Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 78


__ADS_3

Penyerangan desa Bloom Mist benar-benar terjadi dan Jim segera membawa pasukannya ke gerbang bekas desa buangan terdahulu yang berjarak dua kilometer dari gerbang desa Bloom Mist sesuai rencana. Terlihat beberapa pleton pasukan Orch datang menyerbu wilayah yang di duga menjadi desa itu.


Jim yang berdiri di barisan depan segera berseru untuk bersiaga. Pria itu segera mengeluarkan sebuah simbol rumit di belakang tubuhnya. Seketika muncul berbagai senjata tajam yang meluncur bebas menuju arah prajurit Orch itu.


Teriakan kesakitan menggema dari beberapa bangsa Orch itu. Mereka menatap rekannya yang tergeletak tak bernyawa dan memandang beberapa orang yang berdiri di sebuah tembok tinggi tak jauh dari mereka.


"SERANGG!!!" Seru pemimpin bangsa Orch itu dengan marah.


"SEMUANYA, AMBIL POSISI!! Seru Jim memberi peringatan pada seluruh penduduk yang ikut berperang.


Beberapa orang berpakaian serba hitam seperti ninja berlarian keluar dengan senjata andalan masing-masing.


Lalu disusul dengan hujan panah dan serangan sihir jarak jauh yang membuat pasukan musuh ketar ketir.


Suara dentingan pedang yang beradu disusul dengan suara ledakan dan teriakan menggema di siang hari yang mendung itu.


Pasukan siluman juga tidak ketinggalan. Mereka berjaga di depan gerbang desa untuk menghalau musuh yang berhasil melewati pasukan pedang desa Bloom Mist.


Leona yang berpakaian serba hitam dengan masker hitam berhiaskan rantai membungkus wajahnya berdiri di sebelah Jim. Gadis itu merapalkan beberapa segel tangan, lalu muncul hujan jarum es yang membuat banyak korban berjatuhan dari pihak musuh.


Sementara para pihak musuh yang melihat serangan itu hanya geram dan terus menyerang mereka dengan membabi buta. Bangsa Orch memiliki kemampuan fisik yang luar biasa, namun gerakan dan kemampuan berfikir mereka cukup lambat.


"Paman, apakah kita harus menghabisi mereka sekaligus?" Tanya Leona sambil melirik Jim yang berada di sisinya. Pria itu masih sibuk mengeluarkan beberapa senjata melalui simbol sihir di belakangnya, serta banyak penyihir yang mulai kelelahan karena mana mereka berkurang.


"Kau harus menyimpan tenagamu banyak-banyak. Seperti bala bantuan musuh mulai datang." Ucap Jim sambil menoleh ke depan. Di sana terlihat banyak pasukan Orch berlari kearah mereka.


"Baiklah."


Leona memperhatikan beberapa bangsa silumannya yang sibuk bertarung. Beberapa diantaranya ada yang di pukul mundur. Leona juga memperingati mereka, jika mereka kena pukulan maka harus pura-pura mati meskipun tubuh mereka dibalut dengan bahan stainless agar tubuh mereka tidak luka parah.


Beberapa pasukan Orch mulai mendekati gerbang dan bertarung dengan beberapa siluman dan beberapa prajurit bersenjata. Bahkan ada beberapa yang membawa tangga untuk memanjat dinding desa yang memiliki ketinggian tiga meter itu.


Leona segera merapalkan beberapa segel tangan lalu muncul sebuah kabut yang menyelimuti area itu. Seketika para bangsa Orch mulai panik.


Gadis itu segera maju ke area pertarungan dan membantai habis para musuhnya.


'Trank'


'Jleb'


"Aarrgghh"


Suara tebasan dan teriakan terdengar di medan perang itu. Mereka yang berada di dalam kabut tidak bisa melihat musuh dengan jelas, kecuali para pasukan Leona yang sudah terlatih.


Melihat hal itu, pemimpin pasukan musuh segera menarik kembali pasukannya. Dia tidak ingin kehilangan banyak prajurit dan menyusun ulang strateginya.

