menunjuk ke salah satu meja yang telah hancur. Di sana terdapat seorang pria berjubah yang tergelak tak sadarkan diri.
Putra mahkota yang melihat acara pestanya yang hancur langsung saja menusuk Leona dari belakang hingga menembus tubuhnya. Seketika mereka yang menyaksikan hal itu tersentak kaget, bahkan ada yang menjerit histeris.
'Jleb'
"Leona!"
Leona hanya menatap datar ujung pedang yang menembus tubuhnya lalu mencoba melepaskan diri. Dia menatap putra mahkota yang kini menatap nyalang ke arahnya.
"Kau sengaja merencanakan hal ini, kan? Kau yang iri dengan semua yang di miliki oleh Iris sehingga kau menyerang permaisuri dan mengundang pembunuh bayaran. Aku memutuskan menghukum mati dirimu, penghianat!" Ucap putra mahkota dengan penuh amarah.
'Uhuk'
Leona memuntahkan seteguk darah.
"Anda yakin?" Tanya Leona dan menatap Iris yang kini membelalakan matanya. Namun dia melihat senyum penuh kemenangan di wajah gadis itu.
"Aku tidak pernah iri dengan apa yang menjadi milik Iris." Ucap Leona dengan penuh kejujuran.
"Iris, aku tidak tau kenapa kau membenciku. Kau merebut keluargaku, menghancurkan reputasiku. Tapi aku tidak mempermasalahkan semua itu. Jika kematianku adalah keinginanmu, kau sudah mendapatkannya. Selamat."
'Brukh'
Kaisar segera menahan tubuh Leona yang kini terkapar tak berdaya dengan darah merembes di tubuhnya seperti air mancur. Terlihat Iven, Wei Tao, Eura dan Carl menatapnya dengan penuh kesedihan.
Calvian dan Emillio melihat hal itu segera menghampiri Leona. Terlihat sorot penuh kesedihan dan penyesalan di mata dua pria itu.
__ADS_1
"Bukankah... Hah... Ini yang kalian inginkan? Aku sudah memaafkan kalian..." Ucap Leona dan mata gadis itu tertutup.
Endingnya belum ya, guys.. Masih ada lagi.