Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 45


__ADS_3

Leona keluar dari penjara sambil menghajar beberapa penjaga yang berpapasan dengannya. Di bantu oleh Kei dan Iven, mereka berhasil membuat penjaga itu tergeletak tak berdaya dan keluar dari tempat itu dengan selamat.


"Nona, Anda benar-benar keren~" Puji prajurit dengan terharu yang membuat gadis itu mengembangkan ekor meraknya.


"Iya, dong. Siapa dulu dong yang menghajar orang-orang lemah ini." Balas Leona dengan memasang wajah tengilnya sambil membusungkan dada. Tidak lupa dengan mengibaskan rambut hitam emonya yang ikal.


Iven yang melihat itu hanya bisa menahan mual. Kei hanya bisa mendengus melihat majikannya yang kadang bisa di luar nalarnya.


"Nona, sebaiknya kita cepat-cepat sebelum ada yang menyadari keberadaan kita." Tegur Kei tegas.


"Ahaha... Kau tidak sabaran sekali rupanya. Baiklah, kita hanya perlu bersikap seperti orang biasa dan pergi berkeliling seperti turis." Ucap Leona sambil mengawasi situasi.


"Apa kau akan menghancurkan bar atau membuat kekacauan?" Tanya Iven curiga. Pemuda itu masih ingat saat baru sebulan belajar di akademi dan memutuskan pergi ke bar bersama teman-temannya dan melihat Leona seorang diri datang mengunjungi bar yang sama. Tiba-tiba beberapa orang laki-laki datang dan merayu Leona, dengan santai Leona menghajar beberapa laki-laki itu dan membuat pemilik bar menderita kerugian karena sebagian besar tempat itu luluh lantak.


Dan jangan lupa beberapa laki-laki itu kritis dengan luka parah di sekujur tubuhnya.


"Ohoho~ Aku tidak janji untuk hal itu." Sahut Leona tanpa beban.


Iven mendengus. Pertemuan pertama dengan Leona saat di bar memang membekas di ingatannya. Meskipun gadis ini tidak memiliki mana, namun dia tetap tegar dan berusaha keras. Belum lagi pernyataan gadis itu saat ujian masuk akademi, dimana banyak rumor buruk tentangnya menyebar begitu hangat. Leona malah tidak peduli dan mengabaikan rumor itu yang membuatnya takjub.


Menurut pandangan Iven, Leona adalah gadis mandiri, tegas dan memiliki pribadi yang kuat. Meskipun banyak orang yang menyebutnya sampah karena tidak memiliki mana dan di abaikan keluarganya sendiri, gadis itu tidak menyerah yang membuat pemuda itu semakin mengagumi Leona.


Jika saja Leona memiliki sikap anggun atau bertingkah seperti layaknya seorang gadis pada umumnya, sudah pasti Iven akan menjadikan gadis itu kekasihnya, meskipun dari rakyat biasa sekalipun.


💠💠💠💠


Suara derap kuda terdengar bergemuruh memecah sunyi nya hutan. Di pimpin oleh Kaisar, mereka memutuskan untuk mendekati markas pemberontak dan menyerang mereka dalam keadaan lengah.


Markas pemberontak terletak di sebuah desa kecil yang tidak memiliki pemilik. Berdasarkan informasi yang didapatkan, pemimpin desa itu telah di bunuh oleh sekelompok orang dan penguasa tanah itu juga telah bersekongkol dengan pemberontak itu bersama beberapa pejabat istana kerajaan Seanthuria dan beberapa pihak dari kekaisarannya.


Ein tertawa terkekeh. Menurutnya, para pemberontak itu hanya seonggok semut tak berguna. Mereka yang memberontak itu tentu saja tidak menyukai dirinya yang menjadi kaisar.


Ein tidak ambil pusing dan memilih menyewa Duke dari Seanthuria untuk menunjukkan wajah beberapa pemberontak itu. Bahkan dia sengaja menyewa sebuah tim yang dipimpin oleh Carl untuk mengetes kemampuan mereka, mengingat mereka dijuluki pembuat onar dan kekacauan.


Kaisar Ein menghentikan kudanya begitu berada tak jauh dari markas pemberontak. Hanya berjarak tujuh ratus meter dan dia memerlukan sebuah rencana dadakan untuk menyelesaikannya.


"Baginda, bagaimana dengan penyerangan pemberontak itu?" Tanya Arthem penasaran saat melihat kaisar Ein menghentikan kudanya.


"Tunggu mereka lengah dulu. Lagipula sudah ada beberapa orang yang menyelinap ke dalam." Sahutnya tenang.


"Tapi mereka belum pernah pergi ke medan perang, Baginda." Bantah Duke Mizugami tak terima.


"Jika kalian meragukan keputusan ku, lakukan sendiri. Aku berani bertaruh jika mereka akan berhasil." Sahut kaisar Ein santai membuat Duke Mizugami diam.

__ADS_1


"Mereka akan berguna jika dilatih. Meremehkan seseorang tanpa kemampuan itu tidaklah baik, Duke." Imbuh kaisar Ein sambil menatap Duke Castallio dan Duke Mizugami sinis.


Dua Duke ini sangat meremehkan orang-orang pilihannya, yang mana salah salah satu diantaranya adalah anak-anak mereka sendiri. Meskipun itu adalah anak yang tak diinginkan, setidaknya urusan pribadi jangan di bawa ke medan perang.