__ADS_1


"MUNDUURRR!!! SEMUANYA MUNDUURRR!!" Jerit sang pemimpin memanggil pasukannya.


Sontak mereka langsung bangkit dan mundur dari sana, menerobos kabut tebal itu. Perlahan kabut memudar dan terlihat mereka yang selamat tunggang langgang melarikan diri.


Terlihat banyak korban yang berjatuhan. Sebagian besar merupakan bangsa Orch. Sementara pihak Leona korbannya tidak terlalu banyak dan mereka hanya mengalami luka ringan seperti patah tulang maupun sabetan di lengannya.


"Aih... Mereka kabur." Gerutu Leona kesal sambil mengibaskan pedang yang berlumuran darah.


"Sepertinya kita memerlukan perubahan rencana, Leona-sama." Ucap Kaze mendekati Leona.


"Kau benar." Lalu Leona menatap Kaze dengan serius. "Bawa yang terluka ke pasukan medis. Malam nanti kita akan menyerang tenda mereka."


💠💠💠💠


Beberapa orang tengah berkumpul di dalam tenda yang terletak di bawah bukit tempat desa Bloom Mist berada.


Suasana tegang menghiasi dalam ruangan itu, mengingat mereka gagal menaklukkan desa Bloom Mist.


'BRAKK!'


"Sial! Ini tidak sesuai dengan rencana!" Maki seorang pria paruh baya yang masih tampan di usianya. Dia adalah salah satu pendukung raja, Chao Cyrus dengan kesal.


"Apa kita perlu mengubah rencana? Kita tidak tau desa itu memiliki banyak penyihir dan prajurit yang merepotkan." Celetuk seorang pria dengan telinga runcing. Dia adalah salah satu pemimpin dari bangsa Orch.


Mereka kini mendiskusikan rencana untuk menaklukkan desa Bloom Mist dengan suasana tegang menyelimuti ruangan itu.


Sementara di tempat Leona...


Leona membagikan elixir penyembuhan tingkat tinggi pada orang-orang yang terluka. Beruntung tidak ada yang tewas saat peperangan terjadi sehingga tidak ada korban jiwa.


Setelah membagikan elixir, Leona segera keluar meninggalkan kastil bekas baron Calisius yang digunakan untuk menampung korban yang terluka dan menyimpan bahan makanan. Gadis itu pergi menuju tembok pembatas tempat terjadinya peperangan tadi.


"Untunglah tidak ada yang gugur, Leona." Ucap Jim tiba-tiba.


Leona terdiam dan menatap hamparan padang rumput yang kini dipenuhi dengan bercak darah. Gadis itu menatap matahari yang sebentar lagi menuju ufuk barat.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jim saat Leona tidak menanggapi perkataannya.


"Paman, apakah kau mau bermain denganku nanti malam? Sepertinya aku bosan dan ingin bersenang-senang." Ucap Leona yang membuat Jim salah paham. Pria itu menjitak kepala keponakannya cukup keras.


Leona mengaduh sambil mengusap kepalanya yang nyut-nyutan akibat kecupan yang dilayangkan oleh Jim.


Gadis itu mendelik garang pada pria di sampingnya.


"Kenapa Paman menjitak ku, sih?" Rengeknya tak terima.

__ADS_1


"Karena perkataanmu ngawur, bocah! Kau sadar dengan ucapanmu itu yang bikin orang salah paham, hah?!" Sembur Jim kesal.


"Memangnya apa yang Paman pikirkan? Bukan adegan ranjang, kan?" Tanya Leona polos yang sukses membuat Jim gemas dan meremas pipi keponakannya dengan kesal.


"Ck. Aku benar-benar meragukanmu sebagai keponakanku sejak kau terjatuh dari tangga beberapa tahun lalu. Aku pikir kau itu titisan iblis."


Leona terkekeh menanggapi ucapan Jim. Kehidupannya dulu sebagai Leona Sarasmitha sudah terhapus dan dia sudah menikmati kehidupannya sebagai Leona Arathena meskipun di buang oleh keluarganya.


