Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 55


__ADS_3

Calvian dan rombongan mulai memasuki kawasan Bloom Mist. Selama perjalanan menuju desa itu, mereka merasa beberapa mata mengawasi keberadaannya.


Siluet bayangan terlihat bergerak dari pohon ke pohon mengikuti pergerakan rombongan Duke Castallio. Segera rombongan itu memasang sikap waspada.


"Berhati-hatilah." Perintah Calvian sambil mengeluarkan pedangnya diikuti oleh prajurit yang bersamanya.


Beberapa orang bertopeng muncul di balik air sungai dan melompat keluar bersamaan dengan munculnya orang-orang dari balik pohon dan bayangan. Kini rombongan Duke Castallio di kepung dari berbagai arah.


"Siapa kalian dan mau apa datang ke desa kami?!" Tanya salah satu diantara mereka dengan tegas dan dingin.


"Bukan urusan kalian." Balas Calvian tak kalah dingin.


Orang-orang itu menyeringai, sekali jentikan tubuh mereka terikat lalu sebuah simbol muncul di bawah kaki mereka.


"Orang-orang yang memasuki wilayah kami tidak boleh sembarangan mengeluarkan senjata. Jika kalian tidak berkepentingan silahkan pergi dari sini." Ucap pria bertopeng itu tegas.


"Ini masih dalam wilayahku. Aku adalah Duke Castallio."


"Kami tidak pernah melihat bangsawan datang ke desa ini untuk memberi bantuan selama beberapa tahun dan wilayah ini telah di hapus dari peta. Jika kalian tidak bisa pergi dengan cara baik-baik, maka biarkan pemimpin kami yang mengurusnya." Ucap pria itu dingin dan tegas.


'Ctak'


💠💠💠💠


Leona tengah bersantai di taman kediaman Calisius bersama para tamunya. Meski suasana tampak canggung karena ada kaisar.


Kaisar yang melihat anak buahnya canggung hanya bisa menghela nafas bosan. Menjadi kaisar bukanlah perkara mudah, selain mengurus negara yang luas, dia juga sibuk bercumbu rayu dengan berkas-berkas yang tak ada habisnya.


"Kalian benar-benar hebat bisa membangun desa ini dalam waktu dua tahun saja. Sungguh pencapaian yang kuat biasa." Puji Kaisar Ein kagum.


"Tidak juga, Baginda. Ini semua ide dari Leona sendiri." Jim merendah.


"Dan semua penduduk disini juga bekerja keras untuk membangun desa ini menjadi lebih baik, Baginda." Leona angkat suara.


"Tapi, Nona. Bangunan desa ini benar-benar unik dan indah. Seandainya saja Nona bukan sepupu Kaisar, mungkin saya setuju Nona menjadi ratu." Salah satu prajurit Kaisar Ein berceloteh ria penuh haru dan di balas dengan anggukan dari yang lainnya.


Seketika raut wajah Jim dan kaisar Ein menggelap mendengar penuturan salah satu ksatria itu. Jim merasa tidak ikhlas jika melihat Leona bersama pemuda lain dan Ein merasa dirinya tidak becus menjadi Kaisar.


"Noah, sepertinya kau bosan menjadi ksatria, ya. Apa kau perlu menjadi makanan monster di hutan perbatasan? Sepertinya mereka kelaparan." Ucap Kaisar Ein sambil tersenyum miring.


"T-tidak, Baginda. Saya masih ingin mengabdi sebagai ksatria." Sahut Noah dengan tubuh sedikit bergetar merasakan hawa dingin dari Kaisar.


"Tapi perkataan mu mengatakan jika aku tidak becus menjadi Kaisar."


"Saya tidak bermaksud berbicara seperti itu, Baginda."


"Hohoho~ Sepertinya kau sudah lama tidak latihan. Aku rasa tubuhmu berkarat karena terlalu banyak diam."


Noah hanya bergidik ngeri membayangkan latihan dengan Kaisar. Dia akan di masukan ke dalam kandang besar dan di kejar-kejar siluman predator milik Kaisar.


"Anda tega sekali pada saya, Baginda." Rengek Noah sambil memasang ekspresi memelas.


