Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 39


__ADS_3

Leona dibantu Kaze tengah sibuk meramu beberapa herbal, sementara Kei sibuk mengaduk bahan-bahan. Mereka bertiga membuat beberapa obat, racun, penawar dan elixir untuk berjaga-jaga.


Semerbak harum obat dan elixir tercium di ruangan milik Leona, menandakan racikan buatannya berkualitas premium.


Leona sendiri diam-diam mempelajari obat-obatan dan racun secara otodidak dengan berpatokan dari buku peninggalan mendiang ibunya serta beberapa buku yang di bacanya di beberapa perpustakaan.


"Cukup, Kei." Ucap Leona.


Kei menghentikan kegiatan mengaduk ramuan dan mengambil beberapa botol berukuran kecil, lalu menyaring dan memasukkan nya ke dalam botol-botol itu.


Leona segera menyegel ramuan buatannya dalam sebuah gulungan lalu tersenyum puas.


"Aku akan keluar sebentar. Kalian beristirahatlah." Titah Leona pada Kei dan Kaze.


"Baik, Leona-sama."


Leona segera menghilang dari sana dengan meninggalkan helaian kelopak bunga. Baru-baru ini gadis itu mencoba menguasai teknik pengendali bunga, seperti Konan dari anime Naruto yang menguasai teknik pengendali kertas.


Leona akhirnya muncul di tanah lapang yang terletak tak jauh dari akademi. Beruntung tempat itu cukup sepi dan dia merasakan ada seseorang yang bersantai di atas pohon dan terasa familiar. Sepertinya itu teman-temannya atau Carl.


Seulas senyum setan terbit di wajah gadis itu, dia menghilangkan hawa keberadaannya dan mendekati pohon yang menjadi tempat bersantainya seseorang lalu menempelkan tangannya di sana. Terlihat sebuah kanji bertuliskan sebuah kata 'meledak'.


Leona segera menjauhi pohon itu dan merapalkan sebuah simbol tangan, dan...


'DUAARR'


'BRAAKKK'


'Gubrak'


Batang pohon itu hancur dan ambruk yang sukses membuat orang yang tengah bersantai ria kaget dan terjatuh.


"Aduduh, siapa yang berani mengganggu tidurku?" Geramnya kesal. Pria bersurai ungu yang memiliki kuncir di tengkuk menatap sekitarnya dan menemukan sang pelaku yang tersenyum tanpa dosa tak jauh dari nya.


"Hehehe... Selamat sore, Guru Carl..." Sapa Leona dan langsung kabur begitu saja.


"Dasar kau murid kurang ajar!" Seru Carl kesal. Saat hendak mengejar gadis itu, tiba-tiba seekor elang pembawa pesan terbang diatasnya membuat Carl mengurungkan niatnya.


"Sepertinya kepala akademi memanggil. Wraft." Carl segera menghilang dari sana.


💠💠💠


Carl muncul tiba-tiba membuat Margaretha berdehem ringan menyembunyikan kekagetannya.

__ADS_1


"Selamat sore, Nyonya. Apa ada misi?" Tanya Carl to the point.


"Bisakah kau muncul dengan mengetik pintu, Tuan Carl? Untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung." Sungut Margaretha kesal.


"Aku lupa." Sahut Carl terkekeh.


Margaretha menghembuskan nafasnya frustasi. Hanya Carl yang bisa membuatnya nyaris mendidih saat berhadapan dengan pria itu.


"Aku ada misi untuk kalian, Carl. Ini bukan misi ringan, tetapi misi yang cukup berbahaya." Margaretha mengobrak-abrik dokumen yang berada di atas meja. Setelah menemukannya dia menyerahkan dokumen itu kepada Carl dan langsung membacanya. Seketika senyum iblis terpampang di wajah tampannya.


"Wah~ Misi ini sangat cocok untuk melatih tim ku, Nyonya. Aku akan mengambilnya." Ucap Carl senang. Dalam hati pria itu tertawa setan membayangkan bisa membalas perbuatan laknat anak didiknya itu.


"Besok kau berangkat bersama beberapa ksatria dari pihak kekaisaran." Ucap Margaretha.


"Kalau begitu, aku pergi mengabari anak-anakku dulu. Warft." Pamit Carl dan segera pergi dari sana.


Sementara ke empat anak didik Carl tengah sibuk latihan di tempat khusus latihan akademi. Terlihat Eura yang sibuk mengontrol aura pedang, Iven yang sibuk membuat patung dengan menggunakan sihir tanahnya, Wei Tao yang terlihat rebahan sambil membaca buku, sementara Leona datang dengan berlari sambil tertawa terbahak-bahak dan sesekali menoleh ke belakang.


"Kau kenapa?" Tanya Iven tanpa mengalihkan perhatiannya pada patung buatannya.


"Aku baru saja membuat guru Carl terjatuh dari pohon." Sahut Leona jujur dan terkekeh sambil menormalkan nafasnya. Lalu Leona segera duduk di sebelah Iven dan segera mengeluarkan sebuah gulungan. Gadis itu kembali membuat formula fuinjutsu yang belum selesai.


"Kau jahil sekali." Ucap Wei Tao sambil mengintip dari buku yang dibacanya.


Beberapa saat kemudian, Leona selesai membuat formula fuinjutsu dan berniat mencobanya. Namun saat hendak mencoba, sebuah suara familiar datang menginterupsi kegiatan mereka.


"Halo anak-anakku tercinta~" Sapa Carl yang mendadak muncul tepat di atas formula fuinjutsu milik Leona.