Kaisar Ein melihat banyak potensi tersembunyi dari keempat anak asuh Carl meskipun kelakuan mereka begitu bobrok. Apalagi dia merasakan ada jiwa asing di dalam tubuh seorang sampah dari salah satu anak Duke itu.


Bagi kaisar Ein, memiliki mana atau tidak bukanlah hal yang memalukan asalkan dia mau berlatih dan berusaha dengan keras. Kadang kemampuan asli seseorang akan terlihat jika di latih dengan baik, bukan berdasarkan garis keturunan maupun mana yang mengalir di tubuh mereka.


💠💠💠💠


Sepanjang perjalanan Leona dan rombongannya melihat banyak bangsa Orch yang berkeliaran dengan bebas. Bahkan beberapa prajurit manusia berbicara santai dengan mereka.


Pemandangan damai itu terlihat tidak mencurigakan sebelum dia melihat beberapa orang prajurit dan bangsa Orch menggiring beberapa pemuda dan gadis menuju suatu tempat dengan kondisi mereka yang memperihatinkan.


Leona tidak ingin bertingkah mencurigakan dan memutuskan untuk mencari sebuah barbar bersama Khalix dan Robert, sisanya mereka menyebar mencari informasi.


'Kling'


Leona, Khalix dan Robert memasuki sebuah bar yang cukup ramai. Mereka mengamati sekilas lalu memutuskan duduk di depan seorang bartender laki-laki yang cukup tampan.


Bartender itu menyadari kedatangan mereka bertiga dan menyapa dengan ramah.


"Kami memesan tiga bir." Ucap Leona.


Sontak mata mereka melotot melihat sebuah pemandangan erotis yang sangat gila. Terlihat seorang pemuda digerayangi oleh sekelompok pria kekar yang sukses membuat Robert dan Khalix geram melihat hal itu.


"Oh, mata suciku!" Pekik Khalix sambil memalingkan wajahnya.


"Astaga! Bedebah itu." Geram Robert dan mengalihkan pandangannya.


"Wow, gangnam style versi laki-laki. Apakah mereka doyan terong?" Celetuk Leona frontal sambil menonton adegan live di depan matanya.


"Hal itu sudah biasa terjadi di bar ini, Nona." Sahut bartender itu saat melihat reaksi ketiganya.


"Kenapa tidak ada yang menghentikannya?" Tanya Robert.


Bartender itu mengamati sekitarnya lalu berbisik, "Karena pemimpin desa ini lebih parah dari mereka."


Leona mengalihkan perhatiannya dan menatap bartender itu penasaran. "Maksudmu?"


"Aku tidak bisa membicarakan nya disini."


Leona mengeluarkan enam koin emas yang membuat bartender laki-laki itu membulatkan matanya.

__ADS_1


Bartender itu mulai berbicara, "Sebenarnya beberapa tahun lalu ada sekelompok orang mendatangi desa ini dan membunuh pemimpin desa. Diantara mereka ada beberapa bangsawan dari wilayah Seanthuria."


Leona menganggukkan kepalanya. "Lalu?"


Bartender itu terdiam sejenak dan mengamati situasi. Setelah dirasa aman dia kembali berbicara, "Beberapa orang memiliki penyimpangan, termasuk pemimpinnya. Mereka mencari mangsa dari penduduk sekitar sini."


"Apa kau tau dimana pemimpin itu tinggal?"


Bartender itu menggelengkan kepalanya.


Leona kembali mengeluarkan sepuluh koin emas yang sukses membuat bartender itu tercengang.


"Dia tinggal di tengah-tengah desa. Ada satu bangunan besar di sana. Tapi bangunan itu di jaga dengan ketat."


"Terimakasih."


Setelah mendapat informasi, mereka segera pergi dari bar itu, namun salah satu pengunjung mencekal tangan Leona sambil memasang ekspresi mesum yang sukses membuat Leona jengkel.


"Nona cantik, bagaimana jika juta bersenang-senang sejenak?" Ucap pemuda itu.


Robert dan Khalix geram ingin menghajarnya, namun Leona mencegahnya. Dia memberi isyarat untuk diam.


"Ah, tentu saja. Aku sedang penat dan memerlukan teman untuk bersenang-senang." Sahut Leona dengan nada menggoda. Namun...


'DUAAKKHH'


"Uhuk!"


Leona membanting pria itu cukup keras sambil tersenyum manis. Pria itu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya lalu menatap Leona dengan marah.


"Sayang sekali, bersenang-senangnya belum di mulai tapi Anda sudah terkapar begini. Bagaimana caranya kita bersenang-senang, Tuan?" Tanya Leona sambil memasang wajah polos seakan merasa tak bersalah. Dia menatap pria itu dengan tatapan merendahkan.


Keributan itu membuat orang-orang yang berada di bar mengalihkan perhatiannya, bahkan mereka menghentikan kegiatan mereka.


"Nona, sepertinya mereka ingin menghabisi kita." Bisik Khalix.


Leona menyeringai lalu menginjak pria yang terbaring di bawahnya dengan kuat hingga memuntahkan darah. Sontak orang-orang yang berada di sana menatap Leona geram.


"Ayo, kita habisi mereka."


Dalam waktu singkat pertarungan tak terelakkan lagi. Hanya Leona saja yang bertarung melawan pengunjung bar hingga brutal. Dan dalam waktu singkat pula, keadaan bar kacau balau akibat perbuatan Leona.


*Maaf author lagi kurang fit karena sakit. Mohon maaf, mungkin tidak akan bisa up dlm 3 hari kedepan.

__ADS_1


Jgn lupa mampir di karya aku yg lainnya.


__ADS_2