Tiba-tiba muncul sesosok pria dengan topeng setengah wajah berbentuk kucing di sebelah Leona sambil menguap lebar membuat orang-orang yang berada di sana kaget, kecuali Jim dan Leona.


"Leona-sama, kami menangkap bedebah Castallio yang ingin masuk ke desa. Mereka berjumlah sepuluh orang."

__ADS_1


"Castallio? Maksudnya tuan Duke?" Tanya Leona memastikan.


"Benar, Leona-sama."


"Ikat mereka di ring basket." Ucap Leona sambil tersenyum miring.


"Di laksanakan." Lalu pria itu pergi begitu saja.


"Apa yang akan kau lakukan, Leona?" Tanya Jim penasaran.


"Seperti biasa, Paman. Mau lihat?"


💠💠💠💠


Leona mendrible bola basket yang di dapat entah dari mana. Di bawah ring itu terdapat Duke Castallio bersama beberapa prajuritnya yang terikat dan menatapnya marah, kecuali beberapa prajurit yang menatapnya penuh kerinduan.


"Oho~ Tuan Duke Castallio yang terhormat. Ada apa kalian mengunjungi desa kami?" Tanya gadis itu sambil tersenyum mengejek.


"Ini masih wilayahku, Leona. Jadi sah-sah saja jika aku berkunjung kemari." Sahut Calvian dengan nada membentak.


'Hap'


Leona menangkap bola basket itu lalu memiringkan kepalanya sambil memasang ekspresi polos. Jim dan rekan Leona serta kaisar dan prajurit hanya menontonnya dari kejauhan dengan penasaran tanpa mau ikut campur.


"Benarkah?" Leona menatap pelayan yang berdiri di belakangnya.


"Apakah sebelumnya duke Castallio pernah memperhatikan kalian?" Tanyanya pada pelayan itu yang merupakan penduduk asli desa ini.


"Belum pernah, Leona-sama. Hanya beberapa bangsawan yang datang mengambil sanak-saudara kami dengan iming-iming kehidupan yang layak. Tapi mereka tidak pernah kembali lagi. Namun kekaisaran yang mengirim bantuan saat musim dingin." Sahutnya sopan.


"Setidaknya Anda telah di besarkan oleh tuan Duke dengan baik, Nona. Sudah beruntung Anda yang tidak memiliki mana tidak ditelantarkan di luaran sana!" Seru salah satu prajurit tak terima dengan nada mencemooh.


'Wuussshh'


'Duakh'


Sebuah bola basket melayang dan mengenai kepala prajurit itu dengan cukup keras.


"Kau itu berisik sekali. Apakah orang hebat itu di ukur berdasarkan mana, Sir?" Tanya Leona sinis sambil mengambil bola basket lalu mendriblenya.


"Memang nyatanya Anda tidak memiliki mana, dasar sampah!" Maki salah satu prajurit Castallio.


"Jangan berlebihan, Mikhael! Meskipun Nona tidak memiliki mana, tetap saja dia keturunan Castallio." Tegur Ribbert.


"Heh, kau membela sampah itu?"


'Duakh'


"Arrghh!"


Sebuah bola basket melayang membentur kepala Mikhael dengan keras. Sontak mereka menatap Leona dengan horor, kecuali Calvian dan beberapa prajurit yang menatapnya dengan marah.


"Menjadi sampah karena tidak memiliki mana, ya? Apakah lemparan bola itu tidak sakit, Sir? Padahal aku tidak menggunakan mana, loh. Hihi..." Ucap Leona sambil menyeringai sadis.


"Lepaskan kami, Leona! Begitukah caramu menyambut tamu?" Bentak Calvian. Dia merasa harga dirinya jatuh karena di permalukan oleh gadis itu didepan orang banyak.

__ADS_1


"Suasana hati saya memburuk, Tuan. Apalagi prajurit Anda mengatakan saya tidak memiliki mana. Fakta yang sangat membuat saya sakit hati." Ucap Leona melankolis.


"Yah, sebagai keturunan asli klan Tigries saya sangat bersyukur, sih." Lanjutnya sambil menatap Kaisar dan Jim yang menatapnya penasaran. "Bukankah begitu, Paman dan Kakak Sepupu?" Lanjut Leona sambil meminta persetujuan.