'DUAARR'


"Astaga, aku menjadikan guru Carl percobaan pertama!" Seru Leona saat fuinjutsu nya diinjak oleh Carl dan meledak sedetik kemudian.


Sementara ketiga rekannya hanya menatap Carl dengan tatapan kasihan sambil menahan tawa saat melihat penampilan Carl yang kini terlihat menyedihkan. Pria itu terlihat berantakan dengan pakaian compang camping. Beruntung daya ledakan itu tidak besar sehingga Carl tidak mati sia-sia.


Dalam sekali jentikan tangan, penampilan Carl kembali normal. Tanpa aba-aba, pria itu langsung menjewer telinga Leona hingga membuat sang empu meringis sakit.


Leona mengusap telinganya yang memerah akibat ciuman maut dari tangan kekar Carl. Bisa-bisanya pria berkuncir itu terkena dua kali ledakan Leona.


"Kenapa Guru mendadak muncul tepat di atas formula fuinjutsu milikku, sih?” Sungut Leona kesal.


"Tapi kau bisa tenang karena Guru mau menjadi percobaan jurus anehmu yang apalah namanya itu." Sahut Wei Tao datar.


"Fuinjutsu, bukan jurus aneh." Leona menyalak.

__ADS_1


"Jadi, ada apa Guru?" Tanya Iven yang masih setia membuat patung dengan sihir tanah miliknya.


"Kita mendapatkan sebuah misi. Aku sengaja memilihnya untuk melatih kemampuan kalian." Sahut Carl ceria yang membuat keempatnya mengerutkan alisnya dan memasang ekspresi malas. Pria berkuncir di hadapannya pasti memilih misi yang tidak bermutu untuk mereka.


"Kita mendapatkan misi untuk memusnahkan bandit di perbatasan Kekaisaran Kamitsuki. Ini perintah Kaisar langsung." Ucap Carl serius dengan telunjuk menyentuh dagunya saat menyadari keempat setan itu menatapnya dengan malas.


Seketika mata keempat anak setan didiknya itu berkilat senang. Akhirnya guru mereka mau mencarikan misi yang meregangkan otot mereka.


"Jadi kapan misi kita di mulai?" Tanya Leona antusias.


"Kita berangkat besok. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Carl dan segera berjalan santai meninggalkan keempatnya yang kini tengah berdiskusi tentang rencana mereka besok.


💠💠💠


Leona menatap bulan yang bersinar penuh yang baru beranjak dari ufuk timur di dampingi bintang yang berkelip bak taburan permata dari balkon kamar. Gadis itu merebahkan diri dengan Kei menjadi bantalnya dalam wujud panther hitam.


Kaze ikut menemani Leona dengan duduk di sebelah gadis itu dan ikut menatap langit malam yang indah. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.


Leona mengetahui jika para Duke di kendalikan melalui sebuah cincin dan beberapa desa di hapus dari peta kerajaan maupun Kekaisaran. Dan dia baru mengetahui bahwa beberapa Duke yang menjadi anjing kerajaan ternyata di kendalikan melalui artefak kuno dan desa-desa itu sengaja di sembunyikan oleh pihak Kekaisaran.


Apakah artefak kuno itu adalah cincin yang selalu di pakai raja? Dia memilih tidak peduli jika keluarga kerajaan tidak mengusiknya. Lain cerita jika mereka mengganggu duluan, makan Leona akan menghancurkannya sampai ke akar-akarnya.


"Leona-sama, sekarang waktunya Anda tidur." Ucap Kaze yang masih setia duduk di sebelah nya.


"Aku belum mengantuk, Kaze." Sahut Leona.


"Tapi Anda harus beristirahat dengan cukup mengingat besok Anda akan menjalankan misi." Ucap Kaze tegas.


"Iya, aku tau. Tapi melihat bulan yang indah membuatku menjadi malas." Ucap Leona sambil tersenyum.


Kaze memilih diam dan membiarkan Leona menikmati malam yang mulai larut. Dia menatap jam dinding yang menunjukkan waktu jam sembilan malam.


Leona memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang sejuk, belum lagi lembutnya bulu Kei yang membuatnya merasa terbang ke awan-awan. Perlahan kantuk menguasainya dan gadis itu mulai terlelap dalam mimpi.


Beberapa saat kemudian, Kei berubah menjadi manusia dan segera memindahkan tubuh Leona ke atas ranjang dengan hati-hati lalu Kaze menyelimuti gadis itu.


Sementara Carl berbaring di ranjangnya sambil memperhatikan botol elixir pemberian Leona karena terkena ledakan fuinjutsu gadis itu. Ternyata Leona lebih misterius dari yang dia duga.


Dengan santai Leona mengatakan membeli elixir itu di toko obat, namun Carl dapat mencium aroma wangi lembut karena elixir itu berkualitas premium yang tidak dapat di jumpai di Kekaisaran manapun.


Banyak orang yang menolak Leona karena predikat pembuat onar. Apalagi Leona yang tidak pernah ikut latihan membuat mereka yakin jika gadis itu akan menjadi beban saja.


Tetapi saat Carl melihat gadis itu secara langsung, banyak hal yang disembunyikan olehnya. Meskipun dia tidak memiliki mana maupun aura, kemampuan gadis itu dalam menganalisa membuatnya terpana. Bahkan kemampuan bertarungnya cukup hebat membuat Carl yakin jika dia menyembunyikan potensi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2