"Paman, aku punya permainan untuk nanti malam. Mau ikut?"


Malam telah larut. Terlihat bintang berkelip di langit bagai berlian. Tidak ada rembulan yang menyinari malam yang terasa begitu tenang dan sunyi.


Beberapa kelompok orang berpakaian serba hitam melompat-lompat di pepohonan dan mendarat tak jauh dari tenda yang dijaga oleh beberapa orang yang berpatroli.


Seorang gadis bermata merah dengan wajah di tutupi masker berhiaskan rantai memberi kode pada rekannya. Mereka segera mengeluarkan bom asap yang berisi obat tidur dosis tinggi untuk melumpuhkan para penjaga dan prajurit yang masih terjaga. Setelah dipastikan mereka benar-benar terpengaruh oleh obat tidur itu, mereka menunggu beberapa saat agar asap dan efek obat di udara menghilang.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit, mereka berpencar menuju beberapa tenda sambil mengamati sekitar.


Beberapa orang segera pergi menuju tempat penyimpanan makanan dan minuman lalu menuangkan beberapa elixir berwarna ungu pekat yang di duga racun, sementara sisanya membunuh beberapa prajurit yang terlelap dengan meminumkan sebuah racun.


Racun itu tidak berbau, beraroma maupun mudah dideteksi. Mereka akan merasa tubuhnya melemah saat beraktivitas dan berakhir lumpuh hingga kematian.


Setelah dirasa cukup, mereka segera menghilangkan jejak dan pergi dari sana.


💠💠💠💠


Sementara di kerajaan Seanthuria, keadaan dia kubu pendukung raja dan ratu tengah bersitegang. Mereka mengadakan gencatan senjata yang membuat perangkat saudara pecah karena hanya sebuah surat.


Belum lagi rumor di istana yang beredar bahwa ratu Lydia di buang oleh Raja karena penyakit yang dideritanya. Ratu akan muntah jika menelan makanan dan tubuhnya semakin hari semakin kurus.


Ratu Lydia menderita penyakit anoreksia, yang bahkan tidak bisa di sembuhkan dengan sihir cahaya. Bahkan dengan kejam putra mahkota mengurung Iris di penjara bawah tanah karena tunangannya tidak bisa menyembuhkan sang ibu.


Belum lagi putra mahkota harus mempersiapkan diri untuk melakukan perang dengan kerajaan Kamitsuki besok. Membuat raja Grambiel semakin sibuk dengan urusannya.


"Bagaimana rasanya tidak bisa makan, Yang Mulia?" Tanya Khalix yang muncul tiba-tiba. Membuat ratu Lydia mengerang marah.


Wanita itu kini terlihat mengenaskan. Tubuh kurus kering dengan penampilan yang berantakan. Dia bangkit dari sofa yang berada di sana dengan terhuyung-huyung tanpa ada pelayan maupun prajurit karena mereka semua telah di bunuh.


"Sialan, kau! Gara-gara kamu aku di buang oleh raja! Dasar anak pembawa sial!" Raung ratu Lydia tak terima. Wanita itu terus mengeluarkan sumpah serapah dan umpatan yang membuat Khalix mengorek telinganya yang entah mengapa terasa gatal.


"Sudah, Yang Mulia? Anda bahkan tidak bisa merasakan bagaimana ibuku menderita di sangkar emas ini. Hanya karena beliau mantan ksatria hebat? Wah. .." Cibir Khalix santai.


"Apa maumu?" Geram Ratu Lydia dan menatap pria itu dengan tajam.


"Mauku?" Khalix memiringkan kepalanya seolah-olah sedang berfikir lalu menatap ratu Lydia sambil tersenyum manis. "Tentu saja ingin melihatmu menderita. Sampai-sampai kau memohon untuk mati." Ucapnya angkuh lalu segera pergi dari sana, meninggalkan ratu Lydia yang kering marah di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2