"Tentu saja, Leona. Seorang Tigries tidak memiliki mana, apalagi cinta. Hal menjijikkan itu tidak pernah terjadi meskipun telah menikah." Sahut Kaisar Ein.


'Jeder!'


Bak di sambar petir siang bolong, rombongan Castallio membeku mendengar perkataan itu. Saat mereka menoleh, terlihat Kaisar Ein yang menggunakan pakaian rakyat sipil berdiri diantara prajurit dan pelayan tanpa merasa risih. Pria itu memiliki kemiripan dengan Leona maupun Miria di lihat dari mata nya yang memiliki garis hitam di dekat bulu mata. Begitu pun dengan pria yang bernama Jim.


"Yo, Duke. Lama tidak bertemu. Apakah setelah pemberantasan pemberontak membuatmu lupa dengan suara merduku?" Tanya Kaisar sambil melambaikan tangannya layak miss universe.


"Ba-baginda?"


"Ah, aku lupa. Jim dan Leona adalah kerabat ku yang telah lama terpisahkan karena ulah raja kalian. Bahkan raja kalian telah menculik bibiku saat pulang dari istana. Oh, dia juga telah membantai habis rakyatku yang tidak bersalah. Sungguh malang." Ucap Kaisar Ein melankolis mendramatisir keadaan.


Calvian tampak berpikir keras. Melihat hal itu Kaisar Ein menyeringai.


"Bibi Miria pasti sedih melihat perlakuan tak adilmu pada Leona. Malah kau lebih melakukan orang lain yang tidak memiliki hubungan darah denganmu dengan baik dan melupakan darah daging sendiri."


'Duakh'


Bola basket kembali melayang dan mengenai bahu Calvian. Pria paruh baya itu meringis kesakitan dan menatap Leona dengan tajam.


"Kakak Sepupu, sepertinya dia lupa ingatan." Celetuk Leona malas sambil mendrible bola basketnya.


"Mungkin dia memikirkan Iris. Aku dengar dia dekat dengan putra mahkota." Sambung Wei Tao.


"Wah~ Sepertinya kabar gembira yang patut dirayakan di istana." Imbuh Iven.


"Apa kau tidak melepas duke Calvian, Leona? Bagaimana pun dia itu ayahmu." Carl mencoba membujuk Leona.


"Aku tidak ingat punya ayah, tuh. Yang aku ingat hanya diabaikan dan disalahkan." Sahut Leona sambil terus melemparkan bola basket kearah Calvian dan pengikutnya. Bahkan gadis itu melemparkan bola basket ke dalam ring dan mengenai kepala Calvian dengan telak.


Kini mereka telah tergeletak pingsan dengan wajah dan tubuh dipenuhi dengan memar yang telah membiru.


Carl terdiam. Dia menatap Leona dengan prihatin apalagi saat mendengar cerita dari Kaisar kemarin. Gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Yang lainnya hanya menonton tanpa ikut berkomentar. Mereka hanya menatap Leona takjub karena pertama kalinya mereka melihat Leona memainkan bola basket. Karena di dunia ini, mereka tidak mengenal permainan bola basket ataupun permainan lainnya selain ilmu sihir dan berpedang serta memanah.


"Leona-sama, lemparan Anda sangat mengagumkan." Puji Kazuma sambil tepuk tangan.


"Benarkah? Lain kali aku akan melemparkanmu dari tebing."


"Hiks... Anda kejam padaku, Leona-sama."


"Karena kau berisik."


Setelah puas melayangkan lemparan pada mereka, Leona memanggil pria bertopeng kucing tadi.


"Ya, Leona-sama."


"Buang mereka di wilayah Baron Cohen. Sementara mereka berempat biarkan di sini." Titah Leona sambil menatap keempat anak buah Calvian. Mereka memperlakukan pemilik tubuh ini dengan baik, jadi Leona mengijinkan mereka berkunjung kemari.


"Baik, Leona-sama."

__ADS_1


Leona melakukan shoot dan bola basket langsung masuk ke dalam ring. Gadis itu segera pergi meninggalkan lapangan basket itu.


__ADS_2